Pengalaman-Saya

Jilbab: Wear it, take it, keep it, leave it


Foto di profil facebook saya menjadi perhatian beberapa orang. Tanggapan mereka beragam. Alhamdulillah ada yang menganggap penampilan saya menjadi fresh, hidup, dan “real” (karena jerawat saya terlihat jelas dan tidak disamarkan..hehe). Alhamdulillah juga karena ada yang mempertanyakannya dan menilai saya lebih cantik memakai jilbab. Ada juga yang kaget karena potongan cepak saya. Tentu lebih banyak yang tidak peduli.

Saya menyukai potongan rambut saya yang baru walaupun akhirnya rambut saya tidak bisa merunduk rapi tanpa menggunakan minyak rambut. Saya merasa lebih ringan, lebih menonjolkan lekuk wajah, dan jadinya lebih nyaman kalau memakai jilbab.

Bagi sebagian orang, berjilbab bukanlah pilihan melainkan suatu keharusan atau kewajiban, sehingga bagi jilbaber yang memajang foto tanpa jilbab di situs jaringan sosial atau instant messenger menjadi bahan diskusi sendiri. Ada keyakinan bahwa aurat perempuan adalah sumber fitnah sehingga harus ditutup kecuali bagi muhrim mereka. Ada pula yang menambahkan bahwa tubuh perempuan yang sering dipamerkan akan semakin membosankan dan tidak misterius. Alhasil ada beberapa orang yang menganggap jilbaber yang memajang foto mutakhirnya tanpa jilbab sebagai suatu dosa, perbuatan yang tidak baik atau menodai jilbab itu sendiri, atau indikasi bahwa perempuan itu akan membuka jilbab.

Belum lagi kebiasaan kebanyakan orang untuk mengukur tingkat keimanan seseorang dari bentuk dan panjang jilbab yang dipakai perempuan. Ukuran praktis itu dipakai karena orang biasanya memerlukan informasi instan untuk menuntunnya bersikap dalam suatu situasi atau terhadap orang tertentu. Contohnya saya yang pernah panik karena berhadapan dengan seseorang dengan tinggi sekitar 165 cm, kurus, rambut sebahu, suaranya tidak berat tapi tidak lembut, dan wajahnya uniseks alias bisa wajah laki-laki dan perempuan. Saya berusaha mengintip lehernya, apakah punya jakun? Tapi tidak terlihat karena tertutup dagunya. Dadanya pun agak rata, pinggulnya biasa. Saya tidak mengenalnya, jadi saya harus panggil apa? Mbak, mas, sampeyan, kamu, anda? Kondisi seperti ini yang ingin dihindari orang pada umumnya.

Bagi sebagian orang, jilbab adalah identitas wanita Islam sehingga perempuan yang memakai jilbab dituntut untuk menjaga sikap dan perilakunya. Dalam tulisan Indarti di eramuslim, dia mencontohkan wanita berjilbab yang merokok di tempat umum sebagai hal yang negatif. Nah, perilaku saya mempertontonkan aurat di facebook mungkin dianggap sebagai bagian dari perilaku wanita berjilbab yang kurang baik. Apalagi kalau dia tahu kalau saya kadang-kadang merokok…hihi.

Saya hanya belajar tentang pemaknaan jilbab yang dilakukan oleh perempuan Indonesia di berbagai tempat yang saya temui. Sejak awal memakai jilbab, saya selalu membukanya ketika ada di rumah. Ketika saya tinggal di desa orang tua, saya melihat bahwa buka-pakai jilbab bukanlah suatu isu karena memang seperti itulah jilbab dipakai. Kalau saya pakai jilbab di dalam rumah, orang-orang justru heran. Ketika tinggal di Medan, saya melihat kawan-kawan saya sendiri yang memakai jilbab hanya jika kedatangan tamu laki-laki yang belum dia kenal tetapi jika laki-laki itu sudah dikenal dekat walau bukan muhrim, jilbab dibuka. Juga sebagian perempuan memadukan jilbab dengan kaos lengan pendek atau rok di atas mata kaki. Mungkin sering kita lihat juga remaja yang memakai kaos lengan panjang dan celana legging ketat yang memakai jilbab. Semuanya adalah cara perempuan memaknai dan memakai jilbab.

Belum lagi kalau dilihat, perkembangan mode jilbab di Indonesia sangat pesat. Saya pernah melihat sekelompok mahasiswa Turki di Sastra UI yang memakai jilbab segi empat dengan warna sama, krem. Kurang lebih setahun mereka di Sastra dan jilbab mereka hampir tidak berubah. Sementara walau dulu jilbab saya panjang tapi warnanya agak beragam; hijau daun, krem, coklat, putih dengan berbagai motif dan bordir. Sekarang makin heboh dengan banyaknya pilihan bahan, ukuran, dan motif jilbab.

Dulu saya sering kesal dan gemas kalau melihat perempuan memakai jilbab tapi lehernya terlihat, rambutnya keluar, atau berjilbab tapi memakai baju dengan lengan terbuka. Lama-lama saya bertanya, kenapa saya jadi sewot? Perempuan dapat memilih dan memadukan pakaian mereka. Tidak perlu ada pakem tertentu bahwa perempuan berjilbab harus begini, perempuan berpakaian seksi harus begitu. Mengkritik boleh saja tapi bukan melarang dan menghakimi.

Tidak ada yang salah dengan jilbab dan saya mengkritik mereka yang melarang, baik secara terbuka atau diam-diam, terhadap perempuan yang memakai jilbab. Lagipula, perempuan memakai jilbab dengan beragam alasan; karena kepasrahan pada Tuhan, disuruh suami, dipaksa pemda, supaya kelihatan anggun dan rapi, ikutan teman, supaya nggak ribet nyisir, supaya nggak diganggu preman, dll. Alasan itu pun kadang berubah seiring dengan waktu sehingga kadang mereka bisa membuka jilbab atau memaknainya secara berbeda tanpa melepaskan jilbab.

It’s really up to you girls. Wear it, take it, keep it, leave it! You have a choice.

Jakarta, 7 Oktober 2009
SM

referensi
http://www.eramuslim.com/oase-iman/jilbab-buka-tutup.htm

Advertisements

2 thoughts on “Jilbab: Wear it, take it, keep it, leave it

  1. sepakat mb, kadar keimanan seseorang sama sekali g bisa dilihat dr seberapa panjang jilbabnya… tp mindset masy qt spertinya masi hobi utk judge everyone from its cover. benwaelah…asal g saling ganggu fine2aja…toh hanya Yang Maha Mengetahui yg bakal menilai sgala sesuatu…meski hambaNYA hobi sok tau;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s