CerPen-Saya

Maesi ke Planet Jupiter


Saya tersenyum puas. Buku ini cukup tebal untuk ditulisi. Saya senang. Seisi dunia juga senang. Saya membayangkan perasaan Maesi ketika membuka kado yang saya berikan. Dia mungkin akan melompat sampai ke bulan atau jika dia benar-benar terkejut dia dapat meluncur sampai Planet Jupiter. Tiba-tiba saya membayangkan Planet Jupiter.

Saya buyarkan lamunan tadi. Saya perhatikan petugas pembungkus kado hampir selesai merangkai buku itu dalam balutan sampul berwarna pink. Saya rogoh kantong untuk mengambil uang lima puluh ribu dan saya berikan pada kasir. Transaksi selesai dan buku itu aman dalam kantong plastik bertuliskan Baby Pink.

Selama di bus dalam perjalanan ke Cianjur, saya sering tersenyum sendiri sebelum akhirnya tertidur dan bermimpi. Saya sedang berada dalam pesawat luar angkasa, menuju Planet Mars sesuai dengan tulisan di tiket yang saya pegang. Ketika mendarat di permukaan Mars, saya melihat sebuah tenda besar di tengah-tengahnya. Dengan mantap, saya langkahkan kaki menuju tenda itu. Saya baru saja akan menyentuh pintu tenda ketika pintu itu terbuka otomatis. Saya mundur satu langkah, lalu masuk ke dalam.

Saya masuk perlahan. Ada begitu banyak meja yang ditutupi oleh buku-buku dengan halaman terbuka. Hamparan buku-buku itu mengejutkan. Tenda apa gerangan? Di atas meja tergantung nama subjek yang aneh: patah hati,

Mendekati rumah aman, riuh rendah anak-anak PAUD* menyambut kedatangan saya. Ketika memasuki ruangan, saya lihat beberapa dari mereka melirik ke arah saya. Bu Lilis yang ada di depan berusaha mengembalikan konsentrasi anak-anak.
“Ayo, coba lihat sini! Tadi kita belajar apa?” teriaknya.

Saya mengangguk kepada Bu Lilis dan masuk melewati ruang belajar. Di samping ruang PAUD ada sebuah kamar dengan sebuah tempat tidur. Saya tidak langsung memasukinya. Saya ketok dulu pintu yang dicat hijau. Tiba-tiba saya membayangkan bulan. Kemungkinan besar Maesi akan terbang ke bulan jika melihat buku yang saya bawa, Planet Jupiter terlalu jauh.

Tidak ada jawaban dari dalam. Lalu saya memandang ke bawah pintu dan tidak ada sandal jepit yang biasa dipakai Maesi. Kemana dia? Saya masuk lebih dalam ke dapur, letaknya bersebelahan dengan kamar tidur. Pintu dapur terbuka. Saya menghampiri pintu dan melihat ke sekeliling. Uma sedang jongkok menunduk di ladang. Di belakang rumah aman ini ada sepetak lahan yang dijadikan ladang untuk menanam tanaman sayur dan bumbu dapur.

“Ma, Uma!” saya memanggilnya. Dia menengok ke belakang.
“Eh, Bia. Kapan datang dari Bandung?” Uma menegakkan punggungnya sambil mengibaskan tanah di tangannya.
“Barusan. Maesi kemana?”
“Oh, dia sedang dibawa ke dokter sama Elsi. Pemeriksaan kedua. Sebentar, aku ke sana.” sahut Uma.

Ketika Uma semakin dekat, saya menjadi gelisah.
“Kok langsung tanya Maesi?” tanya Uma.
“Saya bawa hadiah.”
“Wah, baik sekali. Apaan?”
“Ada deh.” saya menjawab sambil tersenyum. “Dia sakit apa?” saya lanjutkan bertanya.
“Kalau kemarin hanya dibilang kurang darah. Sekarang mau diperiksa urinnya. Dia sudah mau diperiksa lebih lanjut.”

Saya mengangguk. Maesi memang perlu memeriksakan kondisinya. Dia adalah salah satu korban perdagangan perempuan yang ditampung di rumah aman di Cianjur. Saat ini dia satu-satunya korban yang ada di rumah aman. Korban silih berganti datang ke rumah ini. Uma dan Elsi mengelola rumah aman dan mengurus keperluan sehari-hari korban. Saya sering datang untuk membantu mereka.

Sejak kedatangan Maesi ke rumah aman, saya teringat pada masa perjuangan ketika saya berada di posisi Maesi. Empat tahun adalah waktu yang lama untuk sampai pada posisi saya sekarang. Saya ingin Maesi memiliki teman. Maesi bukan satu-satunya perempuan yang mengalami kekerasan. Saya ingin Maesi dapat melaluinya. Saya ingin membantunya.

Saya membalik dan berjalan ke arah ruang belajar PAUD. Beberapa anak masih berada di ruangan. Waktu belajar mereka sudah selesai dan akan diganti oleh kelompok kedua. Saya menyapa beberapa dari mereka. Lalu pandangan saya tertuju pada sebuah buku bersampul plasti tebal yang ada di ruangan. Saya kenal buku itu. Saya menghampirinya dan menariknya dari rak.

Ah, pantas saja. Ini memang salah satu buku saya. Buku tulis saya. Saya buka lembar pertama. Di dalamnya tergambar sebuah lingkaran besar dengan tonjolan di sana-sini. Hahaha…itu adalah Planet Jupiter, planet favorit saya. Di lembar lainnya ada berbagai gambar lain berwarna-warni. Buku ini begitu ramai dengan warna, bulatan, dan lingkaran tidak beraturan. Saya tersenyum mengingat masa-masa itu.

Beberapa anak membuat kegaduhan ketika masuk ke ruangan. Saya menengok ke belakang dan menemukan wajah-wajah cerah dan tawa renyah. Anak-anak itu menyapa saya.

“Teteh! Teteh kok di sini lagi?” tanya Risma. Seorang anak yang mengenal saya.
“Iya, Teh Bia lagi main di sini. Teteh sering kok ke sini cuma pas Risma nggak ada.”
“Oo, gitu.” Risma menganggukkan kepalanya dan kepangnya berayun lucu.

“Halo, Teh.” Derry melambaikan tangannya ke arah saya.
“Eh, apa kabar Der? Memangnya kamu masih di sini? Tahun kemarin ‘kan sudah.”
“Kemarin masih TK kecil, Teh. Sekarang TK besar.” Derry berkata dengan suara lantang.
Giliran saya mengangguk sambil memeluknya.

Menjelang sore, deru motor terdengar dari luar. Saya berada di dekat pintu dan melongok ke luar. Ah, rupanya Elsi dan Maesi baru datang. Saya berdiri menyambut mereka.

“Lama banget, Teh. Kemana aja?” tanya saya menghampirinya.
“Eh, tadi abis ke klinik, kita ke rumah Bu Encin. Belanja sayuran dan ikan soalnya Maesi pintar masak. Kita ‘kan nggak bisa ke pasar, terlalu rame.” sahut Elsi.
Maesi berjalan di belakang Elsi, tersenyum tersipu. Wajahnya masih pucat. Menurut pemeriksaan sebelumnya, Maesi menderita anemia atau kurang darah. Memang sekarang lebih baik tetapi dia belum pulih.

Kami bertiga berjalan beriringan ke dapur. Saya tersenyum pada Maesi dan teringat pada bungkusan yang saya letakkan di kamar. Saya memanggil Maesi.
“Mae, ke kamar sebentar yuk. Saya ada sesuatu.” saya tersenyum penuh arti padanya.
“Eh, ada apa, Teh?” tanya Maesi.
“Sudah, Mae, ikutin saja. Bia punya hadiah tuh.” ujar Uma.
“Aku dapat juga nggak?” sahut Elsi.
“Belakangan.” saya menjawab sambil keluar dari dapur dan menuju kamar tidur.

Rumah Aman ini terdiri dari satu kamar tidur, satu kamar mandi, sebuah dapur dan sebuah ruang tamu luas yang dijadikan ruang belajar PAUD. Saya memeluk tas dengan motif pelangi di pangkuan. Tidak lama kemudian Maesi masuk ke kamar. Dengan penasaran, dia melihat ke arah saya lalu menatap tas yang saya peluk.

“Apaan sih, Teh? Jadi penasaran nih. Buat apa juga Teteh ngasih hadiah? Mae jadi nggak enak.”
Saya tersenyum senang. Saya ingat ketika saya berada di rumah aman ini, empat tahun yang lalu. Sebelumnya saya berada di sebuah tempat di Sumatera Utara. Saya tidak mengenal tempat itu karena saya dilarang berkeliaran. Dari sebuah LSM di Medan, saya lalu dipindahkan ke rumah aman ini sebelum kembali ke rumah orang tua di Garut.

Mobil yang membawa saya dan pendamping berhenti di depan gang dan kami harus berjalan kaki menuju rumah aman. Ketika berjalan itulah, mata saya terpaku ke sebuah buku bersampul biru muda dan bergambar kupu-kupu yang ada di sebuah toko kelontong. Entah keberanian apa yang muncul, saya menghentikan langkah pendamping.
“Mbak, sebentar ya. Saya bisa pinjam uang, Mbak?” tanya saya ke Mbak Rini.
“Eh, emm, buat apa, Mae. Kamu mau beli sesuatu?”
“Iya, Mbak. Itu buku tulis itu, Mbak. Bisa nggak, Mbak? Boleh ya?”
Mbak Rini mengikuti telunjuk saya dan dia tersenyum.
“Oh, buku tulis. Bisa, boleh kok. Ayo kita beli.”

Buku tulis bergambar kupu-kupu itu pun berpindah tangan. Saya senang bukan main. Kupu-kupu dalam gambar sampul buku itu sepertinya hidup karena merasakan kegembiraan saya. Dia keluar dari sampul dan berputar mengelilingi tubuh saya lalu bertengger di rambut saya yang kering dan bercabang. Saya melirik ke rambut di dahi, “Ah, tentu tidak ada kupu-kupu itu. Dia hanya khayalan saya.”

“Terima kasih, Mbak. Saya pinjam dulu, nanti Bia bayar.”
“Ah, nggak usah. Harganya tidak seberapa. Aku kok baru tahu kalau kamu suka menulis.”
Saya tersenyum sebagai jawaban dan kami melanjutkan perjalanan.

Kali ini saya ingin membalas kebaikan Mbak Rini dengan memberikan hadiah yang sama ke Maesi. Beberapa waktu yang lalu, saat berkunjung ke rumah aman, saya sempat ngobrol panjang lebar dengan Maesi. Dia bercerita mengenai buku harian yang ditinggalkannya di kampung halaman. Dia suka menulis buku harian. Saya terkejut. Saya mengatakan bahwa saya suka menulis puisi.

“Saya tidak tahu cara menulis puisi, Teh. Saya cuma bisa menulis pengalaman aja.”
“Saya juga suka menulis buku harian. Waktu awal menikah, saya agak jarang menulis. Nggak berapa lama saya menulis lagi.” saya tersenyum senang.
“Teh Bia berapa kali nikah?”
“Sekali. Waktu itu belum lulus SMA. Putus sekolah. Cuma dua tahun, setelah itu cerai. Abis laki saya juga nggak kerja. Emm, setiap hari kamu menulis, Mae?”
“Selama di lokalisasi ya nggak bisa, Teh. Sulit. Penjaga di sana suka datang ke kamar saya, pemeriksaan rutin gitu dan mereka suka ambil barang-barang yang nggak jelas. Buku saya dianggap nggak jelas. Lalu mereka ambil.”
“Iya, itu tugas mereka dan waktu itu saya tersiksa banget karena tidak bisa menulis. Padahal cuma puisi, mereka juga nggak ngerti puisi itu apa.” sahut saya dengan emosi.
“Teteh, di lokalisasi mana?”
“Di Sumatera Utara, bukan di sini. Jauh. Saya kangen kampung, di sana disiksa, disuruh kerja terus, diawasi terus. Tahulah kamu. Mana saya tahu kalau mau dibawa sejauh itu? Waktu di kampung bilangnya mau dikasih kerja. Itu mah nggak dibayar malah saya bayar mereka. Itu lima tahun yang lalu. Kemudian sama seperti kamu, Mae, saya kabur.”
Maesi mengangguk lemah.

Obrolan itulah yang membawa saya dengan sebuah buku tulis di dalam kamar ini. Maesi masih berdiri mematung.
“Duduk atuh.” saya menunjuk ke sebuah dipan di seberang saya dengan pandangan mata. Maesi duduk di sana. Pelan-pelan, saya buka tas dan mengeluarkan sebuah plastik bening bertuliskan Baby Pink.
“Ini untuk kamu, Mae.” saya ulurkan kantong plastik itu ke arahnya.
Maesi menerimanya seraya berkata, “Apaan ini, Teh?”
“Buka aja dulu.”

Tiba-tiba gorden di belakang Maesi tersibak. Wajah Uma menjulur ke dalam.
“Eh, mau buka hadiah ya? Ikutan dong! Boleh ya?” ujarnya
“Ayo aja, Teh. Ini Teteh Bia pake ngasih hadiah segala.”
“Ah, dia sih memangnya hobi ngasih hadiah. Buka atuh, Mae!”
“Iya, iya.” wajah Mae berbinar.

Pelan-pelan dia membuka bungkus kado. Dia tidak ingin merobeknya.
“Ini teh bungkusnya aja mahal. Makanya harus hati-hati bukanya.” begitu alasan Maesi.
Saya dan Uma saling melempar senyum. Buku tulis di dalamnya mulai terlihat. Dengan seksama, saya perhatikan respon Maesi.
“Aduh, Teteh! Bukunya bagus sekali! Ini teh pasti mahal. Kertasnya bagus dan banyak gambarnya. Bagus ih.” seru Maesi seraya memeluk buku itu di dadanya.

Saya tersenyum bangga. Saya telah mengirim seseorang meloncat sampai ke Planet Jupiter. Uma memeluk Maesi dan menganjurkannya untuk segera mengisi buku itu.
“Iya, pasti, Teh. Nanti malam Maesi mau nulis pengalaman hari ini.” Maesi kembali membalik-balikkan halaman buku itu. Dia tersenyum lebar dan bahagia. Dia telah berada di Planet Jupiter dan di sana dia diberi kebebasan untuk menulis apapun. Planet itu menyediakan tempat dan ruang untuk Maesi membuat planet dan satelitnya sendiri.

Ketika keluar dari kamar, Uma menoleh ke arah saya.
“Bia, terima kasih hadiah tadi. Kamu tahu aja kesukaan orang.”
Saya tersipu dan ketika Uma hendak berjalan ke luar, saya menarik tangannya, “Teh, saya juga ada sesuatu untuk Teteh.”
“Oya? Apaan?”
Saya merogoh ke dalam tas besar.
“Ini tas ajaib, Teh. Apa aja ada di dalam sini.” ujar saya dengan mimik serius.
“Oya? Percaya deh.”
Saya mengeluarkan sebuah bungkusan berwarna merah.
“Ini buat Teh Uma. Buka deh!”
Uma membuka bungkusan itu dengan sekali cabikan. Lalu dia tertawa terbahak-bahak.
“Hahahaha, Bia! Kamu bisa saja!”
Kami tertawa riuh rendah sampai Maesi dan Elsi datang ke ruang tamu.
“Ada apa, Teh?” tanya Elsi.
“Ini, Bia. Dia kasih hadiah ini buatku, celana dalam dengan tulisan Hentikan Trafiking Perempuan. Hahahaha!”
“Saya yang sablon sendiri, Teh,” ujar saya ke Elsi.
“Siapa tahu ada yang mau pesan.” lanjut saya.

“Iya, iya. Bia ini kreatif banget deh! Terlalu kreatif. Kamu keseringan tinggal di Jupiter, Bia!” sahut Uma.
Saya terkekeh. Biar saja. Apapun bisa menjadi media untuk menulis. Maesi menggelengkan kepala dan berkata, “Ini akan jadi cerita pertama saya di buku harian, Teh Bia.”
Kami semua kembali tertawa. Sebuah planet baru telah tercipta di rumah aman ini. Saya senang dan kupu-kupu biru kembali terbang berputar mengelilingi tubuh saya.

Medan, 8 September 2008
*PAUD: Pendidikan Anak Usia Dini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s