Pengalaman-Saya

Komunitas Janda


Selasa, 26 Agustus, saya mengunjungi komunitas dampingan seorang teman. Lokasinya di Cianjur melewati daerah Puncak di Jawa Barat. Saya sudah agak cemas. Daerah berhawa dingin adalah daerah yang harus saya hindari. Kali ini saya mencoba berkompromi.

Jam 5:30 saya berangkat dari rumah bersama bapak ke Ranco Indah. Lalu menyambung angkutan T19 ke stasiun Tanjung Barat. Beli tiket ke Bogor seharga Rp 2.000. Karena arahnya berlawanan dengan arteri bisnis di Jakarta Kota, kereta api tidak penuh dan tidak menunggu lama sampai saya dapat tempat duduk. Sekitar 45 menit kemudian saya sampai di stasiun Bogor dan menunggu teman di depan restoran Dunkin Donut.

Kami kemudian naik angkutan 03 lalu nyambung ke Ciawi dan nyambung lagi ke Cianjur dengan colt putih. Teman saya takut naik bus karena sopirnya suka ngebut. Padahal angkutan colt itu sering berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Dalam perjalanan menuju Cianjur, saya melewati beberapa tempat yang sempat saya akrabi pada awal kuliah di UI tahun 1997/1998. Ketika itu masih masa ospek, baik ospek angkatan, jurusan, sampai lembaga English Debating Society yang pernah saya ikuti. Sampai di Cianjur, kami naik angkutan kuning rute Cipanas-Loji untuk sampai ke Desa Sukanagalih. Jam 9 lewat kami sampai di tempat tujuan. Cuaca cerah dan saya masih berharap Cianjur tidak sedingin yang saya bayangkan.

Rupanya bayangan saya salah. Perlahan tapi pasti cuaca berubah menjadi dingin. Parah. Sinusitis saya kambuh. Hidung saya mampat, lendir diproduksi secara otomatis dan mengalir deras. Oh, tidak! Teman saya juga penderita sinusitis tetapi sepertinya tubuhnya sudah beradaptasi dengan lingkungan Cianjur. Rupanya dia rajin akupunktur di Bogor. Wah, rasanya boleh dicoba nih. Tapi dia juga memberi saran agar kondisi tubuh harus fit agar tidak terserang sinus. Ya, itulah masalah saya.

Selama di pusat komunitas ini, saya lebih banyak mengamati dan berdiskusi dengan teman saya mengenai organisasinya dan mengenai komunitas dampingannya. Saya belajar mengenai perkembangan organisasi, karakter dan kondisi masyarakat lokal, pendekatan yang dilakukan, tantangan yang dihadapi teman saya sebagai staf lapangan, berdirinya ‘center’, dan lain-lain.

Sebelumnya saya juga belajar mengenai hal yang sama mengenai pengorganisasian masyarakat ketika mengikuti teman saya, seorang fasilitator di bidang kehutanan, bekerja di wilayah dampingannya di Sibolangit, Sumatera Utara. Keduanya memberikan pengalaman dan pembelajaran yang berharga. Keduanya mewakili karakter budaya yang berbeda tetapi saya melihat kedua teman itu memahami dengan baik karakter masyarakat sehingga dapat melakukan pendekatan dengan lugas dan kekeluargaan. Refleksi mengenai kunjungan ini akan saya tulis pada edisi berikutnya.

Cianjur, 26 Agustus 2008

Advertisements

2 thoughts on “Komunitas Janda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s