CerPen-Saya

Rendra, Laki-laki dari Surga


Ada banyak dewa dewi di surga tetapi hanya satu yang bernama Rendra. Belakangan saya mengetahui tentang fakta itu.

Satu bulan terakhir hati saya sedang berbunga-bunga. Saya baru berkenalan dengan Rendra, laki-laki paling ganteng di seluruh Nusantara. Indra, teman perempuan saya yang mengenalkannya. Rendra berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Dia sudah bermukim di Jogja selama enam tahun. Sejak perkenalan itu, kami sering bertukar SMS dan jadi lebih dekat. Saya hampir lupa mempunyai teman bernama Joyo kalau dia tidak mengirim SMS mengajak datang ke pameran di Cemeti.

Joyo datang dengan sepedanya ke kos saya. Dengan hangat dia menyalami Mas Karyo.
“Kulo nuwun, Mas.”
“Eh, Den Mas Joyo. Pasti mencari Mbak Ken ya. Aku sudah bisa nebak lho!”
“Makin cerdas saja, Mas Karyo ini. Saya jadi malu. Ah, Mbakyu sudah menunggu di sini. Pangeran bersepeda siap mengantarkan Mbakyu.” Joyo tersenyum cerah.
“Iye. Telat lima menit!”
“Ya ampun, Mbakyu. Di Jogja itu waktu bukan lagi 24 jam tapi 48 jam.”
“Waktu adalah kesempatan dan kesempatan adalah uang.” sahut saya memperbaiki.
“Kelihatan mata duitan.” Joyo bicara dengan Mas Karyo.
“Udah ah. Males gua berantem lagi, nanti kita berhenti dulu di swalayan Mirota ya. Gua mau beli cologne.”
“Wes toh, Mbak. Mbak Ken itu sudah harum tanpa pake cologne.” jawab Joyo yang diiringi dengan tawa Mas Karyo.
“Kayaknya mulut lu perlu disumpel pake gorengan.” saya menyahut sambil menghampiri sepeda motor.
“Kalo itu aku nggak mungkin nolak..hehehehe. Udah dulu ya Mas. Nganter Mbakyu dulu.” Joyo pamit ke Mas Karyo yang masih cekikikan.

Sampai di Mirota, Joyo memarkir sepeda motor di dekat halaman Edward Forrer. Saya masuk ke dalam, mengambil barang yang saya inginkan dan keluar dalam beberapa menit. Saya tidak mudah tergoda dengan barang-barang di swalayan. Ketika saya menghampiri sepeda motor di seberang, tiba-tiba saya mengenali sosok yang membuat dengkul saya lemas. Rendra. Dia sedang berhenti di lampu merah.
“Rendra?” saya memanggilnya seakan tidak percaya. Sosok yang saya sapa menoleh dan tersenyum dari balik helm kemudian memutar balik motor Tiger-nya dan mendekati kami berdua.

“Halo, Ken!” sapa Rendra. Saya merasakan kehangatan menjalar di seluruh tubuh. Saya tidak mempedulikan Joyo. Dia mati pun saya tidak mau tahu. Saya sedang jatuh cinta.
“Halo, Ren! Mau kemana? Sendirian?” saya tersenyum menggoda.
“Iya. Aku pikir kamu lagi sibuk jadi aku nggak sempat ngajak.”
“Kapan sih gua pernah sibuk untuk jalan-jalan?” saya tersenyum manja.
“Ehem, ehem..” saya mencari sumber suara mendehem yang ternyata berasal dari Joyo. Dia mencari perhatian.
“Eh ya, Ren, ini Joyo, teman gua.” saya mengenalkan Joyo dengan tatapan masih terpaku pada wajah tampan Rendra.
“Saya Joyo, Mas. Teman biasa Mbak Niken.” ujar Joyo.
“Kita berdua mau ke Cemeti, ada pameran instalasi.” saya menjelaskan agar Rendra tidak berburuk sangka.
“Ooh, suka ya ke pameran? Minggu depan ada temanku yang pameran. Nanti aku hubungi ya. Sekarang aku mau ke tempat teman di Jakal 12. Nanti kita kontak-kontakan lagi ya?” Rendra tersenyum halus dan penuh pesona. Andai saja saya bisa berjingkrak-jingkrak di tempat itu tanpa ditonton orang banyak.
“Oke, nanti hubungi gua ya?”
“Pasti. Ayo, Joy. Duluan ya?” Rendra berpamitan ke Joyo.
“Monggo, Mas.”
Rendra berlalu dari hadapan kami dan saya masih tersenyum sendiri memandang kepergiannya.
“Mbak Ken, hati-hati! Di sini sering ada razia orang gila, kamu bisa dijaring kalo senyum nggak jelas gitu. Mingkem!”
Saya cemberut.

“Cemburu ya? Nggak ikhlas lihat gua senang. Itu dia cowok yang pernah gua omongin, Joy. Ganteng ‘kan? Arjuna aja kalah, Joy. Shahrukh Khan nggak ada apa-apanya sama dia. Tiger-nya anyar lho, Joy!”
“Wes, naik! Kita harus cepat ke Cemeti.” Joyo menghardik dengan nada kesal. Saya naik ke atas motor dan pembicaraan itu berlanjut.
“Kamu itu nyari cowok jangan lihat fisiknya tapi lihat hatinya. Tampang boleh kayak James Bond tapi kalo dia playboy gimana?” ujar Joyo menasehati.
“Gimana cara melihat hati orang? Kayaknya Rendra jodoh gua. Elu lihat sendiri dia sepertinya tertarik sama gua. Jarang-jarang gua jatuh cinta, Joy.”
“Dia anak mana?”
“Informatika UGM. Asalnya dari Ponorogo. He is so gorgeous.”
“Dilebih-lebihkan! Bapakku juga orang Madiun, tetangganya Ponorogo, dan dia nggak seganteng itu.”
“Yah, gua bisa melihat rupa bapakmu dari tampangmu, Joy.”
“Mbakyu, cowok kayak Mas Rendra peminatnya banyak, ngantri. Ganteng, arek informatika, motore anyar; aku wes hapal. Apalagi Mbak Ken belum pernah pacaran, jadi belum pengalaman.”
“Pake ngajarin gua! Elu aja baru sekali pacaran.” saya nyolot.
“Mbakyu udah berapa lama jalan sama Mas Rendra?” tanya Joyo.
“Emm, satu bulan. Setiap hari kita SMS-an, tiap tiga hari sekali kita pasti jalan. Cuma kali ini aja gua mau jalan sama elu.”
“Baru satu bulan, belum bisa kenal luar dalam. Coba dulu sampai satu tahun.”
“Iya, Mbah Joyo. Elu sendiri lagi dekat sama siapa?”
“Ya, sama orang yang sedang kubonceng ini.”
Saya tersenyum dan tidak berkomentar.

Sampai di Cemeti bahkan sampai kami pulang, bayang-bayang Rendra tetap ada di pelupuk mata. Tidak mungkin Joyo tidak tahu perasaan saya saat itu. Sebulan berikutnya, hubungan saya dan Rendra semakin dekat. Dia bahkan mempertemukan saya dengan orang tuanya ketika mereka sedang berlibur di Jogja. Saya tidak pernah membalas SMS dari Joyo. Dunia saya dipenuhi Rendra, cowok terindah yang biasa hidup dalam novel percintaan. Rendra begitu nyata dan dia benar-benar tertarik dengan saya.

Ini adalah bagian yang saya suka. Jam sepuluh malam, saya dan Rendra berada di sebuah cafe. Saya suka masakan pedas dan Rendra tahu tempat yang tepat untuk itu. Kami ngobrol mengenai hubungan masa lalunya dengan beberapa perempuan. Dia mengatakan mencari hubungan yang serius. Jantung saya hampir lumer. Kira-kira apa maksudnya? Dan kenapa semakin hari, dia semakin tampak memesona. Apakah dia memakai susuk? Alarm di otak saya berbunyi.
“Orang tuaku senang denganmu.”
Saya meremas-remas taplak meja, gelisah. Rasanya dua bulan terlalu cepat untuk bisa ke tahap yang lebih serius.
“Begitu ya? Elu belum ketemu orang tua gua ‘kan?”
“Kapanpun kamu mau, aku siap.”
Glodak! Mampus! Saya mengutuk diri sendiri.
“Tidak perlu buru-buru ‘kan? Masih ada waktu.”
“Aku merasa cocok dengan kamu. Entah kenapa, aku merasa cukup yakin dan aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini.”
Ya Tuhan…apakah ini bagian dari serial Cinta Fitri? Saya menggelengkan kepala.
“Ya, gua juga suka dengan hubungan ini.” saya mengusap hidung, kebiasaan lama kalau sedang gugup.
Rendra menatap saya dengan matanya yang tajam. Saya pura-pura bergegas. Saya melihat jam tangan. Sudah pukul dua belas malam. Cinderella harus pulang.
“Gua harus balik nih. Nggak enak sama ibu kos.”
“Kosanmu dekat sini ‘kan? Gimana kalo aku antar dengan jalan kaki. Motorku di sini aja. Aman kok. Nanti aku bisa balik jalan kaki.”
“Yang bener? Nggak apa-apa?” saya bertanya setengah tidak percaya.
“Iya. Ayo!” Rendra meraih tangan saya dan saya menahan napas.

Dalam keheningan malam di Selatan Jogja, kami berjalan berdampingan. Rendra masih menggenggam tangan kiri saya. Sebatang rokok LA Light terselip di jari tangan kirinya.
“Kira-kira kapan aku bisa ketemu orang tuamu di Jakarta?” tanya Rendra.
“Kayaknya bulan depan mereka mau jalan-jalan ke Jogja.” saya menjawab tanpa berpikir.
“Oke, berarti aku bisa ketemu mereka.”
“Yap.” Saya memandang wajahnya dan dia membalas dengan senyum yang menawan. Sayup-sayup saya mendengar alarm kebakaran tapi rasanya tidak cocok jika suasana romantis ini diiringi alarm. Akhirnya saya mengganti musik di otak dengan lagu Without You-nya Audy.

Love can make you feel so funny
No house no car not even money
Will make me feel the way
What I’m really tryin to say
I can’t live another day
Without You

Kami berdekatan dan bergenggaman tangan.
“Aku nggak pernah menjanjikan ke seorang perempuan bahwa aku akan menikahinya.” tiba-tiba Rendra bicara sambil melempar pandangan ke depan. Saya berusaha mencerna kalimatnya. Apakah wajah saya terlihat seperti perempuan yang minta dinikahi?
Rendra menyambung, “Aku senang bisa berdekatan dan terbuka bercerita denganmu. Kamu gimana?”
“Ya, gua juga senang kita bisa terbuka. Dan gua nggak minta dinikahi kok.” saya meresponnya dengan pernyataan yang tegas.
“Oh, ya aku bicara seperti itu karena punya pengalaman sebelumnya. Perempuan kadang punya harapan begitu tinggi.”
“Itu karena laki-lakinya memberi harapan yang tinggi.” saya membalasnya.
“Oh gitu ya. Jiwa feminismu makin kelihatan.”
“Biasa aja. Bawaan dari Jakarta.”
Rendra tersenyum.
Heran, kenapa Tuhan bisa memberi senyum yang begitu manis di bibirnya? Apakah seluruh laki-laki di Ponorogo diciptakan begitu memesona?

“Kamu kelihatannya dekat dengan Joyo.” ujar Rendra.
“Dia teman yang baik. Kita memang dekat, tidak ada yang istimewa. Orangnya aneh. Setiap Jum’at minggu ketiga, badannya bau kemenyan tapi dia nggak pernah ngaku.”
“Hahahaha….kalian berdua kayaknya sama anehnya.”
“Itu karena gua keseringan jalan bareng dia. Aneh itu ‘kan menular.”
“Kata siapa?”
“Kata gua.”
Rendra tersenyum lagi. Rasanya saya harus menutup mata setiap kali dia tersenyum kalau tidak ingin pingsan di tengah jalan. Tangannya hangat, senyumnya hangat, wajahnya hangat; semua dalam dirinya menghangatkan. Serasa di microwave.

Saya berharap seorang jin iseng memindahkan letak kos saya semakin jauh di ujung Kota Bantul. Namun apa daya, kos saya memang dekat. Sebenarnya ide siapa mencari kos sedekat ini?
Tiba-tiba, kami sudah sampai di gerbang kos. Hampir saja saya lupa.

Kami masih berpegangan tangan dan rasanya sulit memisahkan keduanya meskipun dipaksa satu batalyon Brimob. Saya berdiri di hadapannya, tersenyum dan tidak ingin berhenti menatapnya. Entah setan apa yang merasuki, saya bertanya, “Ren, elu yakin belum punya pacar?”
Rendra agak terkejut dengan pertanyaan saya, kemudian berkata, “Aku jarang pacaran, Ken. Seperti aku bilang, aku memang punya banyak teman dekat perempuan. Tidak ada yang serius.”
Saya tersenyum lega.

“Oke, sampai besok ya. Kita YM-an aja.”
“Itu kalo aku masih ingat password YM. Kayaknya setelah malam ini, aku jadi sulit mengingat yang lain.” sahut Rendra.
“Hahahaha, lagakmu! Sudah ya.” saya melepaskan genggamannya dengan sangat enggan. Tangan saya gemetaran mencapai gembok di balik pintu. Entah kenapa malam ini lubang kuncinya sulit ditemukan. Hayah!
“Kamu yakin ini kosanmu? Kok nggak bisa dibuka? Coba aku bukain!” ujar Rendra dan beberapa detik kemudian dia bisa membuka pintu gerbang.
“Kayaknya kamu ada bakat jadi tukang buka pintu gerbang.” saya menggoda.
“Aku sudah senang bisa membuka pintu gerbang hatimu.” kami berdua cekikikan.

Kami berpisah. Saya masuk ke kamar kos dengan hati sebesar Bandara Adi Soetjipto. Senaaaang sekali. Sudah lama saya tidak merasakan perasaan ini. Sampai di kamar kos, saya berganti baju dan menghempaskan tubuh ke springbed. Ada sesuatu yang mengganjal. Saya mengangkat HP dan terlihat ada SMS masuk dari Joyo.
Bu, mau main ke Candi Prambanan nggak? Nanti sekalian ke Candi Boko. Bagus lho!

Ah, Joyo. Joy, saat ini hanya ada satu dewa yang bersemayam di hati yaitu Rendra. Saya memilih memandangi relief Dewa Rendra daripada dewa dewi yang dipahat di Prambanan atau candi lain. Rasanya malam ini saya akan sulit tidur.

Medan, 22 Februari 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s