CerPen-Saya

Cah Mendut


Nama Mendut punya arti yang istimewa bagi saya. Nama itu diambil dari nama candi di Jawa Tengah berdekatan dengan Candi Borobudur. Namun, sebelum saya menjejakkan kaki ke sana, saya sudah lama mendengar nama Rara Mendut. Kemudian pada medio 2005 saya membaca trilogi Y.B. Mangunwijaya yang salah satunya berisi cerita tentang tokoh perempuan satu itu.

Tahun 2007, ketika saya bekerja di Jogja, saya berkesempatan untuk mengunjungi candi unik itu bersama seorang pemandu yang dapat dipercaya pengetahuannya. Saya mengenal pemandu ini lewat seorang teman. Saya suka dengan sejarah dan ingin memahami sedikit mengenai “jiwa” dari suatu bangunan bersejarah. Sama seperti dengan kesukaan saya dengan mal, bangunan yang dibuat berkesan modern agar warga kota dapat nyaman dengan keterasingan mereka, termasuk saya.

Nama pemandu saya Joyo. Nama yang paling umum dan sangat jawa menurut saya. Kami sudah saling mengenal selama enam bulan. Perlawatan kami ke Candi Mendut sebenarnya tidak direncanakan. Dia mengirim SMS pada hari Kamis, isinya: Ken, tempo hari kamu bilang mau ke candi mendut. Gimana kalo besok? Aku juga mau ke sana. Balas.

Saya meneleponnya.
“Halo, Joyo? Gimana maksudmu? Kok mendadak gini?”
“Iya, begini, aku ada perlu ke Magelang jadi sekalian jalan lah. Kamu kan ada motor. Satu jalur kok.”
“Kamu ada perlu apa?”
“Emm, itu, ke pengadilan. Deket kok sama Candi Mendut.”
“Apa hubungannya pengadilan sama Candi Mendut? Kamu nyuri apa di Magelang?”
“Bukan, nggak nyuri. Aku juga nggak tahu hubungan Candi Mendut dengan pengadilan. Kamu nanyanya aneh. Aku ditilang waktu pakai motor temanku. Nah, STNK temanku disita. Padahal waktu itu bukan jam sibuk tapi ternyata meleset. Biasa, polisi.”

Jam sibuk yang dimaksud Joyo adalah waktu ketika polisi biasanya berpatroli dan melakukan cek SIM dan STNK pengemudi motor. Untuk Joyo, perilaku jam sibuk adalah cara licik polisi mencari tambahan penghasilan secara ilegal. Saya tidak memberitahukannya bahwa ayah saya adalah polisi.

“Kamu nggak damai, Joy?”
“Buat apa damai? Lagian istilah damai itu salah kaprah. Kalau dibilang damai seakan itu cara yang baik bagi semua pihak padahal jelas negara yang dirugikan. Lagian, banyak kok pengemudi yang dapat SIM-nya dengan cara nembak, tanpa mengikuti prosedur yang seharusnya.” sahut Joyo dengan bersemangat.

Saya tersenyum. Yah, seperti itu karakter Joyo. Dia memang benar. Saya pun mendapatkan SIM C karena dibantu ayah saya. Tadinya saya bersikeras untuk mengikuti jalur normal. Namun, ayah saya mengatakan bahwa saya akan dipermainkan oleh petugas di loket. Saya mengikuti ujian tulis dan membayar sesuai dengan prosedur tetapi melewati ujian praktek. Jika saya menggunakan calo, saya harus membayar lebih besar.

“Ya, okelah, Joy. Besok ya. Saya harus izin dulu dari kantor.” Saya pikir paling tidak saya bisa membantunya untuk menyelesaikan masalah di pengadilan.
“Pagi-pagi ya, Ken. Kita lewat jalan belakang aja.”
“Jalan apa?” saya tidak paham.
“Lewat Godean ke Muntilan, bukan lewat jalan utama. Nanti motormu bisa ikut ditilang.”
“Ya oke. Sampai besok.”
“Yup.”
Saya pun membayangkan Candi Mendut seperti yang saya lihat di kartu pos dan internet. Ah, pasti menyenangkan dan menarik sekali.

Besoknya, saya menjemput Joyo di rumahnya di daerah Kaliurang KM 9. Saya disambut oleh ibunya.
“Monggo, masuk dulu. Cari Joyo ya?” tanyanya.
Saya terheran. Apakah wajah saya kelihatan seperti orang yang mencari Joyo? Ibunya membaca keheranan saya.
“Di rumah ini yang paling sering dicari orang luar ya Joyo. Paling sering dapat tamu.”
“Ooo,” saya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam rumah. Rupanya Joyo adalah selebritis di keluarganya.
“Mau ada acara apa ya?” tanya ibunya lagi.
“Saya mau jemput Joyo, Bu. Kita mau kencan ke Magelang.” jawab saya dengan senyum cerah dan bersemangat.
Sepertinya saya salah bicara karena tiba-tiba roman muka ibu Joyo berubah.
“Kencan seperti apa?” tanyanya.
“Oh, maksudnya mau ke Candi Mendut, Bu. Dia jadi pemandu saya, begitu. Saya belum pernah ke Candi Mendut.”
“Ooo,” ketegangan di wajah ibu mengendur.

Tidak lama Joyo pun masuk ke ruang tamu.
“Ken, kita langsung berangkat ya?”
“Lho, gimana toh? Ini tamunya baru duduk kok langsung diajak berangkat. Mbok ditawarin minum dulu?”
“Oo, nggak usah, Bu.” Saya berdiri sigap menghampiri ibu. “Saya sudah bawa. Nih!” jawab saya dengan seringai kemenangan sambil menunjukkan botol minuman berwarna pink yang dua hari lalu saya beli di Ramai Mal.
“Inisiatif yang bagus! Jadi aku tidak perlu membelikan kamu minum ya?” sahut Joyo.
“Kalau saya nggak usah dibeliin tapi untuk minum motor kita patungan.” sindir saya.
“Ya, ya, ya.”
“Permisi, Bu. Terima kasih. Lain kali saya mau nyicipin minuman buatan Ibu.” saya berpamitan ke ibu.
“Oh, monggo.” jawab ibunda Joyo dengan ramah.
“Nyicip gimana toh? Rasanya teh dimana saja ya sama.” sahut Joyo pelan.
Iiih, saya pikir Joyo ini tidak mudah untuk basa-basi. Saya gemas dengan Joyo. Padahal sebagai orang Jakarta, saya cukup terlatih jual muka. Jakarta gitu lho! Apa yang nggak bisa dijual?

Dari rumahnya, kami tancap gas ke Godean. Di perjalanan, kami hanya sedikit berbincang. Saya larut dalam kesenangan untuk bertemu muka dengan Candi Mendut. Hebat, hebat! Begitu pikir saya.
“Nanti elu ceritakan relief-reliefnya ya, Joy?” pinta saya. Logat dan bahasa Jakarta saya sudah mulai keluar.
“Iya.”
“Nanti elu ceritakan nama-nama dewa-dewi yang dipahat di sana ya?”
“Iya.”
“Nanti elu fotoin gua ya?”
“Iya.” jawab Joyo berusaha bersabar. “Apalagi?” tanyanya.
“Udah dulu, Joy. Nanti bisa nambah kalo udah di tempat.”
“Gampang.”

Pada saat mencari lokasi pengadilan, kami sempat bertanya pada penduduk di sana.
“Permisi, bu,” ujar Joyo, “lokasi pengadilan dimana ya?”
“Pengadilan? Pengadilan apa? Pengadilan agama di ujung jalan sini. Kalo mau cerai di pengadilan agama.” jawab ibu itu sambil melihat ke arah saya.
Saya terheran, kenapa dia berpikir kalau kami mencari pengadilan agama untuk bercerai. Sebenarnya ada apa dengan wajah saya ini sampai ada kesan tidak terucap dalam benak orang-orang.
“Oh, bukan. Pengadilan negeri, Bu untuk kasus tilang.” sahut Joyo.
“Oh, di sana, lurus saja, tidak jauh. Lewat lampu merah itu, ada di sebelah kanan.”
“Oya, terima kasih.”
Kami pun tersenyum dan berlalu dari hadapan ibu. Mungkin akhir-akhir ini sedang ramai kasus perceraian, pikir saya.

Kami lalu menemukan pengadilan negeri yang dituju. Suasananya nyaman dan hawa tidak terlalu menyengat. Saya sangat antusias.
“Joy, nanti jangan lama-lama ya?”
“Kok bilangnya ke aku sih? Lihat aja nanti! Kalau mereka masih nawarin damai juga, aku tolak. Pokoknya aku mau sampai di depan hakim.”
Akhirnya, keinginan Joyo memang tercapai. Awalnya di tempat parkir pengadilan dia sudah menolak tawaran dari orang pengadilan untuk menjadi perantara. Di dalam ruang administrasi pengadilan, dia kembali ditawari hal yang sama. Dia tolak lagi. Akhirnya berkas Joyo sampai di bawah hidung hakim yang pasti sudah mengetahui bahwa Joyo adalah orang yang menjunjung tinggi aturan hukum Republik Indonesia. Pancasilais!

Baru kali ini saya berada dalam antrian pengadilan. Saya dan Joyo duduk berdampingan. Saya menimang-nimang kamera.
“Joy, foto gua dong, biar keliatan kalo gua udah pernah di pengadilan.”
“Nggak mau!” jawab Joyo ketus.
Rupanya Joyo sedang tegang. Padahal berfoto mungkin dapat mengurangi ketegangannya. Akhirnya saya berfoto-foto sendiri, bergaya sendiri sambil mencuri foto kaki dan muka Joyo. Kami menunggu sekitar 20 menit sebelum akhirnya seluruh orang yang berperkara diminta masuk ke ruang pengadilan dengan tertib.

Joyo adalah giliran ketiga. Sang hakim adalah laki-laki berusia 50 tahunan didampingi anggota majelis perempuan dan seorang administrasi laki-laki. Hakim ini sepertinya cukup ditakuti, mungkin sama seperti Tommy Suharto di zaman Orde Baru. Saya tidak dapat menebak seperti apa jalannya persidangan.

Giliran Joyo tiba. Dia pun dipanggil untuk duduk di kursi depan, tepat di hadapan sang hakim. Joyo mengaku tidak memiliki SIM. Sang hakim meminta Joyo menyebutkan nominal rupiah denda yang diinginkan. Joyo mungkin memahaminya sebagai bentuk lain “damai”. Namun, sang hakim mengatakan bahwa sikapnya adalah bentuk demokratis. Dengan nada keras, ia mengatakan ia tidak dapat sewenang-wenang menentukan denda jika orang yang didenda ternyata dari kelompok ekonomi tidak mampu. Joyo sendiri tidak paham dengan aturan hukum mengenai denda minimum dan maksimal. Dia menyerahkan kepada aturan hukum yang tertulis mengenai besarnya denda untuk kasusnya. Hakim pun marah.

“Memangnya kamu mau saya denda dua ratus juta? Kamu tahu nggak berapa besarnya denda untuk pelanggaran ini? Kamu baca sana aturannya! Sudah dikasih tahu sama yang tua kok ndablek. Dikasih keringanan, masih keras kepala!” ujar sang hakim. Joyo terus bersikeras ingin didenda sesuai aturan. Lalu ia pun menyingkir dan oleh petugas administrasi dia disodorkan buku KUHAP tentang pasal denda pelanggaran lalu lintas. Setelah seluruh kasus selesai disidangkan maka Joyo dipanggil kembali.

“Bagaimana, jadi kamu bayar berapa? Dua ratus juta?” hakim menyebut jumlah denda maksimal dari jenis pelanggaran yang dilakukan Joyo. Diam sebentar lalu Joyo berkata, “itu tidak sesuai dengan pelanggaran yang saya buat.”
“Ya, makanya saya tanya, kamu mau didenda berapa?”
“Sejumlah minimal dua puluh lima ribu.”
“Nah, kamu sanggup bayar?”
“Sanggup.”
“Begitu saja kok susah! Sukanya ngeyel. Kamu sudah bekerja atau masih kuliah?”
“Kuliah.”
“Dimana?”
“UGM.”
“Nah, sebagai mahasiswa harusnya kamu ngerti aturan. Jangan ngeyel kayak tadi. Sudah saya beri kemudahan kok. Kamu jangan mempersulit pengadilan! Saya ini sudah tiga puluh lima tahun jadi hakim…” dan seterusnya. Saya tidak ingat benar apa yang dia katakan ke Joyo. Hakim lalu meminta anggota majelis menulis putusan lalu dia membubarkan proses pengadilan.

Setelah saya dan Joyo keluar ruangan, terlihat Joyo masih tegang.
“Puas kan lo?” tanya saya.
“Hakimnya kolot!” sahut Joyo.
“Kolot dan nyolot. Sebenarnya hampir sama dengan yang di hadapannya.” saya melirik Joyo.
Tidak lama kemudian Joyo dipanggil menuju ke salah satu ruang administrasi untuk membayar denda.

Setelah itu, dia menghampiri saya di bagian lobi pengadilan.
“Sudah selesai. Tapi aku masih kesal sama hakim tadi.”
“Dia juga kesal kali sama kamu.”
“Masak hakim seperti itu! Kamu mau berangkat ke Mendut sekarang?”
“Ah, kamu tenang dulu. Nanti kalau suasana hatimu masih panas, malah jelek Mendutnya.”
Joyo pun duduk di kursi di samping saya sambil berpikir.
“Mikir apa lagi, Joy? Mau naik banding?”
Joyo tersenyum, “bisa saja aku naik banding.”
“Memang bisa.” ujar saya.
“Enggak lah, ini udah cukup.” ujar Joyo.
“Yakin? Jangan sampai menyesal. Nanti kamu balik lagi ke sini, jauh-jauh dari Jogja. Pikirin dulu.” saya mengompori Joyo.
“Iya, sudah. Masih mau ke Mendut nggak? Mending sekarang sebelum panas.”
“Apa gua yang harus membonceng elu, Joy? Nanti elu ditilang lagi.”
“Ben!” Joyo pergi menuju tempat parkir motor.

“Kenapa kamu nggak bikin SIM aja sih, Joy?”
“Kenapa harus bikin SIM? Aku nggak punya motor, tiap hari naik sepeda. Lagian banyak kok orang bisa naik motor tanpa pakai SIM. Sebaliknya, orang yang baru naik motor tapi punya SIM pun banyak. SIM itu cuma formalitas aja. Dia tidak membuktikan apa-apa.”
“Berarti nggak perlu ada SIM dong.”
“Orang naik sepeda tidak perlu SIM. Lagian aturan itu justru dijadikan tempat cari duit polisi dan oknum peradilan seperti tadi.”
Obrolan kami terhenti karena kami sudah sampai di pelataran parkir Candi Mendut. Ah, luar biasa! Ternyata dekat dengan jalan raya. Berbeda dengan Candi Borobudur. Tidak lama, saya minta Joyo untuk mengambil foto dengan kamera digital Canon saya. Dia sendiri membawa kamera saku.

“Joy, Joy! Foto gua di depan gerbang sini!”
Joyo tampaknya tidak antusias memfoto saya.
“Nggak bagus.”
“Apanya?”
“Subyek fotonya.”
“Maksud elu, gua nggak bagus? Nggak masalah, Joy. Ini buat gua bukan buat elo.”
Beberapa jepretan selesai dan kami pun membeli tiket masuk.

Saya membaca papan di bagian halaman sebelum masuk ke Candi yang bertuliskan nama-nama Sansekerta dari beberapa tokoh yang dipahat di Candi Mendut. Joyo pun menjelaskan tapi tidak ada yang berkesan sehingga saya langsung melupakannya. Saya pun mengamati relief di bagian dasar candi yang melekat dengan tanah berumput.
“Pondasi candi ini bagaimana, Joy?”
“Aku nggak begitu ahli soal pondasi candi tapi ini candi kecil jadi perkiraanku pondasinya hanya beberapa meter dari permukaan tanah.”
“Tidak ada foto mengenai pondasinya ya?”
“Kamu saja yang foto, pondasi kok difoto.”
“Kenapa enggak? Supaya orang tahu bentuk pondasi candi dan bisa mempelajarinya.”

Kami lalu naik ke atas Candi Mendut. Joyo pernah bercerita bahwa candi ini kaya dengan relief fabel tetapi masih sedikit yang dapat diketahui kisahnya secara utuh. Saya sekarang dapat melihatnya dengan jelas. Berbagai bentuk hewan terpahat dengan baik. Tentu saja candi ini pernah mengalami pemugaran dan saya puas dengan hasilnya.

“Joy, yang ini ceritanya gimana?” tanya saya.
Joyo menjelaskan panjang lebar tetapi tidak secara runut dan tidak meninggalkan kesan. Beberapa kali kejadian itu terulang sampai akhirnya saya berpikir, suatu hari saya harus membuat cerita fiksi sendiri dari fabel di Candi Mendut ini. Cerita Joyo nggak asik banget.

Saya dan Joyo berputar mengelilingi tingkat pertama Candi Mendut. Saya takjub dengan relief Dewi Saraswati dengan ukuran sangat besar di salah satu sisi dinding candi terluar. Saya dibuat kagum dengan penggambarannya.
“Wah, besar sekali, Joy! Ini siapa namanya?”
“Ini Budha Avalokitesvara.”
“Apa, Joy?” saya bertanya lagi.
“Budha Ava-lo-kites-vara.”
“Ah, susah dihapal! Gimana gua ingat?”
“Aku juga heran, biasanya aku juga nggak ingat.”
“Joy, foto gua di sini ya?” saya merajuk dengan mimik manis.
“Kameramu kurang bagus, coba pake SLR.”
“Yah, paling enggak ini sudah bisa optical zoom, daripada kameramu…” saya menyindir. Joyo pun menyerah dan memfoto saya dengan terpaksa.

“Lihat dulu hasilnya!” saya mengambil kamera dari tangannya. Yah, Joyo memang cukup lihai mengambil foto. Saya pernah lihat hasil orang lain yang lebih buruk.
“Sekali lagi, Joy, di sebelah sini. Nanti coba yang di sana.” saya menunjuk ke sudut lain dari lorong candi.
“Katanya kamu ke sini untuk tahu sejarah Candi Mendut, ini kok malah foto-foto?”
“Penjelasanmu nggak menarik, Joy. Sepertinya kamu menceritakan benda mati yang tidak pernah hidup, tidak ada emosi, dan tidak ada sejarah. Paling enggak gua bisa dapat foto untuk ditaro di friendster sama facebook. Lagian tempat ini bagus untuk dipakai latar berfoto.”
“Ya, udah sana! Berpose tapi jangan norak, ini Magelang bukan Jakarta.”
“Elu tinggal jepret apa susahnya? Masak elu mau ngambil foto tutup mata?”
Kami berdua beradu argumen yang tidak jelas.

Mungkin karena sumpek dengan permintaan saya untuk memfotonya, Joyo lalu berpisah dari saya. Dia sibuk dengan kameranya sendiri. Sampai kemudian kami bertemu untuk naik ke tingkat kedua dari Candi Mendut. Joyo menceritakan sebuah relief mengenai seorang raksasa yang suka memakan anak-anak.
“Kayak paedophil gitu ya?”
“Paedophil? Iya mungkin.” Joyo mengernyitkan dahi, heran dengan analogi saya.
Kami pun masuk ke dalam ruang gelap di tengah candi yaitu induk candi yang seingat saya berisi sebuah patung Budha besar. Di dinding ruangan itu terdapat beberapa relung yang sebenarnya berisi patung Budha dalam berbagai posisi tetapi sebagian kosong dan sebagian tidak utuh.

Di luar saya berbisik pada Joyo, “keberadaan candi dan sejarahnya tidak bernilai materi bagi orang-orang yang mencuri arca-arca itu yah?”
“Ya, begitulah kondisi situs purbakala Indonesia. Sudah sejak abad sembilan belas dan zaman Belanda ya terus begitu. Kepemilikan arca asli dianggap prestisius. Padahal itu adalah pencurian.”
“Tapi masyarakat sekitar mungkin tidak menganggap bahwa identitas mereka dicuri karena mereka sudah tidak memiliki ikatan emosional dengan candi-candi itu, Joy.”
“Yah, mungkin seperti itu. Tapi di beberapa tempat, penduduk bisa menggagalkan pencurian. Mereka masih punya kepedulian. Memang nggak semua punya kepedulian seperti itu.”
“Lagian, sebagian situs purbakala tidak lagi punya fungsi praktis dalam masyarakat misalnya dipakai untuk sembahyang. Jadi situs purbakala seperti ornamen belaka yang tidak penting bagi mereka kecuali kalau dijual ke pihak lain.”
“Yah, mungkin.” Kami berdua menuruni anak tangga dan saya pun mendekati Joyo.
“Joy!”
“Pasti minta difoto.” Saya pun nyengir dengan gembira. Joyo ternyata sudah dapat membaca pikiran saya. Hebat!
“Di sini, Joy!” saya berlari kecil sambil memberi aba-aba pada Joyo ke suatu sudut yang kira-kira bagus sebagai latar belakang.
Saya pun bergaya miring ke kanan, senyum lebar, memakai kacamata hitam, bersender di candi, dan berbagai posisi yang membuat Joyo geleng kepala.
“Ternyata orang Jakarta itu norak ya?”
“Aduh, Joy! Candi di Jakarta yang sering gua lihat adalah Menara Danamon, Menara Batavia, JHCC, Hotel Mulia, oya sama Monas. Yang kayak gini nggak ada di Jakarta.”
“Pantes!”

Kami beristirahat sebentar di bawah pohon beringin besar yang ada di dalam lingkungan Candi Mendut. Teduh sekali. Ada banyak cabang benalu yang jatuh sampai hampir menyentuh tanah. Joyo menarik salah satunya dan mulai berayun. Yah, mungkin dia ingin terlepas dari kenangan perseteruan dengan hakim tadi pagi.

“Kenapa nggak dibuat ayunan aja ya di sini?”
“Kenapa dibuat ayunan, pegangan sama cabang ini aja sudah bisa main ayunan?”
“Iya deh, Joy. Kita pulang yuk! Gua izin dari kantor cuma setengah hari.”
“Ayo!”

Kami berdua menaiki motor Revo dan pulang melalui jalan utama. Saya mengingatkan Joyo.
“Kamu yakin nih, Joy? Gua nggak yakin.”
“Yakin, jam segini polisi udah malas cari mangsa. Sama-sama tahu jadwal.”
Saya menggigit bibir, Bagaimana kalau kali ini STNK motor saya yang ditilang?
Joyo membaca kekhawatiran saya.
“Enggak deh, percaya. Aman, aman. Kalau dari jalan belakang, lama nanti sampai di Jogja.”
“Kamu yang tanggung jawab ya?”
“Aku selalu bertanggung jawab dan selama ini belum ada yang hamil kan?”
“Halah! Ya udah, jalan! Baca ayat kursi dulu, Joy!”
“Nggak hapal. Kamu aja yang baca, aku yang amin.”
“Wuuu!”

Joyo pun melarikan motor dengan kencang ke arah Jogja. Sementara saya mengawasi sekitar dengan pandangan waspada jika ada polisi sedang berpatroli. Syukurlah, kami masuk ke kota Jogja tanpa kurang sesuatu apapun, termasuk STNK motor saya yang aman di dompet. Kami meluncur ke kantor Joyo untuk kemudian berpisah. Sebelum kembali ke kantor, saya sempat bertanya kepada Joyo.
“Joy, tadi gua lupa tanya hal yang penting. Soal nama Candi Mendut itu, Joy. Gimana sejarahnya.”
“Itu panjang ceritanya. Kamu cari aja di internet, pasti ketemu.”
“Yah, Joy, kalau semua bisa didapat di internet, nggak aneh kalau orang berkunjung ke candi cuma pingin difoto. Informasi sudah ada di internet berarti pengunjung yang ke Mendut ya memang cuma ingin berfoto.”
“Tapi itu bukan alasan untuk malas baca buku.”
“Gua udah baca buku dan informasi di internet, Joy, tapi gua nggak bisa menghubungkan satu kisah dengan kisah lain karena sejarah nggak terpisah kayak biskuit.”
“Wah, untung kamu bilang biskuit! Tadi kayaknya aku titip kantong plastik ke kamu. Itu isinya biskuit. Kamu ambil aja deh.”
Saya membelalak heran. “Dari tadi kek bilang. Kan bisa dimakan di jalan.” saya mengomel.
“Ya, sudah nanti kita lanjutkan diskusi. Minggu depan ada pameran di Taman Budaya, kamu datang aja.”
“Lihat nanti. Ya, udah, gua balik ke kantor.”
“Terima kasih ya motornya.” ujar Joyo.
“Elu masih punya hutang soal Mendut! Gua nggak bakal lupa!” saya mengancamnya.
“Mana mungkin aku bisa lupa kalo yang ngancam preman Jakarta?” Joyo mengiringi kepergian saya dengan gelengan kepala.

Medan, 25 Mei 2008

Advertisements

One thought on “Cah Mendut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s