Pengalaman-Saya

Kontemplasi terussss


20 Oktober 2006

Bulan Ramadhan sudah hampir sampai penutupan. Banyak yang terjadi selama sebulan itu. Selama bulan Ramadhan, saya sering mengikuti sholat tarawih di mesjid dekat rumah. Khotib dan imamnya selalu laki-laki. Ketika masih kecil, khotib dan imam di mesjid pun memang selalu laki-laki. Khotib kadang berceramah sampai lama sehingga makmum yang perempuan gemas karena toh mereka sudah malas mendengarkan dan ingin segera cepat selesai.

Belum lagi materi khotbah yang kadang seragam. Pernah suatu kali ada khotib yang mempertanyakan makmum muslimah tidak memakai jilbab ketika di luar sholat tetapi berjilbab ketika sholat. “Harusnya”, kata khotib itu, “konsisten dong. Tidak masuk akal kalau sholat berjilbab dan di luar ternyata tidak. Memakai jilbab itu kewajiban.”

Ada satu suara di samping saya yang mengatakan, “Ah, enggak juga. Siapa bilang wajib?” Itu salah satu fenomena yang sering saya alami, yaitu perempuan atau para ibu yang memprotes atau tidak setuju dengan isi khotbah pemimpin laki-laki tetapi melakukannya secara tidak kentara.

Pengalaman lain adalah usaha menyusun proposal penelitian bersama dengan Haryati sebagai jalan masuk ke Selo Soemardjan Research Center. Tim itu sebenarnya terdiri dari Haryati, Adi Nugroho, dan Kahardityo (Tingfu). Saya dulunya tergabung dengan komunitas ini lalu mengundurkan diri. Setelah beberapa kali di-persuasi oleh Yati dan ngobrol banyak mengenai tema yang ingin diangkat, saya menjadi tertarik untuk membantu. Awalnya tema masih seputar digital divide yang sangat luas. Lalu mengerucut dengan semakin seringnya saya dan Yati berdiskusi menjadi transformasi sosial dengan studi kasus program telecenter yang dilakukan oleh beberapa departemen pemerintah, CSR perusahaan internasional, dan lembaga internasional.

Untuk mengejar liburan Lebaran, maka Yati menginap di rumah saya. Kita bersama mengumpulkan bahan dan menyusun proposal itu. Adi berkontribusi dengan meminjamkan sebuah artikel jurnal dari Saskia Sassen mengenai sosiologi teknologi informasi dan Tingfu sebagai penghubung dengan Pak Gumilar, dekan FISIP-UI. Akhirnya, hari Kamis kami bertiga, minus Tingfu, bertemu muka dengan Pak Gumilar. Dia melihat-lihat dan membaca sekilas proposal kami dan mencoret-coret sedikit, minta ada perubahan judul dan elaborasi teori lebih lanjut untuk dapat diajukan ke beberapa lembaga/departemen. Kami memerlukan dana penelitian dan agak sulit tanpa embel-embel FISIP-UI. Sebaliknya dia minta namanya dan nama asistennya ikut disertakan dalam tim peneliti. Revisi akan dilakukan sekitar 2 minggu lagi karena ada yang mudik Lebaran.

Saya juga mendapat tawaran untuk bekerja sekali dalam seminggu dari Convention Watch sebagai webmaster sampai Desember tahun ini. Saya setujui karena memang belum ada pekerjaan yang sesuai dan waktunya fleksibel. Saya juga mengirim masukan untuk pengembangan Program Kajian Wanita UI ke Mbak Kristi. Entah bagaimana tindak lanjutnya. Sepertinya harus menunggu setelah Lebaran.

Di bulan penuh rahmat ini, saya mengikuti kuliah tamu dari Kyai Hussein, guru Thohir di pesantren Cirebon. Saya menyukai materi yang diberikan. Terlebih lagi saya selesai membaca dua buku yang sangat bagus yaitu The Man of Reason Genevieve Lloyd dan The Philosophy and feminist thinking dari Jane Grimshaw. Saya kemudian melengkapinya dengan mencari informasi mengenai memetika di internet.

Sekalipun bapak sudah pensiun, rezeki masih terus mengalir. Keluarga kami masih dikirimi beberapa toples kue kering dan ibu mendapat sejumlah voucher untuk belanja. Pokoknya sudah tersedia sirup dan berbagai kue kering untuk menyambut para tamu. Alhamdulillah. Oya, zakat fitrah pun sudah kami bayarkan di mesjid An-Nur. Kegembiraan lain adalah dengan fleksibelnya waktu kerja, saya bisa mengikuti sholat tarawih di mesjid. Tidak setiap malam memang tapi cukup intens. Bacaan al-Qur’an selama bulan puasa belum pernah khatam tapi terus saya baca, hanya saya ingin membacanya bersama dengan tafsir yang humanistis.

Devina, teman dekat saya, mengabarkan kehamilannya yang sudah 1 bulan. Senang sekali karena dia sudah menunggunya beberapa bulan. Namun, dia tampak belum siap dengan perubahan yang harus dialami. Belum lagi ada perasaan tidak enak karena harus beberapa hari izin sakit dari kantor. Padahal ini adalah bagian berat dari proses pembentukan seorang manusia, seharusnya semua pihak membantu ibu yang sedang membesarkan anaknya (yang masih dalam proses pembentukan).

Pada akhirnya, saya masih dapat memperbarui isi homepage ini dengan berbagai informasi. Saya masih diberi kesehatan yang luar biasa berharga. Saya masih memiliki kesempatan mengembangkan pengetahuan diri sendiri. Di rumah pun, air yang bersih masih mengalir, makanan sehat masih tersaji, keluarga masih berkumpul, ah pokoknya saya bersyukur. Terima kasih Tuhan.

SM

Advertisements

One thought on “Kontemplasi terussss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s