Pengetahuan-Saya

Menjadi Manusia Dewasa: Refleksi Siklus Kekerasan


Mungkin sudah banyak yang tahu dan pernah membaca kisah Sheila yang ditulis Tory Hayden. Mungkin lebih sedikit orang yang mengetahui mengenai Nathan Ybanez. Saya sendiri baru mengetahui nama dan profilnya dari majalah RollingStone edisi Desember 2006. Kisahnya agak sama dengan Sheila tetapi ada beberapa perbedaan.

Nate adalah seorang remaja berusia 16 tahun ketika membunuh ibunya dengan menggunakan linggis untuk menghantam kepala si ibu. Dia dan seorang temannya dihukum seumur hidup. Tahun 2006 itu dia sudah menghabiskan waktu dan bertahan hidup selama 9 tahun di berbagai penjara di Amerika Serikat. Namun, suatu kisah kekerasan biasanya memiliki sejarah, dia tidak tiba-tiba muncul dalam kehampaan.

Nate sama seperti Sheila adalah anak-anak yang lahir dalam keluarga penuh kekerasan fisik, psikis, dan verbal. Sebagai seorang anak, mereka masih bergantung secara emosional dan finansial pada kedua orang tua. Pada kasus Nate, siklus kekerasan dimulai pada kakeknya yang sangat sering memukul Roger, ayah Nate. Bahkan disinyalir sang kakek pernah membunuh putrinya. Ketika Roger dewasa dan menikah, dia mengikuti alur yang sama dengan memahami dunia sebagai tempat eksekusi dimana anak adalah obyek pelampiasan kemarahan dan kejengkelan.

Julie, istri Roger, tidak lebih baik karena dia bahkan pernah menyiksa dan memperkosa Nate. Roger juga pernah melakukan kekerasan seksual pada Nate. Dengan orang tua yang hanya memahami kekerasan sebagai bahasa pengantar, Nate ikut mempelajari bahasa yang sama. Sudah beberapa kali dia berusaha lari dari rumah tetapi polisi mengembalikan dia ke keluarganya karena menilai bahwa keluarga adalah perlindungan yang terbaik. Sampai pada suatu titik, bahasa kekerasan itu dilakukan Nate kepada ibunya dengan membunuhnya.

Ketertarikan saya pada cerita Nate dan Sheila adalah pada substansi cerita mengenai kekerasan dalam keluarga atau dalam rumah tangga. Indonesia sudah memiliki UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga yang masih terus dipantau keberhasilannya dalam menekan tingkat kekerasan dalam rumah tangga baik kepada istri, pembantu, dan terutama pada anak-anak. Kekerasan meninggalkan luka fisik dan psikis yang mendalam bagi anak-anak. Namun yang patut diperhatikan lebih teliti adalah siklus kekerasan itu akan berlanjut ketika mereka menjadi manusia dewasa.

Kekerasan dipelajari, dimaklumi, dan diikuti. Dengan begitu, kekerasan sama halnya dengan kelembutan dapat menjadi banal atau biasa. Anak-anak adalah kelompok yang mengikuti konstruksi dunia dari pemahaman “orang dewasa”. Perlahan tapi pasti mereka menyerap bahasa kekerasan dan ada dua kemungkinan: menyadari bahwa kekerasan bukan sesuatu yang alami dan biasa sehingga berusaha memutus rantai kekerasan atau sebaliknya, meneruskan rantai kekerasan itu pada pasangan, tetangga, dan paling mudah pada anak-anak mereka.

Kekerasan bukan hanya pemukulan tapi juga perselingkuhan, poligami, bahasa verbal yang melecehkan dan membandingkan, cubitan, dan beberapa hal lain yang bisa ditemukan di buku psikologis klinis. Kekerasan seperti itu mungkin tidak dianggap sebagai hal penting sampai seseorang masuk ke sebuah hubungan dan menjadikan kekerasan sebagai bagian dari “ekspresi kasih sayang”. Mereka melanggengkan siklus kekerasan dari alam bawah sadar yang sudah terkondisi.

Seorang tamu perempuan di acara Oprah ditanya mengenai kecenderungannya berpacaran dengan laki-laki yang sering memukul bahkan hampir membunuhnya. Namun, dia masih berusaha melindungi laki-laki itu. Setelah diselidik lebih dalam, ketika masih kecil kemampuan perempuan itu sering dibandingkan dan diragukan oleh ibunya. Perempuan itu cantik dan berbakat tetapi dia tidak memiliki rasa percaya diri sehingga lelaki yang salah mendekatinya dan dia mempercayai lelaki itu.

Kasus lain juga terjadi pada seorang perempuan cerdas yang kemudian membiarkan dirinya didefinisikan dan ditampar oleh pacarnya. Dia berasal dari keluarga yang ayahnya berselingkuh beberapa kali dan dia sering melihat ibunya menangis. Dengan latar belakang seperti itu, perempuan tadi menilai bahwa seperti itulah hubungan laki-laki dan perempuan yang normal. Dia pun membiarkan pacarnya menampar dan merendahkan dirinya. Kekerasan menumbuhkan konsep diri negatif bagi anak-anak, termasuk perempuan dan hal itu menempatkan mereka pada posisi rentan ketika masuk dalam hubungan pacaran. Namun, selalu ada harapan untuk perubahan dan masuknya kesadaran.

Tidak mudah memang. Saya sendiri masih belajar menjadi manusia dewasa yang punya rasa percaya diri positif. Saya diberi rasa ingin tahu oleh Tuhan sehingga saya selalu mempertanyakan apa yang terjadi di sekitar saya. Saya curiga bahwa orang dewasa membuat realitas yang salah tentang dunia dan memberikannya pada saya. Tidak dengan segera saya percaya bahwa perempuan harus begini dan lelaki harus begitu, sementara anak-anak hanya diam mengikuti. Selama menjadi anak-anak, saya disuruh duduk tenang, memperhatikan, dan mendengarkan. Saya diakui pintar dan cerdas hanya jika saya mengiyakan dan mengikuti aturan orang dewasa, apapun aturannya.

“Orang dewasa” terbukti tidak sepenuhnya cerdas seperti yang saya bayangkan sehingga saya tidak ingin terbebani oleh realitas dunia yang mereka buat dan tawarkan. Namun saya tidak merendahkan kemampuan Nate, Sheila atau korban lainnya yang terjebak dalam kondisi sangat sulit untuk keluar dari lingkaran kekerasan orang dewasa. Pilihan dalam lingkaran itu begitu minim dan semuanya merugikan anak-anak karena pilihan dibuat oleh orang dewasa. Sebagai kelompok margin, mereka mengikuti arus dan hampir tidak ada kesempatan untuk mengubah arus utama yang dibuat orang dewasa. Di Indonesia pun, saya yakin ada banyak kasus seperti Nate dan Sheila tetapi kurang mendapat perhatian media.

Anak-anak ingin menjadi orang dewasa karena ingin memiliki kekuasaan yang sama bukan karena orang dewasa lebih mampu menghargai orang lain, lebih dapat mencintai sesama, lebih menghargai keindahan, dan lebih kuat berimajinasi. Dalam buku acuan menjadi dewasa yang mapan, tertulis bahwa sifat kekanak-kanakan harus ditinggalkan seluruhnya. Tidak aneh kalau menjadi dewasa berarti anda kurang mentolerir orang lain, kurang dapat mencintai dengan tulus, dan semakin miskin imajinasi.

Ketika saya berusia 11 tahun, saya takut untuk menjadi 12 tahun. Ketika saya berusia 14 tahun, saya takut menjadi 17 tahun. Ketika saya 19 tahun, saya takut menjadi 25 tahun. Begitu sampai akhirnya saya mencapai usia 27 tahun dan merasa siap menghadapi orang dewasa. Anak-anak sering kelelahan dalam usaha mereka memahami dan mengayomi realitas orang dewasa. Terus berjuang!

Lempuyangan, 29 Desember 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s