Pengetahuan-Saya

Membentuk feminisme dengan pengalaman diri


Ketika mengikuti kuliah paradigma studi wanita di Fakultas Sastra, UI (sekarang FIB), saya pernah bertanya ke salah satu tim pengajar, waktu itu Rocky Gerung, tentang mengapa masyarakat pada umumnya takut dan tidak suka dengan kajian feminisme jika sebenarnya feminisme membela perjuangan kaum perempuan. Saya kecewa dengan jawabannya. Dia menyarankan saya untuk tidak mempedulikan anggapan “di luar sana” karena struktur di “luar” memang seperti itu.

Tidak puas dengan jawaban itu dan saya terus membawanya dalam ingatan. Kemudian saya mencari sendiri jawabannya. Saya mempertanyakan itu karena banyak perempuan dan lelaki yang menjadi korban dari sistem dominan tapi kemudian merasa takut dan khawatir untuk mengakui diri sebagai feminis. Apakah ada yang salah dengan feminisme?

Saya pun kemudian memahami bahwa feminisme yang muncul banyak didominasi dari pengalaman kelompok perempuan di belahan dunia lain. Feminisme, ideologi yang berkembang menjadi sebuah ilmu humaniora, dianggap tidak humanistis ketika pengalaman sebagian perempuan dianggap sebagai “pembuktian empiris” yang mewakili pengalaman “perempuan lain”. Saya menilai bahwa dibalik penolakan beberapa perempuan (termasuk saya dulunya) yang jelas bersimpati dan memiliki semangat yang sama terhadap feminisme sebenarnya menolak hegemoni generalisasi empiris tadi.

Memang kemudian muncul aliran feminisme poskolonial tetapi gaung perempuan di tingkat lokal masih sedikit yang terdengar. Sebagai bagian keluarga ilmu humaniora, kajian feminis dianggap kurang membumi dan mereka yang mendengungkannya justru dianggap kaum perempuan elit. Feminisme kemudian bertransformasi menjadi identitas kelas. Anggapan masyarakat kebanyakan, mereka yang “bisa” bicara feminisme hanya orang LSM atau orang kampus. Tidak heran kalau beberapa aktivis perempuan (di LSM dan akademik) tidak suka dengan label “feminis” atau membawa ideologi “feminisme” dalam gerakan mereka. Masyarakat yang mereka dampingi pun asing dengan konsep itu.

Sejak mengenalnya, saya merasa kajian feminis bukan sesuatu yang asing. Saya berusaha mengapropriasikan kajian feminis dengan pengalaman saya sendiri. Saya melihat bahwa kajian feminis telah memberi saya ruang untuk mengonstruksi pengalaman dan pengetahuan saya dalam suatu arus yang mengalir dinamis. Sebelumnya saya merasa bagaikan sungai yang tersumbat, tidak punya dasar untuk memberi kerangka terhadap pengalaman, dan terasingkan. Kajian feminis memberi saya rasa percaya diri bahwa apa yang saya rasakan bukan sesuatu yang aneh, mustahil dipahami, dan tidak beralasan. Saya pun tidak perlu merasa sendiri.

Kajian feminis tidak perlu ditakuti, bahkan ketika ada perempuan yang begitu radikal dalam pemahamannya, karena perempuan beragam. Kajian feminis bukan sesuatu yang secara epistomologi sulit dipahami orang awam karena ia berangkat dari struktur yang dialami semua orang tetapi dimaknai secara berbeda. Anda tidak perlu lulus dari program pascasarjana kajian wanita untuk merasa “cukup feminis”. Pengalaman dan cara memaknainya yang menjadikan seseorang feminis atau tidak.

Kajian feminis bukan sesuatu yang elit karena ia berupa kesadaran pribadi. Dengan mengaku sebagai feminis bukan berarti anda tidak dapat mengkritisinya. Apa jadinya kalau manusia terus berubah tetapi ilmu sosial stagnan? Ya ditinggalkan karena ruhnya sudah tidak kontekstual.

Saya seperti kebanyakan orang pernah merasa terikat dengan aliran feminisme gelombang kedua (liberal, sosialis, marxis, radikal) dalam mencitrakan feminisme. Namun menyadari bahwa hal itu tidak perlu. Kajian feminis bukan hanya itu, ia lebih dari itu. Kajian feminis tidak akan berbunyi jika ruang di dalamnya begitu dangkal dan sempit sehingga tidak beresonansi dengan kehidupan relasi gender keseharian.

Kajian feminis bukan perkara antah berantah. Jika ia kemudian masuk dalam struktur keilmuan dan akademik maka hal itu adalah bagian dari perjuangan yang utuh.

Masing-masing dapat memilih tempat yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Perbedaan pendapat dalam menyikapi kasus selalu terjadi dan sikap cuek saya terbukti sangat membantu.

Anda dapat mengonstruksi feminisme dalam kehidupan diri sendiri. Secara biologis anda lelaki atau perempuan atau mungkin sulit ditentukan, hal itu dapat menjadi aset awal untuk secara sadar mengkaji, memahami, menghujat (sumpah serapah), dan mengubah sistem yang dominan pada tingkat sekecil apapun.

Seluruh ilmu pengetahuan dimulai dari pertanyaan dan mempertanyakan. Maka tanyakanlah!

Jakarta, 23 Februari 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s