Pengetahuan-Saya

Menuliskan fantasi seks perempuan


Saya baru menyelesaikan draft pertama sebuah tulisan mengenai fantasi seksual pribadi. Saya mengirimkan ke pacar dan dia menyukainya. Ketika saya mengatakan bahwa saya ingin mempublikasikannya, dia merasa keberatan dengan 2 alasan. Pertama, fantasi seks saya itu dapat merangsang orang untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan karena ia menilai cerita seks menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasan. Kedua, jika cerita saya itu dipublikasikan di internet maka anak kecil atau remaja dapat membacanya dan hal itu bisa memberi rangsangan seks yang kemungkinan tidak dapat mereka kendalikan.

Menurut saya, cerita mengenai fantasi seks semata bukan penyebab kekerasan seksual. Jika fantasi seksual itu diwarnai dengan kekerasan masokis dan hanya ditulis dari sudut pandang kenikmatan seksual laki-laki maka itu dapat merangsang terjadinya kekerasan. Namun, jika fantasi seksual itu adalah suatu “dialog seks” yang setara antara dua pihak dalam ramuan cerita yang bagus maka saya melihatnya sebagai sebuah terobosan dalam seksualitas perempuan. Seksualitas gender yang setara bisa muncul dalam sebuah fantasi seksual secara elegan dan seksi melalui inisiatif perempuan untuk melakukan hubungan seks, kapan penetrasi bisa dilakukan dan kapan harus dihentikan, menentukan pemakaian kondom, pemahaman mengenai siklus kesuburan, posisi yang diinginkan, orgasme yang dirasakan, ungkapan keberatan verbal jika suatu posisi atau gerakan menyakitkan, dll.

Dalam sebuah cerita, seksualitas tidak hanya muncul dalam bentuk gerakan seks tetapi pada pembahasaan gerakan dan relasi seks yang terjadi. Saya kadang membaca cerita seks yang ada di internet dan ketika saya membaca lagi 5 halaman fantasi seks yang saya tulis, saya melihat ada beberapa perbedaan. Dalam cerita saya, saya tidak mendeskripsikan pantat saya yang semok, payudara yang montok, ukuran BH, warna kulit, bibir yang seksi, dsb. Saya juga tidak mendeskripsikan ukuran penis pasangan saya, seberapa lama dia ereksi, bentuk tubuhnya, kencang tidaknya ejakulasi, dsb. Entah kenapa, saya merasa tidak perlu menuliskan detail itu. Apakah karena saya perempuan? Atau apakah karena saya merasa bukan itu syarat untuk mencapai titik kenikmatan dari suatu hubungan seks?

Di dunia maya sudah banyak cerita seks terutama cerita seks dengan kekerasan atau sudut pandang mitos seksualitas laki-laki yang ketika dibaca pengunjung, baik anak-anak, remaja maupun orang dewasa, akan berdampak negatif pada pencitraan seksualitas perempuan. Seperti yang dikatakan Karlina Supelli, perempuan adalah akibat sebuah wacana yang bukan wacananya, termasuk di sini wacana seksualitasnya. Jika cerita seks saya itu dipublikasikan maka penafsiran pembaca terhadap tulisan saya adalah hak mereka yang tidak dapat saya kontrol. Tindakan mereka setelah membaca cerita saya juga tidak dapat saya kontrol dan itu bukan kewajiban saya.

Saya belajar dari pengalaman bahwa membaca tidak semata merangkaikan huruf atau membayangkan apa yang dibaca tetapi memahami konteks bacaan dan pembacaan. Suatu bacaan memiliki konteks, pembacanya sendiri juga memiliki “konteks” (karakter, lingkungan sosial, geografis, nilai gender) dan keduanya menyatu saat kita membaca. Satu hal yang juga saya pelajari adalah membaca menjadi makin menyenangkan jika kita juga bisa membaca apa yang tidak tertulis dan mempertanyakan hal itu. Bukan hanya anak-anak dan remaja yang pikirannya tidak sampai ke sana, orang dewasa pun banyak seperti itu.

Saya tidak setuju dengan kekhawatiran bahwa cerita saya membawa dampak negatif pada anak-anak dan remaja serta orang dewasa bodoh (ignorant, bukan stupid). Saya sendiri pernah melihat koleksi foto seks orang tua saya saat berusia 10 tahun, mulai membaca cerita seks yang seksis di kolom “Nah, Ini Dia” di Pos Kota sekitar usia 9 tahun, dan menonton film porno sekitar usia 11 tahun. Saya belum pernah melecehkan atau memperkosa anak laki-laki karenanya. Saya justru merasa rentan dan takut diperkosa karenanya.

Jika anak-anak membaca cerita saya, paling tidak mereka menjadi tahu nama alat kelamin. Jika remaja, terutama perempuan, membacanya saya berharap (tidak dapat mengontrol) mereka mendapat gambaran bahwa mereka memiliki dan mengontrol seksualitas mereka sendiri. Bukan orang lain.

29 Sep. 09

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s