Pengetahuan-Saya

Menggugat Gender


Saya merasa tertarik menanggapi beberapa hal dari esei Saut Situmorang yang tidak dipublikasikan di jurnal atau majalah melainkan di milis KUNCI dengan judul “Perempuan: Gender Trouble” (http://groups.yahoo.com/group/kunci-l/message/3865).

Tulisan itu dianggap tidak layak muat oleh Jurnal Perempuan kemudian Saut menyebarkannya di sebuah milis. Tanggapan saya lebih pada perkara yang berhubungan dengan kajian gender daripada kajian sastra. Beberapa hal yang perlu ditanggapi sebagai berikut.
I
Bagian kedua tulisan Saut membahas pengalamannya di Wellington, Selandia Baru ketika dia menyapa teman perempuan dengan sebutan “girl” dan perempuan itu tidak tersinggung dengan panggilan tadi. Komentar Saut: Siang itu adalah hari pertama saya memasuki dunia politik seksual bahasa.

Saya yakin bahwa dunia politik bahasa seksual (saya menyebutnya berbeda dari Saut) telah dialami Saut jauh sebelum dia datang ke Wellington. Kekagetannya terhadap reaksi perempuan itu merupakan bukti bahwa Saut telah dibesarkan dalam politik bahasa seksual yang berbeda dari yang dimiliki si perempuan.

II
Saut mempertanyakan sikap politik Ayu Utami yang memilih tinggal bersama seorang laki-laki daripada menikah. Kemudian dia bertanya: Kalau kumpul kebo adalah Feminisme, kenapa perkawinan bukan? Kalau perkawinan adalah konstruk sosial, apakah kumpul kebo bukan? Apakah seks, juga Ayu Utami, bukan konstruk kultural?

Saya pikir Ayu Utami tidak akan pernah menyatakan bahwa “kumpul kebo adalah feminisme”. Pilihannya untuk hidup bersama daripada menikah dalam kajian feminisme merupakan suatu negasi terhadap pandangan arus utama bahwa untuk membentuk keluarga, seorang perempuan HARUS menikah. Dalam beberapa budaya, pernyataannya menjadi lebih keras: untuk menjadi seorang perempuan sejati nan bahagia, ia HARUS menikah. Hal itu karena kebahagian seorang perempuan baru dapat dinilai ketika ia dapat membahagiakan suami dan keluarga suami. Menikah merupakan perkara kompleks dan tidak terbatas pada legalitas seks.

Keputusan Ayu Utami tinggal bersama bukan merupakan sikap “kumpul kebo adalah feminisme” melainkan penuturan tidak tertulis bahwa seorang perempuan dapat memilih dan memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya, bahkan ketika pilihan itu di luar dari budaya arus utama. Menjadi seorang feminis tidak dapat dinilai dari status menikah atau tidak karena hal itu justru mereduksi sikap feminis seseorang. ‘Mengambil sikap’ menunjukkan kesadaran seseorang sehingga seorang feminis bebas memilih untuk menikah atau tidak dalam kesadaran mengenai tindakannya.

III
Pada bagian yang panjang dia mengungkapkan keberatan pada para feminis yang memperkerjakan babu atau pembantu rumah tangga karena PRT mewakili sosok yang diperlakukan tidak adil oleh majikan mereka yang juga perempuan. Saya ikut mengalami kegelisahan Saut untuk kasus ini.

Keluarga saya pernah memiliki PRT beberapa kali. Meskipun keluarga saya memperlakukannya dengan baik karena kami tidak pernah menghina, memukul, atau membedakan jenis makanan tetapi saya merasa upah dan fasilitas yang mereka terima masih sangat, sangat minim. Namun, pemanfaatan tenaga PRT sendiri perlu melihat realitas di mana para pekerjaan domestik masih dilihat sebagai tanggung jawab istri/perempuan daripada tanggung jawab keluarga. Pengasuhan juga masih dilihat sebagai tugas utama ibu daripada keluarga. Pada posisi seperti itu ditambah dengan ketiadaan fasilitas sosial bagi keluarga maka pilihan menjadi begitu sulit bahkan kadang seorang ibu dipaksa untuk memilih antara bekerja atau mengasuh anak di rumah. Pemaksaan pilihan itu yang dipermasalahkan dalam kajian gender.

Seorang PRT pun biasanya berada pada posisi yang sama yaitu dipaksa memilih dari pilihan yang sangat terbatas atau yang lebih baik dari pilihan terburuk. Mereka tidak dapat membuat pilihan (choices) untuk bisa memilih (choose) yang paling baik dari yang terbaik. Usaha yang dilakukan aktivis feminis bukanlah melarang perempuan menjadi PRT tetapi memberikan keahlian untuk pencegahan dan pemberdayaan serta pendampingan hukum. Adanya UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga merupakan salah satu upaya dan sedang diusahakan bahwa subyek keluarga yang dimaksud dalam UU tersebut tidak terbatas pada keluarga akibat ikatan sedarah dan pernikahan. Dengan begitu, PRT bisa masuk sebagai pihak yang dilindungi dalam UU itu.

Ketika seorang feminis memperkerjakan PRT, keduanya terjebak dalam sistem ekonomi bias laki-laki. Keduanya bergender perempuan dalam ritme kehidupan yang berbeda tetapi disatukan pada pekerjaan domestik yang tidak pernah diakui sebagai ‘pekerjaan’ tetapi justru suatu ‘beban’ atau tanggung jawab perempuan. Feminis masih harus berjuang di ranah ini.

IV
Kritik Saut selanjutnya adalah mengenai bahasa. Ia menilai bahwa pembandingan bahasa Indonesia dengan bahasa Indo-Eropa dan Roman sebagai hal yang gegabah. Namun, saya pun tidak dapat mengatakan bahwa bahasa yang ada di Asia, termasuk Indonesia, minim bias patriarki. Kritik terhadap kata imbuhan “menggagahi” sebagai ganti “memperkosa” sebenarnya merujuk pada pertanyaan: mengapa kata “gagah” dipilih dan dinilai lebih tidak ofensif dan tidak menyakitkan?

“Menggagahi” sebagai eufimisme menjadi penyembunyian terhadap esensi kekerasan seksual yang terjadi dalam kasus pemerkosaan. Saya melihat ada suatu kesan menyesatkan bahwa kata “gagah” dipakai untuk menunjukkan bahwa tindakan kekerasan seksual adalah tidak menyakitkan bagi lelaki karena kata itu dipakai dari sudut pandang pelaku kekerasan. Kesan lainnya adalah bahwa dengan memperkosa, pelaku laki-laki menjadi “gagah”. Padahal lelaki tidak menjadi lebih gagah dengan melakukan kekerasan.

V
Kritik selanjutnya berpindah ke Aquarini yang membahas psikoanalisis. Bagi Lacan, phallus adalah penanda utama dari desire, dan karena ketaksadaran itu memiliki struktur seperti bahasa, maka ketaksadaran dan bahasa itu phallic. Falogosentrisme psikoanalisis Lacan yang menunjukkan bias laki-laki dalam sistem simbolisasi inilah yang dikritik para Feminis Perancis. Bagaimana mungkin bisa membicarakan Teori Feminis Perancis tanpa juga membicarakan Teori Psikoanalisis Jacques Lacan!

Hampir semua teori feminisme mengambil titik kritis dari teori dan isme yang cukup mapan di masyarakat seperti sosialisme, marxisme, gerakan liberal, termasuk teori psikoanalisis. Pembahasan suatu kesadaran feminisme sebagai sebuah gerakan tidak dapat lepas dari konteks yang melahirkannya. Salah satu kritik utama feminis merupakan bias laki-laki dalam sistem simbolisasi, baik itu yang ada di bahasa, sistem ekonomi, tradisi, sistem kekerabatan, dan lain-lain. Para feminis Perancis pun mengambil posisi yang sama untuk mengkritik dan membentuk feminis psikoanalisis. Minimnya uraian Saut mengenai psikoanalisis Lacan di tulisannya pun belum dapat menjelaskan falogosentris, desire, dan kesadaran secara utuh.

Contoh mengenai sistem simbolisasi itu ada pada contoh bagian pertama tulisan ini mengenai dunia politik bahasa seksual dan pemakaian kata “menggagahi”. Bahasa Indonesia mungkin tidak sekaku bahasa di Eropa dalam pembagian sifat dari kata benda tetapi ada aspek dalam pemilihan, pemakaian, dan pengungkapan dalam bahasa yang bias gender dalam berbagai bahasa seperti contoh pemilihan kata menggagahi.

Jaringan sistem simbolisasi yang bias laki-laki berada tidak saja di sekitar manusia tapi mulai disusukan sejak bayi lahir, melewati tahap perkembangan dan pembelajaran dan mengalir dalam cara berpikir. Semua dilakukan ‘di luar kesadaran’ dari agen dalam sistem. Namun, penalaran feminis dapat menggugah kesadaran gender sehingga kemudian individu dapat mengenali jaringan konstruksi sosial dalam dirinya yang selama ini dianggap ‘alami’.

Diselesaikan di Jakarta, 15 Januari 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s