Pengetahuan-Saya

Semua manusia pada dasarnya cacat (nggak ada manusia sempurna)


Jun 2007

Akhirnya, apa yang sudah lama ada dalam benak saya terdefinisikan dalam kalimat singkat di atas. Pak Bambang dari Depkominfo yang mengatakannya dan dia mendapatkan informasi itu dari Pak Kadiman, Menristek. Sudah lama saya merasakan Akhirnya, apa yang sudah lama ada dalam benak saya terdefinisikan dalam kalimat singkat di atas. Pak Bambang dari Depkominfo yang mengatakannya dan dia mendapatkan informasi itu dari Pak Kadiman, Menristek. Sudah lama saya merasakan “ada sesuatu” dengan konsep kecacatan.  

Saat ini kecacatan diganti dengan konsep different abilities dan sebagian menyingkatnya difabel. Namun, kata difabel itu sendiri tidak ada dalam konsep dan kamus bahasa Inggris. Konsep different abilities berasal dari pemahaman yang berbeda dengan kecacatan. Dengan konsep itu, seperangkat kemampuan yang berbeda dari kemampuan “normal” mulai dapat diakomodasi dalam paradigma yang mapan.

Kembali pada paradigma bahwa semua orang pada dasarnya cacat yang saya bicarakan di atas. Pernyataan itu menarik karena memang itulah yang sejak lama saya amati dan saya rasakan sebagai kebenaran. Begini kisahnya.  

Saya punya seorang sahabat dan sejak SD dia menggunakan kacamata minus. Waktu itu saya sempat heran karena tidak paham mengenai kondisinya. Kemudian, selama beberapa waktu saya juga pernah mengalami sakit yang menyebabkan ruang gerak saya terbatas. Kejadian lain adalah ketika terakhir ini saya berkunjung ke rumah nenek dan melihat kondisinya menurun. Matanya sulit melihat dengan jelas, jalannya tertatih karena terkena reumatik, staminanya menurun karena sekali makan hanya tiga suap. Saya mengamati bahwa pada seluruh proses hidup manusia, ada saat dimana kita kehilangan beberapa kemampuan yang mungkin sejak lahir kita miliki.

Sejalan dengan usia, seluruh kemampuan yang dianggap “normal” itu pun bisa menurun dan itu merupakan proses yang “normal”. Jadi untuk apa “menyombongkan diri” sebagai orang normal jika “nomal” itu adalah untuk sementara?  

Menyombongkan diri kadang terjadi di luar kesadaran kita. Bentuknya bisa terlihat dalam berbagai bentuk kebijakan publik yang mendesain ruang publik dengan asumsi “kenormalan”. Asumsi pembuat kebijakan adalah bahwa semua orang berada pada tingkat kemampuan yang sama. Mengapa seperti itu? Karena itu ada anggapan bahwa beberapa jenis perbedaan merupakan aib dan perlu ditutupi sehingga tidak terlihat. Karena tidak terlihat maka dianggap tidak ada. Bilapun perbedaan itu muncul maka pihak mayoritas merasa berkuasa untuk membuat satu desain untuk semua. Hal itu dianggap adil, mudah dan murah.

Logika mapan yang berjalan adalah “apakah adil jika ada sekian persen dari populasi yang memiliki perbedaan kemampuan kemudian fasilitas bagi mereka dibuat khusus?” Perilaku itu justru dianggap tidak adil. Ada lagi anggapan bahwa karena fasilitas umum dibayar masyarakat dan kebanyakan masyarakat yang bekerja ya mereka yang normal jadi tidak adil untuk membuat fasilitas umum yang istimewa. Kaum tunanetra, tunarungu dan tunagrahita dianggap sebagai “keistimewaan yang tidak perlu untuk diistimewakan”. Kaum “normal” memaksakan cara hidup yang “normal” kepada mereka yang berada di luar kenormalan. Padahal pengalaman kelompok lain berbeda. Tapi berapa banyak orang yang bisa menghargai perbedaan pengalaman sebagai suatu pengetahuan yang khas dan sebuah kekuatan.  

Kenormalan sendiri dikonstruksi dari keterbatasan. Manusia dianggap normal hanya jika mampu menangkap frekuensi suara antara 1000 Hz – 5000 Hz, jika rambut tumbuh hanya di beberapa tempat, jika jangkauan pandang mata manusia juga terbatas (nggak bisa kan kita melihat menembus dinding), dll. Jika manusia memiliki kemampuan kurang atau lebih dari yang “semestinya” maka dia menjadi sosok “tidak normal”.

Repot jadinya kalau perbedaan kemampuan dianggap sebagai tidak memiliki kemampuan. Makin kacau ketika perbedaan kemampuan dianggap sebagai kekurangan sehingga suatu kelompok kemudian diabaikan. Makin seru jika suatu saat kita, melalui kecelakaan atau karena usia lanjut, memiliki kekurangan tersebut dan menjadi minder sendiri. Minder karena merasa kurang, padahal itu lebih karena cara berpikir yang meminggirkan perbedaan tadi.  

Belum lagi perkara pasangan. Maksudnya? Begini, sejak kecil saya diajarkan bahwa mata digunakan untuk melihat, telinga untuk mendengar, kulit untuk merasa, hidung untuk menghidu, dan lidah untuk mencicipi. Seluruh indera memiliki pasangan berupa fungsinya yang khas. Cara pandang indera yang mapan seperti itu dikacaukan oleh kaum berbeda kemampuan. Jika orang “normal” hanya bisa membaca tulisan, tunarungu mampu membaca bibir jadi mata digunakan untuk mendengar. Telinga dan hidung bisa digunakan untuk melihat. Intuisi biasanya dianggap sebagai indera tambahan tapi dalam realitasnya, dia melebur dengan seluruh indera fisik.  

Salah satu alasan saya menyukai fisika mungkin karena dengannya saya belajar banyak mengenai ketidakmampuan dan keterbatasan manusia. Saya mana bisa melihat rambatan gelombang suara atau mengikuti jalannya cahaya, melihat molekul atau quark, dll. Ada banyak hal yang tidak bisa saya lihat dan dengar tetapi itu ada dan terjadi.  

Saya lahir dengan berbagai keterbatasan dan kelebihan. Seluruhnya menjadi identitas saya yang berbeda dari orang lain dan ikut menentukan berbagai pengalaman saya. Suatu hari, kaki dan/atau tangan saya menjadi lumpuh, mata saya tidak bisa melihat, telinga tidak bisa mendengar, kulit menjadi kurang sensitif, dan peristiwa lainnya. Saya ingin bersiap diri dan berusaha dengan kemampuan yang ada untuk membuat realitas lebih nyaman jika hal itu terjadi.

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s