CerPen-Saya

Angin Merah


Niken duduk bersandar sambil melemparkan pandangan ke tanah lapang alun-alun Utara, Yogyakarta. Tanpa disadarinya Jinggo sudah duduk di seberang meja.
“Bu, bangun! Sudah sore, nanti kemasukan.” seru Jinggo.
Niken tersentak terkejut.
“Eh, ya ampun, darimana? Kok gua nggak dengar elu dateng?”
“Kerjaan kok ngelamun? Pantesan nggak beres-beres!”

“Kamu juga kalau jalan enggak menapak, bagaimana bisa orang dengar?”
Jinggo tertawa, “Kamu pikir aku kuntilanak, Bu?”
“Bukan, gua pikir elu punya tenaga dalam gitu. Buktinya kemarin dari Godean ke Kaliurang bisa elu tempuh dalam waktu 45 menit. Udah gitu pakaian elu hitam semua, sampai ke sepatu pun hitam. Gua yakin celana dalam pun hitam. Kayaknya itu syarat supaya jimat elu bekerja.”
“Hahaha…kamu orang kota kok percaya gituan? Mana, aku nggak pakai cincin atau kalung buat tempat nyimpen jimat. Masak aku simpen di celana dalam.”
“Kenapa enggak?” Niken memandang Jinggo penuh selidik. “Berhubung gua suka nonton film horor, otak gua jadi parno. Jimat ‘kan bisa aja elu taro di sepeda.”
“Udah ah.” sahut Jinggo pada akhirnya mengalihkan pembicaraan.

“Sudah pesan, Bu?” tanya Jinggo yang selalu memanggil Niken, perempuan lebih senior lima tahun darinya, dengan panggilan ibu.
“Sudah, tapi kayaknya abis magrib baru dianter ke sini. Itu juga kalau dia masih ingat sama pesanan gua.”
“Hehehe, sebentar aku ingetin lagi ya.” Jinggo berdiri dan menghampiri penjual lotek yang mangkal di dekat pelataran Keraton bagian Utara. Lalu dia kembali sambil menyeringai.

“Nasib baik, Bu. Dia masih ingat pesananmu tetapi dia lupa bikin, hehehe. Ada-ada aja orang itu. Niat jualan nggak sih?”
Niken tersenyum. Dia tidak beranjak dari sandarannya. Roman wajahnya sendu.
“Lagi ngelamun apa sih? Habis patah hati atau abis pake narkoba?”
“Apaan sih?”
“Kayaknya kamu sering patah hati ya.”
“Elu ngomong sama gua, Jin? Gua nggak ngerti.”
“Hemm, pura-pura! Aku udah baca blog kamu di wordpress. Tau nggak, Bu? Kamu itu jangan terlalu blak-blakan di blog. Bahaya, kamu akan kehilangan privasi.”
“Kamu juga jangan mudah percaya dengan apa yang kamu baca, Jin.”
“Heh? Cerita di blog itu ‘kan ceritamu sehari-hari. Keliatan kok dari bahasanya. Nggak mungkin kamu mengada-ada.”
“Ya, kemampuan kita berkhayal memang beda. Tapi sudahlah, gua mau pindah kos, lagi cari yang lebih murah tapi nggak terlalu terpencil.”
“Ah, masak mikir pindah kos sampe ceritanya sedih gitu di blog. Nggak percaya! Kalau boleh aku komentar, Miss Datar. Kamu itu bukan tanpa emosi tapi defensif. Kamu menjaga jarak dari sesuatu karena takut kehilangan.”

Niken menatap Jinggo dengan tajam selama beberapa detik. Kemudian berujar, “Gua bukan benda purbakala, Jin. Nggak usah dianalisis.”
Obrolan mereka terhenti sebentar ketika penjual lotek datang membawa pesanan mereka. Jinggo melanjutkan, “Jangan begitu, Bu. Ini hanya masukan dari aku. Tidak diterima juga ndak apa-apa. Kamu dan benda purba itu nggak beda jauh, sama-sama milik masa lalu. Belum bisa melangkah ke depan.”
“Heh? Elu makin pintar ngomong akhir-akhir ini. Apakah ini pertanda skripsi elu bakal selesai?” tanya Niken sambil menyuapkan sepotong lontong ke mulutnya.
“Oh, tentu tidak! Skripsi adalah masa laluku. Aku sudah bergerak maju.”
“Halah, bilang aja nggak selesai! Terima kasih udah baca blog gua. Lain kali kirim komentarnya di blog aja, nggak usah pake janjian begini.”

“Oh, jadi hutangmu nggak mau dilunasin. Yo wes!”
“E..eh… hutang adalah hutang. Untung elu ingat.”
“Ah, harusnya tadi nggak usah aku sebut!” ujar Jinggo sambil merogoh kantong celananya.
“Ini, Bu. Lunas yo, dicatat lho!”
“Elu pikir gua tukang kredit. Makasih.”
“Sama-sama,” sahut Jinggo dengan seringainya.

“Gua belajar banyak dari elu, Jin.”
“Yah, hidupku memang berliku dan keras.”
“Eh, dengar dulu!” Niken melempar gulungan tisu bekas ke wajah Jinggo. “Gua belajar untuk menyesuaikan diri dengan tikungan yang tidak dapat diperkirakan.”
Jinggo memandangi Niken untuk beberapa lama.
“Em, maaf, Bu. Tapi maksudnya apa ya, kok pakai tikungan segala?”
“Ya, maksud gua, elu mampu menyesuaikan diri dengan apa yang tidak terduga.”
“Sorry, Bu. Aku masih belum paham. Tolong pakai bahasa yang membumi, jangan filosofis.”
“Ya, ampun, segitu kok dibilang filosofis. Nggak heran elu nggak bisa selesai skripsi.”
“Ah, kenapa sih kamu selalu bawa masalah skripsiku? Kayaknya kamu yang lebih terobsesi dengan skripsiku daripada aku sendiri.” sahut Jinggo sambil membersihkan bibirnya dari bumbu lotek dengan tisu.

“Memang, karena gua ingat elu bilang arkeologi adalah pilihan elu yang pertama di UMPTN. Itulah hasrat elu dan elu tidak malu dengannya. Gua juga merasa skripsi elu adalah bagian dari hasrat itu, sampai kemudian ada cinta lain yang datang. Elu perlu tujuh tahun lebih untuk memilih antara dua hasrat itu. Gua lihat elu cukup yakin dengan pilihan yang sekarang.”
“Oh, begitu. Ya, sekarang aku sudah paham.” Jinggo tersenyum menunduk. Pikirannya berkecamuk.
“Aku masih memikirkan tema skripsiku itu, Bu. Aku nggak bisa melupakannya dengan cepat. Sudah banyak waktuku tersita untuk mencari literatur pendukung, menulis, berdiskusi, dan lain-lain. Memang, aku suka pilihan temaku, tidak ada yang memaksa aku. Hanya, memang ada hasrat yang lain. Ah, jadi mellow nih, Bu.”
“Ya, nggak apa-apa, Jin. Enggak gua rekam kok.”
“Kamu jurnalis gelap sih, nggak ada kartu pers, tau-tau muncul tulisan di blog dan semua orang jadi tahu namaku.”
“Namamu akan gua ganti, Jin. Kalo diganti jadi Kevin gimana?”
“Ora masuk!”
“Hahahaha,” Niken tertawa lepas. Dia membersihkan mulutnya dengan seteguk air putih.

“Eh, Bu. Aku pikir tadi ada yang aneh. Lalu aku baru sadar, kamu tidak pakai jaket merahmu.”
Senyum Niken merekah.
“Kok kamu memperhatikan sih? Gua jadi tersanjung.”
“Biasa aja lah. Jaket merah itu ‘kan sudah identik denganmu. Orang yang dekat denganmu pasti ingat.”
“Oh, jadi elu merasa dekat sama gua ya?” Niken terkekeh.
“Halah, dibahas!” Jinggo melempar pandangan ke tanah lapang.
“Hahaha…iya, Jin. Jaket itu tertinggal di Bukittinggi. Gua baru sadar sehari sesudahnya. Gua relakan. Hitung-hitung melepaskan masa lalu yang menempel di jaket itu.”
“Hem, mellow lagi. Ada apa kamu ke Bukittinggi?”
“Terapi spiritual.”
“Ke mana?”
“Ke tukang pijat asal Banten yang tinggal di sana.”
“Hahahaha…” Jinggo tertawa sambil menutup wajahnya. “Iya, iya. Kamu sebenarnya lebih eksentrik dari aku, Bu. Berhasil?”
“Ya, begitulah. Menderita banget gua di sana. Suhunya dingin, gua sakit demam, sinusitis kambuh. Ya, itulah spiritualitasnya.”
“Hahaha. Kalau mau cari yang seperti itu lagi, aku antar kamu ke puncak Merapi. Di sana juga ada tukang pijat yang enak. Eh, Bu, kamu kok sering kirim SMS yang mencurigakan sih?”
“Mencurigakan gimana?” tanya Niken dengan mimik heran.
“Abis kamu kadang suka bilang kangen sama aku, memuji-muji aku. Ya gimana ya?” Jinggo tersipu sambil melirik Niken.

“Gua memang selalu memberi perhatian pada mereka yang memerlukan, Jin. Macam kamu ini. Mana tega gua melihat elu enggak dikangenin siapa-siapa.” ujar Niken.
“Asem! Ya terima kasih sudah berbaik hati dan jujur.” jawab Jinggo. Dia menyelesaikan suapan terakhir sementara hidangan Niken masih tersisa setengahnya.
“Kamu masih lapar, Jin? Nih habisin punya gua! Nggak selera lagi.”
“Nggak selera atau nggak tega?” goda Jinggo.
“Dua-duanya.” Niken tersipu. Jinggo terheran dengan reaksi Niken tapi dengan sigap dia mengambil piring lotek yang disodorkan ke arahnya. Hanya perlu sekitar dua menit baginya untuk menuntaskan lotek itu. Selama itu mereka tidak berbicara.

“Makasih, Bu. Ini cukup untuk mengayuh sepeda sampai Kaliurang atas.” Jinggo tersenyum kemudian meneguk air putih. Saat itu Niken tidak mendengarnya. Dia sedang menerawang jauh, pikirannya sedang tidak berada di tempat itu. Jinggo mendiamkannya dan mengambil kesempatan itu untuk memandang perempuan yang berada di seberangnya. Perempuan yang dia kagumi tetapi tidak dapat dimiliki karena sulit bagi laki-laki seperti dirinya untuk mencintai tanpa memiliki. Niken bukan kupu-kupu yang cantik atau mutiara yang eksotis. Niken seperti angin; tidak bisa disimpan atau dinikmati demi kepuasan. Belakangan, Niken berada di Yogyakarta tetapi beberapa hari kemudian dia bisa berada di sebuah pulau di Lombok atau Papua. Jinggo akan merasa kehilangan.

Mereka masih terus terdiam menikmati pikiran masing-masing ketika semburat kemerahan berserakan di langit. Mereka berbagi senyum, menggumam selamat tinggal sebelum akhirnya beranjak pergi ke tempat yang berbeda. Niken dijemput seorang laki-laki berambut gimbal. Jinggo menggodanya tetapi dia sangat paham kalau tidak seorang pun dapat memiliki untaian angin merah dalam diri Niken.

Medan, 23 Nopember 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s