Pengetahuan-Saya

Siklus kekerasan demi “kebenaran”


Membaca dan mendengar mengenai serangan Israel ke Palestina adalah hal yang membosankan tetapi terus berulang. Mungkin karena berulang maka jadi membosankan. Hidup begitu mudah dihancurkan. Kegagalan Israel mematikan HAMAS dan kelompok radikal di Timur Tengah membuat mereka gagal berpikir, bertanya, dan terus mengulang satu hal yang begitu naif, GEMPUR! Cuma itu yang mereka ketahui dan mungkin mereka pikir sudah paham alasannya. Mereka tidak pernah memberi ruang untuk menengok kembali pemahaman itu.

Gempur, bumi hangus, gencatan senjata, perundingan, gempur…terbiasalah mereka dengan rutinitas itu. Menggempur dan membunuh menjadi sarana pemacu adrenalin dan menjadi program keamanan negara. Jika mental “suka berperang” sudah ajeg dan pahlawan yang mereka banggakan hanya dapat muncul dari perang fisik seperti itu, mungkin akan sakit persendian mereka jika benar-benar terjadi perdamaian. Akhirnya akan seperti AS yang terus mencari ladang peperangan baru. Bisa jadi hidup dalam damai dan tenang adalah keanehan.

Merasa bahwa kita memiliki kebenaran hanya akan menambah beban hidup yang tidak perlu. Merasa bahwa kebenaran itu milik Tuhan “saya” dan bukan Tuhan “yang lain” adalah menggelisahkan. Jika klaim kebenaran memunculkan dan menguatkan kekerasan maka saya ragukan nilai kebenaran itu. Sulit membayangkan suatu kebenaran dapat begitu reaktif dan meledak-ledak tanpa terkendali. Kebenaran adalah pencarian ke dalam diri dan lebih khusyuk dilakukan dalam sunyi. Kebenaran tidak sama dengan atau membawa kepada superioritas. Kebenaran mungkin lebih indah jika dapat membawa pada penerimaan yang menenangkan.

Kalau kebenaran membuat orang menjadi tidak aman dan paranoid sehingga menimbulkan kematian yang menyedihkan, kebenaran itu perlu dipertanyakan. Kebenaran bukan sesuatu yang utuh dan langsung jadi. Kebenaran dibangun dalam sejarah dan “sakit hati”, trauma serta balas dendam menyertai proses psikis “melindungi diri”.

Ya, mungkin tidak ada kebenaran dalam tulisan ini tapi itu cukup memberi arti. Kedamaian mungkin membosankan bagi sebagian orang :).

Medan, 6 Januari 2009

Advertisements

One thought on “Siklus kekerasan demi “kebenaran”

  1. Yang perlu dicegah adalah munculnya generasi yang lahir an hidup dalam pengetahuan balas dendam. Secara psikis jelas anak-anak yang keluarganya mati terbunuh memiliki perasaan ingin membalasnya. Ini aan menjadi lingkaran setan yang sulit dicari jalan tengahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s