Pengetahuan-Saya

Perempuan Sumut Bergerak!


Saya ingin menceritakan sedikit pengalaman dari menghadiri acara dialog publik di Medan tanggal 3 Juli 2008. Judul yang diusung adalah ‘Menjamin Keterwakilan Perempuan sebagai Caleg di Nomor Jadi dalam Pemilu 2009’. Acara tersebut diselenggarakan oleh Forum Perempuan Sumatera Utara, Kelompok Aktivis Sumatera Utara, Perkumpulan Sada Ahmo (Pesada), dan Kaukus Perempuan Politik Indonesia.

Undangan yang disebar sekitar 150-an. Saya mengetahuinya karena saya sebenarnya bagian dari Pesada tetapi tidak terlibat dalam kepanitiaan acara. Jadi kalau ada data yang salah juga bisa dimaklumi.

Pimpinan partai politik (parpol) belum tertarik dengan isu keterwakilan perempuan sebagai calon legislatif (caleg). Atau seperti yang dikatakan pembawa acara, kuota perempuan dalam lembaga legislatif belum diterima secara ikhlas. Dari 12 perwakilan wilayah parpol yang diundang, hanya 4 parpol yang bersedia hadir. Beberapa wakil parpol lain juga hadir tetapi mereka bukan dalam posisi ketua atau pembuat kebijakan parpol.

Acara itu tidak lepas dari dilakukannya roadshow Forum Perempuan Sumut dan Aktivis Sumut ke parpol sebelum pilkada Sumut untuk menanyakan komitmen mereka terhadap kuota 30% perempuan di parlemen. Terutama melihat dari Pilkada yang lalu tidak ada satupun parpol yang memajukan calon perempuan.

Empat partai yang hadir adalah Partai Perjuangan Indonesia Baru (PIB), Partai Demokrasi Perjuangan (PDI-P), Partai Pemersatu Bangsa (PPB), dan Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK). Komposisinya 3 orang laki-laki dan seorang perempuan. Tema pokok yang dibahas dalam dialog itu sama dengan tema roadshow FPS yaitu mengetahui lebih jauh komitmen parpol untuk kuota 30% perwakilan perempuan di lembaga legislatif. Namun, disayangkan bahwa pemahaman parpol terhadap komitmen masih minim. Mereka memahami komitmen sebatas pada mekanisme di atas kertas mengenai terbukanya kesempatan perempuan untuk mendaftar sebagai anggota dan calon legislatif parpol. Mereka tidak melihat lebih dalam mengenai kesulitan nyata yang dihadapi perempuan di luar aturan yang tertulis.

Beberapa perwakilan parpol mengutip AD/ART mereka mengenai jaminan keterwakilan perempuan tanpa menguraikan masalah yang dihadapi oleh perempuan di parpol mereka untuk dapat mengakses aturan tertulis itu. Parpol juga melihat aturan mengenai kuota 30% perempuan sebagai “proteksi” yang harus mereka laksanakan. Ada rasa keterpaksaan dari penggunaan kata proteksi. Sebagian parpol menilai perempuan kurang memiliki komitmen terhadap perjuangan kaum mereka sendiri sehingga perempuan tidak mau memilih perempuan. Bahkan seorang perwakilan mengatakan “sudah kodratnya perempuan memilih yang ganteng.”

Pernyataan dari parpol kemudian ditanggapi secara kritis oleh dua pembahas yaitu Dina Lumbantobing (Pesada) dan Chusnul Mariyah. Menurut Chusnul, jika parpol mengeluh perempuan cenderung memilih yang calon yang ganteng, berarti ada yang salah dalam pendidikan politik terhadap perempuan. Bahkan pertanyannya, apakah parpol sudah melakukan tugas pendidikan politik pada kader mereka dan masyarakat?

Pihak parpol menuntut perempuan yang berpotensi sebagai caleg memiliki tiga unsur:
1.grass root yang kuat / dikenal luas
2.integritas kompetensi
3.ketersediaan dana

Bisik-bisik atau dialog informal khas perempuan menjadi ramai ketika unsur tersebut diangkat. Mereka memprotes unsur ketiga yang sulit mereka penuhi tetapi tidak dielaborasi lebih jauh oleh parpol. Memang mudah masuk dan menjadi anggota parpol tetapi yang dipertanyakan dalam forum ini adalah komitmen parpol untuk melakukan kaderisasi atau menguatkan anggota mereka menjadi calon legislatif berkualitas. Chusnul mengeritik parpol yang cenderung mencomot atau merekrut kandidat yang sudah siap pakai dari organisasi massa besar daripada melakukan kaderisasi.

Chusnul membeberkan beberapa pengalaman buruk perempuan di parpol. Misalnya, perempuan sudah berusaha melengkapi persyaratan menjadi caleg di tingkat parpol tetapi dengan alasan teknis, berkas mereka bisa tercecer sehingga pencalonan pun gagal. Chusnul banyak memberikan strategi dan tips bagi peserta dialog dalam usaha mereka menjadi caleg di nomor jadi. Sebelum bergerak, sudah selayaknya seorang caleg memiliki pengetahuan mengenai peta politik. Caranya adalah dengan memanfaatkan database yang ada di KPU. Perlu disadari bahwa pembuatan sistem informasi KPU memakan dana dan energi yang sangat besar dari uang negara maka sepatutnya kelompok perempuan dapat mengoptimalkan penggunaan data-data tersebut. Data di KPU, jelas Chusnul, sangat detail sehingga caleg dapat melihat kecenderungan dan konsentrasi konstituen. Sepengetahuan saya, data-data itu justru banyak digunakan oleh konsultan politik dan humas yang membantu caleg yang mampu membayar jasa mereka.

Caleg perempuan juga memerlukan keahlian komunikasi yang terdiri dari kemampuan bicara di depan publik, berjejaring, manajemen (isu) politik, sehingga biasanya seorang caleg memiliki tim sukses. Tantangan (di dalam presentasi disebut sebagai hambatan) perempuan dalam politik adalah di unsur politik, ekonomi, ideologi dan psikologi, interpretasi agama, anggapan bahwa politik itu kotor, peran media, dan perempuan yang kurang percaya diri. Jika tantangan sudah terpetakan maka harapan selanjutnya perempuan dapat menyiapkan langkah untuk mengatasi tantangan tersebut. Upaya itu tidak dapat dilakukan perempuan secara individu, sebaiknya perempuan bergabung dalam suatu kelompok lintas parpol sebagai jaringan politik.

Secara pribadi, saya setuju paradigma Chusnul bahwa jika dana perempuan terbatas maka sebaiknya dimanfaatkan untuk sumbangan yang bermanfaat luas dan terlihat. Sumbangan ini tidak dimaksudkan untuk menjadi “candu” bagi masyarakat sehingga mereka cenderung pada “politik bagi-bagi uang”. Saya pikir sumbangan yang dimaksudkan dapat disesuaikan dengan agenda politik dan isu yang diminati caleg misalnya menghidupkan kembali posyandu di daerah mereka, KB gratis bagi yang berminat, berpartisipasi dan menggalang dana bersama untuk Komite Sekolah, dan sebagainya.

Saya pikir, Chusnul sangat baik untuk berbagi beberapa strategi agar perempuan dapat menjadi caleg cerdas yang dapat memanfaatkan sumber daya mereka yang terbatas secara maksimal. Tidak hanya itu, dia begitu bersemangat untuk menyemangati para perempuan yang hadir untuk terus terlibat dalam partai politik dan tidak menyerah ketika dimanfaatkan sebagai vote-getter. Pengalaman di pemilu 2004 justru menjadi modal bagi perempuan untuk bergerak lebih maju di pemilu 2009.

Suasana dialog itu sempat memanas menjelang penutupan acara karena dua orang perwakilan parpol menilai pembawa acara memprovokasi kekecewaan peserta yang hadir dengan pernyataannya tetapi hal itu dapat reda. Saya pribadi merasa kecewa dengan perwakilan parpol yang kurang dapat menangkap inti masalah dari tema dialog sehingga tidak jelas dalam menjawab pertanyaan peserta. Tindak lanjut dari acara ini adalah terus mengamati perkembangan perempuan yang hendak maju sebagai caleg di beberapa parpol. Pihak Pesada sudah membuat database sederhana berisikan nama dan profil dari perempuan potensial yang bersedia dicalonkan parpol sebagai caleg pada pemilu mendatang. Harapannya, ada tanggapan positif dari parpol. Semoga.

Medan, 5 Juli 2008

Advertisements

One thought on “Perempuan Sumut Bergerak!

  1. sebaiknya pertemuan seperti ini di tindak lanjuti guna memperkuat posisi perempuan yang menjadi caleg, selamat berjuang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s