Pengetahuan-Saya

Bunga, daun, batang informasi


Kasus mengenai penutupan akses ke YouTube selama beberapa hari sangat menarik didiskusikan. Ariel Heryanto juga sudah membahasnya di harian Kompas. Saya mau melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Kasus penutupan YouTube lebih bergema dari teguran yang dilakukan Pentagon terhadap Google pada fasilitas google-earth. Disinyalir bahwa Dephan AS khawatir para teroris memanfaatkan fasilitas google-earth untuk membidik tempat-tempat strategis milik pasukan koalisi di Irak dan Afghanistan. Saya tidak mendengar ada protes dari pustakawan atau pekerja LSM dari AS mengenai berita itu. Google pun menarik gambar-gambar yang diprotes pihak militer AS. (berita seputar social network dapat ditemukan di beberapa website, http://www.nytimes.com/2005/12/20/technology/20image.html?_r=1&pagewanted=print&oref=slogin, http://inhomelandsecurity.com/intelligence/,news.bbc.co.uk/2/hi/americas/7282635.stm, http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/ 2008/03/printable/080307_googledefense.shtml).

Kekuasaan, sejarah, dan akses terhadap informasi adalah kontinuum dominasi. Kekuasaan menentukan sudut pandang penulisan sejarah dan akses terhadap informasi mendukung kelanggengan kekuasaan. Kalau selama ini pengamat sosial dan budayawan menganggap masyarakat Indonesia sebagai kumpulan orang yang mudah lupa, lalu mengapa satu film itu dipermasalahkan? Karena sekarang pun saya tidak ingat nama pembuat film Fitna dan kebangsaannya.

Respon masyarakat Indonesia terhadap film Fitna dapat dibandingkan dengan respon pada film Da Vinci Code. Saya ingat pada wawancara Tempo dengan Romo Magnis yang marah dan kesal terhadap film itu tetapi mengatakan bahwa dia yakin umatnya tidak bodoh untuk larut secara emosional dengan beredarnya buku dan film Da Vinci Code. Lalu apakah mereka yang menuntut pencabutan film Fitna dari YouTube adalah orang-orang bodoh? Menurut saya tidak karena terakhir saya mendengar YouTube memperbaiki kebijakan pemakainya untuk meng-upload konten tertentu.

Respon dari kedua umat beragama dari kasus di atas memang berbeda dan saya tidak bermaksud menentukan mana yang lebih baik dan lebih benar. Saya menghargai pendapat Romo Magnis yang dapat menenangkan dan mempercayai kekuatan iman jemaatnya. Namun, dengan maraknya situs-situs gratis nan kapitalis seperti YouTube dan Facebook, pengawasan dari masyarakat bukan sesuatu yang bodoh dan tidak beralasan. Respon terhadap film Fitna yang terbatas beredar di dunia maya menunjukkan kegegeran masyarakat tradisional terhadap kekuatan sistem kapital yang merambah ‘dunia lain’. Situs-situs berbasis social network dan online communities berkembang pesat dan secara kapital sangat menguntungkan. Akuisisi dan kemitraan situs-situs tersebut oleh perusahaan TI mapan bukan main kepalang mahalnya.

Sementara itu, budaya masyarakat konsumen tidak dapat diseragamkan untuk menerima dan menganalisis seluruh konten secara cermat. Setiap kebudayaan memiliki kepekaan terhadap suatu isu. Hak satu orang dibatasi oleh hak orang lain. Saya punya hak membuang sampah di tempat sampah, tetapi jika sampah itu adalah kulit udang yang sangat bau maka akan mengganggu kenyamanan tetangga sekitar. Walaupun prosedur yang saya tempuh sudah benar tetapi ada kepekaan untuk tidak membuang beberapa jenis sampah di ruang publik terutama bila petugas kebersihan tidak datang setiap hari.

Tuntutan dari sebagian masyarakat agar YouTube menarik film Fitna dari database mereka adalah kontroversial. Sekelompok orang itu mungkin sadar bahwa film tadi bisa beredar di website lain atau blog pribadi, tetapi dengan menuntut sebuah organisasi profit internasional untuk menarik sebuah film dari database mereka merupakan kejadian yang ‘seru’. Sekelompok orang ini mendapat sorotan media massa dan menunjukkan bahwa tuntutan mereka, mewakili sebagian kecil pemakai yang dapat mengakses internet, dapat diluluskan oleh industri media.

Setelah kejadian itu dan mungkin dengan pertimbangan lainnya, ada perubahan dalam terms and condition yang diajukan YouTube pada pemakainya. Perubahan sebelumnya sudah terjadi pada multiply dengan ‘menghilangnya’ fitur lagu dari tampilan. Boleh juga dilihat contoh disclaimer dari layanan HotChat sebagai berikut.

Dilarang menggunakan kata-kata dan mengupload image yang berbau porno dan SARA. Hotchat tidak bertanggung jawab atas content yang anda masukkan. Namun Hotchat berhak untuk tidak menampilkannya.

Google dan perusahaan layanan informasi cyber sejenis dikelilingi oleh isu-isu kontroversial seputar rahasia pribadi pemakai (privacy of personal information), hak cipta (copyright), sensor, dan penghentian jasa (discontinuation of services). Isu-isu tersebut masih terus berproses dan diprotes. Ada baiknya jika para pemakai dapat mencermati dan mengeritisi konsep ‘gratis’ dari jasa dan fasilitas online yang selama ini mereka terima, entah itu blog, flickr, fanbox, atau jasa lainnya. Hari gini, gratis itu apaan sih? Tapi berapa banyak orang yang mau bersabar untuk membaca seluruh pasal dalam terms and condition? Saya sendiri biasanya langsung klik pilihan ‘I Agree’ tanpa membaca sampai habis. Fu***** hell deh sama syarat dan ketentuan (wah saya sudah melakukan sensor tuh!).

Itu dulu sekelumit bunga, daun, batang, dan biji dari tanaman bernama informasi. Silakan direspon.

Salam glokalisasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s