Pengetahuan-Saya

Cinta vs kontrol dalam hubungan pacaran


Jalan-jalan saya pada suatu siang dengan XX di Shopping ternyata membuahkan hasil yang sangat menyenangkan. Shopping adalah nama bangunan di Yogya berupa ruko tempat menjual buku-buku dengan harga cukup bersaing. Saya mencari buku Dri Arbaningsih, Kartini dari sisi lain yang saya ceritakan pada tulisan yang lalu. Sulit sekali mencari buku itu.

Dalam proses pencarian itu, saya menemukan “yang lain”. Jodoh. Sebuah buku terjemahan berjudul But I Love Him: melindungi remaja putri anda dari kekerasan dan pengontrolan dalam pacaran. Judul di cover dengan di halaman judul berbeda. Secara saya pustakawan, maka saya tahu sumber mana yang lebih dipercaya. Pengarangnya Dr. Jill Murray, psikolog yang berpengalaman sebagai konselor dalam kasus kekerasan dalam pacaran maupun pernikahan. Dia juga pernah diundang tampil di Oprah Show.

Melihat judul dan blurb buku ini, saya langsung tertarik. Hubungan pacaran masih menjadi tanda tanya besar dalam diri saya. Saya ingin mencari tahu lebih banyak mengenainya sebelum menjalaninya. Orang bisa berkata bahwa pengalaman adalah guru terbaik tapi bila ada pengetahuan yang bisa dipelajari sebelumnya, justru konyol kalau saya tidak belajar terlebih dulu. Buku ini menyingkap banyak hal yang selama ini saya pikirkan. Beberapa orang, terutama teman lelaki, biasanya tidak setuju dengan pikiran saya. Sebagai orang cuek, saya maju terus pasang surut :).

Dr. Murray menganalisis hubungan pacaran yang mengandung kekerasan psikis dan fisik. Konteksnya di Amerika Serikat tetapi saya yakin ada banyak kesamaan dalam nilai-nilai berpacaran di AS dengan di Indonesia. Ada beberapa kasus kekerasan dalam pacaran yang diungkap di buku ini sehingga pembaca dapat bercermin melaluinya. Sebuah kisah pertama adalah mengenai seorang perempuan berusia 17 tahun, Heather, yang ternyata gaya berpakaian, riasan wajahnya, dan musik yang didengarnya diarahkan oleh sang pacar, seorang pecinta gothics. Heather awalnya mungkin merasa nyaman dengan gaya itu dan merasa tersanjung dengan pujian dan perhatian pacarnya. Namun, Dr. Murray memberikan tantangan bagi Heather untuk menyadari bahwa seluruh gaya yang dia pakai sebenarnya bukan Heather yang sesungguhnya. Tentu Heather sulit memahami relasi kontrol yang terjadi dalam hubungannya dengan pacar. Dia merasa nyaman dengan adanya kontrol dari pacar. Nah, mengapa? Di buku itu dibahas lebih jauh.

Heather sangat percaya dengan seluruh komentar dan penilaian pacarnya mengenai dirinya. Dan ini menjadi salah satu bentuk kontrol yang dibahas dalam buku ini. Bentuk kontrol lainnya juga dibahas. Bahkan ketika seorang pacar membuat kita menunggu telepon darinya atau terus memonitor keberadaan kita secara tidak tepat, hal itu menjadi indikasi adanya kontrol dari salah satu pihak. Masing-masing orang dapat menyadari kapan satu SMS atau telepon dari pacar sudah sampai pada tahap “mengontrol” daripada “perhatian”.

Ada beberapa bentuk dan tingkat kekerasan yang dibicarakan dalam buku ini. Beberapa misalnya kekerasan verbal dan emosional, kekerasan seksual, dan kekerasan fisik. Tentu saja terlebih dulu pengarang memberi konsep mengenai apakah kekerasan dalam pacaran. Dia juga mengelaborasi perjalanan dan “jenis” cinta sebagai mabuk kepayang, adiktif, dan cinta dewasa. Ada pula bab mengenai anak perempuan yang melakukan kekerasan terhadap anak lelaki.

Cinta dan ketakutan tidak mungkin hadir berdampingan. Cinta dan kesedihan yang mendalam tidak mungkin bersanding. Saya tidak mungkin mencintai orang yang membuat saya takut, tidak nyaman, dan sedih. Saya mungkin jatuh cinta pada orang itu tetapi saya sadar bahwa perasaan itu tidak “real” dan tidak memiliki masa depan.

Saya tahu dan dapat merasakan bahwa perasaan itu lebih pada mabuk kepayang daripada cinta. Di buku ini dituliskan tanda-tanda mabuk kepayang:
– biasanya terjadi pada awal sebuah hubungan
– daya tarik fisik dan seksual menjadi pusatnya
– memiliki ciri: mendesak, intens, hasrat seksual dan gelisah
– didorong oleh rasa senang terlibat dengan seseorang yang karakternya belum benar-benar diketahui
– meliputi keraguan dan pertanyaan yang tak terjawab; pasangannya tetap tak dikenal agar tidak merusak impian
– didasarkan pada fantasi
– menghabiskan energi bahkan cenderung melelahkan
– merasa tidak nyaman dengan perbedaan individu
– hubungan tidak abadi karena kurangnya fondasi yang kokoh

Sementara tanda-tanda hubungan adiktif yaitu:
– merasa tidak bisa hidup tanpa pasangannya
– tidak nyaman, sulit percaya, kurang percaya diri, merasa terancam
– harga diri yang rendah; mencari pasangan untuk mendapatkan pengakuan dan penegasan nilai diri
– jarang bahagia saat bersama; lebih banyak waktu untuk minta maaf, takut, merasa bersalah dan janji yang diingkari
– memerlukan orang lain agar merasa utuh
– merasa buruk pada diri sendiri saat hubungan meningkat
– kehilangan kontrol diri
– menjadi jarang membuat keputusan atau rencana; menunggu pasangan mengatakan apa yang harus dilakukan
– merasa tidak nyaman dengan perbedaan individu
– terus menerus cemburu, dsb (lengkapnya ada di buku itu).

Biasanya film, sinetron, dan lagu cinta yang populer justru banyak memberi bingkai indah pada jenis hubungan mabuk kepayang dan adiktif. Memang yang menulis dan menyanyikannya adalah mereka yang mungkin sedang jatuh cinta. Remaja dan orang dewasa pun menilai bahwa seperti itulah cinta yang sebenar-benarnya. Cinta adalah dorongan yang menggebu-gebu, ingin memiliki, dan memberikan segalanya (cinta, tubuh, hati, komplit semuanya deh). Saya lebih percaya pada sebuah petuah dari Seneca: cinta yang dimulai dengan api semangat membara akan berakhir dingin dan beku.

Tidak aneh jika kemudian cinta dewasa dinilai sebagai suatu hubungan yang kuno, tidak bergairah, tidak mabuk kepayang, dan membosankan. Tidak ada drama seperti hubungan pacaran remaja. Mabuk kepayang bisa menjadi sebuah cinta dewasa jika ada suatu hubungan yang setara. Murray mengatakan bahwa dua ciri cinta dewasa adalah cinta itu memberi kekuatan dengan cara yang sehat dan didasarkan pada realitas. Cinta dewasa membuat seseorang bersemangat, positif pada diri sendiri, dan membuat anda merasa dapat meraih apapun yang ada dalam pikiran.

Depresi dan kecemasan dapat timbul sebagai akibat dari sebuah hubungan dengan kekerasan. Depresi berbeda dari kesedihan. Ketika depresi, seseorang menjadi cemas, kosong, takut, tegang, atau gelisah tanpa alasan spesifik. Sebuah hubungan pacaran yang diwarnai dengan kekerasan dalam berbagai bentuknya dapat berubah menjadi sebuah rumah tangga dengan kekerasan. Alasan dari pentingnya UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah penelitian yang menunjukkan KDRT berdampak pada anak-anak. Mereka akan punya keyakinan keliru bahwa perilaku kekerasan dapat diterima. Oleh karena itu, lingkaran kekerasan akan terus berjalan dalam diri anak-anak yang akan menjadi orang dewasa dan akhirnya kekerasan menjadi banal (biasa).

Ada beberapa orang yang mood-nya pada hari itu ditentukan pada apakah dia ditelepon atau menelepon pacarnya. Saya mulai memahami mengapa mereka merasa nyaman dalam hubungan itu. Semua ada waktunya. Saya sendiri merasa dapat memaknai pengalaman dengan lebih baik. Saya dapat lebih ringan untuk jatuh cinta pada seseorang tanpa diusik oleh nafsu untuk memiliki, menyentuh, dan mengontrol.

Dalam buku itu juga dikatakan bahwa berpacaran pada usia remaja dan pada saat kuliah menjadi norma yang mapan di banyak budaya dan negara. Mereka yang tidak berpacaran dianggap lesbian atau membosankan. Tidak heran kalau orang “bertanya” ketika mengetahui bahwa saya belum pernah pacaran. Saya sendiri tenang dan nyaman dengan kondisi ini. Bukan sekali aja ada teman yang heran melihat saya berkeliaran di mal, kaki lima dan toko sendirian, tanpa gandengan. Secara gua juga bukan truk, jadi gak perlu digandeng.

Ada teman yang berpikir positif dan mengatakan, “Ah, kamu belum waktunya aja. Kalau memang sudah waktunya ya kamu akan cari dan ndilalah orang yang dicari itu juga nyari.” Siap! Gua punya nomor HP, alamat e-mail, homepage, blog, alamat kos, alamat rumah; tinggal pilih.

Seorang Rabi’ah Al-Adawiyah pernah menyatakan, cinta adalah perasaan yang menenangkan hati dan meramaikan kalbu. Apakah hari ini Anda merasa lebih tenang dengan pasangan Anda dan dia juga merasakan hal yang sama?

** Review Murray, Jill. (2000). But I Love Him: melindungi remaja putri anda dari kekerasan dan pengontrolan dalam pacaran. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

Lempuyangan, 9 Agustus 2007

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s