Pengetahuan-Saya

Cara Berbeda Memandang Menopause


20 Agustus 2006

Tulisan ini disarikan dari makalah saya yang berjudul PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI BAGI WANITA MENOPAUSE untuk mata kuliah kesehatan reproduksi perempuan.

1. Apakah Menopause?
Menopause berasal dari bahasa Yunani yang berarti berhenti haid. Namun Reitz (1979) mengatakan bahwa seharusnya istilah yang tepat adalah menocease karena pause dalam bahasa Inggris bukan berhenti permanen. Dalam kedokteran, fase menopause disebut sebagai klimakterium, yaitu masa yang bermula dari akhir tingkat reproduktif sampai awal tingkat senium, sehingga meliputi masa pramenopause, menopause, pascamenopause, ooforopause dan prasenium. Pada masa ini wanita menyesuaikan diri dengan menurunnya produksi hormon yang dihasilkan indung telur/ovarium (Tina NK, 1999).

Menopause membawa perubahan terhadap kondisi fisik dan psikis wanita yang mengalaminya. Dampaknya bagi wanita sangat bervariasi, tergantung pada banyak faktor terutama lingkungan sosial dan keluarga. Simptom atau gejala yang akan dijelaskan di sini berbeda intensitas dan frekuensinya bagi setiap wanita.

Secara umum, kita mengetahui bahwa usia harapan hidup wanita lebih tinggi dari waktu sebelumnya. Namun, bukan berarti nilai produktivitas mereka sama dengan laki-laki karena ada beberapa pembatasan dan stigma yang diberikan oleh sosial budaya terhadap peran wanita sejak lahir sampai masa menopause. Dengan begitu, merupakan salah satu kewajiban studi gender untuk ikut memperhatikan fase ini dan dampak negatif yang dapat timbul terhadap wanita yang mengalaminya.

2. Usia Menopause dan penyebabnya
Rata-rata menopause dimulai pada usia antara 47 – 53 tahun. Dikatakan terjadi menopause prematur bila wanita mengalaminya kurang dari usia 47 tahun atau bahkan kurang dari 40 tahun. Petras (1999) menyebutkan beberapa penyebab biologis dari menopause prematur antara lain:

  • kemoterapi (perawatan kanker)
  • operasi ovarium (hysterectomy)
  • konsumsi tamoxifen (bagian dari pengobatan kanker payudara)
  • ketidakteraturan kromosom
    Penyebab lainnya adalah gaya hidup seperti konsumsi alkohol, rokok, faktor stres dan faktor lingkungan (xenobiotics)

3. Permasalahan
Dengan penjelasan di atas, sebenarnya pemerintah dan masyarakat dapat mulai memikirkan pengadaan pelayanan kesehatan bagi usia lanjut terutama para wanitanya. Namun, isu ini justru terabaikan dan tenggelam oleh berbagai isu kesehatan lain yang dirasa lebih penting. Ada anggapan bahwa karena wanita menopause telah kehilangan kemampuan dan terlepas dari tugas reproduksi, maka mereka otomatis bebas dari keluhan atau penyakit yang berhubungan dengan organ reproduksi mereka. Asumsi ini salah kaprah dan cenderung meminggirkan posisi wanita menopause dalam mengakses produk, teknologi dan pelayanan kesehatan. Permasalahan inilah yang mendorong saya untuk mengetahui lebih dalam mengenai kondisi kesehatan reproduksi wanita menopause, serta pelayanan kesehatan yang disediakan bagi mereka.

4. Masalah Fisik dan Psikis Wanita Menopause
A. Masalah Fisik

Secara fisik biologis, keluhan yang sering diutarakan wanita menopause adalah semburan panas, sakit kepala, cepat lelah, rematik, sakit pinggang, sesak napas, susah tidur dan osteoporosis. Keluhan lainnya (Tina NK, 1999) adalah berkurangnya cairan vagina sehingga timbul iritasi dan rasa nyeri saat berhubungan intim.

Dengan bertambahnya usia, tubuh membutuhkan lebih sedikit lemak dari sebelumnya. Hal ini karena kemampuan tubuh untuk mengolah lemak berkurang dan memerlukan waktu lebih lama untuk masuk dalam darah. Akibatnya, wanita menopause berisiko kelebihan berat badan yang bisa berujung pada penyakit jantung koroner dan penyempitan pembuluh darah. Namun, diet bebas lemak bukan langkah yang tepat karena tubuh masih memerlukan lemak jenis tertentu untuk membangun sel-sel baru, mengembangbiakkan bakteri positif di pencernaan dan bahan pembentuk estrogen secara alami. Resiko penyakit lainnya adalah kanker dengan berbagai jenis yaitu endometrial, cervix, uterine dan payudara. Faktor yang memicu kanker endometrial yaitu: tekanan darah tinggi, kegemukan, diabetes dan nullparity atau tidak pernah melahirkan (Reitz 1979, 217).

Satu hal yang penting adalah sejarah pemakaian alat KB oleh wanita menopause. Beberapa wanita menghubungkan cepatnya mengalami menopause dan resiko perdarahan yang panjang dengan pemakaian IUD. Sebagian wanita yang menggunakan alat KB suntik dan pil mengalami masa haid yang tidak teratur. Akibatnya mereka ragu-ragu untuk menggunakan kontrasepsi dan mereka menghadapi resiko kehamilan tidak diinginkan.

B. Masalah Psikis
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa tekanan psikis yang timbul dari nilai sosial mengenai wanita menopause memberikan kontribusi terhadap gejala fisik selama periode pre dan pasca menopause.

Gejala fisik yang dirasakan dapat memicu munculnya masalah psikis. Perasaan yang biasa muncul pada fase ini antara lain rapuh, sedih dan tertekan. Akibatnya wanita menopause menjadi depresi, tidak konsentrasi bekerja dan mudah tersinggung. Namun, dalam masyarakat Bugis fase menopause dinilai sebagai sesuatu yang positif karena wanita menopause merasa tubuhnya lebih bersih dan dapat menjalankan ibadah dengan penuh.

5. Upaya pencegahan (dan pengobatan) menopause dan efek sampingnya
Petras (1999) dalam bukunya menyatakan bahwa Hormon Replacement Therapy (HRT) dalam jangka pendek memberi lebih banyak manfaat bagi mereka yang mengalami menopause prematur. Pengobatan HRT tersedia dalam berbagai bentuk, beberapa yang sudah ada yaitu secara oral (pil, kapsul, tablet), koyo dan cream. Namun, Petras mengingatkan bahwa pemakaian HRT harus didasarkan atas konsultasi dokter dan memperhatikan sejarah kesehatan pasien. Ada beberapa orang yang tidak boleh melakukan HRT antara lain yang memiliki penyakit diabetes, lupus, tekanan darah tinggi, penyakit hati, kanker payudara dan endometriosis.

Studi paling mutakhir dari JAMA (Journal of the American Medical Association) dan WHI (Women Health Initiatives) menjelaskan bahwa HRT meningkatkan risiko inkontensia, stroke, kanker payudara, penyakit hati dan dementia. Keuntungan dari HRT yaitu mengurangi kemungkinan kanker colon dan patah tulang (Napoli, 2005).

Pencegahan yang dianggap ampuh justru berasal dari nasehat turun temurun dan sangat murah dan mudah untuk dilakukan. Beberapa di antaranya:

  • Selalu berdiri, duduk dan berjalan dengan tegak.
  • Mengurangi pemakaian garam untuk menghindari penumpukan air oleh jaringan.
  • Berolahraga, mulai dari berjalan jauh atau senam jantung.
  • Mengkonsumsi beberapa jenis vitamin (A, B, C, E complex, D, Bioflavonoid) dan kalsium atau jenis makanan yang mengandung keduanya.
  • Jangan merokok, minum alkohol dan minum banyak air putih.
  • Memeriksakan kesehatan secara berkala (Petras, 1999).

Rasa tidak nyaman atau nyeri pada saat berhubungan intim karena kurangnya cairan vagina bisa diatasi dengan pemberian jelly atau lubricant yang banyak dijual di apotek.

Hal lain yang perlu dipahami adalah pemahaman mengenai sistem metabolisme tubuh manusia. Reitz (1979) menerangkan bahwa dengan berhentinya menstruasi tidak berarti produksi estrogen juga berhenti. Tubuh manusia adalah satu kesatuan, bila yang satu tidak dapat melakukan fungsinya ada kemungkinan organ lain mengambil alih tugas itu, walau dengan jumlah yang berbeda.

6. Pelayanan Kesehatan bagi Wanita Menopause
Dalam menghadapi menopause, wanita perlu memeriksakan tubuhnya. Untuk memeriksa penyakit arteriosklerosis dan osteoporosis datanglah ke dokter penyakit dalam. Sementara untuk mengidentifikasi kelainan pada alat reproduksi dan payudara bisa datang ke dokter kandungan. Seorang psikolog juga dapat membantu mempersiapkan mental dalam menghadapi perubahan kondisi tubuh. Tetapi memang tidak semua wanita menopause mau mengkonsultasikan gangguan yang dialami kepada dokter kandungan atau penyakit dalam. Alasannya bisa karena rasa malu, tidak menganggap penting masalah kesehatan, diremehkan oleh dokter dan tidak mempunyai biaya.

Samil (1988) mengatakan bahwa dalam masa menopause hendaknya wanita memeriksakan dirinya secara berkala paling sedikit 6 bulan sekali. Sementara Reitz menekankan bahwa lebih dari 90% kanker ditemukan oleh wanita sendiri daripada oleh dokter. Dapat disimpulkan bahwa deteksi kelainan secara dini menentukan kualitas kesehatan dan pengobatan efektif bagi wanita menopause. Wanita menopause di Indonesia biasa menggunakan ramuan tradisional dan obat yang dijual bebas (obat warung) sebagai bagian dari pemeliharaan kesehatan mereka. Tindakan ini dilakukan sebagai cara termudah dan teraman yang dapat mereka usahakan bagi tubuh mereka sendiri.

7. Keinginan dan Harapan Wanita Menopause
Saya berinisiatif untuk melakukan wawancara informal dengan ibu saya dan seorang ibu dari teman. Kedua informan memiliki dua orang anak, tidak pernah menjalani terapi estrogen dan mengaku dalam kondisi yang sehat dan berat badan ideal.

Ibu saya, selanjutnya saya sebut SH, berusia 53 tahun, haid pertama pada usia 13 tahun dan mengalami menopause pada usia 45 tahun yang menurutnya terlalu cepat. Kontrasepsi yang dulu dia gunakan adalah pil KB, tetapi karena bidan mengatakan dia menjadi sedikit kumisan akhirnya dia ditawari KB suntik. Selama memakai suntik dia tetap haid dan tidak menjadi gendut, berbeda dari wanita pada umumnya. Sebelum mencapai menopause dia sudah melepas KB tanpa konsultasi dokter.

SH mengalami beberapa gejala wanita pra-menopause yaitu arus panas, marah, dan tidak bisa tidur. Pada saat menopause, gejala tersebut perlahan hilang tetapi sering mendapat sakit kepala dan sakit pinggang. Setelah menopause dia pernah mengonsumsi Anlene dan Redoxon tetapi berhenti karena mahal. Biasanya dia mendapat fasilitas chek-up lengkap dari kantor suami yang meliputi pemeriksaan jantung, mamografi dan papsmear, tetapi sejak dua tahun lalu kantor baru suaminya tidak diberikan fasilitas yang sama. Hasil pemeriksaannya cukup bagus dan kondisinya masih stabil. Namun, SH mengeluhkan biaya check-up yang sangat mahal kalau dilakukan dengan biaya sendiri yaitu sekitar Rp 800.000.

Ibu teman saya, selanjutnya saya panggil AR, berusia 57 tahun, haid pertama pada usia 13 tahun dan mengalami menopause pada usia 43 tahun. Kontrasepsi yang digunakan adalah pil KB tetapi karena dia menjadi kurus dan mensnya kering dia beralih pada sistem kalender. AR belum pernah menjalani pemeriksaan total yang mencakup jantung, mamografi dan papsmear dan dia tidak memiliki keinginan untuk melakukan chek-up. Hal tersebut karena dia pernah merasa dipermalukan ketika melakukan kuret sekitar 20 tahun yang lalu.

Pada bulan Mei 2005 ini, ibu saya baru saja melakukan pemeriksaan papsmear di Yayasan Kanker Indonesia cabang Fatmawati bersama tetangga yang belum menopause. Biaya yang dikeluarkan adalah Rp 40.000 sehingga cukup terjangkau bagi wanita dari golongan menengah.

8. Kesimpulan dan Rekomendasi
Feminis mengkritisi bahasa maskulin negatif yang berhubungan dengan fase menopause. Reitz mendaftar beberapa pemahaman yang banyak dipakai dalam buku-buku mengenai menopause, bahkan cenderung mendramatisir kondisi wanita menopause, contohnya tragedi menopause, ovarium yang menua, penyusutan vagina, krisis kehidupan dan masih banyak yang lain. Akibatnya masyarakat awam dan wanita sendiri melihat bahwa masa menopause adalah mimpi buruk yang untungnya tidak dialami oleh laki-laki.

Status kesehatan wanita di fase menopause merupakan refleksi dari riwayat kesehatan reproduksi yang sudah dijalaninya. Pada fase ini wanita dapat melihat bagaimana dampak dan pengaruh dari keputusan mengenai KRR, alat kontrasepsi dan PMS/ISP yang sudah dibuat sebelumnya.

Selama ini wanita berusaha agar pihak asuransi mau memasukkan jenis resiko penyakit atau kelainan yang dapat muncul pada saat menopause ke dalam salah satu klausul klaim, tetapi sampai sekarang belum terwujud. Untuk pemeriksaan papsmear dan mamografi, sebagai bagian dari pemeriksaan awal dan pencegahan, belum juga dimasukkan dalam jenis layanan kesehatan yang ditanggung. Berbagai jenis asuransi dari berbagai perusahaan tidak menanggung pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan fungsi reproduksi wanita, salah satunya adalah keguguran. Dengan demikian, wanita Indonesia masih harus berjuang untuk mendapatkan sebagian hak mereka dari industri asuransi.

Salah satu isu penting dari menopause adalah perlu ada keterbukaan untuk membicarakan masalah menopause, terutama dalam keluarga. Hal ini karena menopause sangat memengaruhi kondisi psikis dan fisik seorang wanita. Jangan sampai perubahan yang dialami ibu atau istri dianggap sebagai sesuatu yang aneh sehingga mereka tidak mendapatkan dukungan dan bantuan moral yang diperlukan. Konsep manusia usia lanjut, termasuk di dalamnya wanita menopause di atas 50 tahun, perlu diubah. Kalau dalam usia perkawinan 50 tahun disebut perkawinan emas, maka usia manusia yang mencapai lebih dari 50 tahun bisa disebut sebagai usia emas. Pada usia emas ini wanita menopause dapat merefleksikan kehidupan yang dilalui sebelumnya dan membagikan pengalamannya tersebut pada wanita lain yang lebih muda. Dengan membuka isu ini, pemahaman yang benar terhadap kondisi wanita menopause akan lebih dimengerti secara luas dan wanita dapat terdorong untuk lebih memperhatikan kesehatan reproduksinya pada masa sebelum menopause.

Saya melihat ibu saya sendiri sebagai wanita usia menopause yang masih sangat sehat, aktif dan produktif. Namun, saya juga melihat kondisi nenek saya yang berusia 84 tahun mengalami banyak kemunduran terutama dalam hal inkontinensia (incontinence), rematik, diare dan menjadi pelupa (dementia). Tetapi selain itu, dia masih dalam kondisi yang baik karena pengaturan diet (pola makan) dan tetap beraktivitas walaupun terbatas. Dengan pengamatan terhadap orang-orang terdekat, citra menopause bagi saya tidak menakutkan atau mengkhawatirkan. Saya justru berharap bahwa kondisi ibu saya ini tetap terpelihara dan berlangsung lama. Bahkan dengan memilih tema ini, pengetahuan saya mengenai menopause menjadi lebih luas dan mendalam, sehingga dapat mengantisipasi fase menopause dengan lebih baik sejak jauh hari.

Daftar Pustaka

Napoli, Maryann (2005). “Hormones Can Worsen And Cause Incontinence”. HealthFacts; Mar; 30, 3; pg. 4.

Petras, Kathryn (1999). The premature menopause book: when the “change of life” comes too early. New York: Avon Books.

Rice, Madeline Murhuia (et.al). “Postmenopausal estrogen and estrogen-progestin use and 2-year rate of cognitive change in cohort of older Japanese American women”. Archives of Internal Medicine; Jun 12, 2000; 160, 11; AMA Titles, pg. 1641

Reitz, Rosetta (1979). Menopause: suatu pendekatan positif. Jakarta: Bumi Aksara.

Samil, Ratna Suprapti (1988). Wanita menjelang usia maturitas. Jakarta: Bagian Obstetri dan ginekologi-FKUI.

Takasihaeng, Jan (2000). Hidup sehat bagi wanita: kumpulan artikel kesehatan Kompas. Jakarta: Kompas.

Tina NK, Dwia Aries (1999). Menopause dan seksualitas. Yogyakarta: Ford Foundation & Pusat Penelitian Kependudukan-UGM.

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s