Pengetahuan-Saya

Mengapa Saya (Masih) Islam?


Des 2006

Menjelang akhir tahun 2006 ini, saya teringat pada pertanyaan yang agak klasik dan tidak bisa dijawab dengan logika semata. Mengapa kamu beragama? Mengapa kamu menjadi muslim?

Saya pernah mendengar pertanyaan itu ketika mengikuti liqo tetapi sayang tidak ditanyakan di masa awal bergabung. Kemudian, pertanyaan itu dilontarkan Pak Nasaruddin Umar dalam kuliah konstruksi gender dalam agama. Saya bingung dan menjawab sekenanya. Lalu terakhir, Nawal Sadawi menunjukkan bahwa konsep “pilihan” perlu dikritisi. Dia mencontohkan, “Mengapa saya Islam? Apakah ketika lahir, saya memilih menjadi muslim atau itu adalah pilihan orang tua?” Siapa sebenarnya yang memiliki pilihan?

Mengapa saya masih menjadi seorang muslim? Mengapa saya mulai mempersoalkan hal yang dianggap wajar dan diterima orang lain tanpa tanda tanya?

Dua orang teman perempuan punya kisah tentang perjalanan iman. Seorang bercerita bahwa ketika SMP dia gelisah karena tidak percaya pada Tuhan tetapi masih “harus” melakukan ritual ibadah sholat. Seorang lagi mengatakan ketika SMA sempat tidak percaya pada Tuhan dan akhirnya meninggalkan seluruh ritual Islam, mulai dari sholat dan puasa selama beberapa bulan. Dia juga membuka jilbabnya demi mencari “jawaban”. Selama perjalanan itu, mereka merasa tidak nyaman untuk meninggalkan ritual yang sebelumnya mereka lakukan. Tetapi bukan ritualnya yang mereka rindukan, ada esensi dari ke-Tuhan-an dan kepasrahan yang mereka dapatkan dari ritual agama.

Tuhan menjadi “ada”, bukan karena takut pada ulama atau orang tua tetapi pada kehadiran-Nya yang mampu menampung kegelisahan manusia ketika dihadapkan pada realitas sosial yang kacau. Tuhan menampung, merangkul, dan menerima seluruh identitas manusia tanpa tanya. Sebagian orang menilai bahwa Tuhan juga sering menghukum manusia dengan cara tertentu. Apa itu berarti, orang kaya disayang Tuhan dan orang miskin di-azab Tuhan? Tentu Tuhan akan melihat proses pemiskinan sebagai rekayasa sosial. Ah, saya bukan Tuhan.

Manusia hanya mengira-ngira karakter Tuhan melalui teks-teks kitab suci. Teks yang dengan caranya diam ketika dimaknai beragam rupa. Huruf latin dan aksara Arab yang terdiri kurang dari 30 huruf dipadu dan disaktikan kekuatannya karena Tuhan yang mengucapkannya.

Saya sendiri berasal dari keluarga yang tidak kental dengan ritual islam. Pengetahuan mengenai islam itu saya peroleh dari tetangga, teman, rohis, dan pengajian di kampus. Setelah itu, saya merasa pengetahuan agama yang saya miliki masih belum utuh dan mencari di tempat lain. Namun, saya masih terus bertanya, mengapa saya islam, agar tidak menerima islam sebagai perkara mati dan lupa menghayati.

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s