Pengalaman-Saya

Luluh


Tulisan ini dipicu oleh komentar seorang teman lama bernama Adjie yang tinggal di Bandung. Dia teman online yang saya kenal sejak 2003 (semoga ingatan saya tidak salah). Dia agak terkejut waktu saya cerita tentang rencana menikah dengan mengatakan “akhirnya dirimu menemukan tambatan hati…gimana ceritanya?”. Disambung dengan pertanyaan saru, “apa yang bikin dirimu luluh akhirnya? Share with me Nik”.

Ah, segitunya sih? Tadinya saya pikir hubungan kami tidak begitu dekat jadi dia tidak terlalu mengenal saya. Rupanya, karakter saya agak sulit disembunyikan dan memang saya tidak berusaha menyembunyikannya..hehehe. Adjie kasih komentar begini, “terakhir yang aku tahu, dirimu tuh tipe…seperti seorang feminis garis keras gitulah.” Hemm, nggak heran sih dapat komentar begitu dan bukan hanya dia yang mengatakan begitu.

Mundur sedikit, pagi harinya, seorang teman yang sedang bekerja di Banda Aceh menelepon. Tipe cowok “santai aja, Ken” ini cukup bawel. Akhirnya, saya mengaku kalau saya berencana menikah. Hebohlah dia! Mulai deh dia mengungkit obrolan beberapa bulan lalu di Medan.

“Elo kemakan ucapan elo sendiri ya? Dulu elo sok punya prinsip gitu.” katanya.
Weeeks, memangnya dulu saya ngomong apaan sih? Hehehe…mulailah dia memutar ulang ingatan dan mengobral ucapan masa lalu. Iya deh ngaku…memang saya sering bilang kalau saya nggak ada rencana menikah tapi itu dengan catatan….dan catatan itu yang sering dilupakan orang. Mereka cuma ingat bagian “gua nggak mau menikah…” tapi nggak diingat terusannya. Selama laki-laki itu menghargai dan mendukung keinginan saya, dan tidak bawel kayak dia, kenapa tidak?

Cowok ini terus bercakap dan mengejek saya. Sekaligus dengan acara analisis karakter dan analisis perselingkuhan. Apaan sih, Bang???

“Gua tau tipe elo. Elo itu terbiasa menang, elo nggak mau kalah. Makanya elo nggak mau menikah…Cowok yang sekarang orang mana?” Obrolan berlanjut.
“Iya, elo emang sukanya cowok kayak gitu. Kalo sama gua, elo nggak bakal memang.” Terus aja, Bang…keluarkan energimu untuk mengomentari saya.

“Elo bawel ya?” saya berteriak.
“Biarin, soalnya nggak ada orang yang mau bawel ama elo. Jadi gua aja yang bawel…hahaha.”
Dia masih lanjut terus, “Tahan ya elo di kamar kos aja seharian? Nulis, nulis…jadi elo terbiasa punya dunia sendiri. Biasanya penulis ‘kan kayak gitu.”
Aduh, saya jadi pingin melemparnya pakai obat jerawat.

Waktu saya cerita mengenai kemungkinan tinggal berjauhan dengan calon ini, makin saru lagi dia berkomentar. Dia bilang tinggal berjauhan rentan dengan perselingkuhan. Dia sendiri pernah berselingkuh dan membenarkannya. Dia merasa “rugi” jika dalam hubungan jarak jauh tidak berselingkuh. Alasannya karena dia tidak bisa memastikan pasangannya juga tidak berselingkuh. Iya itu pilihan hidup dirimu, jangan bawa-bawa orang lain.

Lama sekali dia mengoceh. Terakhir, saya tutup teleponnya. Cukuplah dapat analisis psikis dari makhluk itu.

Medan, 3 Mei 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s