Pengetahuan-Saya

Mendengarkan Intuisi


Jul 2007

Tiba-tiba saja luber. Tumpah dan saya ikut basah.
Satu kejadian merembet pada perkara lainnya. Apalagi kalau bukan mengenai lika-liku relasi gender. Saya tadinya mau bilang, “Eh, gua nggak ikut-ikutan.” Tapi terpikir bahwa saya berada di lingkungan itu dan entah kenapa semua kejadian ini telah membuktikan seluruh intuisi saya. Saya malah heran. I should follow my intuition indeed. Lagipula, perkara intuisi menjadi salah satu titik sentral dalam penelitian saya mengenai perempuan dan sains.  

Maskulinitas. Pokoknya tema satu ini kudu menjadi penelitian saya ke depan. Pemilihan tema ini juga bagian dari intuisi. Entah bagian apa dari maskulinitas yang akan saya masuki tetapi saya merasa ada begitu banyak pilihan. Saya merasa kesulitan dalam mencari tema yang spesifik tapi dalam waktu itu saya kemudian belajar bahwa sebagai sebuah penelitian, saya perlu mencairkan prasangka yang telah ada dalam pikiran.  

Saya tidak dapat meneliti sebuah dunia yang dikonstruksi sebagai oposisi feminitas dengan segudang prasangka, kecurigaan, dan penilaian buruk. Saya hanya akan mendapatkan apa yang diinginkan oleh prasangka itu daripada yang seharusnya. Prasangka ini yang masih kuat dalam diri saya. Bukan berarti saya ingin menghapuskannya begitu saja dan menilainya sebagai kelemahan. Saya tidak dapat menghapuskannya karena saya adalah perempuan yang dikelilingi dan mengalami berbagai bentuk maskulinitas dan feminitas. Namun, saya harus dapat mengolahnya sebagai suatu hal yang positif dan ikut menjadi bagian dari budaya maskulin itu sendiri. Saya toh dibesarkan dengan cara pandang yang mapan dalam menilai oposisi biner. Saya adalah bagian dari siklus patriarkhi.  

Ah, kenapa baru malam ini semuanya terurai?
Tadinya sempat putus asa karena sudah dua bulan saya masih belum bisa menemukan tema spesifik mengenai maskulinitas. Kemudian saya merasa seperti diberi waktu untuk dapat merenungkan dan melihat kembali seluruh taut sistem secara utuh. Ada waktunya untuk membuat kategori dan ada waktunya pula untuk menyatukan beberapa bagian sehingga seseorang dapat mengetahui posisi dan realitas tempat ia berada. Wah, menjadi begitu menyenangkan dan menggairahkan. Ada kah yang bisa menyamai gairah seperti ini?  

Kok ada lagu Laluna yang sendu? Kau yang selalu aku puja ternyata menduakan aku, mengkhianati cintaku, tak pernah kubayangkan kau lukai hatiku, hancurkan mimpiku, tinggalkan aku…sakit yang kurasa tidak mudah sirna… entah sampai kapan aku akan bertahan melawan sedihku sendiri… Nggak deh.  

Oke, lanjut. Untuk melakukan penelitian mengenai maskulinitas, apapun tema spesifiknya, memerlukan kemampuan untuk merangkul dan mengkritisinya. Saya perlu untuk merasa nyaman dan gelisah pada saat yang bersamaan. Saya mulai mendapatkan gambaran itu tetapi memang tidak mudah melakukannya.   Dalam literatur ilmiah ada beberapa istilah yang berhubungan dengan maskulinitas yaitu perilaku lelaki, manliness (kelelakian), manhood, dan norma lelaki. Berbagai istilah itu punya definisi yang saling berbeda dalam bahasa Inggris. Namun, dalam bahasa Indonesia saya belum menemukan padanan yang pas.  

Saya merasa salah satu hal yang membuat proposal saya sama sekali tidak berkembang adalah saya terlalu berpikir keras mengenai hal ikhwal teknis, metodologis, dan konseptual. Ada banyak sekali bentuk maskulinitas dan dualisme di sekitar saya yang dapat diserap dan dimaknai dengan cara berbeda. I’ve been there, I am still there, so I knew it. Mulai dari sana dulu.  

Sistem gender yang mapan bukan harga mati, dia ikut berproses bersama dengan manusia. Saya pun ikut terlibat dalam membentuk sistem gender yang saya inginkan untuk nantinya dinegoisasikan dengan lingkungan sosial.

Intuisi. Sulit rasanya menjelaskan konsep satu ini. Konsep luar biasa gila mengenai manusia dan dengannya saya dapat menemukan “lubang hitam” yang berpotensi menyerap seluruh energi yang saya miliki. Saya begitu lega karena saya mulai dapat mendengarkan beberapa “bisikan” yang tadinya begitu samar dan terlupakan. Ya, memang perlu proses dan ternyata saya bisa.  

Maskulinitas dan intuisi? Mengapa tidak? Apakah keduanya beroposisi, berjodoh, atau baru putus? Maskulinitas dikonstruksi untuk berpasangan dengan kekuasaan dan dominasi. Walah, cinta segitiga! Makin seru. Pertanyaan. Yup, selalu dimulai dengan bertanya mengenai suatu fenomena sosial. Love doesn’t have to hurt. Hmm, lagunya Atomic Kitten. Maksudnya?

Saya beruntung dengan beberapa orang yang memercayakan pengalaman mereka mengenai relasi gender ke saya. Dengan berbagai pengalaman itu, intuisi saya semakin peka dalam memaknai sebuah kegelisahan, kemarahan, kekecewaan yang terjadi di masa lampau dan masa sekarang.

Lempuyangan

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s