Pengetahuan-Saya

Norma Kepantasan


2 September 2006

Surat ini Saya buat sepulang dari wisuda di Depok. Saya merasa harus membuat surat ini, yang isinya bukan mengenai individu, melainkan lebih ingin menggugat cara pandang yang ada.

Persoalan yang ingin saya komentari sederhana yaitu betis perempuan yang telanjang. Saya tergugah mendengar komentar seorang teman dan ibu saya sendiri yang menilai rok pendek yang dikenakan Mbak Shelly sebagai suatu hal yang tidak pantas, terutama untuk acara resmi seperti wisuda di UI. Komentar yang hampir sama juga dilontarkan dua orang laki-laki yang duduk di belakang Saya. Mereka bilang, “Seperti tidak pakai rok.”

Beberapa pertanyaan muncul di benak saya. Pertama, apakah komentar seperti itu bisa disebut gosip (ghibah)? Kedua, mengapa betis seorang perempuan dianggap perlu untuk dikritisi/dikomentari? Ketiga, apakah sebenarnya maksud dari komentar-komentar itu? Apakah sekedar mengomentari betis yang gemuk, menilainya dari segi kesehatan, atau mereka tidak punya hal lain untuk diperbincangkan? Atau ada sesuatu yang lebih mendalam, bahwa komentar itu merefleksikan cara pandang orang yang berkomentar?

Orang mungkin berpikir, ngapain sih saya bertanya mengenai hal-hal itu? Penting sekali. Dalam tesis, Saya menyatakan bahwa isu perempuan dan fisika bukan mengenai mampu tidaknya seorang perempuan melakukan fisika melainkan terfokus pada pantas tidaknya seorang perempuan menekuni bidang fisika. Di wisuda hari ini, saya melihat cukup banyak perempuan yang berprestasi cum laude. Bidangnya bukan main; kedokteran, ilmu komputer, MIPA, dsb. dan untuk tingkat magister pula.

Namun, dari komentar “ringan” mengenai betis Mbak Shelly itu, Saya semakin menyadari bahwa cara pandang kepantasan telah menjadi norma/nilai penting yang menguasai cara pandang kita. Bahkan hal itu memengaruhi cara kita menilai seseorang. Masalah kepantasan mungkin dinilai sebagai satu hal yang relatif tetapi sebenarnya tidak begitu variatif, karena norma kepantasan itu wujud dari nilai-nilai lain yang ada dalam kepala kita (seperti nilai gender, nilai agama, dsb). Oleh karena itu, kepantasan sering menjadi suatu hal yang seragam dalam suatu budaya atau komunitas.

Kebetulan, orang yang dikomentari itu adalah Mbak Shelly, teman seangkatan di Program Kajian Wanita UI, sehingga Saya lebih mudah memberi penjelasan. Saya mengenal dia secara pribadi. Dia jurnalis veteran dan tahu seluk-beluk politik media massa. Keahliannya menulis menjadi modal utama sampai dia langganan nilai A. Kepribadiannya hangat dan mudah bergaul. Pada suatu kesempatan informal dengan satu angkatan, dia mengaku pernah menjadi korban kekerasan domestik. Saya yakin, walau dia tidak mengatakannya eksplisit, bahwa seluruh pengalamannya itu akhirnya membawa dia berada di Program Kajian Wanita UI.

Tentu saja, orang yang baru melihatnya pada hari wisuda tidak mengetahui banyak mengenai pengalamannya itu. Dan sebenarnya, saya sendiri awalnya cukup heran dengan pakaian dan aksesoris yang ia pilih. Mbak Shelly biasa menggunakan celana panjang bahan ketika di kampus atau acara informal. Kalau ada acara resmi, dia kadang memakai rok longgar yang agak panjang. Setahu saya, dia juga jarang memakai sepatu tertutup hak tinggi. Dia lebih suka sepatu sandal dengan hak pendek, serta sangat memuja warna merah muda alias pink.

Pada hari wisuda itu, saya melihat something is being display. Ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan melalui bahasa busana dan bahasa tubuh. Ketika saya tanyakan ke orangnya, ternyata Mbak Shelly memang sengaja melakukan hal itu. Ternyata dia memotong baju toga beberapa centimeter agar tidak tampak terlalu besar dan dia tahu bahwa hal itu tidak menyalahi peraturan yang ada. Memakai rok pendek juga tidak menyalahi aturan, paling tidak belum ada aturannya. Saya sendiri heran, kok dia mau repot menggunting dan menjahit toga.

Sebenarnya bukan hanya Mbak Shelly. Kalau diperhatikan, salah satu wisudawan perempuan terbaik dari FIB mengurai rambutnya. Sementara kode etik acara resmi adalah rambut perempuan yang melebihi bahu “sebaiknya” disanggul. Pesan yang ingin dia sampaikan mungkin sederhana yaitu “saya tidak suka/tidak peduli dengan perkara sanggul-menyanggul”. Namun, intinya hampir sama dengan yang dilakukan Mbak Shelly, melanggar kode “kepantasan”, terutama yang dihubungkan dengan perempuan.

“Kepantasan” bukan hal yang sepele karena dia terbentuk dari perpaduan cara pandang yang disakralkan. Betis Mbak Shelly mungkin tidak seksi atau indah dan memang bukan keindahan betis yang ingin dia tunjukkan. Cara berjalan Mbak Shelly mungkin tidak anggun seperti wisudawan perempuan lain yang memakai kain dan selop sehingga langkahnya lebih pendek. Dia juga tidak disanggul karena rambutnya pendek dan tipis. Tapi dia masih menyempatkan menghias wajah karena dia memang suka berhias.

Teman yang berkomentar itu sendiri sudah “melanggar” beberapa kepantasan dengan jarang memakai lipstik atau kosmetik, serta jarang memakai sepatu hak tinggi misalnya. Mungkin karena teman saya itu tidak suka dan merasa tidak nyaman menggunakan aksesoris itu tetapi ada orang lain (laki-laki dan perempuan) yang memaksakan diri untuk memakai aksesoris itu demi kepantasan.

Melawan “kepantasan” bagi saya merupakan usaha menunjukkan sikap dan cara pandang yang berbeda. Melawan kode etik busana dan aksesoris dengan cara yang paling sederhana dapat menunjukkan sikap itu. Namun, sayangnya tidak banyak orang yang mau melihatnya begitu dalam sehingga kerap berakhir pada penilaian terhadap apa yang muncul di permukaan dan menerimanya sebagai suatu kebenaran.

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s