Pengetahuan-Saya

“Cari di Google dong!”


Jun 2007

Saran yang kadang seperti perintah dan kadang berupa sindiran ini sudah beberapa kali saya terima dari ML, seorang IT specialist di kantor. Kadang dia bertanya, “Wifinya nggak jalan ya? Kok gak bisa buka google?”

Saya merasa terganggu dengan saran ini dan karena skripsi saya membahas mengenai perilaku pencarian informasi di internet, maka saya tergugah untuk menuliskan pikiran ini. Dasar dari argumentasi saya adalah pengalaman saya sejak 1997 berhubungan dengan internet dan hasil penelitian studi kasus pada mahasiswa S1 di UI pada tahun 2001.

Internet pada awal perkembangannya dianggap sebagai ancaman bagi profesi pustakawan. Siapapun dapat mengakses dan mencari informasi di internet. Isi di dalamnya tidak dapat dianggap sebagai remeh dan kurang bermutu dibanding sumber informasi tercetak melalui media buku. Dengan munculnya blog, membuat dan memiliki website menjadi jauh lebih mudah. Setiap orang dengan literasi aksara (kemampuan membaca dan menulis) dan akses internet dapat menuangkan pemikiran mereka dengan bahasa dan gaya bercerita mereka sendiri.

Mau cari konsep, teman lama, pacar lama, informasi apa pun ada di internet. Tapi, apa iya semuanya ada di internet? (Saya tidak dapat menemukan informasi mengenai keberadaan mantan pacar saya di internet. Alasannya, karena dia bukan pemakai internet).

Saya pernah begitu antusias mencari informasi mengenai Hajjah Rangkayo Rasuna Said di internet. Hasilnya? Sangat mengecewakan. H.R. Rasuna Said adalah pahlawan nasional, seorang tokoh perempuan Sumatera Barat yang berani bersuara ketika berhadapan dengan pemerintah Belanda dan Soekarno. Saya sempat senang ketika Google memunculkan beberapa hasil tapi hampir semuanya mengecewakan. Sebagian hanya menulis namanya tanpa penjelasan yang panjang, sebagian adalah broken link. Mungkin ada yang menulis informasi mengenai Rasuna Said tetapi mereka tidak mempublikasikanya di internet. Atau memang sedikit sekali yang tahu dan menulis mengenai sejarah dan kehidupan perempuan satu ini?

Ada pengalaman lain lagi. Saya pernah mencari informasi mengenai pengalaman orang menggunakan motor mio. Saya baru saja punya motor dan ingin tahu mengenainya. Saya coba satu kata kunci dan setelah membaca hasilnya sekilas saya merasa tidak cocok. Ganti kata kunci. Oke, kali ini ada yang cocok. Saya klik dan beberapa di antaranya ternyata tidak sesuai dengan keinginan. Informasinya minim. Saya coba ke halaman 2 dan 3, dan mencoba buka dua link. Satu yang sesuai. Ganti kata kunci lagi. Masalahnya, saya sudah menghabiskan beberapa menit untuk melakukan hal itu. Kadang saya pikir, link ini pasti cocok tapi ternyata isinya promosi. Intinya, banyak sekali informasi yang menghalangi saya untuk sampai informasi yang saya inginkan di internet.

Apakah mencari di internet tidak efisien? Untuk beberapa jenis informasi, mencari di internet memang cepat dan tepat. Tapi untuk beberapa jenis informasi lainnya, internet menjadi media yang sangat tidak tepat. Kalau saya mencari vacuum cleaner karpet di toko yang ada di Jogja dengan harga tertentu, informasi yang saya dapatkan sangat minim. Bukan berarti tidak ada toko elektronik di Jogja yang menjual vacuum cleaner karpet. Kalau benda yang diinginkan ada di kota K, biaya kirim menjadi pertimbangan bagi pihak keuangan. Kalau hanya untuk mendapatkan perbandingan harga dan spesifikasi, internet menjadi media yang tepat.

Pustakawan juga prihatin dengan ledakan informasi ini. Apakah dengan makin banyaknya informasi di internet maka pemakai akan semakin mudah menemukan apa yang diinginkannya? Belum tentu. Belum lagi untuk kedalaman isi. Dalam bidang kepustakawanan, tingkat recall (perolehan) yang tinggi berarti tingkat precision (ketepatan) semakin rendah. Pencari informasi di internet bisa kewalahan melihat banyaknya jumlah perolehan informasi yang mereka dapat dari suatu kata kunci tanpa kendali (dalam bentuk tajuk subyek). Kata kunci tanpa kendali yaitu kata kunci yang diambil dari bahasa alami (natural language), misalnya saya mencari melalui “kelelakian” daripada “maskulinitas, masculinities, atau gender” untuk satu informasi yang substansinya sama.

Di internet, sudah ada beberapa jurnal ilmiah yang online dan setiap artikel dalam satu edisi bisa diunduh secara gratis, tapi banyak lagi jurnal yang berbayar. Mencari informasi sebenarnya kegiatan keseharian manusia dalam upaya mendapatkan kepastian dan penyelesaian terhadap masalah. Dengan bertanya saja, seseorang sudah melakukan pencarian informasi.

Beberapa waktu yang lalu, saya mencari informasi mengenai maskulinitas. Sebagai pendahuluan, saya mencari di internet. Tapi saya masih kelimpungan mencari buku-buku dan hasil penelitian yang lebih dalam dan konseptual membahas masalah maskulinitas. Hal itu tidak saya dapatkan di internet. Namun, saya tahu bahwa rujukan mengenai subyek itu pasti ada di perpustakaan Kajian Wanita UI. Akhirnya saya dapat cuti untuk berkunjung dan memesan buku di perpustakaan almamater saya itu.

Mengenai informasi “sampah” juga menjadi perhatian khusus. Sebagian orang mengatakan informasi di blog dan Friendter isinya sampah. Kebanyakan hanya berisi catatan harian; aku habis belanja di sini, aku suka banget sama cewek ini, dll. Belum lagi, ada yang menyoroti bahasa lisan (bahasa lisan yang dituliskan) yang dipakai dalam banyak blog orang Indonesia. Bagi saya, blog bukan sampah. Iklan pun kadang bukan sampah karena bisa berguna bagi yang mencari. Sampah bagi saya adalah penipuan ketika suatu link diberi metaindex: library services, library toolkit dan ketika dibuka ternyata isinya daftar link menuju website furniture. Halah.

Saya berteman dekat dengan beberapa pustakawan di perguruan tinggi. Seorang di antaranya suka curhat bahwa banyak mahasiswa, yang sedang melakukan penelitian, dan dosen minta bantuannya mencari informasi karena sudah jenuh nguplek-nguplek internet sampai 2-3 jam dan hanya menemukan kurang dari 10 file dan kualitasnya pun kurang signifikan. Internet itu kadang kacau deh! keluhnya. Itu masih lumayan kalau mereka tidak tersesat dan membuka website yang di luar rencana. Contohnya saya, niatnya sih cari informasi mengenai maskulinitas tapi malah lebih banyak mengumpulkan file mengenai PDA phone. Tung, tung, tung! Belum lagi biaya internet masih tinggi di tanah lumpur eh tanah air kita yang tercinta. Harapan orang kadang terlalu besar bagi internet.

Kemunculan dan perkembangan internet menuntut pemakai untuk ikut mengembangkan kemampuan literasi informasi yang dimilikinya. Pemakai dituntut untuk dapat memilah informasi dan media apa yang digunakan untuk menemukan informasi tertentu. Literasi media dan literasi digital menjadi penting sebagai bagian dari literasi informasi. Literasi ini tentunya tidak selalu dalam pengertian teknis tapi lebih pada pemahaman mengenai cara kerja dan cara menyikapi berbagai perkembangan dan dampak dari media digital.

Perintah “Cari saja di internet!” kepada pemakai yang memerlukan informasi sangat dihindari dalam kepustakawanan. Kalimat itu menjadi refleksi kegagalan seorang pustakawan yang notabene pekerja informasi dalam memberikan layanan. Konsekuensi dari meminta pemakai mencari di internet adalah:

 

  • pemakai perlu memiliki pengetahuan tentang komputer
  • pemakai memahami internet
  • pemakai memahami cara melakukan pencarian di internet
  • pemakai memahami proses pengolahan informasi digital yang diperoleh melalui internet.

Informasi yang sudah diperoleh dari internet hanya menjadi salah satu rantai dari proses menyelesaikan masalah. Ketika saya sudah mengetahui nama agen KL maka saya perlu menghubungi dia melalui telepon, mengirim fax, melakukan kegiatan selanjutnya sampai masalah terselesaikan.

Di satu sisi, meminta pemakai untuk mencari sendiri di internet bisa memotivasi seseorang untuk belajar tapi di sisi lain dapat membuatnya takut untuk bertanya dan minta informasi. Pustakawan perlu membuat petunjuk atau tutorial dalam berbagai bentuk untuk pertanyaan yang berulang sebagai antisipasi, tetapi jangan pernah mengatakan “tidak tahu” dan “cari sendiri di google”. Google adalah mesin pencari dan pustakawan adalah pengelola informasi. Google hanya mencari ke artikel atau tulisan yang sudah dipublikasikan di internet. Pustakawan dapat mencari di berbagai media dengan dukungan jaringan komunitas kepustakawanan.

Mencari di Google bisa membantu proses penyelesaian masalah atau justru mendatangkan masalah baru karena memunculkan situasi ketidakpastian. Internet tidak mendekatkan manusia pada segala jenis informasi dengan variasi kedalaman yang menyeluruh. Jadi? Lihat-lihat jenis informasi yang akan dicari, dianalisis dulu media apa yang akan kita gunakan dan substansi informasi yang diinginkan, dan lakukan pencarian dengan perhitungan cermat. Artinya jangan terlalu maksa, setelah beberapa kali mencari di internet dengan berbagai formulasi kata kunci dan total waktu 10 jam tetap tidak mendapatkan yang diinginkan, lah cari alternatif lain, say.

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s