Pengalaman-Saya

Kipas Angin


11 Maret 2007

Putaran baling-balingnya kuat sehingga hembusan angin yang dihasilkannya kencang. Itu yang saya mau. Ukurannya 12 inci dan untuk diletakkan di meja. Tidak bisa tidak, saya harus membeli kipas angin. Yogya panas. Entah apakah akan seperti ini setiap musim hujan atau mungkin ada penyimpangan cuaca.

Saya bayar harga yang muncul di layar komputer. Saya berada persis di samping kasir. Tante Iin tersenyum sambil mengipas-ngipas tubuhnya dengan lipatan koran lama. Penantiannya belum berakhir karena saya harus membawa tanda bukti tadi ke tempat pengambilan barang. Ada dua orang yang juga sedang menunggu. Halah, ada orang yang ingin membungkus kado. Makin lama kalau begini caranya.

Saya menopang dagu sambil melirik petugas membungkus kado dan petugas lainnya yang sibuk menyapu lantai. Saya mencoba mencari petugas lain. Tolong, saya mengantuk! Akhirnya saya rebahkan kepala di pangkuan tangan. Seorang petugas perempuan masuk. Dengan cepat saya sodorkan bon pembayaran ke depan wajahnya. Sigap dan cekatan, bawaan dari Jakarta. Waduh, dia memberikan bon saya ke temannya yang membungkus kado. Ini hari pertama saya untuk pindah domisili di Yogya dan kesan pertama sungguh tidak terduga.

Akhirnya, ah saya benci kata ini, tetapi memang akhirnya boks tempat kipas angin saya dikeluarkan dan diberi ikatan tali rapiah, siap untuk dibawa. Itu saja. Tante Iin sepertinya akan pingsan. Saya pun kepanasan. Sudah lebih dari lima helai tisu yang saya hancurkan dengan keringat. Sejak tadi HP Tante Iin berbunyi. Suaminya sudah kangen. Padahal baru pagi tadi mereka bertemu. Apakah semua laki-laki Yogya seperti itu? Kalau iya, berarti tempat ini adalah surga bagi perempuan.

Kami turun dan duduk di depan deretan lemari bagian kosmetik. Ramai lalu-lalang pengunjung Progo membuat saya semakin mengantuk. Ah, untung tadi sudah makan siang. Kami berdua menunggu suami tercinta Tante Iin. Mereka sudah menikah selama sembilan tahun dan belum dikaruniai anak. Namun, di saat banyak tokoh agama Islam dan pejabat negara ini melakukan poligami, hubungan mereka menjadi istimewa.

Om Bondan sangat menyayangi istrinya. Sulit sekali istrinya meninggalkan sang suami barang sehari atau dua hari. Ditinggal setengah hari pun, Om Bondan akan terus mengirim SMS mesra ke tante saya karena kangen. Dengan kondisi seperti itu, Om Bondan jelas tidak tertarik menikah lagi. Perawakannya lumayan tampan, bersahaja, dan menjabat kepala cabang sebuah bank di Magelang. Saya heran.

Tante Iin tersenyum sendiri. Saya geleng-geleng kepala. Oh, rupanya sang Arjuna sudah ada dalam pandangannya. Entah darimana, tahu-tahu Om Bondan sudah ada di belakang Tante Iin, tersenyum mesra dan memijat pundak istrinya.

“Sudah dapat apa saja?”
“Ini lho, handuknya Nona ketinggalan di rumah. Jadi dia beli lagi di sini. Lalu ini, beli kipas angin, dia nggak bisa tidur nggak pakai kipas angin. Sumuk toh?”
“Iya, panas, Om. Lumayan nih, ngangkat sebanyak ini.” Saya menunjuk pada sebuah tas besar berisi pakaian dan kardus kipas angin.
“Yo ndak apa-apa. Bagaimana kosnya?”
“Sudah dapat, bagus. Yah, lumayan, tempat Nona jauh lebih bagus daripada tempatku dulu di Suryoputran. Sebulan seratus lima puluh ribu. Di Nagan tapi harus jalan kaki ke kantornya.”

Om Bondan menuju tempat penjual es teh dan membeli satu gelas. Diberikannya gelas itu ke istrinya.

“Mau, Non?” tawar Om.
“Nggak, nggak usah.”
“Kantormu dimana, Non?”
“Ngadisuryan, Om.”
“Masih bisa jalan kaki?”
“Yo, lumayan jauh sih.” Sahut Tante Iin.
“Ah, enggak. Nona di Jakarta udah biasa jalan. Kampus UI kan luas banget, Tante. Empat tahun kuliah di sana sama seperti hiking tiap hari.”
“Gitu toh?” Tante Iin terheran.
“Ini mau sore. Kita mau tempat Zaki lho. Nona biar istirahat dulu di kos. Dibuat betah ya, Non. Kerasan lah kamu di sini. Yogya panas tapi nggak sebising Jakarta. Kamu harus sering jalan-jalan.”

Saya mengangguk dan tersenyum. Om Bondan masih memijat pundak istrinya lalu kami beranjak ke luar pertokoan. Om Bondan menghampiri tukang becak dan menegoisasikan harga. Dia lalu mengangguk ke arah saya.

Setelah semua barang masuk ke dalam becak, saya pun duduk di dalam dan melambaikan tangan ke arah mereka berdua.

“Makasih ya Tante, Om.”
“Ya, hati-hati. Istirahat yang nyaman. Kamu pasti capek.” Sahut Tante Iin.
“Iya, pasti.”

Becak mulai melaju. Saya menengok ke arah tante dan om yang sudah berbalik arah. Tante Iin menggandeng tangan Om Bondan dengan mesra. Saya siap berjuang untuk laki-laki seperti itu. Saya tersenyum sendiri memikirkannya.

Om Bondan kelahiran Bantul. Tempat yang baru akrab di telinga saya pasca gempa bumi besar di Yogya. Saya masih asing dengan nama itu. Entah dimana dan sejauh apa tempat itu dari rumah kos yang akan saya tempati. Suatu hari saya harus ke sana, mungkin mencari Om Bondan lainnya. Saya terkekeh dalam hati. It will be fun. My life just began, again.

Tiba di depan gerbang rumah kos, saya membayar tukang becak seharga Rp 5.000. Transportasi yang mahal. Uang sejumlah itu biasa saya bayarkan untuk bus AC jurusan Kampung Rambutan – Mangga Dua yang sangat jauh. Di Yogya untuk jarak yang dekat saya harus membayar sama. Saya harus beradaptasi dan mungkin mencoba sangat keras untuk tidak membandingkan semua hal di Yogya dengan Jakarta. Sikap seperti itu hanya menunjukkan keangkuhan orang Jakarta.

Di dalam kamar kos, saya mulai membuka kardus kipas angin. Panas, sangat panas. Potongan bagian kipas saya keluarkan satu per satu dan saya susun sesuai dengan petunjuk. Saya membaca tulisan di kardus. Gila, bahasa Malaysia! Boleh dilaras secara menegak, menjimatkan tenaga eletrik, kawalan butang 3 kelajuan. Saya melotot. Saya baru saja membeli produk impor, begitukah? Malaysia gitu lho! Hari yang brutal, sekalian saja!

Murnya tidak pas. Saya minta tolong penunggu rumah kos, sepasang suami istri sangat muda. Keduanya masih kuliah, anak laki-laki mereka muncul dan mulai bereksperimen dengan perkakas yang digunakan ayahnya. Usia anak itu dua tahun. Ayahnya kelihatan masih remaja. Jauh lebih muda daripada adik laki-laki saya. Dia rupanya bingung lalu saya pinjam obengnya dan melakukannya sendiri. Yah, bisa!

Masalah lain. Letak stop kontak cukup jauh dari tempat tidur. Terpaksa saya letakkan kipas angin di atas lemari baju yang tingginya sekitar 70 cm. Paling tidak ada udara yang berputar. Terakhir kamar ini ditempati adalah dua bulan yang lalu. Pengap. Tidak lama kemudian, saya pun tertidur. Saya cinta mati dengan kipas angin ini.

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s