Perjalanan-Saya

Taksaka Pagi, Suatu Pagi


Dengan satu koper besar, satu kardus ukuran sedang, dan tas backpack, saya meninggalkan kos di Lempuyangan. Diantar oleh tiga teman, Sofie, Ivan, dan Siti, saya masuk ke becak yang mengantar saya ke Stasiun Tugu.

Saya sudah memesan tiket Taksaka Pagi yang berangkat jam 10. Sekitar dua puluh menit sebelum jam 10, kereta sudah datang. Di dalam kereta saya dibantu oleh penumpang perempuan yang baik hati, menaikkan koper yang berat ke tempat bagasi di atas. Sayangnya saya tidak mendapat tempat duduk dekat jendela, tapi tak apalah.

Saya sudah membawa bekal makan siang tapi rupanya ada fasilitas makan di kereta. Saya terkejut karena sebelumnya tidak ada. Wah, ini peningkatan. Bekal saya masih terpakai karena perjalanan panjang dan saya mudah lapar. Beberapa video klip dalam dan luar negeri diputar dengan volume keras. Disusul dengan sebuah film thriller selama hampir dua jam. Saya jadi tidak bisa menikmati lagu-lagu di mp3.

Pikiran saya belum tertata sehingga berloncatan ke sana ke sini. Ada kegamangan, ada kegembiraan, ada kegairahan, ada kegelisahan. Seluruh emosi yang kerap menyertai suatu perubahan dan transisi. Saya yakin dapat melaluinya karena ini bukan yang pertama kali dan pasti bukan yang terakhir kali. Saya masih suka “lonjak-lonjak” kalau pakai istilah Joshua (akibat dari sering mendengar lagu anak-anak jadul).

Sampai di Cirebon, saya merasa agak lega. Beberapa jam kemudian saya sampai di Stasiun Jatinegara. Bapak menjemput dengan mobil, Jakarta sedang diguyur hujan lebat. Tapi saya bersyukur karena jalur yang kami lewati tidak padat dan kami sampai dengan selamat dan saya sangat lapar.

Saya tidak membelikan oleh-oleh untuk ibu dan bapak. Titipan bapak berupa keripik gadung sudah saya cari tapi tidak ada di beberapa tempat. Saya pun bersumpah untuk kembali ke Jogja untuk membeli keripik gadung yang banyak untuk bapak. Saya tidak tahu kesukaan ibu di Jogja. Kedua orang tua saya tidak terlalu suka dengan Jogja.

Sampai di rumah, saya dihidangkan makanan kesukaan, tempe goreng dan sambal. Perjalanan itu sendiri bergejolak karena saya berpikir untuk kembali ke Jogja. Saya harus punya tujuan.

Kalisari, 4 Pebruari 2008

Advertisements

One thought on “Taksaka Pagi, Suatu Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s