Pengalaman-Saya

“Sejak kapan Niken punya pacar?”


Jul 2007

Cerita jadul.
AS adalah teman dekat saya, cewek. Dia sudah lama punya kebiasaan yang menurut saya mengherankan. Dia selalu memiliki pacar lebih dari satu dalam periode yang sama. Saya kenal beberapa pacar dan mantan pacarnya. Saya boleh dikatakan sebagai peri pelindung. Kalau ada salah satu cowok yang telepon atau datang ke rumahnya, saya kebagian peran menyatakan: “Oh, AS nggak ada. Tadi dia pergi keluar tapi gak bilang kemana.” Atau alasan lain: “Dia masih di Kota A.” Padahal, ya tahu sendiri. Dia ada di rumah tapi menunggu cowok lain.

Suatu kali dia punya tiga cowok di dua kota yang berbeda. Dua orang di kota A dan seorang di kota B. Dia sempat kelabakan membagi waktu antara tiga cowok, kuliah, praktek kerja, dan tentu saja sibuk berbohong. Suatu kali, saya diajaknya jalan-jalan di kota A dengan pacarnya XY. Saya duduk manis di kursi belakang mendengarkan mereka berbincang. XY adalah cowok yang baru dia kenal jadi kata-katanya masih merayu mendayu. Saya senyum sendiri mendengarnya. AS pun sudah mahir melayani cowok seperti XY. Saya tidak meragukan kemampuannya.

Sampai di mal, kami berjalan terpisah. Saya berjalan sendirian sementara AS dan XY asyik ngobrol, bergandengan, berdempetan dan saling menggoda. “Yah, nikmatilah selagi bisa,” saya pikir. Beberapa saat kemudian telepon genggam AS berbunyi. Saya tanggap dan langsung menengok ke belakang. Yah, mata AS mengindikasikan kode yang hanya kami mengerti.

Telepon diangkat dan AS berusaha ngobrol biasa. Lalu perlahan dia mulai menjauh dari XY yang tidak sadar. Telepon lalu dimatikan dan AS membisikkan sesuatu pada saya. Setelah hubungan berjalan 2 bulan, XY makin lama curiga. Suatu malam ketika XY apel malam minggu, saya menginap di rumah AS. XY menginterogasi saya mengenai AS. Tanya mengenai pacar, kerjaan, dan hobi. Saya menjawab dengan cuek. Lalu mereka berdua pergi malam mingguan. Jam 12-an mereka pulang dan AS langsung membangunkan saya. Kurang ajar anak satu ini!

Dia cerita kalau XY tahu soal XY1, pacarnya di kota yang sama yang sudah berhubungan selama 2 tahun. Dia khawatir.
“Kamu ngapain juga jalan sama XY? Bukannya udah ada XY1 sama XY2 di kota B? Bikin masalah tapi gak bisa menyelesaikan masalah!”
“Aku suka banget sama XY1 tapi bapak gak suka. Dia justru suka sama XY dan XY2.”
Jadi begini, orang tua AS itu sudah lama tahu mengenai kebiasaan anak perempuan mereka yang cantik ini. Dan mereka hanya menasehati supaya AS lebih hati-hati dalam menggebet cowok. Keren banget nasehatnya.

“Jadi “mau kamu gimana? Gua sih nggak ikut campur.”
“Kamu nggak pernah pacaran sih.”
“Pernah tapi nggak pernah didobel kayak kamu! Emangnya sandwich! Urus sendiri deh.”
“Bantuin!”
“Gak!” saya teruskan tidur.
Nah, XY ini disukai oleh keluarga besar AS tapi hati AS justru pada XY1. Bapaknya sangat ketat dalam masalah jodoh. Bapaknya punya posisi dan cukup kaya jadi nggak heran kalau dia ingin AS memilih calon suami yang bibit dan bobot materinya lebih dari cukup. AS sendiri sudah terbiasa hidup enak. Sejak kuliah dibelikan mobil, dia juga punya motor, kosannya di tempat dosen yang juga pamannya, pakaiannya modis, tas dan sepatu matching, dsb. Dia salah satu fashion critics saya yang paling intens.

“Ken, kamu tuh bisa jadi cantik asal mau dandan dan beli pakaian yang benar.”
Saya terbengong.
“Beli dong selop, minimal yang ada haknya mungil. Cari baju yang warnanya cerah, jilbab cari yang selain hitam dong, banyak kok di pasar. Pakai parfum, say. Minimal cologne deh.”
“Cologne, apaan tuh?”
“Hah, masya Allah, kamu nggak tau cologne. Mampus!”

Baju yang saya pakai biasanya memang berwarna kontras dan sangat tidak lazim. Semasa kuliah, saya pernah ke kampus memakai jilbab hijau tua, atasan kaos warna putih dan hitam, bawahannya rok panjang warna-warni dengan pola zigzag, kaos kaki coklat dan akhirnya sepatu canvas biru. Saya dikira gila sama teman-teman. Mungkin ada benarnya.

Tempat nongkrong saya adalah perpustakaan karena saya mahasiswa jurusan perpustakaan. Nyambung dong? Di perpustakaan, pengunjung biasanya mencari informasi dan pengetahuan bukan kenalan atau pacar. Yah, itu alasan saya aja.

Balik ke cerita di atas. XY dan XY1 saling mengetahui bahwa mereka sedang diduakan oleh AS dan sepertinya tidak keberatan. Selama beberapa lama hubungan itu berjalan sampai kemudian AS putus dengan XY dan belakangan ketahuan kalo XY juga punya cewek lain. Selanjutnya, AS masih menjalani hubungan dengan XY1 dan sudah renggang dengan XY2. Lalu dia dikenalkan dengan seorang cowok yang tinggal di kota C. Mereka berkirim surat, SMS, dan foto. Sebagai teman baik, saya mengingatkan. “Eh, kamu masih belum putus sama XY2 dan XY1 masih berharap.”
“Iya.”
“Sudah diputuskan mau sama yang mana?”
“Belum, nanti deh pas saat terakhir.”
“Saat terakhir apa?”
“Kalo aku udah kawin.”
“Jadi selama itu mereka mau digantung?”
“Salah sendiri mau digantung. Mereka juga bisa cari cewek lain.”
Cerita akhirnya ditebak sendiri aja.

Ada juga cerita lain dari teman perempuan, AS. Dia curhat mengenai salah satu mantannya. Mereka berhubungan selama 1 tahun sampai kemudian AS didatangi pacar cowoknya yang lain yang sedang hamil. Walah, AS marah.

“Gua baru tahu kalau dia menghamili tuh cewek, Ken. Gua sih nggak mau diduain. Kurang ajar tuh cowok! Masih sempatnya lagi datang ke gua, minta maaf dan bilang kalau dia cinta sama gua. Lah, masak cinta ke gua tapi yang dihamilin yang sono!” Huahahaha. Lucu abis teman saya ini.

Masalah mendua ini cukup banyak di sekeliling saya. Saya sendiri belum pernah mendua atau diduakan. Gimana mau diduakan, pacaran aja belum pernah.

Masa terparah adalah ketika SMA. Saya terlibat dalam ketergantungan akut pada perpustakaan. Pada jam istirahat, ketika beberapa teman berpasangan dan saling PDKT di dalam dan luar kelas, saya bergegas ke perpustakaan di lantai 2. Dulu saya suka Kahlil Gibran, buku-buku sejarah Indonesia, buku-buku puisi pujangga lama dan baru, dan ensiklopedia. Saya pikir membaca puisi lebih menyenangkan daripada pacaran.

Saya punya teman dekat di SMA, kami biasa pulang jalan kaki bersama. Ketika dia punya pacar, maka biasanya dia dan pacarnya jalan di belakang dan saya seorang diri ada di depan. Biasa deh, orang kalau pacaran jalannya jadi slow motion. Heran! Begitu sampai di jalan besar, mereka langsung ambil posisi mojok dan secara tidak langsung saya diberi tugas oleh mereka untuk mencegat angkot.

Kadang angkot udah berhenti, teman saya nggak mau naik. “Nanti aja, Ken.” Saya mendelik. Biasanya saya jadi sasaran omelan supir. Tega banget! Udah gitu teman saya masih minta ditungguin. Emangnya gua spesialis nunggu orang pacaran? Kayak orang bloon saya berdiri di dekat lampu merah Cijantung, bersandar ke pagar besi trotoar sambil sesekali melirik teman saya yang lagi mesam-mesum sama pacarnya. Kadang saya melihat ke langit, ke aspal, ke tukang ojek, ke lampu merah, ke pohon, sampai bosan.

Kalau sudah selesai, dia akan menghampiri saya dengan senyum merekah dan wajah berbinar. Tanpa merasa bersalah, dia akan berujar, “Ayo pulang, Ken!” Akhirnya! Sebelum saya mati lemas menghirup asap knalpot.

Di keluarga saya, ada seorang tante yang sering memberi masukan mengenai cowok. Dia merasa prihatin dengan kondisi saya yang tidak pernah pacaran. Mantan saya waktu SMP rupanya tidak dihitung karena dianggap cinta monyet. Padahal mantan itu adalah satu-satunya cowok yang selalu saya banggakan sebagai bukti bahwa “gua pernah pacaran.” Ibu saya meminta bantuannya untuk menasehati.

“Ken, kamu harusnya udah punya pacar. Masak satu pun nggak ada, kampus UI kan luas.” Saya terbengong, apa hubungannya kampus UI yang luas dengan saya tidak punya pacar? –geleng-geleng.
“Kalau bisa sih punya dua calon, jadi biar bisa milih.”
“Dua?”
“Minimal sih dua, soalnya kalau yang satu nggak jadi kan ada pilihan lainnya. Jadi nggak usah cari lama-lama lagi. Perempuan itu kan masa suburnya terbatas.”
“Oo,” saya mengangguk tapi nggak paham.
“Kayak AS itu, dia bisa cepat nikah ya karena setelah putus sama XY, dia udah ada yang lain.”
“Ooo, gitu. Hmm, maksudnya?” saya masih belum juga mengerti.
“Ya, supaya nggak terlalu lama sendirian. Cari yang sempurna banget itu nggak bakal ketemu. Kurang dikit sih nggak papa. Sendirian itu nggak enak, perempuan lagi! Kalo punya pacar kemana-mana pasti dianterin, ada temannya. Kalau kamu udah kerja, nggak usah lama-lama. Langsung cari cowok, satu atau dua.”
“Hmm, iya, iya.”
Saya tersenyum dan mengangguk. Saya menyerah. Saya memang tidak paham soal batas minimal dan maksimal.

Terakhir ketika saya berada di Jakarta, ibu saya bertanya, “Jadi kapan ibu dikenalin sama pacar kamu?”
Dengan culunnya saya menjawab, “Sejak kapan nikn punya pacar?”
Kecewa dan pasrah, ibu berkata datar, “Oh, belum punya ya.”
Dia berharap ada lelaki Jogja yang dapat mengubah saya, ternyata…nggak juga tuh.

Pernah ada yang bertanya, “Elu masih suka cowok nggak sih, Ken?”
“Masih.”
“Kok nggak pernah pacaran?”
“Kok maksa?”
“Ya kirain elu nggak nafsu lagi sama cowok. Apalagi elu feminis.”
“Banyak kok cewek yang belum pernah pacaran.”
“Ada rencana married gak?”
“Ada.”
“Kapan?”
“Lupa.”
“Buset!”

Lempuyangan

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s