Perjalanan-Saya

RUANG DAN JARAK (2)


Jakarta, 15 Januari 2006.

Beberapa lama setelah saya menggunakan jasa bus, bapak membelikan saya sebuah mobil jip katana bekas. Saya memang memintanya karena saya ingin lebih bebas bergerak. Saya ingin ikut les bahasa Perancis dan les organ di Kraksaan, kota terdekat dengan Paiton. Transportasi menjadi sangat penting walaupun saya tergolong orang yang tidak suka berjalan-jalan.

Mengendarai mobil sendiri menjadikan perjalanan Paiton-Porong dan Porong-Paiton agak lain. Bagaimana saya mengungkapkannya? Berbeda. Biasanya dalam perjalanan Paiton-Porong akan ada beberapa teman yang ikut sampai ke terminal Probolinggo atau Bunder (Pasuruan). Rizki, teman saya sering ikut dan menemani. Kita ngobrol tentang banyak hal. Lumayan ada teman.

Perjalanan Porong-Paiton biasanya saya lalui sendirian. Orang tua awalnya khawatir dan sering menelepon ke HP. Saya malas mengangkat, saya ingin terus menjaga jarak aman. I’m OK and let it that way. Lama waktu tempuh biasanya dua setengah sampai tiga jam. It was the real moment for myself, time to contemplate and feel alone and peaceful.

Tidak ada macet dalam perjalanan pulang ke Paiton dan itu yang saya suka dari perjalanan antar kota ini. Saya menikmati apa yang terhampar di kiri dan kanan jalan, sambil kadang berharap: Kapan balik lagi ke Jakarta?

Dari Porong biasanya saya berangkat Minggu jam 2 siang supaya sampai di Paiton sekitar jam 5 sore dan bisa sholat Ashar. Kadang saya berangkat dari rumah nenek di Waung atau rumah adik bapak di Juwet. Pemandangan jalan menuju Porong cukup indah. Jalanan dikelilingi oleh tanaman tebu yang tinggi, diselingi sawah yang kadang kering. Di trotoar jalan beralas tanah ditumbuhi pohon kapas, berderet memanjang. Pohon besar yang rindang tumbuh di pinggir sungai, berbatas tipis dengan aspal jalan. Di sebelah kanan saya, berdiri gunung Semeru yang megah dan berwarna biru dari kejauhan. Jalanan selalu lenggang. Beberapa becak, sepeda ontel dan sepeda motor lalu lalang melewati saya. Sejuk.

Dari pertigaan (orang Jawa menyebutnya “pertelon”) Porong saya membelok ke kanan melewati jembatan yang berada di atas aliran sungai Brantas. Sungai itu sangat lebar dan panjang. Sebelumnya pinggiran sungai hanya berupa tanah miring sampai akhirnya dikeraskan dengan fondasi permanen. Sekarang aliran sungai tadi menjadi lebih indah dipandang.

Saya terus meluncur ke arah Bunderan Pasuruan, melewati gerbang perbatasan Pasuruan-Sidoarjo. Jalan di daerah Pasuruan sangat lebar dan pada siang hari sudah mulai dipenuhi oleh berbagai truk dan bus antar kota yang memacu kendaraan dengan kecepatan kencang. Dekat perbatasan itu terdapat berpuluh-puluh kios yang menjual klepon, makanan khas daerah. Tidak semuanya enak, harus tahu mana yang tepungnya bagus dan isinya banyak. Saya suka sekali dengan klepon buatan sana.

Banyak hal baru yang saya ketahui sejak kepindahan ke Paiton. Saya baru tahu bahwa Pasuruan merupakan kabupaten yang sangat luas. Saya baru tahu bahwa Jawa Timur adalah provinsi yang jauh lebih luas dari Jakarta dan terbagi dalam beberapa wilayah kabupaten besar. Awalnya saya heran ketika dari Paiton dan ingin menelpon saudara di Porong atau Japanan maka saya harus menggunakan kode lokasi yang berbeda, sementara di Jakarta saya tidak perlu melakukannya.

Cuaca di Pasuruan cenderung panas tetapi masih cukup sejuk. Harga bensin per liternya masih Rp 1.800. Biasanya saya mengisi bensin di dekat gerbang Pasuruan tadi. Saya akan bablas melewati jalan yang begitu lebar, lengang dan mulus. Jalan di Jakarta nggak ada apa-apanya dengan jalan di Pasuruan. I feel free to drive. Awalnya jalan bergelombang tetapi seterusnya menjadi landai. Dua arah masing-masing mendapatkan tiga jalur. Hebat!

Di kanan kiri jalan ditumbuhi berbagai pohon tapi karena cuaca yang panas maka cenderung gersang. Perumahan sudah banyak dibangun. Pabrik-pabrik bertebaran. Truk dan bus saling berkejaran sehingga saya
dibuat ketakutan. Jalan yang lebar dan lengang sangat ideal dijadikan ajang balapan kedua angkutan besar tadi. Kendaraan kecil terpaksa mengalah, termasuk mobil jip mungil saya, yang kalau dipacu terlalu cepat maka akan oleng. Maklum saja.

Dalam perjalanan yang panjang dan melelahkan itu, saya biasa memutar
radio atau memasang kaset yang sudah disiapkan. AC tentu saja menyala, kalau tidak saya sudah basah kuyup oleh keringat. Selama menyetir sering saya bertanya dalam hati: What the hell you’re doing in here, Niken? Dan gua jawab sendiri: Living my life! Alias bertahan.

Sampai di Bangil, biasanya agak teduh karena jalan menyempit dan kiri
kanan banyak ditumbuhi pohon besar yang rimbun. Selanjutnya kembali
panas dan bikin sumuk (gerah). Di Pasuruan sampai Probolinggo tidak ada tempat perbelanjaan raksasa seperti di Surabaya atau model di Jakarta. Pemandangan tukang becak yang berjejer rapi sudah cukup menyenangkan buat saya. Pasuruan kota termasuk ramai dan dipenuhi berbagai toko kelontong tua di pinggir jalan. Di trotoar pembatas jalan biasanya ada tiang promosi dari beberapa merek rokok. Secara implisit, bangsa Indonesia terus dianjurkan untuk merokok.

Di alun-alun kota Pasuruan kadang ada acara yang digelar dan langsung ramai dikerubuti penduduk yang haus hiburan. Sayang, waktu itu saya belum punya kamera digital dan terburu waktu sehingga tidak bisa berhenti sekedar mengambil beberapa foto sebagai kenangan.

Manusia memang tidak pernah puas. Jalan raya yang lebar kadang terlalu sempit kalau ada dua truk atau bus besar yang berpapasan dari arah berbeda, menyalip kendaraan di depannya (yang kadang bus juga) dan terus memepet kendaraan saya. Sebenarnya apa yang mereka kejar, waktu pengiriman atau kesenangan menyalip?

Saya juga ingin cepat sampai ke Paiton tetapi santai saja, saya berusaha menikmati pemandangannya. Saya cukup tahu kemampuan mobil jip yang saya tumpangi dan saya juga tahu kalau saya tidak akan selamanya di sini. Berbagai pikiran terus berkecamuk. Kadang saya bertanya: Eh, teman-teman lagi ngapain ya di Jakarta weekend gini? Atau Ibu udah shopping kemana aja nih?

Komunikasi saya dengan orang tua biasa melalui telepon atau sms, jadi
terbatas pada pertukaran beberapa kalimat, entah pertanyaan atau berita. Kadang saya juga tidak membalas sms mereka. Komunikasi dengan teman masih cukup baik, kami berhubungan melalui email, bercerita panjang lebar mengenai keadaan masing-masing. Dengan Devina, kami justru lebih suka berhubungan melalui surat konvensional menggunakan jasa pos. Bisa berlembar-lembar banyaknya dan diskusi diteruskan melalui email. Untungnya masih ada sarana email yang disediakan kantor. Kalau tidak ada, bisa-bisa saya bengong tanpa daya di Paiton.

Mendengarkan radio lokal yang ada di Pasuruan juga ada seninya. Hanya
ada beberapa stasiun radio yang dapat ditangkap dengan jelas oleh radio/tape saya. Lagu-lagunya kadang cukup lama dengan beberapa lagu pop indonesia dan barat yang baru. Saya agak kecewa juga tapi daripada tidak ada lebih baik seadanya. Uniknya, ketika saya mencapai suatu kota atau menikung di daerah lain maka siaran stasiun radio tadi menghilang dan diganti dengan siaran dari stasiun radio yang berbeda. Akhirnya, putar lagi tunernya!

Seluruh stasiun radio yang tadi diganti dengan deretan stasiun radio yang lain dan semakin ke Probolinggo, stasiun radionya makin sedikit. Bahkan, semakin dekat ke Paiton, semakin tidak jelas siarannya. Kalau
sudah begitu terpaksa beralih ke kaset. Jadi jangan heran, kalau sejak berada di Paiton saya menjadi pengumpul kaset. Satu hal yang tidak pernah saya lakukan, ketika SMA pun saya tidak pernah membeli kaset lagu Indonesia atau Barat. Ya beda lah kualitas siaran radio di Jakarta dan Paiton.

Kebiasaan saya membuat kliping dari artikel koran juga berubah karena
saya tidak melanggan koran selama satu bulan. Paling hanya beli Kompas Sabtu dan Minggu. Kolom kartun tidak akan terlewatkan, segala jenis hiburan yang bisa membuat saya tersenyum sedikit akan saya konsumsi.

Perjalanan ke Paiton masih panjang.
Saya melewati deretan panjang rel kereta api di Pasuruan. Kadang memang ada kereta api yang lewat, tetangga saya memberitahukan bahwa itu adalah kereta yang menuju ke Banyuwangi. Saya hanya pernah melewati Banyuwangi dalam perjalanan ke Bali, setelah itu tidak pernah lagi. I wonder…

Kemudian saya melewati pasar tradisional yang cukup ramai, jalan menyempit dan agak macet. Lalu melewati sebuah patung Sapi besar terbuat dari semen, dicat putih dan hitam, yang tegak berdiri di gerbang Selamat Datang di Kota Probolinggo. Sebelumnya sudah ada gerbang bertuliskan yang sama sehingga mengecoh orang yang baru pertama kali akan ke Probolinggo, “yang mana yang benar-benar Probolinggo?”

Mulailah deretan restoran dan warung makan besar berjejer di kiri kanan jalan. Kebanyakan menyuguhkan masakan ala Jawa Timur, ada juga yang restoran Padang, tapi Jawa Timur sendiri sudah kaya dengan masakan yang “uenak-uenak”. Pasuruan biasa menjadi kota persinggahan bagi mereka yang bepergian jauh. Dari situ akan ketemu lampu merah di pertigaan. Bus biasanya akan berbelok ke kanan untuk masuk ke terminal Probolinggo, saya sendiri lurus terus ke kota Probolinggo.

Ada rasa lega ketika saya tidak perlu lagi balapan dengan supir truk dan
bus. Jalanan biasanya tidak terlalu ramai. Hari Minggu biasanya cerah, hampir setiap hari Probolinggo cerah. Udara di Probolinggo agak berbeda dengan di Paiton. Di sini, anginnya berhembus kencang dan udaranya sejuk. Di Paiton anginnya kering dan udaranya lebih panas.

Bangunan rumah dan ruko sederhana berdiri berdampingan.Yah, inilah kota Probolinggo. Sama seperti Pasuruan, sepi (untuk standar saya yang sudah terbiasa di Jakarta). Toko-toko kelontong, pakaian, makanan banyak tersebar, berjejer rapi sampai masuk ke jalan atau gang yang lebih kecil. Jalannya satu arah dan sangat lebar. Ada sebuah supermarket yang cukup terkenal dan satu-satunya di Probolinggo, penduduk biasa menyebutnya Plaza Gajah Mada. Untuk ukuran Probolinggo, supermarket itu termasuk besar dan cukup lengkap. Ya, pokoknya jangan disamakan dengan Plaza Blok M.

Melihat barang berwarna-warni yang dijajakan di toko-toko pinggir jalan
menyejukkan perasaan saya. Tukang becak sudah mulai ngawur, dalam arti mereka memotong jalur seenaknya. Di dekat jalan itu, ada pasar tradisional kalau mengambil arah ke kanan. Masyarakat di sini sudah bercampur antara yang etnis Jawa dan Madura. Obrolan mereka sudah campuran dan beberapa hanya bisa bahasa Madura.

Saya mengambil jalan lurus. Kota Probolinggo yang ada di depan saya lebih asri dan hijau dari yang sebelumnya. Saya melewati jembatan besi
yang lebar, di bawahnya mengalir air sungai deras yang biasa dipakai untuk olahraga arung jeram. Airnya berwarna tanah, coklat kemerah-merahan.

Jalan yang lurus membawa saya melewati bangunan penjara besar. Dari
luar, kelihatan seperti benteng. Dulu saya tidak tahu kalau bangunan itu
adalah penjara sampai membaca tulisan yang ada di depan bangunan tersebut. Hati saya agak tergerak, bukan apa-apa, dulu saya berkeinginan menjadi pustakawan penjara. Tapi entahlah.

Lurus terus dan akhinya saya sampai di alun-alun kota Kraksaan, kota terdekat dari Paiton. Kraksaan jauh lebih berwarna. Di sana ada sebuah
café sederhana, beberapa mini market, kios buah, beberapa klinik pribadi, dan daya tarik paling penting adalah keberadaan beberapa cabang bank besar beserta ATMnya. Setiap bulan, karyawan dari PLTU pasti akan datang ke Kraksaan untuk sekedar mengambil uang, membeli pulsa telepon, transfer uang, atau belanja keperluan sehari-hari.

Di Kraksaan, sinyal kartu HP saya menghilang karena memang tidak ada
jaringan, kecuali beberapa kartu HP lain. Kota kecil ini sangat ramai. Berbagai toko menjajakan berbagai jenis barang; elektronik, sepatu, baju, seprai, berbagai barang dari plastik, dan peralatan rumah kayu. Ada beberapa warung makan di pinggir jalan atau kalau mau susah sedikit, masuk ke gang sempit (tidak sesempit gang di Jakarta dan hebatnya, jalannya diaspal halus).

Saya mulai akrab dengan suasana kering dan cerah Kraksaan. Saya mulai bisa mencium bau asin air laut, jalannya yang lurus sampai ke Paiton dan pemandangan kiri kanan yang penuh ladang tembakau. Perlahan tapi pasti saya mendekati Paiton. Ketika mendekatinya, saya merasa berada di rumah. Saya merasa hangat dan nyaman, saya berada pada jarak yang aman dari siapa pun juga. ‘Lady’ dari Modjo adalah lagu yang saya kenal ketika berada di Paiton. Luar biasa bukan?

Saya ingat ayunan yang ada di Rec Hall. Saya ingat kehangatan di dalamnya dan Plant dengan kerangka berwarna biru yang terkesan dingin. Musik, tanpanya saya tidak akan bertahan dengan selamat di Paiton. Tanpanya saya tidak akan betah melalui perjalanan 6 jam ulang-alik Paiton – Porong.

Suasana.
Itu yang membuat saya betah. Tetapi saya harus pergi, saya sudah cukup mendapat udara segar di sini. Saya memerlukan kekacauan agar saya dapat berpikir. Saya sudah mendapatkan ketenangan, waktu senggang yang panjang, dan kenangan. Semuanya cukup untuk menjadi bekal pada perjalanan yang lebih menantang. Tempat saya bukan di sini. Pada beberapa kesempatan saya mungkin akan kembali untuk sekedar mengingat ruang, waktu, dan jarak yang pernah saya lalui.

Porong – Paiton adalah sejarah dalam hidup saya.
Ada banyak orang dan peristiwa di dalamnya. Rasanya mustahil melupakan mereka. Nama tempat dan orang mungkin saya lupakan tanpa sengaja tetapi wajah dan kesan, tidak akan pernah. Pemandangan dalam perjalanan itu juga tidak akan hilang. Jika suatu saat saya kehilangan jejak, saya pasti akan menyusuri jalan Porong – Paiton itu lagi.

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s