CerPen-Saya

Mencari Arus Datar


Entah kenapa, banyak yang beranggapan bahwa seluruh cerita yang saya tulis di blog adalah kisah nyata. Tidak semuanya nyata dan benar, sebagian adalah khayalan dan sebagian keisengan. Seperti kisah yang saya ceritakan di bawah ini.

Pada sebuah pameran besar dalam rangka perayaan hari jadi Yogyakarta di JEC, saya bertemu Janti, perempuan berwajah ayu yang saya kenal sekitar enam bulan yang lalu. Seperti biasa, saya berkelana sendiri ke JEC dan saya antusias melihatnya ada di tempat itu.

“Jeng!” saya menepuk bahunya.
“Heh, Niken! Lama nggak kedengaran kabarnya.”
“Halah, baru dua minggu masak udah kangen. Terakhir kan kita jalan ke Gunung Kidul.”
“Iya sih.”
Sedang asiknya saya dan Janti ngobrol, tiba-tiba ada seorang laki-laki muda menghampirinya.

“Wah, rame banget!” seru laki-laki tadi.
“Eh, Dang! Ini kenalin teman gua. Kita sama-sama jebolan SMA 39 dan orang Jakarta tapi baru ketemu di Jogja.”
Eits, cowok mana lagi nih? Saya membatin.
“Oh ya? Saya Dadang, Mba.”
“Niken.” sahut saya mengulurkan tangan sambil mengurai senyum.

“Kamu masih mau lihat-lihat ya?” tanya Janti.
Saya seperti membaca bahasa pengusiran secara halus.
“Iya, gua baru dateng. Jadi mau lihat stand yang lain.”
“Kita udah lama sih. Capek nih. Kita balik aja ya?” lirik Janti ke Dadang.
“Iya, kita makan di luar aja.” sahut Dadang.
Akhirnya kami berpisah dan pertemuan itu menyisakan banyak pertanyaan di benak saya.
Dua hari kemudian, saya mengirim SMS mengajak Janti nongkrong di Masjid Syuhada. Saya menyusulnya ke kos karena dia tidak memiliki kendaraan dan kami berangkat bersama.

“Elu ngajak nongkrong ke masjid, emangnya gak ada tempat lain?”
“Masjid itu termasuk ruang publik. Tempat lain memang banyak tapi masjid ini bagus kok buat refleksi.”
“Yah, itu sih enak di elu yang suka bikin puisi dan nulis kisah orang lain.”
Sesampainya di Masjid Syuhada, kami mendekati pagar di trotoar untuk memandang aliran Sungai Code di bawahnya. Jam menunjukkan pukul 19 dan Jogja baru saja diguyur hujan deras selama beberapa jam. Saya tidak banyak basa-basi.
“Cowok yang kemarin di JEC siapa, Jeng?” Saya kadang memanggilnya dengan Jeng Janti walaupun dia lebih muda dari saya.

Dia berusaha mengingat.
“Ooo, Dadang? Kenapa?”
“Muka-muka orang TI.”
“Hahaha, ya itu karena elu curi pandang dia lagi ke stand komputer kan?”
“Enggak. Kalo gitu kan banyak. Tapi gua tahu muka orang TI.”
“Ya kalo iya kenapa?”
“Kayaknya elu spesialis cowok-cowok TI ya?”
“Kok bisa ada kesimpulan gitu? Cowok-cowoknya aja yang sekarang banyak suka TI.”
“Nggak ada masalah sih, Jeng. Gua juga enggak menyimpulkan, cuma merangkum. Soalnya sejak dari SMA sampai sekarang dikau konsisten dengan cowok macam itu.”
“Elu jangan ngadu sama Halim ya?” dia mendorong saya dengan bahunya. Halim adalah pacarnya yang bekerja di Jakarta tetapi besar di Jogja. Saya pernah bertemu sekali dan kami sering berkomunikasi lewat internet messenger.

Sejenak saya bimbang. Halim adalah orang yang baik dan jujur, setidaknya itu kesan saya selama ini. Arus deras Sungai Code di bawah menghanyutkan lamunan saya.
“Ken, ini bukan waktunya bikin puisi!” Janti membuyarkan lamunan. “Gua tau elu suka YM-an sama Halim.”
“Ah, siapa bilang? Gua pake pidgin kok.” sergah saya.
“Ngeles lagi. Iya, lu mau pake pidgin kek, YM kek, intinya elu selalu komunikasi sama dia. Jangan-jangan dia suka sama elu?” Janti melirik saya tetapi saya pura-pura tidak melihat.
“Gua nggak makan pacar teman.”
Hening sebentar. Janti merogoh sakunya lalu beranjak mendekati penjual goreng-gorengan.

“Duduk sini aja, Ken.” sambil menggenggam sebungkus gorengan, dia mengajak saya untuk duduk di pinggiran trotoar. Dengan malas saya turuti keinginannya.
“Heran ya? Gua baru kenal elu enam bulan dan elu udah tau banyak soal gua.”
“Iya, gua juga heran. Elu bocor sih.” saya mengambil pisang goreng dari kantong di pangkuan Janti.
“Abis elu diam terus. Gua pikir aman curhat sama elu, lagian elu nggak suka ngerumpi. Ternyata…pelampiasan elu ada di blog.”
Saya terkekeh mendengarnya.
“Makanya gua nggak mau cerita banyak lagi ama elu.”
“Berarti yang kemarin itu tertangkap basah dong?” saya meliriknya sambil tersenyum menggoda.
Janti terlihat kesal.
“Gua udah mulai menjauh dari Halim. Dia udah ngomongin nikah segala macam. Cocoknya sama kamu yang seumuran.”
“Jadi kalo kamu udah bosen lalu dikasih ke gua, gitu? Maaf, Jeng. Gua lebih baik jadi perawan muda selamanya.”
“Gua pikir elu suka sama Halim.”
“Gua suka, dia orangnya kalem dan pemikirannya cukup luas. Tapi…” saya mengambil jeda.
“Tapi?”
“Gua nggak makan pacar teman.”
“Oo, jadi itu masalahnya?” Janti terdiam sejenak. “Gua masih cinta sama dia, Ken.”
Saya melahap potongan pisang terakhir dan mengambil tahu isi.

“Gua nggak minta elu mutusin dia. Cuma ngapain juga elu selingkuh sama yang lain?”
“Eh, cowok sekarang banyak yang selingkuh, Ken. Elu aja yang nggak pernah pacaran jadi nggak tau karakter cowok.”
“Kalo saling selingkuh, mau jadi apa? Kalo emang mau selingkuh, ngapain juga pake pacaran? Nggak beda sama poligami.”
“Kalo nggak pacaran ya nggak ada selingkuh. Nggak usah disamain dengan poligami. Elu aja yang ribet.”
“Lho, yang punya pacar dua itu siapa? Kok gua yang dituduh ribet?”
“Dadang ini orangnya sweet banget. Kita banyak kesamaan.”
“Ya iyalah, masih kuliah juga di UII.”

“Kok elu tau?”
“Mbah Google, Jeng.” Saya melanjutkan, “Kalo elu ada di posisi gua, apakah elu akan ngomong ke Halim?”
“Enggak, enggak perlu. Semuanya akan terselesaikan juga. Pada akhirnya akan terbuka. Soal waktu aja dan itu yang gua perlukan sebelum memutuskan.”
“Dan sebelum diputuskan.” sahut saya.
“Maksudnya?” Janti terkejut.
“Lho, tadi kamu yang bilang kalau Halim mungkin selingkuh juga di Jakarta. Ya, bisa saja dia memutuskan kamu duluan.”
Hening. Kami mendengarkan canda tawa beberapa kumpulan muda-mudi dari seberang jalan.

“Gua jalanin aja yang ada sekarang.” Janti menggumam sambil menengadahkan kepalanya, “Elu pernah nggak diselingkuhi?”
“Pertanyaan bodoh!”
“Hahaha,” Janti tertawa lepas.
“Maaf, Gusti Niken. Hidupmu datar-datar aja ya?”
“Siapa bilang? Orang-orang seperti kamu yang selalu membuat hidup gua gagal menjadi datar.”
“Hahahaha…gua nggak bisa bayangkan menjadi cewek yang tidak pernah pacaran dan tidak pernah dicium,” Janti mengerling ke arah saya.
“Dunia ini justru belum kiamat karena masih ada orang kayak gua, Jeng.”
“Hahahaha,” tawa Janti semakin keras. “Karena ada orang kayak elu, gua bebas punya pacar banyak ya? Duuh, baik banget deh kamu.”
“Mau makan sekarang? Lapar nih.” saya celingukkan mencari makanan.
“Kayaknya di tempat lain aja. Di Lempuyangan gimana?”
“Oke. By the way, gua nggak janji bahwa gua nggak akan ngomong sama Halim, oke?
“What?” Janti terkejut.
“Seorang teman yang tidak jujur tidak layak mendapat predikat teman. Mungkin kamu bisa memosisikan diri menjadi Halim.”
“Jadi kamu membela Halim?”
“Enggak, gua membela posisi diri gua sendiri.”
Janti berdiri mematung memandangi saya. Tatapan itu masih berbekas di dalam ingatan.

Rasanya sulit dipercaya bahwa akhirnya pertemanan itu harus berakhir. Saya memutuskan untuk memberitahu Halim keesokan harinya. Saya tidak suka dengan respon Halim yang kemudian menginterogasi dan memarahi Janti.

Sehari kemudian, Janti mengirim SMS yang mengatakan bahwa dia tidak menyukai tindakan yang saya ambil. Saya tidak membalasnya. Saya juga tidak membalas messenger atau SMS dari Halim. Saya berusaha mendapatkan kembali hidup saya yang datar.

Lempuyangan, 25 Desember 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s