Pengetahuan-Saya

Sistem, Budaya, dan Saya


Yogyakarta, February 2007

Biologis mengacu pada anatomi dan ketubuhan manusia. Manusia dilahirkan dalam berbagai bentuk fisik, berbeda warna kulit, jenis kelamin, bakat, kemampuan motorik dan sensorik, dsb. Hal-hal tersebut dinilai sulit untuk diubah walaupun untuk beberapa hal dan pada tingkat tertentu dapat dilakukan. Fisik atau anatomi seseorang dalam pandangan Freud menentukan nasib seseorang (anatomy is destiny). Pandangan ini kemudian ditentang oleh kaum feminis yang menilai hal tersebut tidak adil, karena kapasitas intelektual dan kepribadian mutlak diukur dari fisik.

Seorang perempuan dinilai tidak pandai dalam matematika dan sains karena di masa lalu otak mereka dinilai lebih ringan daripada otak laki-laki (terlepas dari proporsi tubuh mereka yang lebih kecil) dan anggapan bahwa tingkat emosional perempuan menghalangi mereka untuk mencapai nalar yang diperlukan dalam analisis matematis. Hal itu karena epistemologi sains yang dualistik dalam melihat masalah, yaitu benar atau salah, nalar atau perasaan, sehingga ada “keharusan” seseorang untuk berada pada salah satu titik dan tidak bisa berada di keduanya. Hal yang sama terjadi pada kaum difabel yang bahkan pada masa sekarang masih distigmakan sebagai kaum yang tingkat intelektualitasnya rendah.

Sudut pandang yang tidak adil dalam melihat fenomena perbedaan anatomi dan jiwa ini menjadi salah satu kajian gender. Pertanyaan yang pernah muncul juga dalam benak saya adalah ketika perempuan menuntut adanya persamaan hak dan kewajiban maka mereka harusnya konsekuen dengan misalnya tidak perlu mendapatkan cuti haid, melahirkan, dll yang berhubungan dengan anatomi mereka. Filsafat feminis dalam perkembangannya kemudian menilai konsep “persamaan” yang selama ini muncul justru berpotensi untuk meminggirkan pengalaman perempuan. Padahal, pengalaman perempuan lah yang menjadi titik awal perjuangan kaum feminis. Maksudnya adalah ada persepsi bahwa dengan menganut ide persamaan derajat maka perempuan hamil tidak perlu “diistimewakan” posisinya di bus umum. Perempuan juga tidak perlu mendapat cuti melahirkan selama 3 bulan yang dianggap merugikan kinerja sebuah lembaga (produktivitas dinilai berlawanan dengan reproduktivitas).

Jika hal itu yang terjadi maka bukan persamaan yang muncul tapi sebaliknya, pengalaman anatomi khas perempuan menjadi suatu hal yang dapat diabaikan demi persamaan derajat. Cara pandang sistem kapitalis dan konvensional perlu diubah dengan tidak lagi melihat cuti melahirkan, cuti haid sebagai keinginan mendua perempuan untuk “diistimewakan” melainkan bagaimana pengalaman reproduksi perempuan ikut membentuk sistem kebijakan. Jika perempuan tidak mendapat cuti haid dan melahirkan maka hanya pengalaman reproduksi laki-laki yang memengaruhi kebijakan karena laki-laki tidak haid dan tidak melahirkan. Kritik dari filsafat sains berperspektif feminis yaitu agar tidak hanya pengalaman satu dan sekelompok orang yang menjadi acuan dalam pembuatan kebijakan (dengan kata lain kaum feminis menolak universalisme mutlak).

Pertanyaan utama yang saya tangkap dari percakapan malam lalu adalah mengenai siapa yang bertanggung jawab dalam pembentukan konsep “perempuan”, apakah sistem atau budaya?

Bagi saya, sistem adalah konsep yang sangat luas sehingga menempel pada banyak konsep lain yang spesifik seperti sistem informasi misalnya. Budaya adalah salah satu bentuk sistem yaitu sistem sosial yang mengatur mengenai pranata dalam suatu masyarakat. Dalam feminisme dikenal jargon “a woman is not born, she was made” yang artinya seorang manusia yang lahir dengan genital vagina tidak serta merta menjadi perempuan. Dia akan banyak dibentuk oleh orang tua dan masyarakat untuk dinilai “layak” untuk diberi atribut “perempuan”. saya menulis dalam homepage dengan judul “Jalan gaya bebek”.

Kajian mengenai transgender, gay dan lesbian jauh lebih kompleks karena mereka membongkar konsep anatomi sebagai perkara “mati”. Dalam penelitian mengenai kaum lesbian, seorang alumni kajian wanita menemukan bahwa dualisme konsep feminin dan maskulin masih sangat kuat sehingga masih ada salah satu pihak yang mengambil peran suami dan satunya berperan sebagai istri lengkap dengan atribut gender. Hal yang sama juga terjadi dalam masyarakat gay.

Saya ingin mengatakan bahwa terlahir berbeda, apapun perbedaan itu baik perempuan tomboy, bayi imbecile, anak autis, gay, lesbian, tidak dapat menjadi pembenaran untuk memberikan stigma dan menyamaratakan perlakuan. Ada orang yang beranggapan membuat jalan landai yang merupakan hak kaum difabel sebagai buang-buang uang dan mengistimewakan posisi mereka. Padahal, tidak semua orang “berjalan” dengan kaki. Ada sebagian mereka yang berjalan dengan roda dan hal itu tidak muncul dalam kebijakan yang seharusnya mengakomodasi berbagai perbedaan.

Saya merasa tertantang dengan pertanyaanmu dan saya suka itu. Saya sangat menghargai keingintahuan kamu terhadap kajian gender, suatu ilmu sosial yang akan terus berproses. Saya juga hargai jika ada perbedaan cara pandang dari dirimu. Saya nggak maksa kamu setuju, saya hanya ingin memberi warna berbeda dari beberapa konsep yang sudah kamu ketahui. Kamu sudah membuat saya terus berpikir dan itu membuat kamu istimewa. Dengan kata lain, terus lah bertanya, menggugat, dan menulis. Saya memulainya dari sana dan masih terus melakukannya. It’s fun!

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s