Pengetahuan-Saya

Pergerakan Kodrat Perempuan Katolik


4 April 2006

Rangkuman dari Buku Kodrat yang bergerak: gambar, peran dan kedudukan perempuan dalam Gereja Katolik ditulis oleh Iswanti (Kanisius, 2003) – Tugas semester pertama yang ditulis tahun 2004.

——————————————————–

Judul buku karya Iswanti sangat menarik perhatian saya, “Kodrat yang bergerak” yang secara langsung menyuarakan pikiran penulis bahwa kodrat perempuan bukanlah harga mati. Dalam doktrin Katolik masih terdapat beberapa ganjalan dalam hubungan mereka dengan perempuan. Ganjalan ini muncul dan terus berlangsung dengan manifes berupa pengingkaran terhadap perempuan dalam tradisi gereja Katolik.

A. PEREMPUAN DAN GEREJA KATOLIK
Dalam tradisi Kristen, Allah dirujuk dengan kata “Bapa” yang merupakan simbol dan penggambaran laki-laki sebagai patriarch (kepala keluarga/masyarakat). Akibat dari penggambaran ini adalah lebih dominannya posisi laki-laki dalam ritual keagamaan daripada perempuan. Penggambaran literal ini menjadi kuat karena didukung oleh penafsiran kitab suci yang sebatas tekstual dan latar belakang pemikiran dari si penafsir sendiri yang mendiskreditkan perempuan.
Dalam bukunya, penulis beranggapan bahwa
gereja masih belum berpihak kepada perempuan, kecuali menghargainya sebagai pengikut dan pendukung yang menyokong tegaknya Gereja (hal. 92).

Karena ruang peran perempuan dalam prosesi Katolik dibatasi maka kesempatan mereka untuk berfungsi secara penuh dalam gereja juga dihambat. Dengan begitu apa yang disebut sebagai kebebasan perempuan dalam Katolik (untuk berperan lebih besar dalam pengabdian kepada Allah) masih belum terwujud seluruhnya.
Dokumen pokok gereja yang dibahas dan berusaha dibongkar penulis adalah Surat Apostolik Mulieris Dignitatem (MD) yang dikeluarkan Paus Yohanes Paulus II. Dalam MD disebutkan bahwa ada dua keistimewaan bagi perempuan yang terletak pada aspek keperawanan dan dimensi keibuan seperti yang terjadi pada Perawan dari Nazareth (seorang perawan dan juga ibu). Bunda Maria menjadi sosok ideal dan sentral untuk mendefinisikan peran perempuan Katolik. Namun karakter yang ditonjolkan dari Maria hanya sebatas pada sifat keibuan (seseorang yang tulus, hangat, damai, dan saleh) dan menerima tugas “yang tidak mudah”, sebagai istri dan ibu.

Artinya belum ada usaha untuk mengangkat karakteristik yang lain, di luar dari sifat keibuan yang juga ada pada Maria dan bagaimana dia mampu melaksanakan tugas “yang tidak mudah” tersebut sebagai seorang perempuan. Dengan begitu, puja-puji Paus mengenai “keunggulan perempuan” juga masih sebatas pada keunggulan di bidang domestik dan pengasuhan.

Ada beberapa dokumen tidak langsung, yaitu dokumen yang masalah perempuan dibahas dalam bagian pembahasan, yang dikeluarkan Vatikan. Dokumen tersebut di antaranya berbicara mengenai perempuan dan kerja, pengakuan hak-hak perempuan, kesamaan hak diberikan kepada perempuan, undang-undang bagi perempuan serta perempuan dan keluarga.
Namun, perhatian Gereja Katolik terhadap kehidupan kaum ibu tidak boleh diabaikan oleh gerakan perempuan. Karena dalam sejarahnya, Vatikan secara aktif dan cukup berhasil dalam usaha memperjuangkan hak para istri dan ibu yang sering diabaikan masyarakat dan negara.

B. PEREMPUAN KATOLIK DI INDONESIA
Agama Katolik di Indonesia memiliki komunitas dan jemaat yang sangat rapi dalam struktur keorganisasian. Sebagaimana agama lainnya, maka nilai-nilai Katolik, termasuk peran perempuan ideal dalam Katolik, juga berusaha diinternalisasi oleh para jemaat.
Sama seperti yang terjadi di belahan dunia Barat, perempuan Katolik Indonesia juga melihat adanya ketimpangan dalam hirarkis dan keterbatasan dalam pengabdian perempuan yang dirumuskan oleh Vatikan.

Dalam buku ini, Dr. Piet Go Ocarm merefleksikan keadaan umat Katolik di Indonesia yang religius dan sangat menghormati pemimpin agama membuat unjuk rasa terbuka terhadap pribadi pemimpin jemaat menjadi kurang berkembang. Sehingga bila ada sesuatu yang kurang diyakini umat, mereka akan “memberontak” secara diam-diam.

Di Indonesia, perempuan Katolik tergabung dalam wadah Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI). Namun, pandangan mereka mereka terhadap peran perempuan pun masih sejajar dengan apa yang dipercaya sebagai kodrat alami karena mengadopsi ajaran Gereja Katolik. Dengan begitu WKRI bergerak sebatas partisipan dan pendukung yang baik dari gereja.

Dalam melakukan pelayanan dan ibadah menurut iman Katolik, ada beberapa perempuan yang merasa terganggu atau terusik dengan penggunaan bahasa androsentris yang dipakai dalam doa-doa, ibadah, misa dan nyanyian. Secara tersirat penulis ingin mengatakan bahwa penting untuk kembali mengkaji ulang teks dari doa-doa yang diucapkan dalam ibadah. Area kritisi para aktivis perempuan juga berlanjut pada Materi Kursus Perkawinan (MKP) tetapi usulan perubahan yang mereka ajukan ditentang seorang pastor.

Penulis buku ini juga mengeluhkan situasi yang kurang kondusif bagi terbukanya dialog mengenai gerakan perempuan dan peran perempuan dalam Gereja Katolik karena resistensi dari beberapa kalangan pemuka agama. Dia menceritakan pengalamannya sebagai mahasiswa ilmu teologi yang kritis, dimana pemikirannya kadang mengalami tentangan sangat keras dari teman mahasiswa laki-laki. Dia juga mengkritik fenomena ketika dalam seminar teologi yang membahas mengenai isu perempuan, kemudian narasumber yang didatangkan justru lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Dengan begitu, tercipta keberpihakan yang tidak menguntungkan posisi perempuan.
Memang ada beberapa isu dalam gerakan perempuan yang dianggap oleh gereja di luar batas untuk diperbincangkan seperti lesbianisme dan homoseksual. Namun, hal tersebut bukan berarti semua isu dari gerakan perempuan tidak dapat diperdebatkan.

C. KESIMPULAN
Al-Kitab harus dipahami sebagai produk kultural yang terpengaruh pada norma yang hidup jauh sebelum Yesus datang. Proses perubahan pola pikir terhadap peran perempuan di keluarga dan masyarakat terjadi sangat lambat tetapi masih berlanjut sampai pada hari ini.

Bagi Iswati, keteguhan untuk memegang hirarki dan tradisi gereja yang konvensional menghambat proses terbentuknya communion yang demokratis dan egaliter (Komunitas Basis Gereja) sebagai kumpulan umat Allah yang sederajat. Konsep kuasa suci menjadi otoritas dalam menetapkan apa yang bisa dan tidak boleh dimasuki oleh perempuan dalam hirarki gereja, sayangnya beberapa keputusan yang dibuat justru mementahkan kembali pernyataan Vatikan bahwa “pria dan wanita diciptakan Allah dalam martabat yang sama”.

Keputusan yang masih dipegang teguh Vatikan adalah tidak adanya tahbisan bagi perempuan disesuaikan dengan Kitab Hukum Kanonik 1024: Hanya pria yang telah dibaptis dapat menerima tahbisan suci secara sah (hal. 163) serta didasarkan pada tradisi gereja.
Argumen pokok dari Vatikan adalah:
1. berdasarkan kelaki-lakian Yesus
2. Yesus hanya memilih dua belas laki-laki menjadi muridnya
3. Warisan tradisi yang tidak bisa diubah (hal. 169)
Dengan begitu dianggap bahwa perdebatan perempuan menjadi imam/pastor sudah berakhir.

Beberapa isu yang masih kontoversial dalam gereja Katolik adalah isu aborsi, kontrasepsi dan pentahbisan perempuan, yang dianggap keputusannya tidak bisa diubah.

Pokok dari buku ini adalah bahwa kalangan elite Katolik masih belum menangkap dan mengadopsi tuntutan umat perempuan untuk mengubah beberapa aspek dari tradisi gereja. Hal tersebut terefleksi dalam aturan dan hirarki berbagai posisi dalam gereja Katolik. Para feminis perempuan Katolik masih merasa perlu untuk terus menggali dan membongkar isu-isu yang berkenaan dengan biologis dan peran perempuan yang sudah ditetapkan Kitab Kanonik. Kritik yang diberikan penulis dan feminis Katolik perempuan lain, bukanlah suatu pernyataan penolakan terhadap iman Katolik karena iman bagi mereka bukan benda mati tapi sesuatu yang memiliki jiwa sehingga layak diperjuangkan.

Kadang penulis seperti sedang marah, penuh keluh kesah dan hampir putus asa, tetapi untungnya dia masih melihat ada cahaya dalam iman Katolik yang dapat menuntunnya pada jalan Allah dengan tetap memperjuangkan hak-hak perempuan.
Amin.

SM

Advertisements

One thought on “Pergerakan Kodrat Perempuan Katolik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s