CerPen-Saya

Pak Majid


Begitulah. Kabarnya sudah tersebar luas. Sudah bukan rahasia lagi. Pak Majid buron! Pak Majid, guru SD kelas enamku.

“Kamu jangan becanda?” aku melotot ke arah Eneng.
Walau ini resepsi pernikahannya, aku masih menyempatkan untuk bergosip.
“Kok nggak percaya sih? Gua denger sendiri dari istrinya. Begitu denger berita itu, gua langsung ke sekolah dan ketemu sama istrinys.”
“Jadi istri dan anaknya ditinggal?” aku masih setengah tidak percaya.

“Ditinggal begitu aja. Percaya nggak sih? Gua aja kaget, Mi. Kok bisa-bisanya guru kita, guru yang jadi panutan. Jaman sekarang, Mi, nggak ada yang bisa dipercaya.” Katanya sinis.
Aku termanggu.
“Eh, gua masih banyak tamu. Gua tinggal dulu ya?”
Aku tidak menjawab.

Pak Majid. Ingatanku melayang ke sepuluh tahun silam. Pak Majid masuk ke dalam kelas dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana. Dia tidak membawa satu buku pun. Semua siswa langsung duduk dan terdiam. Mata mereka terpaku pada sosok Pak Majid.
“Mia, gua cariin lu! Gua baru dikasih tau Ratna, katanya Pak Majid jadi buron ya?”
Aku mengangguk.

“Tadi Eneng ngasih tau gua.”
“Gila! Uang tabungan anak-anak diambil sama dia. Puluhan juta! Buat apaan uang segitu? Maksud gua, kalo dia perlu uang, pasti ada dong yang mau kasih pinjem.”
“Iya, tapi Eneng bilang dia sudah punya pinjeman sama orang lain. Keluarganya aja ditinggal!”
“Itu dia yang gua heran. Kalo memang uang itu buat keluarganya, kenapa mereka ditinggal? Aduh, kok bisa ya, guru nilep uang muridnya.”
Aku tercenung.

“Jangan bengong, Mi. Pulang yuk! Oya, si Hendra sama Akir mau ikut bareng. Boleh nggak?”
“Boleh aja. Jadi kita lewat Pondok Ranggon dong.”
“Yang penting nggak lewat kuburan.”
—-
Di mobil aku yang memegang kemudi. Ternyata Ismi dan Anung, teman SMP ku juga mau ikut bareng. Akhirnya di kursi belakang berjejalan empat orang.
“Wah, gimana guru lu, Mi? Masa’ uang tabungan anak-anak diambil?”
Aku terdiam.

“Gua juga heran,” jawab Elin.
Aku melihat ke kaca spion sebelah kanan. Wajah Pak Majid ada disitu. Dia sedang membantu anak-anak mengerjakan tugas Matematika. Suaranya besar walau badannya kurus. Kumis hitam yang tidak terlalu tebal menghiasi wajahnya dan dia terlihat cukup tampan. Kadang dia suka membawa penggaris kayu yang panjang sebagai alat bantu. Tetapi anak-anak justru takut kalau penggaris itu untuk menghukum mereka.

Beberapa bulan sebelum aku lulus, Pak Majid menikahi seorang gadis cantik. Kulitnya putih dan sangat manis, namanya Dewi. Guru-guru lain menggosipkan bagaimana seorang guru kere seperti dia bisa menggaet wanita cantik seperti itu.

Pak Majid tinggal di rumah dinas yang terletak di dalam kompleks sekolah. Beberapa bulan kemudian mereka sudah dikarunia seorang anak perempuan yang manis seperti ibunya. Pasti dia sudah besar sekarang. Lalu bagaimana dengan masa depannya?
“Heh, Mi! Jangan ngelamun. Di depan udah mau kuburan tuh. Kalo lu masuk ke situ, gua nggak mau ikut!” sahut Anung sambil menepuk pundakku dengan keras.

“Eh, enggak kok.”
“Tadi kita panggil nggak nengok.”
“Lagi konsen sama nyetir. Oya, sebelumnya ada gejala atau gimana kalo dia lagi kesusahan?”
“Gejala apa? Lu pikir orang sakit pake gejala?”
“Bukan begitu. Maksud gua, apa dia dikenal suka berjudi?”
“Kalo itu gua nggak tau. Tapi mungkin aja, lah bangunan di depan SD kita ‘kan tempat orang minum-minum, prostitusi terselubung. Tanya aja Hendra!”

“Lho, kok nanya gua? Emangnya gua pelanggan? Enak aja!”
“Eh, maksud lu bangunan yang ada di seberang jalan itu?” tanyaku lagi.
“Iya, masa’ lu nggak denger sih gosipnya?”
“Mia ‘kan kuper. Gaulnya cuma sama pramuka lalu jalan-jalan di kuburan. Hiii…”

“Gua emang denger soal gosip itu. Tapi yang gua denger lagi, bangunan itu sudah dialihkan fungsi. Entah jadi restoran atau apa?”
“Restoran cuma buat make-up. Lagian siapa sih yang mau jauh-jauh makan di Pondok Ranggon. Hantu kali!”
“Lalu gimana?” aku terus mencari tahu.

“Operasinya tetap sama. Apalagi daerah sini ‘kan cukup terpencil, kalo buat tempat yang terlarang kayak gitu cocok banget. Tapi gua nggak tau kalo Pak Majid sering main ke situ atau enggak.”
“Menurut gua sih, pasti dia pernah main. Orang cuma beberapa meter dari gerbang sekolah. Lagian aneh juga, tempat mesum gitu kok ada di depan SD, yang bener aja?”
“Eh, rumah lu dimana, Nung?”
“Oya, di depan tuh, deket tiang listrik. Sampe lupa.”
“Tabrakin aja tiang listriknya, dia ‘kan penunggu di situ.” Akir tertawa.
“Heran deh. Ini tempat lampu jalannya sudah banyak tapi tetep aja serem. Bulu kuduk gua berdiri tuh, Mi.” Elin menatapku ketakutan.

“’Kan ada abang, Neng. Jangan takut.” Sahut Akir mesra.
“Awas sama dua cowok di belakang. Belum diimunisasi.” Sahut Anung dan Ismi cekikikan sambil keluar dari mobilku.
“Makasih ya, Mi. Kalo ada acara dateng terus ya? Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Untung guru-guru SD kita baik-baik ya? Nggak ada yang aneh-aneh.” Ujar Hendra pada Akir.

Keempat orang tadi memang berbeda sekolah dengan Elin dan aku. Mereka ada di SD 02 dan aku SD 01.
“Sekarang sih jangankan guru,haji pun sudah jadi penipu.”
“Lho kenapa, Dra?”
“Dua bulan yang lalu, bokap gua kena tipu. Dia pingin buka toko tapi untuk ngurusnya dia kasih ke haji ini. Dari penampilan luar kayaknya bisa dipercaya. Ngakunya udah haji dua kali. Udah gitu di rumahnya banyak digantung foto-foto dia bareng pejabat pemda. Ya udah, bokap gua percaya. Eh, ditunggu-tunggu, ditanya ini itu, kok nggak ada kabar.”

“Lalu?” tanyaku tidak sabar.
“Bokap gua taunya dia sudah ada di penjara karena banyak pengaduan dari orang-orang yang jadi korban orang itu.”
“Bokap lu kehilangan berapa?”
“Sepuluh juta.”
“Masya Allah. Uang tuh, Dra?”
“Uang dong, masa’ kambing?”
“Ya, kalo udah urusan uang, nggak kenal saudara, nggak kenal temen, nggak kenal agama. Semuanya kena. Nggak mungkin ada orang yang nolak uang.”

Bayanganku pada pak Majid kembali lagi. Sejak lulus aku memang jarang bertemu. Mungkin cuma dua kali saja dalam sepuluh tahun itu. Itu juga hanya tersenyum dan basa-basi ketika berpapasan. Tapi di lubuk hati, aku selalu mengingatnya sebagai guru yang sabar, baik dan tegas. Sebagaimana seorang anak ingusan yang terpana ketika melihat sosok orang dewasa yang mengajarkan berbagai ilmu untuk bekal masa depannya. Pak Majid adalah sosok itu. Seharusnya aku tidak sebegitu kaget karena baru beberapa hari yang lalu, Arief, teman kuliahku memberitahu bahwa ada beberapa dosen di kampus yang sedang diperiksa karena penelitian fiktif dan penyalahgunaan dana. Bukan lagi delapan juta rupiah tetapi sudah ratusan juta jumlahnya.

Apakah Pak Majid benar-benar dalam kesusahan atau dia sendiri yang jatuh ke dalam dunia hitam? Aku sendiri tidak tahu persis berapa gajinya sebagai guru SD dan aku juga tidak tahu statusnya, apakah pegawai negeri atau masih honorer. Sebagai bekas muridnya, aku merasa bersalah. Dia adalah salah satu orang yang sudah membentuk aku seperti sekarang ini. Aku bisa lulus SD, SMP, SMA sampai bisa masuk perguruan tinggi negeri favorit. Pak Majid ada di belakang itu semua. Dan sekarang dia justru menghabiskan hidupnya bersembunyi dari kejaran polisi. Ironis.

“Heh, bengong lagi! Jangan kebiasaan, Mi.”
“Eh, iya. Gua masih mikir Pak Majid.”
“Kasus kayak gini udah banyak. Koruptor yang nyuri lebih gede dari itu berderet.” Ujar Akir dengan dialek Betawi yang kental.
“Kok malah ngomongin koruptor sih? Lu pada nggak liat kalo gua ketakutan? Rumah lu udah deket ‘kan, Dra?” tanya Elin.
“Gua turun di depan warung itu aja. Nggak usah masuk.”
“Gua turun bareng Hendra ya? Lu nggak takut ‘kan jalan sendiri?”
“Enggak. Elin dari dulu emang penakut. Di sini ya? Hati-hati.”
“Oke, makasih, Mia, Lin. Duluan ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Setelah Hendra dan Akin turun, Elin menyuruhku untuk tancap gas. Daerah Pondok Ranggon selalu menakutkan buatnya. Padahal sudah banyak yang berubah dari daerah itu.

Selepas Pondok Ranggon aku menurunkan kecepatan mobilku. Hanya setahun sekali aku melewati tempat ini. Aku ingin melihat-lihat perubahannya. Mobilku melewati sebuah tempat billiard merangkap rumah makan berisi banyak pengunjung lelaki dengan deretan botol minuman dan tawa tergelak. Sekilas aku seperti melihat Pak Majid. Tinggi, kurus dan hitam. Menyeringai ke arahku.

“Pak?” aku menggumam.
“Apaan sih, Mi?”
“Itu tadi kayak Pak Majid.”
“Ah, yang bener dong? Masa’ Pak Majid sembunyi di sekitar sini?”
“Bener, Lin. Gimana kalo bener dia? Gua pingin bantuin dia.”
“Elu kok sampe mikir ke situ? Elu pikir dia masih inget sama elu? Muridnya dia ‘kan banyak, Mi. Justru dia malah takut kalo ketemu sama elu. Liat ke jalan aja deh, nanti nabrak lagi.”
Aku menyanggah kepala dengan tangan kananku. Tetapi pada saat itu, sebuah bayangan hitam lewat di depan. Elin berteriak. Aku terkejut, menginjak rem. Terlambat. Dengan badan gemetar aku keluar dari mobil. Orang-orang yang berada di pinggir jalan langsung datang bergerombol dan menutupi tubuh korban.

“Orangnya memang mabuk, bukan salah mobil.” Ujar salah seorang dari mereka.
Aku berusaha menyeruak masuk di antara kerumunan untuk melihat orang yang kutabrak. Aku terkejut, jantungku tiba-tiba berhenti, dan sekelilingku berkunang-kunang.
Pak Majid?

2003-12-10

Advertisements

2 thoughts on “Pak Majid

  1. wah, kenapa ya cerpenya slalu membuat tanda tanya di akhir cerita? tapi ngomong2, ada ide utk mempublish menjaid buku gak ni? 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s