Pengalaman-Saya

Seekor Bebek Cuek di Medan


Sejak tinggal di Medan, saya menjadi jauh lebih cuek mengenai penampilan. Saya hampir tidak pernah menggunakan bedak bahkan bedak yang saya bawa justru saya tinggalkan di kantor dan hanya sekali saya pakai. Saya tidak pernah memakai lipstik. Saya selalu membawa sebuah lipstik di tas yang tidak pernah saya pakai sejak di Medan. Saya tidak memakai pelembab, pembersih wajah, atau sejenisnya. Sepertinya saya tidak punya waktu untuk memakai kosmetik dan memang tidak peduli dengan semua itu. Berbeda dengan ketika saya di Jakarta atau Jogja. Saya juga tidak tahu ada apa.

Pakaian yang saya bawa ke Medan terbatas sehingga saya harus rajin mencuci. Nah, sejak di Medan saya tidak pernah menyetrika pakaian. Biasanya setelah kering dijemur, maka akan saya gantung atau saya lipat untuk kemudian saya pakai. Saya juga tidak peduli sekeriting apa pakaian itu ketika langsung saya pakai. Selama masih ada bau sabun maka saya pikir pakaian itu aman untuk saya pakai. Saya masih rajin memakai cologne. Saya tidak membawa parfum dan mungkin tidak akan saya pakai sekalipun dibawa. Saya tidak tertarik membeli parfum di Medan. I feel so nothing to lose in Medan that I am ready and prepare to lose (something).

Sampai sekarang saya masih heran kalau Medan terkenal dengan makanannya karena saya tidak menemukan makanan yang pas baik dari segi rasa dan harga. Malam ini saja saya makan di warung masakan Jawa pinggir jalan di Setiabudi. Saya pesan nasi sop ayam dan teh manis hangat. Total harganya 17 ribu, sangat mahal bahkan untuk standar Depok dan Jakarta. Yang paling mengecewakan adalah rasanya sangat tidak pas dengan lidah. Masakan Jawa yang aneh. Masakan yang murah dan rasanya tidak lebih mengecewakan adalah masakan Minang di warung seberang kantor. Di warung sebelahnya ada penjual nasi gurih dan lontong sayur (dua jenis sarapan khas Medan) yang enak dan murah. Hanya dua itu yang masih cukup berkenan. Lainnya, saya menyerah.

Saya masih berusaha mencari tempe penyet. Saya pernah melihatnya dalam menu di rumah makan di Jl. Dr. Mansyur dan daerah Padang Bulan. Pernah saya ke rumah makan di lokasi pertama tetapi tempe dan tahu penyet mereka habis. Ya Allah, tempe dan tahu habis? Keduanya adalah makanan utama saya di rumah yang selalu ada di kulkas dan di meja makan. Tidak ada hari tanpa tempe dan sambal yang puedes, itulah slogan di rumah saya.

Saya memang harus menyesuaikan diri dengan kondisi Medan. Hampa rasanya hidup tanpa tempe dan sambal pedas. Cemooh saja kebiasaan makan saya yang terlalu sederhana dan agak “Jawa” ini tetapi seperti itulah saya dibesarkan. Kalau begini caranya, mungkin saya akan sulit beradaptasi jika harus tinggal di negara lain.

Kalau di Jogja, saya rajin minum juice jambu klutuk atau guava maka sejak di Medan minuman favorit saya adalah juice belimbing. Hemm, lezat, segar, dan nyaman di tenggorokan. Saya juga suka juice terong belanda tapi belimbing jauh lebih nikmat. Saya tidak menyukai roti di Majestyk, sebuah toko bakery yang terkenal di Medan. Saya merasa roti unyil di Bogor jauh lebih empuk dan lezat. Ah, ternyata saya pemilih juga. Saya pikir hanya bapak saja yang punya lidah sensitif. Atau kemampuan ini telah diturunkan ke saya?

Saya juga mencari sesuatu yang lain. Saya ingin memiliki sebuah tatoo permanen di pergelangan tangan. Kedengarannya menggoda.

Medan, 27 Juni 2008

Advertisements

2 thoughts on “Seekor Bebek Cuek di Medan

  1. wah di medan ya.. great city tuh mbak. saya pernah makan ayam penyet disini, tp nda tau ada tempe penyet jg apa nda

    ..sptnya dari fsui jg nie, salam kenal de yak

  2. akh..masak sih . sampai segitu nya kamu jadi seorang pemilih … makanan dimedan rata – rata enak lar … tapi gak tau juga … lain orang kan lain lidah nya … jadi kesukaan masing masing juga jagi beda beda juga … apalagi roti majestyk .. heran juga … tiap hari rame aja .. apalagi kalau hari besar kayak lebaran atau tahun baru … bayar aja musti antri lama.. kalau gak enak … mana bisa kek gitu… tapi ya itu juga masing – masing selera kan gak sama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s