CerPen-Saya

Taman Joyo Indonesia Indah


Kunjungan tempo hari itu sebenarnya tidak cukup diceritakan dalam sebuah cerita pendek. Ada begitu banyak kesan, ide, dan refleksi yang muncul. Meringkasnya dapat menutupi makna sesungguhnya. Sudah dua bulan yang lalu saya meninggalkan Jogja dan kembali tinggal di Jakarta. Perpisahan yang sangat berkesan itu masih tersimpan rapi dalam benak saya. Tidak terbayang senangnya ketika Joyo memberitahu bahwa dia diberi tugas 3 hari di Jakarta sejak Rabu sampai Jum’at. Saya langsung berinisiatif mengajaknya ke Taman Mini Indonesia Indah atau TMII. Joyo sempat segan dan memandang TMII sebagai tempat melancong anak-anak. Saya bersikeras mengajaknya ke sana, tempat yang sempat begitu akrab dan menyimpan kegelisahan saya di masa SMP.

Joyo menyerah. Tadinya dia memilih untuk bertemu dengan teman-temannya di Klub Sepeda Nusantara. Saya berhasil membujuknya untuk sejenak melihat perkembangan TMII sebagai artefak sejarah Orba sampai ke abad milenium.
“Kamu terlalu serius deh.” ujarnya merespon pemikiran saya melalui yahoo messenger.
“Kalau begitu kita melihat Taman Mini sebagai latar belakang perkembangan seorang anak perempuan bernama Niken.” jawab saya.
“Kalau yang itu terlalu dramatis. Bagaimana kalau jalan-jalan dan ambil foto untuk mengenang Ibu Tien Soeharto.” usulnya saya sambut dengan tawa berderai.
“Yang penting kamu mau ke sana, Joy. Tempat itu sangat bermakna buat gua dan gua ingin berbagi. Kayaknya lebih dari lima tahun gua nggak pernah ke sana lagi.”
“Kenapa? Kalau memang itu bermakna.”
“Ah, gua nggak tau. Tapi bener ya, kamu mau ke sana? Nanti gua yang bayarin tiket masuk. Tapi kalau mau nonton di Teater Keong Mas, bayar sendiri.”
“Iya, iya. Eh, berapa jauh dari Salemba?”
“Kalau hari Sabtu hanya sejam. Paling lama satu setengah jam kalau bus P115 ngetem lama, soalnya kalau pagi belum banyak penumpang.”
“Kalau dari rumahmu?”
“Gua bawa motor. Dari rumah gua hanya 20 menit, bisa lewat depan atau belakang.”

Hari Rabu, saya sempatkan meneleponnya. Seperti orang dari daerah luar Jakarta, Joyo tidak suka dengan Jakarta, kampung halaman saya. Dua hari kemudian, saya pastikan lagi rencana ke TMII. Saya khawatir Joyo berubah pikiran.

Entah kenapa saya ingin berbagi kesan mengenai TMII dengan Joyo. Saya tidak yakin Joyo bisa memahami kegelisahan dan pemikiran saya yang lampau. Saya ingat sekali saat berusia 15 tahun, pergi seorang diri ke TMII. Berjalan tanpa arah mengelilingi TMII sambil berusaha menguraikan kegelisahan yang menyesakkan dada. Saya sempat duduk termenung di salah satu sudut yang teduh dan bingung dengan pemikiran saya sendiri.

Saya besar di pinggiran Jakarta Timur dan bersahabat dengan anak-anak Betawi dan kelompok pendatang. Rumah orang tua yang dulu dekat dengan TMII, begitu juga rumah yang sekarang. Orang tua sering mengajak kami sekeluarga berwisata di sana sejak 1981. Saya punya koleksi foto dengan latar belakang TMII. Saya dan adik lebih mengenal TMII daripada kampung orang tua di daerah Kertosono, Jawa Timur.
t
Lamunan saya buyar oleh SMS dari Joyo.
Besok aku berangkat jam 8 dari Salemba. Kita ketemu dimana?

Saya membalas.
Kamu turun di Pasar Rebo aja, Joy. Di dekat kios buah, nanti gua jemput dan kita berangkat dari sana.

Kami bertemu di tempat yang dijanjikan dan sampai dengan selamat di TMII. Tadinya saya takut membonceng Joyo yang tingi besar. Saya ingatkan Joyo untuk berpegangan.
“Pegangan ke kamu atau ke motor?”
“Ke motor. Kalau pegangan ke gua, motornya nggak bakal jalan.”
“Kenapa?”
“Soalnya kuncinya bakal gua lempar ke muka elo.”
“Hahahaha…iya deh. Aku nurut, Bu.”
“Jangan banyak bergerak!”
“Ya ampun, aku baru tahu kalau naik motormu ada syaratnya.”
“Elu lebih berat dari gua. Jangan bawel, mengganggu konsentrasi.”
“Sifat aslimu keluar ya, Ken. Ada hikmahnya juga kita ke TMII.”

Dalam perjalanan, Joyo banyak bertanya layaknya anak SD yang pertama kali masuk TMII.
“Kamu bawa apa aja? Banyak banget.”
“Bawa tikar kecil, air, dan makanan.”
“Oh, iya ya, aku nggak mikir ke sana. Makanannya apa aja?”
“Nasi dan snack.”
“Kita di sana mau ngapain, Ken?”
“Berenang.”
“Memangnya di sana ada kolam renang?”
“Ada.”
“Memangnya kamu bisa berenang?”
“Enggak.”
“Jadi?”
“Gua mau menenggelamkan elo.” ujar saya cepat.
“Heh? Aku bisa berenang kok.”
“Ya, kita bisa naik kereta gantung, kereta listrik, naik perahu, ke taman burung, museum perangko; banyaklah.”
“Apa enaknya?”
“Enaknya ya elu bisa jalan bareng sama gua.”
“Huuu, itu sih beban. Nanti bisa ada gosip kalo kita pacaran.”
“Gua pesimis ada yang percaya.”

Sampai di dalam TMII, kami mencari tempat cocok untuk menggelar tikar.
“Kita putar-putar dulu ya, Joy.”
“Iya, aku manut. Kamu bawa ke semak-semak juga nggak masalah.”
“Eh, gantian, Joy. Elu yang bonceng. Capek gua bonceng elu.” Saya berhenti dan menyerahkan kemudi ke Joyo.
“Nanti gimana kalau ditilang?”
“Enggak, di sini bukan jalan raya.”

Setelah berputar selama setengah jam, kami berhenti di sebuah sudut rimbun di dekat danau buatan.
“Setelah lulus SD, gua langsung masuk SMP. Tidak semua teman perempuan gua masuk SMP, ada sebagian yang tidak meneruskan. Ada seorang perempuan yang sering tidak naik kelas, kabarnya setelah lulus dia dikawinkan.”
“Oya?”
“Yah, waktu itu masih ada kebiasaan kawin muda di daerah Cilangkap dan sekitarnya.”
“Waktu gua kelas tiga SMP, tidak semua lanjut ke SMA. Ada sebagian yang langsung bekerja atau menikah. Waktu masuk SMA, gua mendengar ada teman yang hamil di luar nikah. Mereka teman-teman baik. Banyaklah kejadian yang bikin gua justru tidak konsentrasi belajar.”
“Oya? Karena kamu memikirkan teman-temanmu?” tanya Joyo sambil membaringkan tubuhnya dan membuka bungkus keripik kentang.
“Iya. Memikirkan mengapa hidup gua dan mereka berbeda, mengapa gua memilih ini dan mereka melakukan itu; banyak hal. Gua nggak ngerti kenapa gua memikirkan itu semua. Satu lagi kebiasaan gua adalah membuat kliping artikel Kompas. Sejak SMP gua sudah mengkliping artikel, gua baca dan gua simpan, tidak gua tempel.” Saya berhenti sejenak dan meneguk minuman.
“Hasil dari bacaan itu makin membuat gua berpikir. Habis beritanya banyak tentang perang, sekian orang mati, harga minyak naik turun, swasembada beras, pertemuan politik, dan lain-lain. Alhasil gua senang bersembunyi di perpustakaan. Membaca dan menulis puisi. Masa SMA adalah masa melayang karena gua merasa nggak menyatu dengan masa-masa itu. Masih menganalisis seluruh informasi yang gua baca.”
“Pengetahuan kamu luas ya.”
“Luas sih iya tapi gua merasa terlindungi selama di Munjul. Dunia boleh hancur-hancuran tapi kompleks gua tetap aman. Sampai SMP gua merasa dunia itu hanya Munjul, Cilangkap, Pondok Ranggon, TMII, dan sekitarnya, hahahaha. Gua bergaul sama anak-anak kompleks dan kampung sampai akhirnya sekolah di daerah Pasar Rebo dan ketemu dengan anak-anak kota beneran.”
“Oh, jadi kamu sebenarnya bukan anak kota ya? Tapi terpaksa jadi anak kota.”
“Dari dulu gua anak Jakarta tapi di sini ada banyak macamnya, Jakarta bagian apa juga menentukan. Makin seru pas masuk kuliah karena sebagian besar teman di jurusan gua adalah anak-anak Jakarta Selatan yang biasa nongkrong di Bulungan, Blok M, Barito, atau Senayan. Alhasil gua lebih aman dengan kelompok Depok dan sekitarnya, hehehe. Gua belajar banyak.”
“Seru ya?”
“Banget, banget.”

Saya melempar pandangan jauh ke depan melewati danau. Saya bisa merasakan tatapan Joyo.
“Ada hubungannya dengan Rendra?”
Saya melengos. Rendra. Nama yang indah.
“Rendra sosok yang istimewa. Sama seperti yang lain, dia masa lalu gua.”
“Masa lalu kita berpengaruh pada masa kini. Menurutmu?”
“Iya. Iya. Gua mengenal Indonesia dari Taman Mini. Gua membangun imaji Indonesia dari sini. Berharap Indonesia memang sesederhana itu.” saya tersenyum sendiri.
“Terlalu tinggi harapanmu.”
Kami berdua bertukar senyum.

“Gua sering berkeliling Indonesia di sini, Joy.”
Joyo mengangguk sambil memakan camilan.
“Murah, meriah, dan mudah diakses. Tidak ada yang salah dengan itu.” sahut Joyo.
“Memang tidak utuh tapi cukuplah untuk materi pengenalan.”
“Sekarang ‘kan banyak propinsi baru. Berarti banyak tambahan anjungan ya?” tanya Joyo.
“Wah, gua bukan direktur operasional Taman Mini, Joy, jadi nggak tahu. Nanti kita keliling lagi deh.”

Saya dan Joyo terus ngobrol. Kemudian saya bertanya, “Elo pernah ke sini sebelumnya?”
“Pernah. Sekali, waktu itu SD kelas satu tapi nggak berkesan. Aku nangis minta pulang.”
“Enggak dibeliin topi Taman Mini ya?” saya terkekeh.
“Beli, tapi aku ‘kan mintanya terompet bukan topi.” sahut Joyo serius.

“Eh, gimana kabar Dimas?” saya mengambil minuman soda.
“Lah, kamu yang satu kantor sama dia?”
“Dia tertutup sama gua. Senyumnya paket hemat, memandang gua kayak nggak niat. Gua berasa penjahat kalo deket sama dia.”
“Hehehe…penjahat hati…hehehe. Kayaknya dia nggak rela kita jadi akrab. Soalnya dia yang mengenalkan kita.”
“Iya, ya? Kok gua nggak inget ya?”
“Ini akibat efek Rendra. Sejak sama dia, memori kamu terhapus semua. Makanya kalau jatuh cinta jangan kepala duluan.”
“Eh, enak aja! Gua cukup pakai akal kok. Kalau enggak, gua udah nangis darah.”
“Tuh, kamu lupa ya kalau sore itu kamu nangis terisak-isak nelepon aku. Baru ingat sama aku pas ketahuan Rendra sama cewek lain. Kualat kamu!”
“Elu nggak rela ya gua jatuh cinta sama Rendra?”
“Gua nggak rela ada teman yang nelepon pas gua tidur cuma buat ngasih tahu kalau Yayang-nya pacaran sama cewek lain.”
“Ya, maaf.” saya menunjukkan ekspresi menyesal. “Jangan marah, Joy. ‘Kan gua udah traktir ikan sambal di Pasar Lempuyangan.”
“Es krimnya belum.”
“Iih, kok elo jadi matre?”
“Aku nggak matre, aku menagih janji.”
“Oh, iya, iya. Nanti pulang dari sini, kita makan es krim di Tamini Plaza.”
“Enggak bisa! Kamu harus traktir aku di Jogja.”
“Lah! Jadi gua harus ke Jogja?”
“Iya, ke Jogja sama aku.” Joyo menunjukkan wajah serius. Saya tersenyum tersipu. Ah, Joyo….Joyo.
“Bilang aja elo kangen.”
“Enggak. Aku cuma menagih janji. Dulu janjinya ‘kan di Jogja.”
“Iya, nanti kalau gua main ke Jogja. Kita makan siang aja dulu.”

Kami beranjak dari sisi danau ke kedai makan di sekitar area kereta gantung.
Nafsu makan Joyo masih sama, nasi sepiring besar dan lauknya penuh. Saya tidak berkedip selama beberapa detik menatap piring Joyo. Hebat sekali perutnya bisa mencerna makanan sebanyak itu. Tiba-tiba saya membayangkan usus Joyo yang berlipat-lipat panjang dan di dalamnya bermacam makanan berdesakan untuk diproses. Berbagai enzim dikeluarkan untuk melumat dan menyerap sari makanan.
“Mbak Ken! Melamunkan Rendra lagi ya?” Joyo membuyarkan lamunan saya.
“Eh, enggak. Enggak apa-apa.” saya tersenyum sendiri.

Selesai makan, kami naik kereta gantung. Saya takut pada ketinggian tapi saya berusaha untuk tidak berpegangan ke Joyo.
“Pemandangannya bagus, Ken.” ujar Joyo.
“Iya, memang bagus.” saya menjawab datar.
“Tahu darimana? Kamu nggak nengok ke luar.”
“Nggak perlu, gua udah tahu kok. Udah biasa.”
Joyo menyorongkan tubuhnya, “Mbak takut ya?”
“Enggak! Apaan sih? Gua cuma agak mual.”
“Karena takut ketinggian ‘kan?”
“Enggak, muka elo bikin gua mual.”
“Hahaha….alasan.”

Saya sangat lega, ketika kereta gantung mendarat. Setelah selesai dari kereta gantung, kami berkeliling Taman Mini dan berfoto-foto. Ini sesi kesukaan kami. Kemudian kami pulang ke rumah saya.
“Enak ‘kan, Joy?” saya bertanya setelah kami sampai di rumah.
“Lumayan menghibur orang ndeso.”
“Tampang boleh ndeso tapi pemikiran ‘kan enggak.”
“Rumahmu kecil ya?” komentar Joyo.
“Tanah mahal.” saya menyuguhkan minuman dan makanan di meja tamu.
“Ken.”
“Apa?”
“Tadi kamu sudah tuntas cerita?”
Saya bersandar dan mengawang, “Itu sudah cukup, Joy. Gua senang bisa sharing sedikit, itu saja sangat berharga. Maaf, kalau membosankan atau mungkin agak membosankan.”
“Awalnya sih aku malas. Lagipula, aku nggak ngerti masalah orang Jakarta, jarang ketemu orang Betawi. Tapi aku suka ceritamu tentang masalah remaja di pinggiran kota. Aku yakin Taman Mini punya makna berbeda-beda untuk tiap orang.”
“Ya, memang. Itu termasuk masalah pendidikan karena nggak semua remaja punya akses yang sama ke pendidikan bermutu. Makanya waktu lulus SMP, gua dan beberapa teman memilih SMA di Cijantung atau Cililitan yang lebih dekat ke pusat kota. Kalau tidak begitu, sulit bersaing. Pikiran kita waktu itu banyak dicecoki cerita sukses, gengsi, kerja kantoran; yang seperti itulah.”

Kami melanjutkan obrolan panjang lebar. Orang tua saya sedang keluar jadi Joyo tidak sempat bertemu mereka. Joyo pamit dari rumah jam 4 sore. Saya mengantarnya sampai ke jalan besar. Ketika dia masuk ke angkutan Kampung Melayu, saya melambai. Lalu saya teringat dengan janji traktir es krim. Ah, sepertinya saya harus ke Jogja lagi untuk menuntaskan yang belum tuntas.

Medan, 29 Maret 2009

Advertisements

4 thoughts on “Taman Joyo Indonesia Indah

  1. Mbak, saya melihat profie mbak di salah satu web pemberdayaan perempuan… saya ingin menyumbangkan ilmu dan berbagi dengan organisasi perempuan mbak, bisa bantu saya mbak, organisasi mana yang bisa saya ikuti.

    Hubungi lewat email saya ya mbak, terima kasih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s