Pengetahuan-Saya

Refleksi Dualisme


Menulis tentang makna sebuah tesis akademik yang saya selesaikan di UI sama dengan menulis tesis kehidupan saya sendiri. Tesis saya berjudul “Perempuan Memaknai Fisika: Studi Kasus Mahasiswa Perempuan di Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia”. Ada satu kesimpulan kunci dari tesis saya yaitu:

Metodologi fisika yang ada sekarang menyembunyikan cara memaknai yang sebenarnya dipakai dalam proses penemuan ilmiah.

Proses penyembunyian itu dilakukan dengan tidak mengakui proses intuisi sebagai bagian dari siklus ilmiah. Alasannya sederhana, intuisi dianggap bagian dari karakter perempuan dan dinilai lebih dekat dengan emosi yang dalam proses ilmiah dikonotasikan dengan subyektivitas. Proses ilmiah yang mapan mengharamkan masuknya subyektivitas peneliti ke dalam tahapan penemuan karena dianggap dapat mengaburkan pandangan ilmiah.
Penyembunyian dengan tidak diakuinya intuisi dalam proses ilmiah merupakan akibat dan sebab.

Sebab: Pengaruh yang sangat kuat dari filsafat pemikiran yang mengagungkan kekuatan logika sebagai satu-satunya unsur yang memisahkan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Konsep manusia dalam tradisi patriarki direduksi sebagai kaum lelaki. Dengan begitu, logika dimanipulasi sebagai bagian dari “kekuatan” dan dominasi kaum lelaki.
Akibat: Para mahasiswa perempuan yang mempelajari fisika pada tingkat awal memiliki citra yang sangat sempit.

Jika logika ingin dibahas lebih detail maka dapat diketahui bahwa dalam peradaban manusia selalu ada “tingkatan kelas” di berbagai ras dan etnis. Kelompok manusia dari wilayah Eropa atau mereka yang berkulit putih biasanya dianggap memiliki tingkat intelektual, yang salah satu komponennya adalah logika, lebih tinggi dari ras lain. Tolak ukurnya dianggap begitu jelas dan kekuatan logika dianggap sesuatu yang statis dari zaman ke zaman.

Kajian mengenai pengetahuan sudah banyak tetapi penelitian ini adalah bagian dari keingintahuan pribadi yang ingin saya uraikan melalui pengalaman perempuan yang sedang mempelajari fisika. Dalam pemahaman mereka, logika adalah komponen utama dalam memahami fisika. Dalam tradisi patriarki, perempuan dianggap lebih cenderung pada emosi sehingga mereka bukanlah pembelajar fisika ideal dan alami (natural and ideal physics learners).

Dalam kondisi seperti itu, mereka terus mempertanyakan kemampuan mereka melakukan fisika. Sebagian merasa tidak percaya diri dengan kemampuan mereka. Seperangkat nilai fisika yang mapan telah meragukan kemampuan pembelajarnya sebelum mereka dapat menikmati sepenuhnya pengalaman melakukan fisika. Tidak aneh jika kemudian sebagian orang awam menilai bahwa ilmu sains lebih banyak mempelajari permukaan suatu fenomena daripada pembahasan yang mendalam.

Saya sendiri menilai fisika sebagai ilmu yang kaya dengan pemikiran kreatif dan keluasan cakrawala pemikiran. Namun, saya tidak tahu mengapa cakrawala tersebut justru menyempit. Adakah kabut prasangka menguasai ilmu fisika? Ya. Lalu apakah mantra “logika” dapat menyingkirkan atau membatasi secara ketat prasangka tadi? Tidak.

Logika dalam filsafat ilmu pengetahuan alam digunakan sebagai strategi membatasi keterlibatan orang dari kelompok “yang lain”. Sebagian perempuan yang menjadi informan saya menilai bahwa logika laki-laki lebih unggul sehingga mereka lebih mudah memahami fisika. Namun, apakah konsep logika yang mereka pahami? Mereka, seperti juga sebagian besar manusia lain, melihat logika sebagai komponen terpisah dan berdiri sendiri dari komponen lain proses pembelajaran fisika. “Kebenaran” itulah yang saya gugat dalam penelitian ini.

Proses penyusunan tesis itu kemudian membawa saya pada kesadaran pribadi yang menyegarkan. Salah satu konsep yang saya pakai adalah “women’s way of knowing”. Awalnya pembimbing saya meragukan adanya konsep itu karena sekilas konsep itu memisahkan dan kemungkinan berkonotasi merendahkan atau bahkan mengistimewakan cara memaknai yang dilakukan perempuan. Saya memang perlu berhati-hati menggunakan konsep itu untuk tidak terjebak pada usaha membandingkan dan menomorsatukan cara satu dengan yang lain.

Konsep “women’s way of knowing” yang saya gunakan merupakan usaha menjelaskan bahwa di tengah sistem nilai patriarki, perempuan mengalami kesulitan belajar karena tidak mempercayai pengalaman serta pengetahuan mereka sendiri. Sementara dalam proses pembelajaran, pembelajar perlu memiliki suatu kepercayaan diri untuk mulai melangkah sendiri dengan menggunakan seperangkat metodologi pengetahuan yang sudah dia hayati. Rasa percaya diri yang rendah menyebabkan perempuan bergantung pada otoritas di luar dirinya dalam memproduksi pengetahuan.

Hal yang sama sebenarnya juga berlaku pada kelompok minoritas atau mereka yang terpinggirkan dalam cara pembelajaran yang mapan karena konsep belajar yang ada sekarang identik dengan institusi pendidikan formal. Kesempatan untuk belajar di institusi pendidikan formal sudah terbuka luas bagi perempuan di sebagian wilayah Indonesia, tetapi keberadaan mereka masih terpolarisasi di beberapa jenis ilmu pengetahuan seakan ada ilmu khusus perempuan dan ilmu khusus lelaki.

Menggugat cara pembelajaran dominan tidak hanya mengenai perempuan tetapi juga dapat dibawa pada ruang dan kelompok yang lebih luas karena ada kelompok lelaki yang lebih dominan dan lebih berkuasa dari kelompok lelaki lain. Jenjang senioritas juga masih kuat berlaku. Dengan struktur pengetahuan seperti itu, perempuan sering berada dalam keraguan untuk bersuara.

Pengalaman informan saya tidaklah unik karena saya pun mengalami hal yang sama. Ketika saya menulis dan berdiskusi ada keraguan dan kekhawatiran, apakah saya didengar, apakah argumen saya benar, apakah saya harus selalu benar, apakah saya kelihatan bodoh, apakah saya perlu bertanya, dan sebagainya. Beberapa orang mengingatkan untuk berargumen secara sistematis dan menggunakan logika. Namun, logika seperti apa? Suatu pengalaman yang logis bagi saya mungkin dianggap tidak masuk akal bagi orang lain. Seorang teman, ketika berargumen, selalu memulainya dengan, “Logika-ku begini,…”. Dengan begitu, ada kemungkinan bahwa orang lain memiliki logika berbeda.

Melakukan penelitian selalu menyenangkan. Bagi saya, meneliti bukan hanya bermain wacana dan analisis terutama dalam hal penelitian berperspektif feminis. Menjadi peneliti bukanlah menjadi subyek yang hanya melahirkan kategori, menjalinnya dan menganalisisnya. Namun, berbagi rasa antusias, hasrat dan mengasah kemampuan mendengarkan orang lain. Prosesnya begitu kaya dengan refleksi yang selalu mengubah posisi dan memperluas cakrawala.

Diselesaikan di Lempuyangan, 16 Desember 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s