CerPen-Saya

Joyo Lestari


Malaikat itu ada, tetapi kadang ketika mereka tidak punya sayap, kita menyebut mereka TEMAN. Saya percaya itu. Bahkan ketika suatu hari teman itu membawa saya kesasar.

Saya masih penasaran dengan nama Mendut sebagai nama candi di Magelang. Saya menyukai candi itu dibanding Bobobudur. Dua kali Joyo memberi taut mengenai Mendut. Bacaan itu belum menuntaskan keingintahuan saya. Saya melipat tangan di dada sambil mematut diri di depan cermin, memperhatikan dua jerawat di pipi dengan seksama. Sepertinya sebentar lagi saya akan menstruasi. Saya masuk ke kamar mandi dan mencuci muka. Walaupun ukurannya kecil, kamar kos saya memiliki kamar mandi di dalam.

Setelah mengeringkan muka, saya membuka pintu kamar agar mengetahui kedatangan teman-teman kos. Sebuah SMS dari Joyo masuk.
Halo, Ken. Aku dengar besok ada makan-makan gratis. Aku diundang nggak?

Hah! Darimana Joyo tahu ultah saya? Pasti Dimas yang memberi tahu. Saya memang berencana mentraktir teman-teman satu divisi di kantor. Tapi Joyo? Seorang pemandu wisata, pekerja seni dan aktivis sepeda ontel paruh waktu yang baru saya kenal minta ikut ditraktir? Orangnya menyenangkan, selera humornya aneh, dan tidak pernah ragu untuk menunjukkan keburukan saya. Saya sudah pesan tempat untuk lima orang di restoran saung Karisan di Godean. Saya tahu selera makan Joyo sangat besar, rasanya….

Saya dikejutkan dengan dering telepon genggam. Ragu-ragu, saya menerima panggilan.
“Halo, Joy.”
“Halo, Ken! Enggak mengganggu ‘kan?” sahut Joyo.
“Tergantung, elo mau ngomong atau mau nodong?”
“Hehehe, Dimas bilang besok kamu mau ntraktir sea food di Godean. Aku tahu lho tempatnya.”
“Oya? Gua justru belum tahu. Dimas yang kasih rekomendasi. Lalu apa hubungan sama elo?”
“Nah, itu dia. Dimas bilang pesertanya lima orang dan kamu belum ada yang bonceng ‘kan?”
“Gua bisa dibonceng Dimas. Lagian yang penting gua punya motor.”
“Gini, Ken. Si Dona, pacarnya Dimas itu cemburuan. Dia pasti nggak suka lihat Dimas bonceng cewek lain. Gimana kalau aku yang bonceng? Aku yang jadi pemandu jalan. Kualitas terjamin. Kamu pernah coba sendiri.” Joyo melancarkan rayuan.
“Gimana ya? Gua udah pesan tempat untuk lima orang. Nanti elo nggak kebagian.”
“Makanannya bukan nasi bungkus ‘kan? Bisa diatur lah. Daripada kamu nyasar. Soalnya itu masuk ke jalan kecil. Kamu ‘kan baru empat bulan di Jogja, pasti bingung.”

Joyo benar juga. Akhirnya saya membalas rayuan Joyo.
“Joy, sebenarnya elo itu pingin bonceng gua atau pingin makan gratis?”
“Enggak lah, Ken. Aku ini tulus mau membantu orang yang akan merayakan hari bahagianya. Dimas sendiri yang minta bantuanku.”
“Yang bener?”
“Tanya wae kalo ndak percaya. Kamu orangnya curigaan ya? Orang Jogja itu memang senang membantu pendatang. Malah sebenarnya besok aku sibuk mempersiapkan pameran Jogja Biennale. Aku bukan cowok materialistis, Mbak.” ujar Joyo secara meyakinkan.
“Yah, oke deh. Nanti gua tanya Dimas juga. Elo bisa ke kos gua jam tujuh?”
“Bisa, Mbae. Aku itu cowok by request. Diminta kapanpun jadi.”
“Cowok panggilan dong.”
“Tapi aku ndak dibayar. Ya, tanya saja sama Dimas. Sampai ketemu besok malam. Selamat ulang tahun.”
“Belon!” saya berteriak.
“Oh, iya, ya. Aduh, galak sekali Mbak ini. See you. Matur suwun.”

Telepon ditutup dan saya termangu sebentar sebelum mengirim SMS ke Dimas menanyakan kebenaran cerita Joyo. Tidak lama kemudian Dimas membalas dan membenarkan pernyataan Joyo. Saya memang sudah mendengar reputasi Dona di kantor. Entah kenapa, ada rasa senang mengetahui besok saya akan bertemu Joyo.

Saya membuka lemari dan mengeluarkan sebuah album foto. Saya melihat kembali foto-foto yang diambil Joyo di Candi Mendut. Ya, besok saya harus membawa kamera.

Besoknya saya terbangun dengan terkejut. Ada rasa sakit di wajah. Saya bergerak menghampiri cermin. Wah, jerawat saya semakin matang. Semoga ini pertanda bahwa saya juga semakin matang. Saya menggeliat dan duduk di tepi tempat tidur, menunggu sampai jiwa saya kembali dengan penuh. Dua puluh sembilan tahun. Saya memejamkan mata dan memanjatkan do’a. Cukup panjang perjalanan saya.

Teman-teman di kantor menyambut saya dengan hangat.
“Wah, the birthday girl is coming! Selamat ya, Jeng. Panjang umur dan panjang jodoh deh.” ujar Dyah sambil memeluk saya.
“Lho, maksudnya panjang jodoh gimana?” saya memprotes.
“Maksudnya panjang yang ngantri untuk mendapatkan kamu.” sela Mbak Fina.
“Bisa aja.” saya melirik Mbak Fina.

Kemudian datang Dimas dengan senyum merekah.
“Selamat ultah, Mbak. Semoga sehat selalu.” Dimas menggenggam tangan saya. Matanya tajam menatap saya.
“Oh, iya. Makasih ya.” saya tergagap menyambut ucapannya.
“Hari ini Mbak kelihatan cantik.” ujar Dimas.
“Ah, jerawatan begini kok dibilang cantik. Menghibur ya?” kami berdua tertawa. Kami pun melanjutkan rutinitas kerja.

Saya melihat ke arah jam di dinding. Ah, masih lama. Saya masih penasaran dengan tatapan Dimas. Sepertinya ada sesuatu. Nanti akan saya tanyakan ke Joyo. Banyaknya pekerjaan membuat saya tidak sadar dengan waktu. SMS dari Joyo masuk.
Mbak Ken, dresscode malam ini apa ya?

Aduh, anak satu ini konyol. Saya balas SMS-nya.
Dilarang memakai warna hitam kecuali celana dalam. Gua nggak suka hitam.
Saya tahu Joyo hampir tidak punya pakaian berwarna selain hitam. Datanglah balasannya.
Jaketku warna biru tua, celanaku hijau gelap. Pas ya, Mbak. Jam tujuh teng saya ke kosmu.
Halah, ujung-ujungnya warna gelap juga.

Seharian saya melihat Dimas agak gelisah. Entah karena ada tenggat waktu pekerjaannya atau ada hal lain. Selama dua minggu ini, dia “dipinjam” di divisi lain sehingga saya tidak mengetahui apa yang sedang dikerjakannya. Setiap melewati meja saya, dia akan tersenyum tersipu. Heran. Tidak seperti biasanya.

Jam setengah enam sore, saya pulang ke kos yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Saya mandi dan berganti pakaian. Jam enam lewat saya bersiap-siap. Saya menitip pesan ke Mas Karyo, penjaga kos, untuk memanggil saya jika Joyo datang. Kami berdua akan berangkat sendiri sementara rombongan Mbak Fani, Dimas, Dyah, dan Mas Aryo akan bertemu di tugu.

Malam ini kelihatan cerah. Kemudian saya mendengar suara kecil dari ruang depan. Mas Karyo sedang ngobrol dengan seseorang. Saya menengok ke luar.
“Mbak Ken, cowokmu sudah datang.” ujar Mas Karyo.
Saya tersenyum lega. Si pemandu wisata melambai dan saya berjalan mendekat.
“Dia bukan cowok saya, Mas. Teman biasa.” ujar saya.
“Ooh, teman biasa toh.” sahut Mas Karyo sambil tersenyum.

“Apa kabar, Ken? Hajatan besar nih, ultah ke tiga puluh ‘kan?” Joyo menyeringai.
Saya pasang wajah cemberut sambil memeluk tas tangan di dada.
“Dua sembilan,” jawab saya ketus.
“Oh, ya beda satu tahun. Ndak usah cemberut, yang penting tampangmu masih dua lima.” Joyo mengajak bercanda.
“Itu apa di wajahmu?” tanya Joyo.
“Norak deh! Belum pernah lihat jerawat ya?”
“Kamu jorok ya, jerawat dipelihara.”
Saya melengos kesal. Joyo selalu mencela saya. Menyebalkan.

Joyo lalu memarkir sepedanya di garasi dalam.
“Mas, aku nitip sepedaku ya. Tolong dijaga, ini mahal, Mas?”
“Mosok? Berapa?”
“Maksudnya mahal karena aku harus nabung gaji enam bulan, bukan mahal harganya, Mas.”
“Oh, iya, iya. Aku jaga, Mas. Hati-hati, motornya Mbak Niken itu masih baru. Maksudnya baru ditabrak, hehehe.”
Saya terkekeh. Motor Revo itu memang baru saya tabrakkan ke tembok. Saya bahkan sempat dirawat di klinik dan motor saya harus menginap di bengkel.

“Mbak Niken ini memang aneh. Tembok nggak berdosa kok ditabrak.”
“Elo bawel ya, Joy. Jadi nggak sih kita berangkat?”
“Ayo! Mau naik di depan atau di belakang?” tanya Joyo dan disambut tawa Mas Karyo.
“Nggak lucu!”
“Jangan ketawa. Ayo, Mas, berangkat!” Mas Karyo melambai di belakang.

Saya melirik ke tangan Joyo. Sepertinya dia tidak membawa hadiah. Dia tidak bisa diharapkan.
Kami berangkat jam setengah tujuh. Dyah sempat menelepon kami untuk memberitahu mereka sudah berangkat menuju lokasi.
Ketika di atas motor, saya tidak berpegangan ke Joyo.
“Kamu konservatif ya, Ken?”
“Kenapa?”
“Aku perhatikan kamu nggak pernah pegangan sama cowok kalau naik motor.”
“Bukan konservatif tapi jaga jarak.”
“Kenapa?”
“Biar nggak ditabrak.”
“Hihihi, justru kamu bakal celaka kalau motornya ditabrak dan kamu nggak pegangan.”
“Gua pegangan ke belakang aja. Ngapain sih dibahas?”
Joyo tidak membalas. Selama beberapa menit, kami berkendara tanpa bicara.

“Lokasinya dekat ‘kan, Joy?” saya mulai bertanya.
“Dekat. Jadi santai aja.”
“Kemarin gua lihat elo jalan sama cewek manis, Joy. Di dekat Gramed.” saya menggodanya.
“Oh, itu. Ya memang selalu ada aja perempuan yang pingin jalan sama aku.”
Saya memukul kepala Joyo yang dilindungi helm, “Ge er! Cewek yang mau jalan sama elo itu sebenarnya cuma ada dua, cewek kesasar dan cewek yang nggak punya pilihan.”
“Hahaha berarti kamu kesasar dan nggak punya pilihan ya? Hahaha, ketahuan. Hahaha…” Joyo terpingkal-pingkal.
Saya merenungi kebodohan diri sendiri. Tolol!
“Dia juga pendatang baru di Jogja, Ken. Ah, begitu aja cemburu.” ujar Joyo.

Tidak lama kemudian, kami memasuki Godean. Saya semakin senang. Tidak ada yang lebih baik selain merayakan ulang tahun bersama orang-orang terdekat. Dimas berpesan bahwa lokasinya dekat Hero Godean. Namun, entah kenapa Joyo terus berjalan melewati Hero.
“Joy, masih terus ya?”
“Iya, patokannya bengkel Yamaha. Masih di depan.”
Saya mengangguk sambil memperhatikan jalan di depan.
“Dimas bilang patokannya Hero.” tiba-tiba saya merasa khawatir.
“Dekat sama Hero. Yamaha masih ke depan. Sebenarnya dekat dengan pasar Godean.”
“Memangnya jam segini pasar masih buka?”
“Enggak, tapi dekat sama pasar.”
“Manut wae. Jangan kesasar ya, Joy.”
“Endak.”

Kami terus berjalan melewati lampu merah ketiga. Saya merasa jarak yang kami tempuh sudah jauh untuk ukuran Jogja.
“Joy, gua punya saudara di Godean. Setahu gua ini sudah mau ke Godean paling ujung.”
“Iya, ya.” sahut Joyo dengan ragu-ragu.
Mampus deh! Saya pikir.
Joyo masih tidak mau menepi dan bertanya ke Dimas. Mbak Fani mengirim SMS bahwa mereka sudah sampai 15 menit yang lalu. Ya ampun, saya melihat ke jam tangan. Hampir setengah delapan. Tahu-tahu kami sampai di depan pintu Pegadaian Godean.
“Joy, telepon Dimas deh! Nih, pake HP gua!” saya menyodorkan HP dengan nada kesal. Joyo pun menuruti permintaan saya.
“Oh, belokan dekat Hero itu ya. Iya, tadi kelewatan. Ya udah, aku mbalik ke sana. Aku lupa. Iya, iya cepet kok.” Joyo lalu mengembalikan HP. Saya berdiri di samping motor sambil melipat tangan dengan wajah berlipat tiga. Joyo tahu saya agak kesal.
“Maaf, Mbak. Kebablasan. Tadi harusnya belok pas di Hero.”
“Kapan sih kamu terakhir ke sana?” saya menyelidik.
“Satu setengah tahun yang lalu. Sudah banyak berubah, Ken. Sudahlah, kamu omeli aku di atas motor aja ya. Mereka sudah menunggu di sana.” Joyo merajuk. Saya pun naik ke atas motor.

“Kamu bilang pernah gabung di Mapala UGM. Kok nggak bisa baca petunjuk? Hero sampai Pegadaian jaraknya jauh, Joy. Itu sih bukan kebablasan.” saya mengomel.
“Ya, gimana? Aku lupa. Maksudnya aku nggak bisa konsentrasi.”
“Hah? Nggak bisa konsentrasi? Jadi selama perjalanan elo ngelamun terus? Ampun deh! Elo bayangin cewek kemarin itu ya? Sebenarnya udah berapa tahun elo tinggal di Jogja?” saya terus nyerocos.
“Iya, Mbae, aku mengaku bersalah. Aku kehilangan orientasi.”
“Aduh, alasan lain lagi. Kalo tahu gini, gua lebih baik dibonceng Dimas.”
“Maaf, Ken. Ini nggak disengaja. Tenan! Masak sih aku sengaja bawa kamu nyasar. Aku juga laper.”
Saya pasang wajah cemberut.

Tidak lama kami sudah memasuki jalan yang lebih kecil.
“Nah, itu yang di depan, Bu. Saung Karisan. Nyampe juga kita.”
Saya membisu. Kami masuk tempat parkir dan disambut Mas Aryo.
“Weleh, perasaanku tadi dari tugu ke sini nggak sampe setengah jam. Dibawa kemana aja, Joy?” Mas Aryo mengerling ke Joyo.
“Kesasar, Mas. Sampe ke Pegadaian. Aku salah memahami petunjuk.”
“Oalah, Joy. Sampeyan itu lahir dimana toh? Kok bisa sampai nggak tahu jalan di Godean.”
“Tenan, Mas. Tenan aku bingung tadi.”
“Kalo bingung mbok ya tanya. Malah kepenakan.” ujar Mas Aryo sambil menggelengkan kepala.
Saya hanya berdiri memperhatikan mereka berdua berbincang.
“Ayo deh!” ajak saya. “Mereka udah laper tuh. Tadi sore saya sudah pesan menunya, Mas.”
“Iya, mereka sudah masak. Dalam lima menit sudah jadi, katanya.”

Teman-teman menyambut kami berdua. Mbak Fani menggoda saya dan Joyo.
“Ya ampun, say. Kencan ke mana aja tadi?”
“Di pegadaian sana, seberang pasar.” ujar saya ketus.
“Aku kesasar, Mbak. Aku pikir dekat bengkel Yamaha yang dekat lampu merah.” sahut Joyo tanpa rasa bersalah.
“Kamu ‘kan pernah ke sini, Joy?” tanya Dimas.
“Iya, lupa.”
“Yo wes toh, yang penting sampai dengan selamat.” Dyah memotong pembicaraan.

Menu pesanan kami pun datang. Saya lapar sekali. Joyo tidak malu-malu untuk menandaskan makanan dan menambah nasi. Sejenak kami tenggelam dalam riuh kegembiraan. Saya mengambil beberapa foto ketika teman-teman menikmati makanan.
“Masakannya enak.” ujar Dyah. “Lalu ada acara apalagi nih?”
“Tanya yang ulang tahun dong.” sahut Mas Aryo.
“Saya punya resolusi supaya tahun ini karir semakin baik dan bisa mengembangkan potensi diri. Itu aja sih.”
“Basi!” sahut Joyo.
Saya melotot ke arah Joyo yang masih mengunyah cumi-cumi goreng.
“Itu sih standar, Ken. Lainnya apa?” kejar Dyah.
“Lainnya? Gua nggak mau dipandu atau dibonceng lagi sama Joyo. Lebih baik kesasar sendiri daripada kesasar berdua.”
“Nah, itu baru bagus!” puji Joyo sambil tersenyum lebar. Saya melihat Dimas melirik Joyo dengan wajah masam.

“Kalo soal jodoh gimana, Bu?” tanya Mbak Fani.
“Emm, itu belum kepikiran. Belakangan deh. Belum ketemu yang cocok.”
“Nanti kalo udah setahun di Jogja, pasti ketemu. Banyak kok jomblo nggak laku di sini.” ujar Mas Aryo yang disambut dengan gelak tawa.
“Kalo kamu mau, nanti aku kenalin sama teman-teman seniman mural. Banyak yang nelangsa kayak kamu.” sahut Joyo.
“Kurang ajar!” saya melempar sepotong cumi goreng ke arah Joyo.
“Hap! Dapat! Makasih.” ujar Joyo menangkap cumi dan memakannya.

“Aku rasa Niken ini nyari tipe eksekutif muda gitu.” Mbak Fani meneruskan pembicaraan.
“Weh, salah tempat, Mbak. Itu sih nyarinya di Jakarta. Di sini adanya tipe cowok mandiri, mbecak ke sana kemari.” Joyo tampaknya tidak akan berhenti bicara.
“Kayaknya acara pembukaan kado bisa dimulai,” saya memotongnya. Dimas tertawa sementara yang lain senyum tersipu.
“Hayo, siapa yang nggak lupa beli kado?” Mas Aryo menggoda teman-teman.
“Nggak ada juga nggak apa-apa. Makanannya belum gua bayar kok.”
“Wah, ini sudah ancaman namanya. Aku tadi nggak bawa kartu ATM, Mbak. Jadi nggak bisa beli apa-apa.” ujar Joyo.
“Memangnya sejak kapan kamu punya kartu ATM, Joy?” tanya Dyah.
“Mbak ini sukanya menghina aku.”
“Lho piye? Iki serius, aku belum pernah tahu kamu punya kartu ATM. Lah kerjamu ‘kan freelance alias bebas tanpa bayaran.” ucapan Dyah disambut tawa teman-teman.
“Ya, sudah lah. Ikhlas kok gua.” saya menutup perselisihan.

Tiba-tiba Dimas berujar, “Aku ada hadiah buatmu, Mbak Ken.” Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku celana.
“Aduh, cincin kawin ya, Mas. Kok buru-buru sih?” saya menggodanya.
“Buka dulu.”
Saya membukanya. Di dalam kotak kecil, tersimpan sebuah bros perak berbentuk daun. Bentuknya manis dan lekukannya halus.
“Wah, bagus, Mas. Makasih ya. Manis banget.” saya langsung memakainya.
“Dimas baik ya?” Dyah mengerling Dimas.
“Dona tahu nggak?” Joyo menyenggol Dimas.
“Tenang aja, Ken.” ujar Dimas.

“Aku juga punya hadiah, Ken.” Joyo tiba-tiba berdiri bertumpu dengan lututnya sambil merogoh saku celana dan jaket. “Dimana ya tadi?” dia sibuk mencari sambil mengeluarkan dompet.
“Halah, Joy. Nggak usah latah. Kalo memang nggak ada, nggak usah diada-adain. Gua paham kok kondisi elo.”
“Ah, ini dia!” Joyo mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya tetapi saya tidak melihat apa-apa. Joyo membuka genggaman tangannya. Di telapak tangannya ada dua biji kecil berwarna coklat.
“Ini biji bunga matahari atau krisan yang besar. Bisa ditanam di pot.”
Kami semua merunduk ke arah Joyo untuk melihat biji itu.
“Enggak sekalian sama potnya?” saya bertanya.
“Tadi buru-buru, Bu. Nanti aku bantu carikan ya. Nah, ini hadiahku. Hati-hati.” Joyo memindahkan kedua biji tadi ke dalam telapak tangan saya.
“Makasih ya, Joy. Omong-omong ini ambil dimana?” goda saya.
“Aku punya di rumah. Nanti bagus kalau sudah tumbuh.”
“Oke, thanks.” saya menyimpannya di kotak yang Dimas berikan.

Setelah seluruh acara selesai, saya beranjak ke kasir untuk membayar tagihan. Kami pun bergegas untuk kembali. Mbak Fani bertanya, “Kamu dibonceng siapa sekarang?”
Saya berpikir kembali dan pandangan saya tertuju pada Dimas yang sedang berbisik dengan Joyo. “Gimana ya? Soalnya sepeda Joyo ada di kos gua. Kasian juga dia.”
“Ya sudah, ini terakhir kali deh kamu digonceng anak satu itu.”
Joyo datang dengan seringai lebar, “Ayo, Bu! Aku janji kali ini nggak nyasar.”
“Kosan gua di Taman Siswa, Joy. Jangan bablas ke Klaten.”
“Hehehe, kalau mau ke Klaten juga bisa aku antar.”

Dalam perjalanan, herannya Joyo menjadi pendiam.
“Joy, baterai elu abis ya? Tumben diam banget.”
“Aku nggak enak ngomongnya.”
“Ngomong apaan?”
“Kamu tahu nggak kalau Dimas baru putus dari Dona?”
“Hah? Oh ya? Kenapa? Lho, tapi elo bilang kemarin….” saya tidak menyelesaikan kalimat.
“Yah, dia baru putus dua minggu yang lalu. Dia nggak suka dengan kecemburuan Dona. Jadi waktu aku bilang kemarin, hanya alasan sih.”
Saya dibuat bingung dengan penjelasan Joyo.
“Lalu? Dimas putus dari Dona dan pas ultah ini dia harusnya bonceng gua tapi elo mengubah rencana itu.”
“Ya, itu ada rancang bangunnya, Ken.”
“Jangan banyak istilah. Maksud elo apa?”
“Dia pingin pendekatan sama kamu. Lalu aku bilang, biar aku bantu. Biar satu divisi, kalian ‘kan nggak sering komunikasi.”
“Sok tau!”
“Memang aku tahu.”

Kami diam beberapa waktu. Joyo memacu sepeda motor dengan kencang.
“Lalu ada cerita apalagi, Joy?” saya menggali informasi.
“Cerita apa? Ndak ada, cuma itu aja. Kamu bisa tanya sendiri sama Dimas besok.”

Di depan kami terlihat pintu gerbang kos. Saya turun dan membukakan pintu. Joyo memasukkan sepeda motor saya di dalam. Mas Karyo tidak terlihat.
“Lalu gimana tadi, Joy?”
“Ya, aku bantu dia untuk mendekati kamu. Sudah terlaksana dengan baik ‘kan?” Joyo mengambil sepedanya.
“Kenapa Dimas nggak langsung ke gua?”
“Kamu itu cewek yang suka tembak langsung ya? Namanya juga pendekatan, melihat peluang dan kecocokan. Dia takut juga kalau kamu tolak.”
“Baik banget kamu mau bantu dia.”
“Yah, aku juga punya agenda sendiri.”
“Agenda? Maksudnya?” saya berdiri di samping Joyo yang berada di atas sepedanya.
“Yah, kamu bisa menilai kami berdua. Sekarang terserah kamu, mau pilih aku atau Dimas? Aku pulang dulu ya. Suwun.” Joyo berbalik dan memacu sepedanya, meninggalkan saya yang masih terkejut dengan ucapannya.

Medan, 26 Januari 2009

Advertisements

One thought on “Joyo Lestari

  1. waduh,,,bingung ya pilih yang mana???
    ini cerita nyata apa cuma cerpen mba??
    jadi pengin kenal sama yang punya blog ini,,
    ary juga suka nulis2 gitu..
    bagus mba menurut kacamata orang awam sepertiku..
    kalau mba berkenan,,boleh lah tukar pikiran tentang menulis,,menuli,,dan menulis
    ary perlu banyak belajar dari orang-orang seperti mba
    kalau berkenan,,liat blog aryhttp://ariyant07.wordpress.com/
    atau ym nya ary_miraclepitu
    email : beautylifeary@gmail.com
    thank’s banyak mba..salam kenal dan sukses selalu

    than

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s