CerPen-Saya

GADIS MANIS DAN BAYINYA


Asih duduk terpekur di teras. Pandangannya terfokus ke bintang-bintang di langit. Tangan kanannya mengusap perut buncitnya. Sudah genap enam bulan kandungannya. Tatapannya kini jatuh ke perutnya. Tatapan bingung dan sedih.

Asih mengambil sebatang rokok putih dan menyalakannya. Dia menghisap dalam-dalam. Dia mengungsi ke panti Lestari yang sekarang ditempatinya ketika mengetahui bahwa dia positif hamil. Dia takut pada kedua orang tuanya tetapi setelah dua bulan kemudian orangtuanya dapat menerimanya kembali.

Asih tetap pada keputusannya bahwa dia tidak ingin merusak nama baik keluarganya dan dia akan tinggal di panti ini setidaknya sampai dia melahirkan. Terdengar pintu depan dibuka orang. Asih menoleh.

“Eh, mbak!” Asih tersenyum sambil menyembunyikan rokoknya.
“Sudah malam begini kok masih di luar? Nggak takut masuk angin?”
“Sama angin aja takut. Mbak sendiri kenapa masih bangun, bukannya besok banyak kerjaan?”
“Iya sih.” Niken duduk di bangku kayu di sampingnya. Niken adalah salah seorang relawan di panti itu. Dia sudah dua tahun mengabdi di Panti Lestari dan Asih merasa nyaman bersamanya walau tidak setiap hari bertemu.
“Bagaimana pelajaranmu?” tanya Niken.
“Emm, gitu-gitu aja. Nggak tahu, sejak hamil jadi kurang bisa konsentrasi.” jawab Asih.
“Sejak kapan kamu jadi perokok?” lanjut Niken. “Saya kok nggak tahu. Saya kan juga merokok.”
“Oh, iya.” senyum Asih mengembang. “Merokok sejak hamil, mba. Stres, bingung, yah gitu lah. Aku tahu kalau asap rokok nggak baik untuk bayi tapi ini kan tubuhku, mba!”
“Iya, saya nggak menyuruh kamu berhenti. Saya cuma nggak tahu kalau kamu merokok. Apakah rokok dapat mengurangi rasa stresmu?”
Asih menghisap rokoknya.
“Yah, paling enggak aku nggak jadi ngelamun. Sejak aku hamil ada banyak perubahan. Badan ini seperti karung rasanya. Perut pun jadi membuncit dan kadang gatal. Aku dengar perempuan yang habis melahirkan, tubuhnya akan melar. Benar, mba? Uuh, aku nggak mau.” Asih bersungut.
“Asal kamu bisa jaga tubuhmu dan ikut senam misalnya, kayaknya bisa balik lagi. Rekso nggak ke sini lagi?” Niken bertanya mengenai pacar Asih yang menjadi ayah si jabang bayi.
“Yah, sekarang kan lagi ujian semester, mba. Dia sibuk, tadi dia baru SMS. Satu bulan ini banyak tugas.”

Hening sejenak.
“Mba, aku boleh tanya?”
“Silahkan. Dari tadi juga kamu sudah tanya.”
Asih meringis. “Kenapa mba mau jadi relawan di sini dan mengasuh bayi-bayi yang…yang tidak diinginkan?”
“Umm, apa yang terjadi padamu bisa terjadi pada gadis manapun, termasuk saya.”
“Mba pernah…?”
“Enggak, mungkin saya beruntung tapi saya menyesalkan banyak perempuan muda yang tidak mengenal dan mencintai tubuh mereka sendiri. Termasuk saya, dulunya. Kita dianggap lebih baik jika dibiarkan tanpa pengetahuan. Kita dibiarkan bodoh.”
“Begitu, mba? Aku dulu nggak berpikir kalau berhubungan intim dua kali akan bisa hamil. Aku pikir, hubungan begitu biasa dilakukan kalau sudah saling suka.”
“Ya, kita tidak tahu bahkan lupa bahwa tubuh kita memiliki rahim yang dapat menampung calon manusia.”
“Aku sering disalahin sama teman-temanku karena nge-seks tanpa pengaman. Mereka bilang itu aku bodoh.”
“Kebodohan yang umum, Asih. Kebodohanmu adalah kebodohan semua orang yang ada di sekelilingmu; orang tuamu, teman-temanmu, tetanggamu. Mereka tidak mau menerimamu karena takut melihat wajah mereka sendiri.”
Asih mematikan rokoknya dan melirik Niken.

“Aku belum ngerti, Mba. Ini kan salahku dan Rekso, Mba. Orang tuaku nggak tahu.”
“Ketidaktahuan tidak perlu diwariskan, Asih. Orang tuamu sudah tahu mengenai seks, mereka dapat mengajarkannya padamu. Begitu juga gurumu. Mereka justru menyerahkan pengajaran pengetahuan seks ke produser film porno yang kapitalis. Nggak masuk akal!”
Asih merasa Niken sedang suntuk maka ditawarkan sebatang rokok. Setelah disulut, Niken memandang perut buncit Asih.
“Bagaimana perasaanmu selama hamil? Semakin mendekati hari kelahiran kan?”
Asih menahan senyum.
“Aku bahagia, Mba. Bahagia karena semua ini akan berakhir. Bukan bahagia untuk anakku. Semoga kehidupannya bisa lebih baik ya, Mba. Aku belum bisa jadi ibu.”
“Ibu saya juga tadinya tidak tahu caranya menjadi ibu, dia learning by doing. Seperti itulah cara mengetahui seorang ibu, mengandalkan pengalaman dan intuisi karena tidak ada orang yang akan mengajarkan kita menjadi seorang ibu.”
“Iya. Aku tidak diajarkan apa-apa mengenai merawat bayi, mungkin karena orang tua berpikir bahwa aku tidak secepat ini untuk punya anak. Ibuku bilang aku masih kecil.” Asih terdiam sebentar sebelum melanjutkan.

“Walaupun aku akan menyerahkan dia untuk diadopsi, rasanya aku nggak mungkin melupakan dia, Mba.” Mata Asih berkaca-kaca.
“Ya, tidak apa. Dia bagian dari dirimu. Kamu belajar banyak darinya dan dia akan belajar banyak darimu.” Niken berusaha memberi semangat.

Air mata Asih terlanjur jatuh. Dia mengusapnya perlahan. Dia tidak ingin terlihat sedih.
“Asih, hidupmu tidak akan hancur dan berhenti di sini. Hidupmu akan menuju ke arah yang berbeda dan lebih kaya. Kamu bisa bergabung dengan komunitas di panti ini untuk membantu pendidikan seks bagi remaja.” Niken mengangguk dan memberi pandangan untuk meyakinkan Asih.

Asih mengeringkan airmatanya dengan kedua telapak tangan.
“Mba Niken mau menemani Asih kan kalo melahirkan?”
“Saya nggak bisa janji, Sih. Soalnya belum tentu saya yang jaga, bisa saja Donna atau Hermi. Yang terpenting, kita semua akan bantu kamu untuk mempersiapkan persalinan yang sehat. Gimana?” Niken menawarkan sebuah senyum.
Asih mengangguk sambil sedikit tersenyum.
***
Matahari bulan April bersinar cerah ketika suara mengaduh bercampur dengan teriakan dan tangisan. Asih sedang berusaha mengejan. Ia berteriak kesakitan. Orang tuanya duduk di luar kamar bersalin dengan gelisah. Rekso tidak terlihat. Ibu Asih menitikkan air mata mendengarkan anak gadisnya meraung di dalam kamar.

Empat jam berlalu dengan sangat lambat. Asih masih di dalam kamar. Tidak lama kemudian terdengar suara bidan yang bersemangat dan suara tangisan bayi itu pun membuncah di sore yang lembab. Ibu Asih menundukkan kepalanya berdo’a dengan kelegaan yang luar biasa dari seseorang yang pernah mengalami peristiwa yang sama.

Setengah jam berlalu sebelum akhirnya bungkusan selimut berisi bayi mungil keluar dari dalam kamar. Orang tua Asih menatap kosong langkah perawat yang melewati mereka sambil membawa si bayi. Mereka saling bertukar pandang.

Bidan Narni keluar dari kamar bersalin dan disambut dengan tatapan cemas orang tua Asih.
“Asih sehat. Dia memerlukan istirahat. Tadi sempat perdarahan jadi kita sumbangan darah bapak minggu lalu kami pakai.”
“Ya, ya. Kalau ibu perlu lagi…” sahut ayah Asih.
“Oh, saya rasa sudah cukup. Dia sedang istirahat dan akan kami bawa ke kamar Anggrek. Ibu dan bapak bisa ikut tetapi mohon jangan ditanya. Dia kelelahan.” ucap bidan Narni.
“Baik, Bu. Kami akan temani dia pindah kamar. Kami sudah bawa barang-barangnya.” jawab ibu Asih.

Ibu bidan mengangguk. Beberapa menit kemudian, dua orang perawat membawa Asih keluar dari kamar bersalin. Asih setengah tersadar dan mengeluarkan kata-kata tidak jelas. Buliran keringat membasahi wajahnya. Ibu Asih mengeluarkan sapu tangan handuk dan membasuh wajah anaknya. Mereka tidak mengeluarkan suara.
***

Rekso berdiri mematung di depan bungkusan selimut dengan makhluk mungil di dalamnya. Matanya kosong menatap si bayi yang tertidur pulas.
“Rekso.” panggil Niken.
“Eh, oh, Mbak Niken. Ya, saya cuma mau lihat.”
“Tidak apa.” Niken mengambil si bayi dari dalam boks.
“Aku nggak berani menghadapi orang tua Asih.” ujar Rekso.
Niken menoleh sebentar ke arah Rekso, memberi senyuman dan kembali memandangi si bayi.
“Bagaimana persalinannya, Mbak?”
“Pastinya melelahkan. Saya juga tidak hadir, saya baru datang setengah jam yang lalu. Mbak Hermi yang mendampingi. Kabarnya sekitar lima jam. Cukup lama.”

Rekso mengangguk dengan wajah gelisah.
“Kenapa? Kamu nggak apa-apa?” tanya Niken.
“Eng, enggak. Eh, apa Asih akan menyusui bayinya?”
“Saya rasa sih tidak. ASI-nya belum keluar, mungkin besok akan keluar. Kemungkinan, kalau Asih bersedia, ASI-nya akan diperas dan dimasukkan dalam botol. Itu juga demi kesehatannya.”
“Oh, iya. Aku juga nggak bisa melihat Asih terlalu menderita. Maksudku…”
“Ya, sudahlah.” Niken memotong kalimat Rekso. “Asih akan segera pulih dan dia ingin melanjutkan kuliah. Lebih baik kalau kamu membantu dia untuk bisa mengejar ketinggalan kuliahnya. Itu masa depannya.”
“Iya, Mbak. Emm, orang tua angkatnya mau memberi nama siapa?” tanya Rekso.
“Saya belum tahu pasti. Sepertinya, Hokky.”
“Hok, Hokky?”
“Iya, mereka bilang nama itu bisa untuk cowok atau cewek, uniseks. Mereka ‘kan belum tahu jenis kelamin si bayi.”
“Oh.” Rekso berujar pendek lalu mendesah.
“Mereka mau ambil emm, Hokky kapan?”
“Besok sore tapi mereka akan berkunjung hari ini untuk melihat kondisi bayi.”
Niken menimang Hokky dengan lembut. Rekso memandangi Niken. Hatinya bimbang.
“Kamu akan menjenguk Asih?” Niken bertanya tetapi seakan berupa perintah.
“Ya, iya. Aku ke kamarnya dulu, Mbak.” Rekso berpamitan.
“Oke. Kamu akan balik ke sini?”
“Ah, rasanya enggak.” Rekso tersenyum, matanya masih lekat dengan bayi dalam dekapan Niken.
“Hokky.” Ia membatin, mengulangi nama bayinya.
***

Asih memeluk Hermi dan Niken bergantian. Rekso menunggu di dalam mobil.
“Semoga aku bisa cepat langsing ya, Mbak.”
Mereka berdua tertawa, “Asih, kamu pasti jadi langsing. Kamu memang suka senam ‘kan? Jangan lupa dengan pengalamanmu di sini. Apa kamu masih berniat untuk menjadi tutor di kampusmu?” tanya Hermi.
“Tutor untuk pendidikan seks, maksud Mba? Nanti mereka bisa tahu kehamilan Asih.” wajahnya menyiratkan kekhawatiran.
Niken melirik ke Hermi. “Ah, sudahlah. Saat ini kamu perlu istirahat dan berpikir tenang. Tidak perlu cepat-cepat memutuskan. Pulihkan dulu kondisimu. Nah, Rekso sudah menunggumu. Jaga kesehatanmu, jangan lupa kontrol ke bidan.”

Asih tersenyum. Dia berjalan ke arah mobil dan membuka pintu depan. Tetapi sebelum masuk ke dalam, dia kemudian berbalik dengan ragu-ragu.
“Mbak! Bayiku…akan baik-baik saja ‘kan?” Asih menyebutkan kata ‘bayiku’ dengan hati-hati.
Hermi menoleh ke Niken yang segera mendekati Asih.
“Bayimu sehat, Sih, dan dia berada di lingkungan yang mencintainya. Saya yakin itu. Sudah, jangan khawatir. Dia sudah memiliki hidup yang baru, begitu juga kamu.”

Ada kelegaan dalam senyum Asih. Dia masuk ke dalam mobil. Rekso yang memegang kemudi menganggukkan kepala ke arah Niken.
“Mari, Mba. Salam sama yang lain.”
“Nanti Mba sampaikan, hati-hati di jalan.”
Niken dan Hermi melambai pada pasangan muda yang berlalu dari hadapan mereka.
Hermi menggumam sendiri, “Ku harap mereka menemukan kebahagiaan yang nyata dan menentramkan.”

Niken yang berdiri di sampingnya tersenyum mendengarkan temannya.
“Ah, ya ampun! Saya lupa, belum mengurus akte kelahiran Hokky. Ayo, Her!”

Mereka bergegas masuk dan menghilang ke dalam ruang administrasi panti. Suasana bulan April yang cerah menjadi saksi perjalanan gadis manis dan bayinya.

September 2002 diselesaikan Maret 2008.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s