Pengetahuan-Saya

Ketika laki-laki berusaha ‘menghayati’ pengalaman perempuan


21-Maret-2006

Saya ingin bercerita mengenai salah satu pengalaman yang berkesan selama kuliah di Program Kajian Wanita UI.

Jumlah mahasiswa pada awal masuk adalah sembilan orang dengan komposisi, satu laki-laki dan delapan perempuan. Pengalaman seorang teman laki-laki ini yang ingin saya ceritakan. Namanya, sebut saja, Rohim. Dia sudah lama mengenal kajian gender karena dia adalah salah satu muridnya Kyai Husein. Latar belakang pendidikannya di STAIN Cirebon.

Hal itu saja sudah membuatnya luar biasa bagi saya. Pembawaannya berbeda dengan Donny, laki-laki yang juga ikut satu kelas untuk pra-program (matrikulasi) kajian wanita. Donny setuju dengan kesetaraan selama harga diri laki-laki masih dihormati dan dihargai lebih tinggi sebagai pemimpin. Dia melihat kodrat perempuan sebagai garis pembatas dari tuntutan kesetaraan. Pemikiran Rohim sudah agak lebih maju dan dia mau mendengarkan pendapat orang lain yang berbeda.

Saya pikir dengan latar belakang itu Rohim akan mudah masuk dalam komunitas kajian wanita. Ternyata dia memiliki masalahnya sendiri. Setelah beberapa bulan kuliah semester pertama berjalan, Rohim menunjukkan sikap kurang bergairah dalam belajar. Karena sejak awal saya sudah tertarik dengan ‘keberanian’ dia memilih program ini, saya bertanya ada apa. Jawabannya cukup mengejutkan saya. Dia mengatakan sedang mempertimbangkan apakah akan terus melanjutkan kuliah. Saya bertanya, “Lho, kenapa? Kamu nggak suka ya sama kuliahnya yang cewek melulu?”
Inti jawabannya, “Bukan, kalo itu sih aku sudah biasa sejak di Cirebon. Abis aku sendirian di sini.”
“Sendirian?” saya masih belum mengerti.
“Iya, aku cowok sendiri di sini.”
“O, gitu. Jadi kamu kesepian?”
“Ya, gimana ya?”

Pengalaman itu hal baru bagi saya. Saya berpikir seorang laki-laki adalah orang yang berani sendiri atau mandiri di manapun mereka berada. Dan yang mengagetkan, biasanya laki-laki malu atau sungkan mengungkapkan rasa kesepian atau masalah yang mereka alami, sehingga saya sangat menghargai keterbukaan Rohim. Hal itu semakin membuka tabir ketidaktahuan saya mengenai laki-laki.

Pada semester selanjutnya, salah seorang mahasiswa meninggal dunia akibat badai tsunami. Namanya Eriza (Era) dan dia bersama suami dan bayinya, Nadia, sedang berkunjung ke Banda Aceh menemui orang tua Era. Angkatan saya sangat bersedih. Era adalah sosok yang kaya dengan pengalaman kerja di lapangan, bergulat dengan masalah kekerasan pada perempuan di Rifka Annisa. Dia juga orang yang mandiri karena sejak usia 14 tahun sudah kos sendiri di Yogyakarta. Dia banyak bercerita mengenai pernikahannya tanpa maksud menyombongkan diri sebagai seorang feminis. Rasanya saya belum berterima kasih untuk ceritanya yang inspiratif tersebut.

Alhasil, semester kedua jumlah mahasiswa angkatan kami berkurang menjadi delapan orang. Perbandingan itu sebenarnya tidak besar tetapi bagi saya pengalaman Rohim bukan sekedar masalah perbandingan angka. Dengan kematian Era, jumlah peminat mata kuliah hukum tidak memenuhi kuota dan seluruhnya mengikuti mata kuliah yang sama, salah satunya psikologi perempuan dan gender. Kemudian saya mengamati bahwa Rohim sering mangkir tanpa kabar berita. Ini mengherankan, pikir saya. Mata kuliah itu penting bagi saya karena sebelumnya saya pernah mendapat kuliah pengantar psikologi dan pengajarnya tidak pernah mengkritisi teori yang menyudutkan psikis perempuan. Saya sudah lama berkeberatan dengan berbagai teori psikologi konvensional yang bias gender.

Rupanya Bu Saparinah pun cukup akrab dengan kasus seperti Rohim. Di suatu kelas, dia mengatakan cukup mengerti ketidakhadiran Rohim karena belajar mengenai psikis perempuan pasti sebuah hal baru baginya. Beberapa dari kondisi psikis perempuan berhubungan dengan pengalaman biologis sehingga kami belajar mengenai pre-menstrual syndrom, fenomena fear of success, baby blues, dan depresi yang semuanya kemungkinan besar tidak pernah dialami seorang laki-laki. Oleh karena itu, Rohim mungkin bingung dengan apa yang kami bicarakan tetapi dia masih memiliki ‘kekuasaan’ untuk tidak mendengarkan pengalaman perempuan yang berbeda.

Saya berusaha memahami kebingungan Rohim tetapi kemudian saya bertanya, “Lho, ketika kuliah pengantar psikologi yang materinya banyak menyudutkan dan merendahkan perempuan, mengapa saya tidak pernah melakukan hal yang sama? Saya masih mau mendengarkan sambil memendam amarah serta protes, bahkan duduk manis mendengarkan segala macam omong besar Freud. Mengapa Rohim tidak mau melakukan itu atau justru tindakannya yang benar?”

Bu Kristi ternyata memahami perasaan saya dan bertanya pada Rohim mengenai masalah itu. Rohim mengakui bahwa dia bingung dengan beberapa materi kuliah. Ternyata dia juga sering absen pada kuliah politik. Dia banyak melewatkan presentasi yang dilakukan teman-teman sehingga Bu Ani bahkan berkata bahwa Rohim hanya mau didengarkan bukan mendengarkan. Memang ada benarnya.

Saya heran mengapa dia membebani diri dengan begitu banyak kegiatan di luar kelas dan memprioritaskan kegiatan itu di atas kepentingan kuliah. Saya lihat sulit rasanya untuk kedua hal itu berjalan bersama secara optimal. Namun, mungkin saja dia punya pertimbangan yang berbeda.

Untungnya pada acara ulang tahun program kajian wanita ke-15, Rohim mau hadir dan membantu. Pada saat itu dia sudah menanyakan pendapat saya mengenai tawaran beasiswa belajar bahasa Inggris di Bali. Lamanya beasiswa itu tiga bulan dan Rohim merasa sangat memerlukannya untuk masa depan. Sekali lagi saya hanya meminta Rohim untuk memilih dan menentukan prioritas. Terakhir, untuk mata kuliah isu-isu gender di Indonesia, dia masih mendapat I atau nilai belum ke luar karena dia belum memperbaiki tugas. Dia sedang disibukkan dengan tugas kursus bahasa Inggrisnya. Dia lalu memutuskan mengambil cuti selama satu semester.

Ada satu kejadian lagi yang membekas. Waktu itu, Mbak Yani baru pulang dari daerah tertentu dan membawa buah tangan berupa tas jinjing yang terbuat dari batik. Dia letakkan di meja dan mempersilahkan teman-teman untuk memilih. Ketika Rohim ingin mengambil, Mbak Yani langsung berkata, “Eh, itu tas untuk cewek. Masak cowok pake gituan?” Dan Rohim urung mengambilnya. Dia tidak mendapat oleh-oleh.

Saya merasa ada kejanggalan. Memang itu tas yang biasa dipakai perempuan tetapi Rohim juga punya ibu, sepupu, dan calon istri yang perempuan. Apa salahnya jika Rohim diberi satu? Kalau ingin semua mendapat bagian, mengapa tidak mencari buah tangan yang uniseks seperti makanan yang diawetkan, kartu pos bergambar, kaos, atau pajangan. Contohnya Yesa yang sudah dua kali ini membawa buah tangan khas Ambon berupa minyak kayu putih. Semua orang bisa memakainya dan sangat berguna.

Saya melihat Rohim telah diperlakukan berbeda karena gendernya. Namun, yang menyentak adalah selama ini saya sebagai perempuan sangat sering mendapat perlakuan seperti itu dan anehnya menyadari ketidakadilan itu ketika hal yang sama terjadi pada laki-laki. Saya tidak tahu apakah Rohim juga memiliki kekagetan seperti yang saya alami.

Saya semakin mengerti sulitnya bagi laki-laki untuk mencoba memakai sudut pandang atau perspektif perempuan dalam melihat suatu permasalahan. Memang diperlukan suatu kesadaran, pemahaman, dan pengkondisian untuk melakukannya. Tidak akan mudah bagi lelaki untuk mau melakukannya.

Saya ingat sebuah protes Donny, teman pra-program, yang intinya mengatakan bahwa perempuan yang terlalu berkuasa tidak baik dalam perkawinan karena cenderung akan ‘kurang ajar’ pada suami. Pengajar kami dengan bijak bertanya, ‘Apakah hal yang sama tidak terjadi ketika laki-laki berkuasa? Apakah laki-laki tidak pernah menyalahgunakan kekuasaannya?’ Bias dari kekuasaan itu yang menjadi pemicu sikap tidak adil dan dalam struktur masyarakat patriarki, laki-laki lah yang sebagian besar dianggap pemegang kekuasaan yang ‘sah’.

Refleksi ini berguna bagi saya secara praktis maupun pada tataran filsafat hidup.

SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s