Pengetahuan-Saya

Qanun Jinayat: bukan yang terakhir


Ketika membaca berita mengenai disahkannya qanun jinayat dan qanun acara jinayat (hukum) cambuk dan rajam di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, saya terheran-heran. Pertanda apa ini?

Sumber informasi saya adalah artikel berita yang di surat kabar, majalah, facebook, kantor berita nasional dan internasional serta portal website lokal. Dalam artikel Acehkita.com tanggal 14 September bahwa saat parlemen mendiskusikan qanun ini, puluhan aktivis sipil berunjuk rasa di luar gedung. Namun, suara mereka tidak dipertimbangkan dan qanun disahkan secara aklamasi. Dalam proses aklamasi itu,

Hanya Partai Demokrat yang menilai hukum rajam belum saatnya diberlakukan di Aceh. Namun dalam rapat di Panitia Musyawarah, Partai Demokrat tak meraih dukungan dari anggota dewan lain, sehingga kalah suara.

Menarik bahwa parpol yang menentang qanun “kalah suara” di DPRA. Menarik bahwa qanun tersebut disahkan oleh DPRA demisioner karena anggota DPRA yang baru dijadwalkan dilantik tanggal 30 September 2009. Menarik bahwa P. Demokrat menyatakan “belum saatnya diberlakukan” yang terdengar ambivalen. Siapa saja yang ada dalam DPRA? Selain Demokrat, ada Fraksi Partai Golkar, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Partai Bulan Bintang, Fraksi Partai Amanat Nasional, Fraksi Partai Bintang Reformasi, dan Fraksi Gabungan. Sebaiknya kita sudah mencatat nama-nama dan parpol yang mereka wakili untuk menjadi catatan penting dalam pilkada NAD selanjutnya.

Siapakah yang diwakili fraksi-fraksi tersebut? Bukankah ada begitu banyak kelompok dampingan LSM di NAD yang menjadi bagian dari sekitar 2,6 juta pemilih dalam pilkada tahun 2006? Dimana anggota DPRA perempuan? Di DPRA keterwakilan mereka hanya 4,3%. Pasca pemilihan tahun ini, harian Analisa menulis bahwa

Posisi kaum perempuan di legislatif hasil Pemilu 2009, baik DPRA maupun DPRK kabupaten/kota di Aceh diperkirakan lebih buruk dibandingkan dengan hasil Pemilu 2004 lalu. Pasalnya, di lembaga wakil rakyat tersebut nyaris tidak ada atau tidak lebih dari satu persen saja kaum perempuan.

Sepertinya perlu tenaga ekstra untuk kembali mendudukkan dan memperjuangkan kualitas perempuan dalam DPRA dan DPRK di NAD.

Menarik juga membaca berita bahwa qanun itu tetap disahkan DPRA walaupun pemerintah Aceh menolaknya. Gubernur memang belum meneken qanun ini karena berharap dapat dibicarakan kembali dengan DPRA yang baru. Namun, saya lihat dari beberapa komentar di Acehkita.com, sebagian mendukung diberlakukannya qanun jinayat sebagai bagian dari pemberlakuan hukum syariat di NAD. Sejak awal hukum syariat-nya yang bermasalah dan qanun ini atau qanun lain yang akan muncul mungkin akan sejalan dengan “semangat syariat”.

Saya sendiri heran karena sebelumnya rancangan qanun belum santer terdengar sampai saat disahkan dan menjadi berita kontroversial di dunia internasional. Affan Ramli juga menyatakan bahwa rancangan qanun itu belum pernah dipublikasi dan disosialisasikan secara baik kepada masyarakat. Ada wacana untuk melakukan uji materiil (judicial review) namun ada baiknya untuk berkaca dari kasus ini untuk mencegah kasus yang sama di depan karena sepertinya qanun seperti ini bukan yang pertama dan bukan yang terakhir.

Saya juga baru mengetahui bahwa selain 2 qanun itu, ada 3 qanun yang disahkan bersamaan yaitu Qanun Penanaman Modal, Qanun Wali Naggroe, dan Qanun Perlindungan Perempuan (PP). Tidak banyak yang mengetahui mengenai isi dan substansi dari ketiga qanun tadi terutama qanun perlindungan perempuan dan hubungannya dengan qanun lain yang tidak melindungi perempuan. Saya baca bahwa penyusunan draft qanun PP itu ikut melibatkan Direktorat Peran Perempuan-BRR NAD. Saya belum menemukan substansinya di internet. Penasaran sekali “membaca” qanun-qanun yang bertebaran di NAD akhir-akhir ini.

29 Sep. 09

Referensi
http://www.acehkita.com/berita/yang-keberatan-qanun-rajam-judicial-review-saja/
http://www.harian-aceh.com/banda-raya/banda-aceh/3718-aceh-berlakukan-hukum-rajam-massa-pro-dan-kontra-berunjuk-rasa.html
http://www.harian-aceh.com/analisi/3733-merajam-dalil.html
http://www.aceh-eye.org/a-eye_news_files/a-eye_news_bahasa/news_item.asp?NewsID=10571

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s