Pengalaman-Saya

Tempat di mana hasrat terbakar senja


Setelah hampir terbenam dalam pekerjaan, saya kembali! Hihihi, dibuat dramatis gitu. Mau cerita apa ya? Ada banyak cerita. Pengalaman di Cape Town aja belum sempat ditulis. Semua pengalaman, kesan, dan gambaran perlu ditulis. Saya akan mulai dengan informasi yang berkesan.

Informasi ini bukan mengenai Cape Town atau Forum AWID melainkan mengenai kabar dari remaja peserta Kejar Paket C di Telecenter Semeru (TS), Lumajang. Kejar Paket C adalah modul pendidikan yang setara dengan tingkat SMA. Di desa Pasrujambe, ada sebagian remaja yang tidak dapat mengakses SMA karena lokasi SMA terdekat ada di Kabupaten yang letaknya jauh dari tempat tinggal. Telecenter adalah bangunan baru dan lokasinya berada dalam satu kompleks dengan kantor polisi lokal dan kecamatan. Di sampingnya juga ada TK. Kegiatan mengenai TS dapat dibaca di taut ini: http://tcsemeru.wordpress.com/kegiatan-telecenter/.

Pada tahun 2007, tiga kali saya ke Telecenter Semeru (TS). Remaja di sana tidak berbeda dengan remaja di kota-kota besar. Mereka memiliki HP, belajar komputer dan internet, menyukai musik pop yang sedang populer, serta memiliki kelompok pergaulan masing-masing. Saya kangen dengan teman-teman di sana. Berita terbaru dari mereka adalah ada yang akan segera menikah (perempuan), ada yang bekerja sebagai TKI, ada juga yang migrasi ke kota lain, sebagian lagi masih ada di sekitar Lumajang. Saya ingin sekali tahu keadaan mereka, kabar mereka, kicauan mereka. Saya ingin menjenguk mereka, mendengar cerita mereka. Sekaligus mendengar keinginan mereka.

Telecenter bisa tutup tetapi yang saya khawatirkan adalah bagaimana hidup remaja itu setelah lulus Kejar Paket C. Ketika saya lulus SMA, saya sangat yain untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Keluarga pun memberi dukungan dan fasilitas untuk itu. Namun, apakah hal yang sama juga terjadi pada remaja di Pasrujambe? Mereka mungkin bingung mau kemana dan melakukan apa setelah lulus SMA. Sebagian mungkin menilai Pasrujambe dan sekitarnya tidak menawarkan kondisi dan masa depan yang lebih baik. Apakah mereka harus pergi ke kota yang penuh dengan tanda tanya (hasyah)?

Pengalaman lain yang berkesan dan terasa sebagai hutang adalah menjenguk dusun Pabelan 4 di desa Pabelan, Jawa Tengah. Kalau naik bus dari Jakarta, jalan masuk dusun itu biasanya akan dilewati. Dari Jogja, hanya 40 menit perjalanan dengan kendaraan pribadi. Saya berhutang kepada empat orang ibu-ibu di sana. Mereka ingin sekali belajar komputer dan internet. Mereka ingin tahu, apa sebenarnya yang bisa dilakukan komputer dan internet sehingga begitu banyak pemberitaan tentang keberhasilan internet di media. Bagaimanapun, hutang adalah hutang. Namun, bisa saja pelaksanaan bukan saya karena ada banyak remaja yang juga santriwan/santriwati yang biasa berhubungan dengan komputer serta internet. Paling tidak, ada komunikasi antar mereka. Jadi kalau yang satu paham, yang lain juga tertular.

Kayaknya masalah utama negara ini bukan di kuantitas dan kualitas sumber daya. Ada banyak sumber daya alam dan manusia tetapi antara kuantitas dan kualitas kurang nyambung, sistem tidak “menampung dan memanfaatkan” keragaman kualitas manusia, antar manusia juga sering bermasalah. Asik sekali!

Those are my passion and it has strong power. Somehow I believe it will take me to a place where the sun burn bright and my sinus is gone. Emm, dimana ya?

Medan, 24 Desember 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s