Pengetahuan-Saya

Kliping Kompas di akhir 1998


Berikut ini adalah judul dan sedikit informasi yang saya ambil dari koleksi kliping koran Kompas. Saya mulai mengkliping artikel Kompas sejak SMP yaitu sekitar tahun 1992. Awalnya saya melihat bapak saya kadang menggunting satu atau dua artikel Kompas. Kemudian saya tertarik meniru apalagi saya membaca ada begitu banyak kejadian dan informasi yang sangat menarik dan ingin saya simpan sebagai bacaan diwaktu senggang, sumber inspirasi menulis dan rujukan ringan. Artikel tersebut berguna sebagai rekam jejak peristiwa politik dan gerakan masyarakat madani di Indonesia. Sebagai bagian dari kelompok muda (di tahun 1998), sewajarnya tidak melupakan sejarah.

Saya tulis beberapa judul berita yang menarik di tahun 1998, tahun kritis bangsa Indonesia. Tahun reformasi. Kliping ini akan menjadi bahan tulisan blog saya selanjutnya.

Mengurus harga beras pun belum becus, apalagi kurs (18 Sep 1998). Saat itu harga beras mencapai Rp 5.000/kg. Kurs rupiah terhadap US Dollar berada dikisaran 11 ribu. Gejolak kurs rupiah menggila dibanding kurs negara ASEAN lainnya sehingga banyak bisnis tutup dan melakukan PHK massal.

Beberapa catatan untuk pembentukan DPKSH dan Rakyat Terlatih (15 Des 1998). Dua hari sebelumnya, Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto mengumumkan pembentukan Dewan Penegakan Keamanan dan Sistem Hukum (DPKSH) dan dilaksanakannya program Rakyat Terlatih. Latar belakangnya bisa ditebak terutama kalau kita mengetahui situasi pada tahun 1998 yang dalam bahasa militer ditulis “kondisi keamanan sangat rawan”. Pada saat itu, di Jakarta belum lepas dari kontroversi Pam Swakarsa yaitu munculnya kelompok dalam masyarakat yang justru menambah ketegangan dan konflik secara luas. Dalam catatan editorial ditekankan bahwa ada perbedaan antara pemerintah dan masyarakat dalam melihat penyebab kondisi rawan dan mengenai cara mengatasi kondisi tersebut.

Kekerasan: pelecehan akal sehat (Rikard Bangun, 15 Des 1998). Penulis menjelaskan kondisi kekerasan di berbagai tempat di Indonesia yang sangat mencekam. “Penghormatan terhadap nilai kehidupan bersama terus memudar…mereka beraksi tanpa perasaan, berkeliaran tanpa rasa bersalah dan terus menerus menebarkan rasa takut…masyarakat terseret ke dalam sikap saling curiga…muncul kesan bahwa masyarakat seperti sengaja diadu…”. Dia menilai bahwa “proses pelembagaan kekerasan dimulai dari pemaksaan setiap orang untuk menyesuaikan diri dengan status quo”. Pada dasarnya potensi kekerasan dan kejahatan dimiliki setiap orang tetapi “hanya orang sehatlah, terutama yang sudah kehilangan orientasi nilai, yang dapat merekayasa kekerasan terorganisir.”

Jakarta, 25 Agustus 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s