CerPen-Saya

Pelangi Hati


Tidak pernah mal ini ramai oleh pengunjung, begitu pikirnya. Berbeda dengan mal-mal di Jakarta. Jogja masih seperti yang dikenalnya dua setengah tahun yang lalu. Dua tahun yang mungkin akan berakhir pahit. Diteguknya capuccino panas sambil melihat jalanan di luar. Cafe Oh La La pernah begitu akrab dengannya. Dia dan Barra sering bertemu berdua di tempat ini. Biasanya sampai dini hari mereka ngobrol.

Oh ya, mereka sering ngobrol dan bertukar pikiran. Dulu Barra masih menunjukkan sosok kocak dan menyenangkan. Lebih dari setahun mereka berpacaran. Barra, yang asli Sleman, bekerja di sebuah perusahaan teknologi informasi. Mereka bertemu dalam sebuah tender pembuatan website yang dilakukan LSM tempat Rani bekerja. Dia sendiri orang Jakarta yang masih merasa takjub dengan eksotisme Jogja.

Tempat ini juga tidak banyak berubah, begitu pikirnya sambil menyapu pandang seluruh sudut cafe. Manusia yang berubah. Aku dan Barra berubah. Dia menghisap rokok mild dengan tarikan napas panjang.

Rani melihat jam tangannya. Setengah jam lagi Meta datang. Dia memang datang lebih cepat. Dia perlu berpikir mengenai apa yang akan diceritakan pada sahabatnya ini. Setelah menikah dengan Barra, mereka hijrah ke Jakarta. Meta mendapat kerja baru di sana dan Barra juga ingin mengembangkan karirnya. Enam bulan pertama, pernikahan mereka sangat indah. Asmara masih membara, setiap kecupan begitu bermakna, dan setiap sentuhan terasa tidak pernah ada habisnya.

Sheila pun lahir. Nama itu diambil dari band favorit Rani, Sheila on 7. Sheila-ku yang cantik, Sheila-ku yang teramat indah. Di matanya sekarang berlekebat bayangan Sheila, dengan pakaian polkadot yang disukainya, melonjak kegirangan saat hendak dibawa pergi ke Sea World. Dibenamkan wajahnya dalam kedua telapak tangan. Sulit dan pedih sekali mengingat Sheila sekarang.

Satu setengah tahun setelah Sheila lahir, Rani dan Barra merayakan ulang tahun pernikahan di kota yang berbeda. Barra berada di Jogja dan Rani di Jakarta. Setidaknya aku masih ditemani Sheila, begitu pikir Rani.

“Hai! Pa kabar, say?” sebuah telapak tangan hangat menyentuh punggungnya.
“Eh, hai. Eh, maaf. Aku jadi ngelamun.” Mereka saling berciuman pipi dan Meta duduk di seberang Rani. Mereka saling berpandangan dan Meta mengerti temannya sedang gelisah.
“Gimana? Jogja nggak berubah banyak kan?”
“Yah, begini-begini aja tapi aku senang. Tadi sore aku baru dari Malioboro.”
“O ya? Aku pesan minum dulu.”
“Oke.”

Meta merasakan ada ketegangan.
“Aku sudah dengar dari Mas Ari mengenai perceraianmu.”
Rani terdiam membeku.
“Semuanya baik-baik saja?”
“Semuanya baik-baik saja.” Sahut Rani lemah.
“Sudah persidangan ke berapa? Hakim tidak mempersulit sidang kan?”
“Hakim? Tidak. Barra, ya.”
“Kenapa?”
“Sheila.”
“What? I thought the custody has settled.”
“I thought so. Tapi di pengadilan, omongannya beda. Dia ingin mendapat perwalian penuh.”
“No way!”

Mereka berdua terdiam untuk beberapa lama berusaha mencerna kegelisahan masing-masing.
“Bagian yang paling menyakitkan adalah dia menggunakan masa lalu gua untuk mendapatkan Sheila.”
“Oh, he didn’t!”
“Yes. Dia bilang gua perokok berat dan pernah dua kali hidup bersama dengan dua pria berbeda sebelum menikah. Dia bahkan bilang kalau gua nggak pernah sholat dan puasa. Dia bilang selama pacaran gua pernah selingkuh. Intinya gua nggak bisa jadi teladan yang baik buat Sheila.” sejenak Rani menarik napas.

“Lu tahu apa yang bikin gua marah? Dia bilang, sejak awal gua tidak ingin punya anak dan gua tidak menginginkan Sheila.” Airmata Rani menggenang di tepian. Dia merasa geram, mengingat kembali Barra sama dengan mengulang perkataannya ketika berada di pengadilan agama. Dia tidak pernah menduga Barra akan melakukan hal itu. Sesaat dia melamun.

Di awal pernikahan, dia memang tidak berniat untuk memiliki anak tetapi keinginan untuk membentuk sebuah keluarga yang sesungguhnya dan bujukan Barra membuatnya berubah pikiran. Dia berharap bahwa pernikahan ini adalah yang pertama dan terakhir. Dia berharap Barra menjadi laki-laki yang akan dicintainya, selamanya.

“Apa maksudmu tadi pagi?” tanya Rani dingin melalui telepon.
“Aku berubah pikiran.”
“Ya, kalau itu aku tahu. Kenapa?”
“Sheila anakku juga dan dia cucu tunggal di keluargaku. Aku tidak ingin kehilangan dia jika aku pindah ke Jogja.” Sahut Barra.
Rani berusaha menata emosinya yang sedang berantakan agar tidak tampak dalam nada suaranya.
“Kita sudah sepakat.” sahit Rani dengan ketus.
“Nggak semudah itu, Ran. Kamu toh awalnya tidak ingin punya anak. Kalau Sheila denganku, kamu bisa lebih bebas. ”
Ingin rasanya Rani berteriak histeris. Apa maksud Barra? Dia menutup mulutnya dan menengadahkan wajahnya, airmatanya hampir jatuh. Apakah Barra berpikir bahwa aku tidak mencintai Sheila? Dada Rani sesak menahan napas. Bagaimana bisa?
“Aku menginginkan Sheila. Aku yang berhenti KB.” bibirnya bergetar, kali ini dibiarkannya airmata jatuh dan dibiarkan pula Barra mendengar suara isaknya.
Benar-benar percakapan yang paling berat dalam hidupnya yang diakhiri dengan kegalauan. Pikirannya kacau. Apakah aku ibu yang buruk? Apakah Barra orang tua yang lebih baik dari aku? Bangsat!

Percakapan melalui telepon kembali berlanjut di waktu yang lain.
“Apa maksudmu dengan membeberkan masa laluku?”
“Aku…begini,” Barra berusaha mencari cara untuk mengumpulkan kata-kata yang tepat.
“Adikku seorang guru dan dia bisa merawat dan mengawasi Sheila selama aku bekerja. Bapak dan ibuku sudah sepuh, mereka ingin berdekatan dengan Sheila dan mereka punya banyak waktu untuk itu. Sheila akan punya banyak teman di sini dan dia akan aman.”
“Kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu membeberkan masa laluku? Kamu ingin mengatakan bahwa aku ibu yang tidak bermoral? Kamu ingin bilang bahwa Sheila akan jadi gadis yang nggak bener kalau ikut denganku? Begitu? Tidak perlu kata-kata simbolis!”
Sambungan itu diputus.
Rani sempat merasa putus asa. Pekerjaannya terbengkalai. Ingin rasanya membawa Sheila jauh dari Jakarta ke tempat yang tidak akan ditemukan Barra dan keluarganya.

Sejak awal, keluarga besar Barra yang konservatif tidak menyukainya. Namun dia yakin bahwa dengan cinta, Barra akan membelanya. Sheila sempat mencairkan hubungan yang tegang antara dua keluarga. Namun, pada saat yang sama justru ketidakcocokkan antara dia dan Barra semakin meruncing.

Meta duduk sambil menyorongkan tubuhnya ke depan. Dia meraih tangan Rani dan meremasnya.
“Kamu harus kuat, Ran. Barra mempermainkan perasaanmu supaya kamu terlihat kacau tapi kamu jangan terbawa dengan permainannya.”
“Itu di luar dugaanku, Ta.”
“Aku juga nggak mikir dia akan sampai ke sana. Sekarang Sheila dimana?”
“Dia ada di rumah ibuku di Jakarta. Bangsat dia, Ta! Dia udah begitu egois selama menikah dan sekarang dia mau mengambil Sheila.”
“Bagaimana dengan kompromi. Perwalian dibagi sama di antara kalian berdua.”
Rani menggeleng.
“Dia menolak. Dia sudah mendapat kerja di Jogja dengan posisi yang bagus. Dia akan bawa Sheila ke sini sementara gua di Jakarta. Ah…” Rani menggeleng putus asa dan wajahnya semakin gelap.

Rani menunduk layu. Barra yang pernah begitu dipuja dan begitu diyakini dapat menerima masa lalunya, ternyata menjadi sosok yang sama sekali berbeda.
“Gua nggak ingin menyesali keputusan untuk melahirkan Sheila….” Rani tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Airmatanya terlanjur jatuh. Bayangan bahwa dia hanya dapat menjenguk anaknya selama sebulan atau dua bulan sekali sangat menyakitkan.

Sheila masih dua tahun dan biasanya perwalian bagi anak di bawah usia 7 tahun akan diberikan pada pihak ibu. Tetapi segala macam pengakuan Barra di pengadilan dapat melemahkan posisi Rani. Dia pun tahu bahwa sejumlah “permainan” telah dilakukan di belakang layar.

Meta tahu Rani adalah seorang perempuan yang tegar. Namun, Sheila menjadi tinta yang telah mengukir cinta tersendiri dalam dirinya.
“Kapan keputusan finalnya?”
“Minggu depan.”
Meta menarik napas panjang. Dia harus berada di sisi sahabatnya.
“Sorry, honey. I’m speechless. Don’t know what to say, dear. Setahuku ibu yang mendapatkan perwalian penuh. Paling jelek ya berbagi, lagipula kamu punya pekerjaan. Masih ada harapan kan?”
Rani terpekur. Harapan? Dia menyulut rokok lain.

“Pekerjaanku sekarang menuntutku untuk sering berkeliling ke luar kota. Barra memanfaatkan celah itu.”
“Apa pembelaanmu waktu Barra membeberkan masa lalumu seperti itu?”
Rani mendehem. Dia tidak ingin mengulang perkataan Barra dalam ingatannya.
“Gua nggak bisa ngomong, gua masih kaget waktu dia mengajukan perwalian penuh dan membeberkan masa lalu gua dengan gamblang dan tanpa merasa bersalah.”
Rani mendesah.
“Dia mengatakannya dengan tenang, tanpa emosi. Dia bahkan meminta maaf pada hakim dan berkata bahwa dia tidak bermaksud menjelek-jelekkan gua. Itu semua dia lakukan untuk Sheila. Hah!” Rani menutup wajahnya.
“Gua masih shock waktu itu. Gua pikir, gila! Apa-apaan? Gua nggak siap.”

“Lalu pas sidang selanjutnya?”
“Ya, gua berusaha persiapkan pembelaan. Gua pertimbangkan untuk pakai pengacara. Sebelumnya gua ngobrol dengan teman gua yang kerja di LBH. Posisi gua nggak bagus, terutama kalau Barra main belakang. Gua nggak punya uang. Elu tahu kan kalo sebagian penghasilan gua dititipkan ke Barra untuk mengembangkan bisnisnya.”
“Bukannya bisnis itu bangkrut?”
“Ya, bangkrut karena manajemennya berantakan dan uang gua nggak tahu kemana. Barra cuma bilang kalau ini resiko bisnis. Dia nggak mengembalikan uang gua. Investasi itu gua lakukan atas dasar kepercayaan.”
“Masih ada kesempatan.” Meta berusaha menghibur.

Rani membelai lembut rambut hitam ikal Sheila. Di luar, cuaca sedang kacau seperti hatinya. Pesawat jurusan Yogya akan berangkat satu jam lagi. Anakmu bukan milikmu, dia dititipkan Illahi kepadamu, begitu Gibran menulis. Sulit menghayatinya karena rasa memiliki itu telah tertanam saat Sheila tumbuh dalam rahimnya. Rani tersenyum mengingat saat kehamilan dan kelahiran Sheila. Anak ini sudah memberikan begitu banyak pembelajaran dan kebahagiaan.

Mereka berpelukan erat, entah untuk berapa lama. Rani menahan rasa haru. Sheila menatap sepasang mata mamanya.
“Miyeng, Mama. Miyeng.”
Rani tersenyum. Itu kata yang digunakan Sheila untuk mengucapkan “merem” yang artinya dia ingin tidur. Dia tidurkan Sheila di bahunya. Dia melihat ke jam di dinding dan merasa waktu perlahan melambat. Rani ikut memejamkan mata dan menghitung detak jantung Sheila.

Lempuyangan, 22-29 Jul. 07

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s