Pengetahuan-Saya

Ritual, Latihan, atau…


Bicara soal Ied-al Fitri atau hari raya Idul Fitri, saya jadi agak bingung. Terus terang, saya tidak yakin sudah mencapai fitrah atau kemenangan yang sesungguhnya. Sepertinya kok ibadah puasa yang dulu-dulu itu masih sebatas menahan haus, lapar, dan emosi.

Orang-orang di sekeliling saya pun tidak banyak berubah. Begitu-begitu saja. Rasanya 30 hari latihan tidak cukup. Entah kenapa, justru sehabis Idul Fitri saya merasakan kebosanan luar biasa. Tayangan infotainment dan lawakan sangat biasa. Kebosanan itu justru menjadi satu hal yang rutin. Perasaan itu juga yang memicu saya menjadi tidak bersemangat, malas, dan ceroboh. Memang selalu ada sesuatu untuk dikerjakan tetapi saya perlu semangat untuk melakukannya.

Ucapan selamat Idul Fitri melalui SMS adalah satu hal yang tidak menyenangkan dan tidak saya sukai. Saya masih “terpaksa” melakukannya untuk beberapa teman tetapi untuk sebagian lainnya saya bahkan tidak membalas SMS itu. Saya lebih suka kartu ucapan dan lebih suka lagi kalau ada tulisan tangan di dalamnya yang bercerita mengenai pengalaman spiritual selama menjalani bulan Ramadhan. Selama ini, belum ada yang seperti itu. Mungkin tidak banyak yang mengalami hal spiritual dan makin sedikit lagi yang mau menuliskan dan membicarakannya dengan orang lain.

Hari raya Idul Fitri entah kenapa identik dengan ketupat, opor ayam dan sayur labu dengan santan yang super banyak. Untuk tahun ini, atas desakan saya, ibu memasak ketupat melainkan menggunakan plastik. Lebih praktis dan tidak perlu modal banyak. Silahturahmi hari raya cukup menyenangkan kecuali perkara memakai baju baru dan bagus yang menjadi kendala bagi saya sejak masih kecil. Saya lebih suka baju rumah yang nyaman. Silahturahmi kadang juga cuma setor muka, merasa tidak enak, dan lebih parah cari muka. Kalau ketemu saudara, saya merasa bingung apakah harus cium tangan, salaman saja atau gimana ya?

Hari raya di Jakarta memang sudah lama tidak ada keunikan. Berbeda dengan di luar Jakarta tetapi saya masih lebih senang di Jakarta. Kalau Lebaran sepi jadi saya leluasa untuk bertapa. Seperti hari ini, saya ditinggal sendiri karena orang tua, adik dan ipar ke Sukabumi ke rumah adik ibu. Puding nutrijel coklat di kulkas sepertinya akan habis oleh saya sendiri. Saya mau menggoreng telur dan melupakan opor dan santan sejenak. Oya, hampir lupa, saya belum mencoba berbagai kue di meja tamu. Niken, jangan kelewatan ya 🙂

Hari Senin tanggal 30 Jakarta mungkin akan kembali seperti sedia kala. Rasanya kok tidak beres kalau ada anggapan bahwa Jakarta yang normal adalah Jakarta yang macet dimana-mana. Seharusnya Jakarta yang lancar seperti Lebaran ini lah yang normal. Saya punya banyak hutang, melengkapi proposal penelitian, utang puasa 6 hari, dan sebuah artikel untuk menebus transkrip nilai. Oke, saya coba kerjakan … sambil terus makan.

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s