Pengetahuan-Saya

Gua Bukan Orang Jawa


Mei 2007

Sejak beberapa lama saya sering diolok teman dan kerabat di sekitar saya karena ketidakmampuan saya memahami dan melafalkan bahasa Jawa. Kadang saya dibilang, “Oh, dia orang Londo.” Saya jadi terheran sendiri, “Saya orang Indonesia kok, cuma nggak bisa bahasa Jawa. Ada yang salah?”

Sejak lama juga, ketika orang bertanya, “Mbak orang mana?” atau “Asalnya dari mana?”. Saya akan dengan ringan menjawab, “Jakarta.” Etnis saya Jawa Timur tetapi saya tidak mau mengaku sebagai orang Jawa karena pengetahuan bahasa Jawa saya minim dan saya tidak percaya dengan beberapa mitos khas Jawa, intinya saya tidak merasa “Jawa”. Tapi kadang ada saja orang yang merasa kesal atau sinis jika saya mengaku sebagai orang Jakarta. Wajah saya tipikal Jawa dan itu mudah dikenali.

Identitas orang Jawa dibentuk apa sih? Kalau Joyo mengaku sebagai orang Jawa ya pantas dan dia juga merasa dan mengaku sebagai orang Jawa dengan bangga. Lah, saya tidak merasa begitu Jawa. Saya lahir dan besar di Jakarta. Sejak kecil lingkungan saya adalah orang Betawi pinggiran atau perbatasan yaitu di daerah Cilangkap, Pondok Ranggon, Kranggan, Cibubur. Logat dan bahasa yang dipakai tidak lain ala Jakarta yang kental dengan pengaruh Betawi.

Kalau saya ke desa Waung di Tulangan, Sidoarjo, saya tidak suka dengan beberapa jenis masakannya karena rasanya beda dari yang dibuat ibu. Masakan ibu sudah banyak terpengaruh oleh bumbu dari daerah lain, bukan saja Betawi. Oya, saya juga suka banget sama soto Betawi. Tempat soto betawi favorit keluarga saya ada di Cimanggis. Enak banget, banyak dan murah.

Saya paham sedikit bahasa Jawa ngoko tapi sering merasa kesulitan memahaminya secara cepat. Kalau bahasa Jawa kromo inggil, saya menyerah. Saya tidak pernah merasa malu tidak bisa bahasa Jawa. Penasaran dengan bahasa Jawa iya tapi tidak pernah malu. Saya sering diolok teman-teman kantor di Jogja ketika ngobrol dan keluar kata “elu-gua”. Sekali lagi, saya justru merasa heran. Mungkin mereka berpikir kalau saya sok Jakarta tapi saya memang orang Jakarta. Apakah mereka agak memaksa saya untuk menjadi orang Jawa? Orang tua saya kadang ngobrol menggunakan bahasa Jawa kasar dan sering keluar istilah khas Jawa Timur tetapi lingkungan saya tidak menggunakan bahasa itu.

Saya tadinya belum merasa perlu belajar bahasa Jawa karena sedikit teman saya yang orang Jawa. Saya punya “geng” kuliah yang akrab, komposisinya 2 orang dari etnis Palembang, 1 dari etnis Padang, 1 dari etnis Sunda, dan 1 campuran Medan-Sunda. Saya punya beberapa sahabat di luar geng tadi yaitu 2 dari etnis Jawa, 2 etnis Sunda, 1 etnis Palembang, dan 2 dari etnis Betawi. Kebanyakan mereka sendiri lahir dan besar di Jakarta bukan di daerah asal orang tua, kecuali yang Betawi. Itulah lingkungan saya. Sampai kemudian saya pindah ke Paiton dan sekarang ke Jogja, baru saya berpikir mungkin ada gunanya bisa berbahasa Jawa. Saya senang menjadi orang Jakarta dan saya harap teman-teman tidak berharap agar saya menjadi orang Jawa karena saya bukan itu. Saya senang dengan orang Jawa dan orang-orang dari Indonesia Timur seperti Manado, Ambon dan Palu. Mereka punya kekhasan sendiri, begitu pula saya. Ketika saya berada di Lumajang, dua orang teman kantor bercerita mengenai pengalaman mereka bertualang di alam terbuka, ke beberapa tempat. Lalu saya katakan, saya lebih suka ke mal, di sanalah “hutan” dan pergulatan identitas saya. Mereka tersenyum.

Bicara soal mal, sebenarnya saya juga suka ke pasar tradisional karena ketika kecil rutin diajak ke sana dan jumlahnya memang berkurang. Di Cijantung, masih ada pasar tradisional (Pasar Obor) dan tidak jauh dari sana ada Mal Cijantung. Keduanya ramai dan saya bisa mendatangi salah satunya sesuai dengan kebutuhan.

Saya sendiri tidak keberatan jika beberapa teman mengajak saya untuk dapat bicara bahasa Jawa tetapi mungkin penyampaiannya yang dibuat lebih elegan. Saya pikir, mungkin beberapa orang melihat orang etnis Jawa yang tidak bisa berbahasa Jawa sebagai bentuk arogansi tetapi dari sudut pandang saya bukan itu. Saya tidak dipaksa dan tidak dibiasakan orang tua untuk berbahasa Jawa. Memang akhirnya saya tidak dapat berkomunikasi lancar dengan nenek dan (alm) kakek serta kerabat di Waung tetapi mereka sendiri tidak sering mengeluh. Lagipula, kalau saya paksakan ngomong bahasa Jawa, logatnya malah lucu. Kalau orang tua menasehati bahwa perempuan Jawa itu perilakunya harus begini dan begitu, saya malah heran, “Gua bukan orang Jawa, kok disuruh jadi perempuan Jawa?”

Contoh yang paling saya ingat adalah memakai konde. Waktu kecil, saya pernah dirias dua kali memakai konde kecil yang ringan. Sumpah, sangat tidak nyaman dan culun abis. Ibu saya penggemar konde dan dia punya 4 koleksi yang dirawat dengan baik. Adik ipar saya dan beberapa kerabat memakai konde pada waktu pernikahan, terlihat pantas dan manis. Tapi tolong, jauhkan benda itu dari saya! (Memakai konde sudah bukan tren terutama ketika banyak perempuan Jawa yang berjilbab, tetapi masih menjadi hal yang normal untuk acara tertentu).

Saat ini saya berpikir untuk les bahasa Jawa tetapi bukan untuk menjadi orang Jawa. Sekalipun nantinya, mungkin, saya bisa bahasa Jawa tetapi saya akan tetap mengaku sebagai orang Jakarta. Identitas dan sejarah saya terbangun di tempat itu. Kalau ditanya, kampung kamu dimana, saya akan jawab, “Jakarta.” Kalau ditanya, kampung orang tua kamu dimana, baru saya jawab, “Porong, Sidoarjo.” Identitas saya dan orang tua berbeda. Ketika saya bicara dengan “elu-gua” maka itu keluar secara otomatis, bukan sesuatu yang dibuat-buat atau saya bukannya ingin merendahkan orang Jawa.

Ketika saya kemudian tidak mengaku sebagai orang Jawa, itu pun jangan diartikan sebagai arogansi melainkan karena saya dibesarkan dengan budaya lain yang non-Jawa. Kalau bisa mengaku orang Jawa dengan hanya berbekal keturunan orang tua ya saya memang Jawa tetapi saya yakin bukan itu maksudnya.

Oya, bicara mengenai arogansi saya teringat cerita ibu saya beberapa bulan yang lalu. Ketika itu ada tetangga kami, asli dari Padang, yang sangat baik hati. Di lingkungan tempat tinggal, sebagian warga adalah etnis Jawa dan bisa berbahasa Jawa. Nah, pada satu kesempatan “ngerumpi” keluar lah beberapa istilah bahasa Jawa. Karena Tante X tidak paham, mereka justru menganjurkan Tante X untuk bisa bahasa Jawa dan reaksinya adalah tersinggung. Menurut ibu saya nih, Tante X berucap lantang dengan logat Padang, “Buat apa saya belajar bahasa kamu? Memangnya kamu mau belajar bahasa Padang?”

Nah, lho!

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s