Pengalaman-Saya

Joyo Lestari


Bicara mengenai pekerjaan adalah sesuatu yang mengaduk emosi. Saya sedang berusaha bekerja dengan ikhlas. Selama ini saya bekerja dengan suatu ekspetasi dan ambisi ini itu, sementara realitasnya saya bekerja dalam sebuah sistem yang kompleks dan luas. Sistem itu tidak semuanya dapat saya atur sekehendak hati karena ada figur lain yang posisinya lebih kuat. Justru nggak lucu kalau saya memaksakan diri. Padahal saya suka yang lucu-lucu.

Jenis pekerjaan dan bagaimana pekerjaan itu diselesaikan adalah bagian dari idealisme. Namun, idealisme saya berkompromi dengan tuntutan lain. Memang tidak selalu dapat dipertahankan. Teman kerja saya bertanya mengapa kamu tidak berjuang untuk idealisme saya. Pelan-pelan akan terjadi perubahan. Mengubah sistem, apalagi kalau sistem itu besar dan dianggap sukses, sangat sulit. Kita eh saya mungkin hanya mampu mengendalikan sebuah subsistem yang kecil. Bagi saya, bekerja adalah berkarya. Rasa capek menjadi begitu bermakna dan dinikmati ketika pekerjaan saya merupakan karya yang dapat saya banggakan baik sebagai individu maupun anggota suatu tim. Ketika yang saya lakukan tidak saya anggap sebagai karya maka rasa capek itu menjadi beban yang tidak dapat dihilangkan dengan pijatan atau akupunktur.

Saya katakan ke teman tadi bahwa saya memang bukan pejuang. Ketika itu tidak terpikirkan untuk berjuang karena saya masih antusias untuk mencoba hal lain dan memang sedang ada tawaran lain :). Mungkin saya bukan Joyo Lestari.

Honor bisa jadi pemicu ketidakpuasan tetapi dalam kebanyakan kasus saya honor baru menjadi masalah ketika saya merasa “tidak beres” dengan pekerjaan. Ibaratnya kalau saya tidak memiliki hasrat pada suatu pekerjaan maka segala macam dipermasalahkan. Tapi kalau saya merasa pekerjaan itu adalah karya saya dan hasrat dapat tersalurkan maka segala macam bukan lagi masalah.

Karya bisa dalam berbagai bentuk, tidak saja berupa program kegiatan, karya seni, event, artikel, buku tetapi banyak hal. Nah, pekerjaan administrasi dan keuangan biasanya tidak dianggap sebagai karya. Namun, setelah menjalaninya sendiri, saya yakin pekerjaan itu memerlukan “motivasi dan dukungan” yang besar sehingga bisa diselesaikan. Saya tidak suka bekerja tidak maksimal. Saya ingin merasa sepenuhnya dalam pekerjaan itu.

Mungkin salah satu masalah saya adalah mudah tergoda dengan hal baru sehingga sesuatu yang sudah saya tekuni sebelumnya kemudian ditinggalkan. Oh, tapi anehnya blog ini tidak pernah lupa saya perbarui berarti….ah, apa ini artinya? Saya memang punya kecintaan pada tulis menulis terutama yang berhubungan dengan menulis karya ilmiah dan populer termasuk cerpen. Saya tidak suka menulis berita dengan rumus ajeg 5W dan 1H. Saya suka berada di perpustakaan dan mengelolanya.

Sepertinya dua hal itu yang tidak dapat saya tinggalkan sepenuhnya karena saya memang tidak mau. Dengan posisi apapun biasanya saya akan cari kesempatan untuk bisa menyalurkan hasrat itu. Saya melakukan dua kegiatan iu dengan cinta. Benar juga ya, cinta itu berbahaya. Kalau sudah cinta, apapun dilakukan, berbagai celah dicari. Celah yang kecil dibuat besar. Apa yang tidak mungkin?

Lalu bagaimana? Saya tidak mau tulisan ini menggantung. Soalnya sering dapat kritikan nih. Saya coba bertanya (untuk kesekian kali) pada diri sendiri, apa yang ingin saya lakukan di masa depan dan berapa lama saya ingin melakukannya. Nah, sudah terjawab di paragraf sebelumnya ‘kan? Meneliti, menulis dan melakukan kegiatan kepustakawanan.

Emm, kajian jender ada dimana? Oh, bidang satu itu bisa saya lakukan kapan pun. Awalnya pun menjadi seorang feminis bukan suatu cara pandang yang dapat memberikan pekerjaan. Saya juga tidak belajar di Program Kajian Wanita untuk dapat ijazah dan melamar sebagai gender specialist. Saya ingin belajar menganalisis dan memberi kerangka pada setiap jejak pengalaman sehingga hidup ini memiliki arti dari sebelumnya. Gerakan perempuan adalah satu tema yang menarik dan saya ingin terlibat di dalamnya dan ada banyak cara untuk itu.

Satu lagi keinginan saya adalah berbisnis. Saya mau coba ikuti jejak langkah bapak, ibu, adik dan adik ipar yang sudah duluan. Saya coba mengumpulkan modal agar bisa punya usaha sendiri. Produk yang saya sukai adalah buku dan pakaian dalam. Mungkin saya coba membuat produk sendiri atau hanya menjualnya.

Kadang saya kangen untuk kembali bekerja di organisasi profit. Namun, riwayat kerja saya kebanyakan berada di sektor non profit dan hal itu biasanya menjadi pertimbangan saat rekrutmen. Terakhir, saya semakin antusias dengan apa yang saya kerjakan. Saya suka dengan rasa antusias ini. Entah darimana datangnya! Mungkin percakapan sebentar dengan Joyo telah berhasil membangkitkan semangat. Ah, memang Joyo Lestari!

Medan, Juli 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s