Pengetahuan-Saya

Mengenali dan Mengatasi Perilaku Bully (perilaku yang menyakitkan)


Memarahi orang ternyata memerlukan pendekatan tertentu jika tidak ingin terjebak pada perilaku bully. Saya sudah lama mengetahuinya tetapi sangat begitu menghayatinya ketika seorang teman sering menjadi sasaran kemarahan orang lain. Perasaan saya sebagai saksi dari “acara teriakan” itu menjadi tidak karuan dan saya ikut stres dan marah. Bukan hanya saya tetapi juga teman-teman lain merasakan perasaan yang sama dengan tingkat yang berbeda. Efek dari kemarahan, yang dibuka secara bebas terbuka, tidak bergerak satu arah antara subyek dan obyek yang terlibat. Emosi dari orang-orang di sekeliling subyek dan obyek juga ikut terseret.

Kemarahan dalam suatu hubungan, apapun hubungan itu, membawa suatu akibat. Ada sebagian yang merasa bahwa kemarahan tidak perlu ditahan bahkan dikendalikan karena akan berbahaya. Namun, itu bukan berarti seseorang bisa marah dengan melecehkan dan merendahkan nilai seseorang sehingga cenderung menjadi perilaku bully. Bullying dikatakan seorang praktisi HR sebagai perilaku negatif yang mengontrol orang lain sehingga tak berdaya untuk bertahan atau melawan.

Sebuah penelitian yang dilakukan Zogby International di Amerika Serikat menunjukkan hasil yang perlu dicermati bersama. Saya tempelkan di sini dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Inggris.

  • Most bullies are bosses — the stereotype is real. 72% of bullies are bosses. 55% of those bullied are rank-and-file workers.
  • Bullying most strongly affects women. Women are targeted by bullies more frequently (in 57% of cases), especially by other women (in 71% of cases).
  • Bullying is a public health hazard. For 45% of bullied targets, stress affects their health. 33% suffer for more than one year.
  • Bullied individuals are not “sue crazy” — many fail to even complain. Only 3% of bullied targets file lawsuits. 40% never complain.
  • Perpetrators suffer little. Targets have to stop the vast majority of bullying (77%) by losing their jobs, despite being the ones harmed.
  • Bahkan The Workplace Bullying Institute melobi keluarnya hukum anti-bullying di tingkat negara bagian. Saat ini sudah 13 negara bagian yang mengenalkan WBI Healthy Workplace Bill sejak 2003. Di Indonesia, di mana UMR bahkan tidak dipenuhi banyak perusahaan dan LSM, mungkin sedikit yang menyadari pentingnya isu bullying.

    Pengertian bullying di tempat kerja antara lain sebagai berikut.
    “workplace bullying involves people or groups of people who repeatedly exhibit aggression or inflict social ostracism, all within the established rules and policies of the organization. This could include verbal abuse, intimidating behavior, humiliating remarks, or career sabotage.” (http://blogs.techrepublic.com.com/career/?p=284&tag=rbxccnbtr1)

    Sumber lain mendefinisikan bullying/gertakan sebagai
    “…repeated inappropriate behaviour conducted by one or more persons against another or others at the place of work and/or in the course of employment and which could reasonably be regarded as undermining the individual’s right to dignity at work -penekanan dari saya. Bullying may be direct or indirect, and verbal, physical or otherwise. An isolated incident of the behaviour may be an affront to dignity at work but, as a once-off incident, it is not considered to be bullying.” (http://citizen.ie/publications/providers/booklets/entitlements_employmentrights/publications_entitlements_employmentrights25.html)

    Sumber berbahasa Indonesia mendefinisikan sebagai: perbuatan/tindakan kekerasan secara fisik, lisan, dan mental kepada orang yang lebih lemah sehingga menyebabkan rasa tertekan, takut, dan putus asa (http://bacabobo.blogspot.com/2007/12/deklarasi-konferensi-anak-2007.html). Namun, definisi itu melupakan satu kata penting yaitu perilaku berulang atau repeatedly behaviour.

    Akibat dari bullying antara lain:
    • Rasa cemas, takut, gelisah, terancam, dan tertekan
    • Mengurangi rasa pe-de
    • Tidak mau bergaul, mengurung diri, dan tidak mau ke tempat dimana ia akan bertemu pelaku bullying
    • Turunnya prestasi belajar, potensi diri, dan kreativitas
    • Pesimis, patah semangat, dan putus asa
    • Marah, malu, dan sedih
    • Serba salah dan menyalahkan diri sendiri
    • Munculnya keinginan yang berlebihan di luar kemampuan
    • Timbul rasa sakit hati
    • Tidak bisa berkonsentrasi dalam segala hal
    • Menjadi pendiam dan pemurung

    Walaupun sumber itu saya ambil dari blog anak-anak tetapi akibat itu dirasakan juga oleh orang dewasa yang mengalami bully dari senior atau teman kerja mereka di tempat kerja. Ada berbagai bentuk dari bullying di tempat kerja bahkan yang tidak kentara seperti yang diceritakan seorang anggota TechRepublic member dengan nickname maecuff berikut ini.
    “A new co-worker was showing me a process that I hadn’t done before and told me (while I was taking notes) that if a programmer needed to take notes on ANYTHING then they shouldn’t be a programmer. He refuses to use pen and paper for anything and pokes fun at people who do things ‘The Amish’ way.”

    Jika Anda pernah digosipkan “macam-macam” di tempat kerja, dituduh melakukan suatu kesalahan yang tidak Anda lakukan, dipelototi oleh rekan kerja atau atasan sedemikian rupa sehingga merasa terintimidasi meskipun tanpa kata-kata, atau dipermalukan di ruang rapat dengan cara pendapat Anda dibilang “ide bodoh”; maka itu adalah bentuk dari bullying. Bentuk lain yang dikutip dari Charlotte Rayner adalah berteriak, menulis kata-kata ancaman, mempertanyakan hal-hal terlalu detail dan merendahkan reputasi seseorang (http://www.portalhr.com/tips/2id90.html).

    Mengatasi perilaku dan pelaku bully memang tidak mudah. Korban bully tidak dapat dengan cepat dan mudah melakukan perlawanan. Korban biasanya staf (kontrak) yang dianggap kecil dan kadang tidak memiliki kepercayaan diri atau dukungan dari orang lain untuk melawan. Namun, korban dapat mencoba mengambil cuti sejenak (take time off) untuk menstabilkan emosi mereka sambil mendinginkan kepala. Jika mereka merasakan perubahan signifikan secara psikis dan fisik yang terjadi setelah menjauh sejenak dari lingkungan bully, maka perasaan itu dapat menjadi bahan refleksi. Dengan pengalaman itu, korban dapat mempertimbangan untuk meneruskan bekerja di tempat kerja itu dan melawan atau mengundurkan diri demi kesehatan jiwa dirinya dan keluarga.

    Salah satu masukan lain adalah dengan menunjukkan nama bully ke publik yang lebih luas sehingga orang lain mengetahui perilaku orang tersebut. Hal itu berhubungan dengan kata kunci dari bully yaitu perilaku yang berulang sehingga pelaku bully akan mudah melakukannya ke orang lain.

    Medan, 1 Maret 2009

    Advertisements

    One thought on “Mengenali dan Mengatasi Perilaku Bully (perilaku yang menyakitkan)

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s