Pengetahuan-Saya

Belajar mengenai ruang publik


Jadi begini ceritanya. Beberapa waktu yang lalu, mungkin sampai sekarang, saya sedang menggilai seorang cowok. Salah satu hobi cowok ini adalah melakukan pemetaan ruang dan komunitas. Kayaknya kalau Planet Mars bisa dipetakan, dia juga akan melakukan itu. Dia senang berada di peta hijau dan memetakan segala yang ‘hijau’ demi penghijauan. Makhluk hijau ini juga gemar melakukan advokasi pelestarian budaya. Dari dirinya, saya kemudian tertarik untuk belajar mengenai konsep ruang publik. Pada beberapa tulisannya, dia pernah menggunakan konsep ini. Ketertarikan saya pada wacana ruang publik bukan karena ingin membuat dia tertarik pada saya, melainkan saya ingin menelaah perpustakaan terhadap perannya sebagai ruang publik. Kalau memang dia jadi suka sama saya, ya syukurilah…hahaha.

Tulisan saya di bawah ini merupakan rangkuman dengan bahasa dan pemahaman saya sendiri. Pertanyaan awal saya sih agak genit: apakah lokalisasi pelacuran termasuk dalam ruang publik? Pertanyaan itu muncul karena saya melihat lokalisasi dikunjungi oleh publik dan masyarakat biasanya mengenal tempat yang disebut sebagai lokalisasi. Inilah hasil perburuan cinta eh informasi saya mengenai konsep dan wacana ruang publik.

Bicara mengenai pelacuran biasanya dekat dengan perempuan dan tidak lupa relasi gender. Secara spefisik saya ingin mengangkat ruang publik dan relasi gender yang ada di dalamnya. Seorang fisikawan pernah berkata bahwa belajar sains yang benar adalah jika definisi diberikan pada akhir proses bukan pada awal. Menurutnya lagi, pembelajar perlu mengelaborasi dan melakukan berbagai eksperimen untuk sampai pada pemahaman dan memupuk keinginan untuk melanjutkan pencarian. Saya mau ikuti caranya.

Pemahaman umum atau common sense saya terhadap ruang publik adalah ketika sebuah ranah atau ruang yang dapat diakses dan dinikmati masyarakat umum dari berbagai kelas sosial, gender, etnis, keterbatasan fisik, ras, orientasi seksual, dll. Dengan demikian, arsitekturnya pun dirancang agar dapat menampung publik dengan berbagai karakter fisik dan sosial. Ruang publik tidak otomatis gratis karena secara langsung atau tidak langsung warga membayar untuk itu. Mungkin saya membayarnya dengan pajak atau membayar biaya kebersihan. Saya membayangkan ruang publik sebagai penyeimbang ekologi suatu masyarakat. Secara singkat, Stephen Carr (1992) menyatakan bahwa ruang publik setidaknya harus memenuhi tiga hal yaitu responsif, demokratis dan bermakna. Bermakna di sini berarti ruang publik memiliki hubungan antara manusia, ruang dan konteks sosial.

Kayaknya kalau dari uraian saya di atas, lokalisasi pelacuran tidak termasuk dalam ruang publik. Tapi uraian itu belum selesai. Lanjut!

Dalam kajian feminisme, dikotomi ruang publik dan privat menjadi konsep layaknya makanan wajib seperti rumput bagi sapi. Dalam masyarakat modern yang dimotori industri kapital, ruang publik dan privat dipisahkan dengan tegas. Keluarga yang tadinya menjadi unit produksi dengan industri rumahan berubah bentuk. Laki-laki digiring menjadi buruh di pabrik agar mudah dikontrol dan perempuan dikukuhkan sebagai pengurus ‘calon buruh’ atau anak-anak. Ruang publik kemudian identik dengan negara, parlemen, pembuat keputusan, demonstrasi, dll. Pendidikan ikut mengalami perubahan, dari rumahan atau dikenal homeschooling menjadi sekolah formal di luar rumah. Kalau dalam sejarah Indonesia, mungkin dari pesantren lokal menjadi sekolah yang formal dengan iuran yang tidak terjangkau.

Dalam sejarah perempuan Islam di Timur Tengah, Nong Damara menyimpulkan bahwa pada masa Nabi Muhammad, perempuan Islam dapat menjalankan tugas reproduksi tanpa meninggalkan kehidupan publik. Hal itu bisa terjadi karena mesjid, sebagai pusat kegiatan politik dan keagamaan, telah menyatu dengan tempat tinggal Nabi dan isteri-isterinya. Beberapa istri Nabi bahkan menjadi perawi hadits karena mereka berada dalam ruang publik dan ikut mendengar Nabi berdiskusi.

Namun, dalam perkembangannya, terjadi dikotomi ruang yang sama. Ruang publik dalam feminisme merepresentasikan sebuah wilayah kekuasaan yang dipagari oleh regulasi sepihak dan tidak setiap orang dapat memasukinya. Gerakan feminis berusaha meraih kekuasaan itu dengan berjuang masuk dalam ruang publik. Ada perbedaan konsep ‘ruang publik’ di sini tetapi saya justru ingin membawa representasi kekuasaan itu dalam konsep ruang publik sehingga tidak sebatas pada definisi arsitektural dan budaya.

Baiklah, lalu bagaimana nasib lokalisasi tadi? Jelas ada aliran dan kumpulan massa di lokalisasi pelacuran, ada keberagaman dari pengunjungnya, arsitekturnya pun dibuat agar dapat menampung publik. Tapi menurut saya, ada satu hal yang membuat lokalisasi bukan ruang publik yaitu kekuasaan dan kontrol dari pemiliknya yang hampir mutlak. Saya pikir faktor kekuasaan dan kontrol adalah satu hal penting dalam mencermati ruang publik.

Saya lihat sedikit bahasan mengenai partisipasi dan kontrol publik dari banyak artikel mengenai ruang publik. Dapatkah sebuah ruang yang tidak dapat dikontrol oleh publik menjadi sebuah ruang publik, mau itu ruang terbuka atau ruang tertutup sekalipun, ruang bersejarah atau yang baru dibangun?

Proses pemisahan ruang publik dari ruang privat juga bagian dari dialog kekuasaan. Ruang publik menjadi tidak ramah perempuan dan keluarga jika pembentukannya didasari pada asumsi dan stereotipe bias gender. Jika suatu ‘ruang publik’ secara terbuka maupun tidak, melarang atau membatasi perempuan dan kelompok tertentu untuk memasukinya, tentu klaim ‘publik’ perlu dipertanyakan. Satu lagi adalah kasus perpustakaan sebagai ‘ruang publik’ tetapi tidak banyak dikunjungi publik, itu juga kasus aneh. Publik mungkin merasa tidak nyaman dan merasa tidak memerlukan perpustakaan. Di situlah anehnya dan topik itu bisa dibahas tersendiri.

Tulisan ini semoga berguna karena ditulis atas nama cinta. Apakah ada hubungan ruang publik dengan cinta? Ada nggak sih? Aduh, pertanyaan saya makin lama makin nggak jelas. Mungkin karena semakin malam dan saya juga belum sholat isya. Saya harus meluruskan konsentrasi dengan berdo’a.

Untuk makhluk hijau di seberang pulau.

Medan, 20 September 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s