Pengetahuan-Saya

Kartini, sebuah perjalanan mencari pengetahuan


Hari Kartini tanggal 21 April dan Hari Pendidikan pada 2 Mei hampir selalu mengingatkan saya pada keinginan, kesedihan, perjuangan, kerelaan, dan seluruh tahap proses pembelajaran yang dilalui Kartini. Kegalauan yang dihadapi Kartini pasti sangat berat. Seorang manusia pemikir, kritis, dan senang berdiskusi dalam tubuh perempuan yang dengannya kandas impian untuk belajar di negara penjajah.

Saya pernah berada dalam posisi tidak memiliki teman untuk berdiskusi dan merasa tidak memiliki ruang untuk berekspresi. Pasti tidak sama persis dengan kondisi Kartini tapi saya dapat memahami kegalauan dan keputusasaannya. Gairahnya untuk belajar begitu membara. Seperti saya, dia ingin ini dan itu dan ingin sekali bekerja keras untuk mewujudkannya. Dia yakin, bahwa dengan keuletan dan semangat impiannya tersebut dapat tercapai. Meskipun begitu, Kartini terlahir sebagai anak perempuan dari keluarga Bupati terpandang dan termasuk kalangan priyayi. Dia memiliki keistimewaan mencicipi lezatnya pengetahuan dan mengikuti rasa ingin tahu. Namun, bahkan untuk seorang perempuan bangsawan dengan berbagai keistimewaan, rasa itu dipagari untuk berhenti. Ah, tidak mungkin.

Seorang manusia yang terlanjur diberi pengetahuan dan diberi kebebasan untuk berpikir, menjelajah dan mencari tahu, menganalisis, menulis, dan berdiskusi lalu diberi perintah untuk berhenti. Saya dapat mengerti jika Kartini sendiri berkhayal andaikan dia sejak awal tidak diberi pengetahuan, lebih mudah baginya menerima adat kebiasaan tidak beradab itu pada dirinya. Namun, nikmatnya aksara telah diselami dan makin nyata bahwa lautan begitu luasnya dan tiada habis untuk dipelajari. Gairah untuk “berenang” dan mencari hakikat kehidupan tidak mungkin dibendung. Arus hati lebih deras dan kencang daripada arus sungai manapun.

Dalam tulisannya, Kartini jarang bercerita mengenai asmara dengan lawan jenis. Hatinya sudah terpatahkan ketika kekasih pengetahuan diputuskan darinya. Ada sebagian orang yang bertanya, mengapa Kartini dijadikan pahlawan bagi bangsa ini?

Dari sudut pandang Orde Baru, Kartini mungkin dilihat sebagai sosok perempuan cerdas yang akhirnya menikah dalam rasa terpaksa dan pasrah lalu menjadi ibu yang melahirkan seorang putra untuk kemudian meninggal dunia karena komplikasi kelahiran. Bagi sudut pandang kelelakian, Kartini adalah sosok cerdas yang ber-”kodrat”. Sosok ideal seorang ibu yang wajib diteladani.

Dari sudut pandang saya, Kartini menjadi sosok yang mewakili perempuan dan pengetahuan. Saya tidak akan bosan mengenangnya. Semangat dan potensinya menggebu untuk belajar hal baru. Hal itu tidak mungkin tidak terlihat oleh ayahandanya, bahkan diketahui beberapa orang Belanda, teman korespondensinya. Namun, norma kepantasan menghalangi Kartini mencari ilmu. Pengetahuan dan perempuan dianggap tidak layak bersanding di pelaminan. Mereka bukan jodoh yang serasi.

Pengetahuan dan perempuan tidak berasal dari kelas sosial yang sama. Pengetahuan dianggap sebagai dari dulunya diciptakan oleh dan dari lelaki sehingga muskil bagi perempuan memahaminya. Lebih tidak masuk akal jika perempuan kemudian dapat menciptakan pengetahuan.

Perempuan yang bersuara adalah musuh bersama kaum feodal dan kolonial. Perempuan berpolitik adalah haram dan dilarang Tuhan. Begitulah dalam sistem yang ada. Kartini melakukan semuanya. Dia bersama saudara perempuannya mendirikan Jong Java. Dia sadar dengan kemajemukan masyarakat Indonesia dan ingin merangkulnya. Dia mendukung gerakan rakyatnya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dia perempuan nakal.

Kartini perlu disingkirkan dari peta perjuangan. Bagaimana? Ah, mudah saja. Kawinkan dia! Kawin paksa Kartini dengan seorang petinggi dan otomatis dia akan menjadi tahanan kota. Gunakan cara feodal untuk mengamankan kekuasaan kolonial. Semua bisa diatur.

Kartini selayaknya menjadi pahlawan karena semangat dan falsafah perjuangannya; tidak ada mesiu, tidak ada bambu runcing, tidak ada pasukan, tidak ada pertempuran habis-habisan, tidak ada darah mengalir. Surat! Dia HANYA menulis surat. Dia “bersuara” melalui surat. Dia melawan dua kekuatan besar di zamannya, feodalisme dan kolonialisme, dengan menulis surat (baca: dengan kegelisahan dan pengetahuan). Dan kekuatan tulisan menjadi tidak terbantahkan ketika dipublikasikan dalam media.

Cita-cita Kartini bukan main tinggi. Dia berani bercita-cita. Seorang perempuan bangsawan lajang pada usia 20-an bermimpi pergi ke Belanda untuk mencari pengetahuan dan melanjutkan pendidikan. Berita itu bagaikan ajakan subversif layaknya membakar bendera negara dan merobek foto kepala negara. Seorang Kartini pernah ingin melakukan hal itu.

Sekalipun pada akhirnya dia melakukan kompromi politik dengan budaya yang mapan, bahkan menjadi korban dari diabaikannya kesehatan reproduksi perempuan, tetapi dia sudah membuka dan mengeluarkan wacana ke publik terbatas. Langkah membuat sekolah perempuan adalah langkah untuk menunjukkan bahwa aksara tidak berjenis kelamin. Perempuan dapat mengembangkan komunikasi dan pengetahuan mereka dengan bantuan aksara. Pada suatu masa, bahkan sekarang pada beberapa kelompok masyarakat, menjadi perempuan sama dengan terlahir buta karena keduanya dikonstruksi sebagai kecacatan padahal dua hal itu tidak lain adalah realitas perbedaan. Tidak ada dari keduanya yang lebih tinggi dan lebih rendah.

Kartini berhak menjadi milik negeri karena usianya begitu muda dan dalam kondisi apa adanya dia tidak berhenti menyulam pengetahuan. Surat adalah alat komunikasi yang dia gunakan untuk melakukan protes. Bahasanya begitu keras tetapi dibalut dengan perumpamaan dan kesantunan. Gejolak amarah dan kekecewaan begitu nyata dan dia ekspresikan dalam tulisan. Dia haus dengan bacaan dan melakukan perjalanan. Membaca dan menulis menjadi bagian eksistensi intelektualitasnya. Seorang perempuan Jawa yang kecewa dengan nilai agama dan budaya yang mapan dan menuliskannya dalam lembaran kertas untuk dikomunikasikan dengan kelompok orang dari agama dan budaya lain. Begitulah jika panah asmara pengetahuan jatuh tepat di ulu hati.

Bahkan ketika akhirnya Kartini menikah sebagai istri keempat dari seorang Bupati, dia masih sempat memasukkan agenda pendidikan bagi perempuan. Kecerdikannya adalah memanfaatkan segala hal dalam jangkauan bagi perkembangan diri perempuan. Tentu tidak ada dalam lingkungannya yang begitu jauh berpikir mengenai falsafah aksara dan pendidikan yang dia lakukan. Dengan langkahnya, Kartini ingin menunjukkan bahwa pengetahuan bukanlah milik sebagian orang dari satu jenis kelamin. Perempuan dan pengetahuan bukan lagi pasangan yang tidak masuk akal. Revolusi pun tidak selalu ditulis dengan darah tetapi bisa dengan tinta.

 

5-6 Mei 07

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s