CerPen-Saya

Solo Lestari


Suasana Solo yang tenang dan tenteram mulai bergejolak ketika Joyo, sang pemandu, mulai memberondong saya dengan berbagai pertanyaan. Joyo adalah sosok yang suka mengulik pemikiran orang lain untuk digunakan sebagai bahan karikatur.

Sore itu kami sedang berada di sekitar Stadion Manahan di Solo. Kami sedang duduk-duduk di atas tikar, di bawah pohon rindang sambil makan tahu campur. Dia sedang dikejar tenggat waktu untuk membuat karikatur mengenai krisis keuangan global akibat jatuhnya berbagai perusahaan real estate di Amerika Serikat. Saya sendiri tidak paham korelasi krisis global dengan pertanyaannya. Baca saja transkripnya di bawah ini.

“Mbak Ken, aku boleh tanya-tanya ya?”
“Boleh,” saya tersenyum manis pada sosok yang selalu siap membantu saya. Joyo tersipu melihat saya.
“Posisi Mbak di lembaga yang sekarang ini apa sih?”
“Program coordinator.”
“Oh, pekerjaannya apa Mbak?”
“Mengkoordinasikan program yang sedang dilakukan.”
“Oh, programnya apa Mbak?”
“Movement building initiative yaitu membangun inisiatif dari para aktivis perempuan untuk menguatkan gerakan feminis.”
“Wah, keren Mbak. Lalu konkritnya kerjaan Mbak opo toh?”
Saya melihat ada kerumunan nyamuk di atas kepala Joyo. Rasanya saya ingin mencari obat nyamuk semprot untuk mengusir mereka. Perhatian saya beralih ke pertanyaan Joyo.

“Kerjaan gua? Jadi panitia workshop untuk tingkat nasional dan regional.”
“Ooh, itu namanya event organizer Mbak.” Joyo tersenyum bangga. “Aku juga sering jadi EO. Lalu apalagi?”
“Bikin laporan naratif dan laporan keuangan. Menata administrasi. Lembaga ini masih belum banyak kegiatan jadi nggak terlalu banyak kegiatan.”
“Habis itu apalagi?”
“Ya, aku diperbantukan di berbagai kegiatan di lembaga host misalnya jadi notulen di seminar mereka, menyusun dan distribusi media kampanye, bikin video iklan singkat, desain notebook, membuat artikel seperti itulah.”
“Oh, yo aku juga ngerjain itu Mbak. Mbak’e ngerti aku bikin komik, video tutorial, dan bikin liputan untuk surat kabar.”
“Emm, berarti pekerjaan kita kayaknya mirip ya?” saya menatap Joyo dengan heran.
“Lalu apalagi Mbak? Kalau aku ‘kan sering diminta konsultasi sama bosku tentang perencanaan program dan metodenya. Sebagai koordinator program, Mbak’e seperti itu juga ya?”
“Emm, nggak begitu dalam sih. Keterlibatan gua masih sebatas mendengar dan merangkum karena mendorong inisiatif itu proses yang cukup lama dan gua perlu waktu untuk memahami konteks region dan pemikiran dari supervisor gua. Gua justru lebih terlibat dalam perencanaan program di tempat kerja sebelum ini.”
“Lalu kalau boleh saya tahu…hehehe, ya tidak usah dibuka kalau Mbak keberatan.”
“Buka apaan maksudnya?” saya curiga dengan senyum mesum Joyo.
“Honor Mbak per bulan itu berapa sih? Sekali lagi nggak usah disebut kalau tidak mau karena ini mungkin isu yang sangat sensitif. Buat aku terutama karena masih minim banget.” Joyo menundukkan pandangannya.

Lama kelamaan saya ingin mengambil obat nyamuk untuk disemprotkan ke muka Joyo daripada ke kerumunan nyamuk di atas kepalanya. Tapi Joyo bukan nyamuk jadi rasanya obat nyamuk tidak akan berpengaruh.
“Itu sih enggak sensitif. Gua dapat honor secara halal kok dan gua punya hak untuk secara transparan memberitahukan ke publik. Honor gua dalam dollar, jumlahnya 275 ditambah dengan uang makan sehari dua puluh ribu rupiah. Kalau dollar lagi naik kayak sekarang karena krisis global, jumlahnya kalau dirupiahkan ditambah uang makan bisa tiga koma tujuh juta.”
“Wah besar sekali, Mbak. Tugas kita mirip tapi honor kita beda. Kira-kira kenapa Mbak?” Joyo masih mengunyah tahu di dalam mulutnya.
“Joyo!”
“Apa Mbak?”
“Ada seprei nggak? Gua mau buntel elu untuk dilarung ke pantai selatan. Kebanyakan tanya deh.”
“Hihihi, Mbak Ken ini lucu. Mendingan kardus tipi daripada seprei. Lah badanku ‘kan besar memanjang.”

Kami saling berdiam diri sejenak. Saya merasa segar setelah seharian mengunjungi Museum Radya Pustaka, museum tertua di Indonesia. Udara di sekitar stadion Manahan terasa segar.
“Mbak, aku boleh tanya lagi?” Joyo memulai perkara.
“Apaan?”
“Yang tadi belum dijawab, Mbak. Kenapa honor kita beda? Aku penasaran lho.”
“Ya biasanya ada standar pendidikan. Mereka ‘kan melihat gua lulusan pascasarjana.”
“Memangnya untuk melakukan tugas-tugas Mbak itu harus lulus pascasarjana ya?”
“Enggaklah. Siapapun bisa kok. Cuma mungkin mereka berpikir ke depannya akan lebih banyak program dan perlu ada orang dengan perspektif kesetaraan gender yang baik untuk melakukannya. Mendingan elu bikin daftar pertanyaan lalu kirim ke email gua.” Joyo melirik tahu campur di piring saya. Makanannya sudah habis. Sepertinya Joyo tidak pernah mengunyah makanan dengan baik karena selalu diselesaikan dengan cepat.

“Gorengan itu kayaknya enak deh, Mbak.” Joyo menunjuk dengan pandangannya ke arah gerobak gorengan.
“Beli sendiri! Gua udah bayarin tahu campur sama ongkos ke sini.”
“Mbak’e, uang banyak itu untuk apa kalau bukan membahagiakan orang lain. Hidup itu ya secukupnya. Itu falsafah orang Jogja.”
“Joy!”
“Apa…”
“Kayaknya gua berubah pikiran. Lebih baik gua larung elu ke sungai Ciliwung, biar cepat ditemukan.”
“Mbak Ken ini sadis ya. Dari luar saja terlihat kalem dan pendiam, tapi di dalamnya penuh kemarahan dan niat jahat.”
“Joyooo!” saya berteriak dan beberapa orang di sekeliling kami menoleh. Saya menundukkan wajah sejenak sebelum akhirnya memelototi Joyo. Saya kemudian berbisik, “Oke, Joy, gua akan belikan gorengan asal elu nggak tanya-tanya lagi sampe Jogja.”
“Siap!” dengan sigap Joyo berdiri dan menghampiri gerobak gorengan. Dia kembali dengan bungkusan plastik penuh gorengan.
“Semuanya enam ribu, Mbak. Lumayan buat makan di jalan.”

Kami pun beranjak dari Stadion Manahan. Dengan becak, kami menuju stasiun Solo Balapan.
“Mbak Ken.”
“Ape?”
“Bagaimana ya ngomongnya. Gini Mbak…”
“Iye…apaan?” saya mulai tidak sabar.
“Aku belum tahu jawaban Mbak Ken. Sebenarnya Mbak memilih aku atau Dimas?”
“Enggak dua-duanya. Inget ya, tadi elu janji nggak akan tanya-tanya gua sampe Jogja!”
“Ya, sudahlah. Satu jam lewat lima belas menit dari sekarang aku tanya Mbak lagi.”

Setelah membeli karcis, kami duduk di ruang tunggu.
“Joy, gua lihat karikatur elu tiga hari yang lalu yang membahas mengenai kaum difabel. Gua suka tuh.”
“Oya, menurut pendapat Mbak, karikatur itu menggambarkan apa?”
“Ya menggambarkan bahwa di setiap orang normal selalu ada kaum difabel. Gua suka dengan gambaran modifikasi Ganesha, menggambarkan bahwa orang bisa berjalan dengan banyak cara, bisa dengan kaki, dengan roda, dengan tongkat; apapun. Kayaknya itu salah satu masterpiece elu.”
“Wah, Bu, kamu cerdas sekali ya menerjemahkannya. Tidak sia-sia kamu digaji tinggi.”
“Joyooo!!”
“Lah, opo maneh? Aku mau dilarung dimana sekarang?” Joyo memelas.
“Nggak perlu dilarung! Diikat di tengah rel kereta ini aja!”
“Berdua sama Mbak ya?”

Cahaya matahari semakin meredup dan gelap merayap. Saya dan Joyo masih terus terlibat dalam pembicaraan bernuansa kekerasan yang manja. Kereta api prameks membawa kami ke Jogja dan kembali dalam kehidupan penuh warna.

Medan, 22 Februari 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s