Perjalanan-Saya

Perjalanan tanpa tidur di Bukit Lawang


Jum’at kemarin saya mendapat pelajaran penting yang secara implisit akan saya bagi di tulisan ini. Hari itu saya dan seorang teman berencana melancong ke Bukit Lawang. Sekitar 3 jam perjalanan dari Medan. Saya keluar dari kantor jam 15:45 menuju pintu 1 USU menunggu seorang teman, laki-laki. Saya baru mengenalnya sekitar dua bulan. Dia cukup baik dan selama itu saya tidak punya masalah khusus dengannya. Ya, selalu ada situasi yang kemudian memunculkan “sifat khusus” seseorang.

Jam 16:00 kami berangkat dari USU menuju terminal Pinang Baris. Rupanya bus PS (singkatan dari Pengem. Sentosa; entah kenapa kata pertama disingkat dan saya tidak bisa menebak kepanjangannya) yang melayani trayek Medan-Bukit Lawang sudah habis. Kami diberitahu untuk mengambil kendaraan di Kampung Lalang. Dari terminal P. Baris, kami naik angkutan 06 kuning untuk ke Kp. Lalang. Di sana ada sebuah L300, sejenis angkutan travel, dengan tujuan B. Lawang. Kami naik travel itu dan berangkat jam 17:00. Everything ran very smooth. Saya menikmati satu jam pertama perjalanan. Selebihnya cukup bikin mual karena perpaduan menjengkelkan; hujan deras, jalanan rusak, minim sekali lampu jalan, baterai MP3 habis. Teman saya, sebut saja Dedy, tidak terlalu banyak bicara. Which is good.

Hujan deras mengakibatkan genangan air yang tinggi di beberapa tempat yang kami lalui. Di suatu tempat khas Sumatera Utara, artinya dikelilingi kebun sawit, ban mobil yang kami tumpangi pecah. Letupannya sangat mengkuatirkan, saya pikir ada ada yang patah. Travel itu dikendarai oleh seorang remaja dengan dua teman yang sama kecilnya. Para penumpang salut dengan kedua remaja itu yang berhasil mengganti ban di bawah derasnya hujan dengan waktu kurang dari 10 menit.

Perjalanan dilanjutkan dan saat itu saya punya cukup alasan untuk kuatir kalau ada ban kedua yang pecah di jalan. Sebagian penumpang turun sepanjang perjalanan sampai hanya kami berdua yang ada di mobil. Teman saya meminta travel untuk mengantar kami sampai di depan tempat yang dekat dengan penginapan. Tarif normalnya adalah Rp12.000/orang, karena kami minta tambahan maka total yang kami bayar Rp 35.000.

Kami turun di dekat sebuah warung. Saat itu sekitar jam 20:00. Kami makan malam di warung itu. Setelah merokok sebentar kami mencari penginapan terdekat yang cukup murah. Saat itu sedang ramai dan masih dekat dengan tahun baru jadi harga kamar masih cukup mahal dengan pelayanan minimal. Dedy sudah menghubungi orang hotel sebelumnya. Saya kaget begitu tahu bahwa harus melewati sebuah titian sederhana dari kayu. Di bawah titian, arus sungai mengalir dengan deras. Waktu supir travel mengatakan titian, saya sempat berpikir bahwa mungkin yang dimaksud adalah jembatan. Ternyata, memang titian dalam arti sesungguhnya.

Kami menginap di Penginapan Sibayak. Twin bed-nya minimalistik, satu malam seharga Rp 100.000. Saya sempatkan mengisi buku harian. Saya hanya sebentar tidur karena kemudian terlibat dalam situasi agak tegang dengan Dedy. Saya kemudian sadar bahwa saya sangat tidak nyaman bersama laki-laki ini. Dedy membuat saya kehilangan rasa kantuk terutama sekali saya tidak lagi menghargainya. Baru jam 5 pagi saya bisa tidur, itu pun hanya satu jam. Jam enam saya bangun, sholat, dan melihat ke luar. Cuacanya cerah dan saya putuskan untuk keluar mengambil beberapa foto, sendirian. I didn’t ask Dedy to come along for a very good reason.

Setelah puas, saya kemudian bertemu guide yang akan mengantar kami keliling dengan biaya Rp 50.000/orang. Tawar-menawar tidak sukses dan saya tidak mau mengandalkan Dedy karena dia pun baru pertama kali ke tempat ini. Setelah sepakat dengan harga itu, kami bersiap menuju Taman Nasional Gunung Leuser, that famous place.

Perjalanannya sampai ke tempat penyeberangan tidak jauh. Arus sungai mengalir dengan deras, airnya keruh karena musim hujan. Kami menyeberang dengan perahu yang hanya bisa memuat 4 penumpang dan seorang pengemudi. Sebelum ke tempat pemberian makan orangutan, kami menuju air terjun. Perjalanan dari sana sampai ke tempat pemberian makan cukup jauh bagi saya yang baru pertama kali berkunjung. Jalannya terjal. Saya yakin sampai di Medan, otot di kaki saya akan mengeras. Sekarang sudah terasa kok, hihihi.

Melihat orangutan dari dekat adalah pengalaman luar biasa. Melihat mereka masih hidup di alam dan berkembang biak menjadi begitu penting bagi saya. Life is terribly unfair for them. Perjuangan mereka luar biasa, orang-orang yang membantu mereka di TN G. Leuser sama luar biasanya. Saya mengambil sedikit foto dan itu pun dari jauh. Rasanya kok aneh kalau saya mengambil foto mereka dari dekat. Saya membayangkan kalau saya orangutan dan menggendong bayi yang berusia beberapa hari, lalu ada segerombol orang asing datang dengan berbagai kamera digital dan memainkan jari mereka. Agak konyol. Siapa sebenarnya yang orangutan?

Sebelum berjalan, kami belum sarapan. Jadi ketika pulang, sarapan dan makan siang kami rapel. Setelah itu, kami ke kamar dan punya waktu sekitar 2,5 jam untuk istirahat dan mengepak barang. Saya sempat tertidur sekitar 20 menit di kursi di luar kamar sementara Dedy tidur di kamar.

Jam 12:00 kami keluar dari penginapan, menuju terminal. Saya senang mendapati bus PS masih kosong. Jam 13:00 mereka berangkat. Seorang ibu membawa keriuhan dengan membawa dua ayam kecil di tangannya. Saya menjadi waspada, jangan-jangan akan ada orang yang membawa ayam lebih banyak atau seekor kambing masuk ke dalam. Waaah, pasti seru banget! Ternyata cuma dua ekor ayam kecil yang menjadi penumpang hewan di bus kami.

Saya menikmati seluruh perjalanan di Leuser dan perjalanan pulang. Awalnya sempat terbawa marah karena kejadian dengan Dedy tetapi kemudian saya pikir, saya tidak ingin mood kehidupan saya terganggu oleh perilaku seorang laki-laki yang tidak penting. I am going my way and I will enjoy it to the bottom. Lagipula, laki-laki bukanlah pusat alam semesta. Dalam perjalanan pulang, saya dan Dedy tidak banyak ngobrol. Kami ngobrol sebentar ketika sampai di Binjai. Selain tidak ada sesuatu hal yang perlu dibicarakan, saya juga ngantuk tapi tidak bisa tidur. Saya perlu istirahat setelah dalam dua hari hanya tidur sekitar dua-tiga jam. Itu pun tidak nyenyak. It felt like sleeping half-consciously, if you know what I mean.

Secara keseluruhan, saya senang sudah melakukan perjalanan ini. Saya dapat melakukannya lagi sendirian atau dengan teman-teman kantor. Perjalanan luar biasa untuk dapat melihat keindahan orangutan dan habitatnya.

Medan, 4 Januari 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s