Pengetahuan-Saya

Kurban dan Rasa Lapar


30 Desember 2006

Besok ditetapkan oleh Departemen Agama Pemerintah Indonesia sebagai Idul Adha atau dikenal dengan Hari Raya Kurban. Beberapa kelompok keagamaan melakukan sholatnya hari ini (30/12) karena hari Jum’at jamaah haji sudah selesai wukuf. Makanya ada orang yang heran mengapa pemerintah justru menentukan hari Minggu (31/12). Kebetulan kok bertepatan dengan Jelang Tahun Baru. Makin seru!

Mengenai Kurban, saya tidak suka mengingat mengenai proses penyembelihan hewan kurban walaupun saya sendiri pemakan daging hewan. Saya ingin bercerita mengenai pengorbanan dari cara yang lain. Ini mengenai ibu saya sendiri, seseorang yang sudah lama berkorban untuk keluarganya.

Takbir sedang ramai berkumandang di sekitar perumahan saya.

Saya ingin menjadi seorang ibu rumah tangga. Gambaran mengenai sosok ibu rumah tangga saya peroleh dari ibu saya. Dia mengklaim posisi “ibu rumah tangga” sebagai sebuah pekerjaan di Kartu Tanda Penduduknya. Ibu dan bapak saya adalah lulusan SMA dari Porong, Sidoarjo. Perbedaan usia mereka lima tahun. Sebelum menikah, ibu pernah bekerja dengan upah minim di Polres Pasuruan. Dia berbagi penghasilan untuk menyekolahkan adik laki-lakinya yang sekarang menjadi guru SD. Pada usia 25 tahun dia menikah dengan seorang pemuda satu desa yang sudah menjadi polisi (Bintara) dan ditugaskan di Jakarta. Dia tinggalkan kampung halaman dan pekerjaannya untuk ikut dengan suami.

Tahun 1978. Di Jakarta, dia tinggal di gang sempit sekitar Tambora yang asing dan menakutkan. Wilayah yang sedang berkembang.
April 1979. Saya lahir di RS Tambora, dekat Pasar Tanah Abang. Rumah Sakit itu sekarang sudah sangat “sakit” dan hampir roboh. Ibu belum berpengalaman merawat bayi sehingga seperti tradisi ratusan tahun datanglah ibunya, seorang petani penggarap di desa yang belum tersentuh listrik ke Jakarta.

Tidak lama, orang tua pindah dan menempati rumah dinas polisi di Jakarta Timur. Nenek dengan sabar mengurus saya; memandikan, mengganti popok, dan membersihkan kotoran yang keluar dari seluruh lubang di tubuh saya. Ibu yang menceritakan semua itu ke saya. Saya berutang pada nenek, katanya.

Ibu belum berpikir untuk bekerja di Jakarta. Muda, cantik, dan baru melahirkan; dia juga tidak tahu jalan di Jakarta. Ibu sempat heran dengan budaya orang Jakarta yang berbeda dengan di kampung sana. Tabiat orang-orangnya beragam dan dia berusaha belajar. Ibu tidak tahu banyak mengenai seks dan kontrasepsi. Usia 10 bulan, saya disapih dan ibu kembali hamil. Adik saya lahir Agustus 1980. ontang-anting, kata orang Jawa alias sudah lengkap; laki-laki dan perempuan.

Ibu rutin ke Posyandu dan segera menjadi target kampanye Keluarga Berencana. Muda, cantik, dan baru melahirkan dua anak. Ibunya, yaitu nenek saya, dengan kasih sayang (dan kasihan) datang kembali ke Jakarta membantu merawat cucu keduanya. Nenek saya tidak bisa tenang karena suasana Jakarta yang baginya tidak nyaman dan dia terdaftar sebagai ibu rumah tangga yang merawat 7 anak dan harus mengurus sawah dan ternak. Suaminya juga tidak rela ditinggalkan terlalu lama mengurus tiga anak yang masih tinggal di desa.

Dengan semangat tinggi, ibu mencoba berbagai kontrasepsi. Dua anak dengan jarak yang berdekatan sangat merepotkan. Dia pernah mencoba suntik, tidak cocok. Akhirnya dipakailah pil. Perkara lainnya adalah membagi gaji suami yang sedikit dan ternyata tidak dapat dilakukan secara aritmetika tradisional. Perlu perasaan untuk mengatur uang belanja agar empat nyawa bisa berasa. Untungnya, ada rumah dinas dan gaji tetap. Namun, mulailah ibu mengalah demi anggota keluarga yang lain.

Ketika saya berada di SD, Bapak sedang menjalani pendidikan perwira dan memerlukan uang. Alhasil, ibu tidak menerima gaji. Mulailah ibu berpikir untuk berjualan. Bapak mengenalkan ibu dengan teman dekatnya semasa lajang. Ibu lalu menerima barang pajangan, lampu dan bentuk lainnya dari bahan kuningan. Barangnya sangat berat dan ibu harus mengangkat dan membawa sebagian dari barang itu berkeliling sekitar Jakarta Timur, Pusat dan Barat sebagai contoh untuk dijual. Anak-anak tentu harus makan dan bersekolah. Ah, ibu sudah bukan gadis muda yang pemalu dan penakut. Di Jakarta, perkara malu dan takut tidak laku. Saya dan adik menjadi terbiasa ditinggal ibu sendiri di rumah, dijaga oleh para tetangga.

Sebelum ibu berangkat, dia selalu menyiapkan makan siang untuk kami berdua. Paling tidak telor ceplok dan kecap ada di meja, disertai tulisan untuk saya agar menjaga adik. Kadang saya sedih karena ibu tidak ada di rumah tapi begitulah seorang ibu rumah tangga, sibuk mengurus anak dan periuk. Sebagian uang, ibu tabung dan sebagian kecil untuk keperluan sehari-hari.

Ada satu hal unik yang saya pelajari dari ibu. Dia tidak pernah tega untuk makan di jalan atau menghabiskan sendiri makanan pemberian orang lain. Saya seringkali heran jika ibu membawa makanan ke rumah. Padahal ikan dan sayurnya lebih enak kalau dimakan ketika masih hangat. Lalu saya tanyakan, “Ibu sudah makan ya? Kok nasinya dibawa pulang?”

Jawaban ibu, “Mana bisa ibu makan sendiri? Pikiran ibu itu di rumah, Niken sama Dede sudah makan belum ya? Mendingan ibu bawa pulang ke rumah aja.”
Biasanya kalau makanan itu dibawa pulang, ibu justru tidak kebagian banyak bahkan tidak dapat sama sekali. Waktu itu, saya bingung. Kok ada orang seperti ibu saya? Apakah semua ibu seperti itu? Kalau saya jadi ibu, saya makan nasinya di jalan daripada pingsan. Lagipula, perjalanannya jauh dan agak repot untuk menenteng makan. Ibu memang berasal dari keluarga miskin dan hidup prihatin di Jakarta bukan hal yang asing. Sepanjang hidup saya, ibu sudah biasa makan sehari atau dua kali sehari. Itu bukan puasa baginya.

Jika ada makanan berupa nasi atau kudapan pemberian orang atau dari suatu acara, ibu akan bawa pulang dan menawarkan ke kami. Dia ingin anak-anaknya makan makanan yang enak. Asal anaknya kenyang dan senang maka dia pun ikut senang walaupun tidak kenyang. Kadang, dia membeli makanan di jalan karena lapar tetapi sampai di rumah belum juga dimakan. Saya dan adik siap dengan piring dan sendok dan tanpa tanya untuk siapa makanan itu, kami sikat habis. Kami pikir, ibu tentu sudah makan di jalan sehingga makanan ini dibawa pulang. Setelah kami berdua kenyang, biasanya ibu mulai mengambil nasi dan berkata, “Ibu dari tadi belum makan.” Lho!
Saya heran dengan makhluk bernama ibu. Apa dia tidak pernah lapar?

<bersambung>

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s