Pengalaman-Saya

Sekelumit pengorbanan


Tanggal 13 November lalu saya pulang ke Jakarta naik kereta api dari Stasiun Tugu. Karena ojek langganan saya sedang berada di Jakarta untuk tes pekerjaan (ojek spesial nih), maka saya diantar Karman. Weh, Karman udah punya HP sekarang. Dan langsung punya penggemar gelap yang kadang kirim SMS.

Sampai di Jatinegara jam 5 pagi. Bapak menjemput saya di stasiun. Dia sudah mengorbankan waktu tidur dan waktu kerja untuk menjemput saya. Jadi terharu padahal saya paling malas kalau disuruh mengantar dia kemana-mana. Hari itu dia tidak masuk kerja supaya sore bisa mengantar saya ke bandara.

Sampai di rumah, saya dan ibu langsung menyiapkan barang bawaan. Ibu menunjukkan mantel baru yang dipinjamkan Mba Barsih. Mantelnya berwarna hitam, tebal, sangat nyaman, dan cukup panjang. Mereknya Zara. Belinya di Pasaraya. Harganya cek sendiri. Pokoknya gaji saya satu bulan nggak cukup untuk beli mantel itu.

Singkat cerita, saya diantar oleh bapak dan ibu ke bandara jam 5 sore. Tadinya mau naik bus Damri tapi karena bapak sudah mau mengantar, saya ikut aja. Saya membayangkan kemacetan di jalan dan saya tahu kalau bapak punya ‘penyakit’ ingin kencing dan BAB, jadi sempat khawatir. Kekhawatiran itu menjadi kenyataan.

Bapak sebenarnya sudah ambil alternatif yang dia rasa aman dari macet. Tetapi, Jakarta itu kan kota yang cepat berubah. Dalam arti, hari ini aman besoknya bisa ada galian lalu dua minggu ditutup lalu beberapa bulan kemudian ada galian baru. Proyek jalan seperti itu biasanya memperparah kemacetan.

Kejadiannya di dekat sekolah internasional Korea, Cipayung. Kendaraan dari tiga arah yang berbeda berebut jalur di pertigaan. Sementara di bagian kiri jalan sedang ada galian tanah. Ancur deh.

Setelah satu jam menikmati kemacetan, kami dapat masuk jalur menuju tol via jalan Taman Mini. Biasanya jalan di depan TMII itu macet, hari itu malah lancar. Masuk tol dari TMII dan perjalanan lancar. Bapak sudah memberi pemberitahuan sebelumnya kalau akan ada kemacetan di tol Jembatan Tiga. Meleset banget! Sebelum Jembatan Tiga sudah macet. Tol itu belum selesai diperbaiki setelah kebakaran beberapa bulan lalu. Dari tiga lajur menjadi satu lajur yang bisa dilewati. Kemacetannya sampai 3 KM.

Neraka dunia itu akhirnya terlewati. Saya pun akhirnya makan di dalam mobil. Selama perjalanan mendengarkan radio Elshinta dan ada pembahasan mengenai rencana jalur sepeda di Jakarta. Tapi Om Bowo hanya mau membuatnya kalau ada 100.000 pelaku bike to work di Jakarta. Sementara kampanye bike to work di Jakarta masih kurang kuat dan terkesan tren sementara di kalangan kelas menengah. Intinya saya sampai dengan selamat di terminal 2D. Siap berangkat ke Seoul seorang diri. Most of all, salute pour my papa.

Seoul, 16 November 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s